The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Aku Siapa? Kau sendiri?



Langit biru cerah dan dikelilingi oleh oleh bunga dadelion kuning membuat hati Arthur terasa tenang serta, nyaman.


Semakin lama disini Arthur semakin menyukainya.


Ia melihat kupu-kupu yang berterbangan diatasnya dan saat ia mengarahkan telunjuknya, kupu-kupu dengan sayap berpola seperti teratai berwarna ungu dan hitam mendarat dijari telunjuknya tersebut.


"Apa Kau sudah bahagia? Wush..." Suara seorang laki-laki diatas Arthur membuat kupu-kupu itu terbang.


Arthur duduk dan melihat asal Suara itu.


Sosok didepannya itu, bertanduk satu dan Ia seperti bercermin melihat sosok tersebut.


Bedanya, sosok didepan Arthur itu, lebih dewasa dari Arthur.


Arthur melihat telinga elf sosok dihadapannya itu.


"Siapa Kau?"


Sosok itu, mengusap keningnya dan tanduk itu menghilang hanya sekali usap.


"Aku, siapa? Kau sendiri siapa?" Balas tanyanya.


"Eh? Aku... Namaku, Aosora Arthur" Arthur masih bersikap sopan karena dihadapannya adalah sosok yang lebih tua darinya.


"Oh, Kau Aosora Arthur? Tenyata sudah tumbuh sebesar ini. Apa Kau bahagia?"


Ia mengulang pertanyaan yang sama.


"Tentu saja Aku bahagia! Apa Kita pernah bertemu?"


Pikiran Arthur merujuk pada orang tua. Ia khawatir orang di depannya ini adalah orang tuanya. Sebab, Ia masih ingat dengan ucapan Archie yang mengatakan kalau dilihat dari sisi manapun, wajahnya berbeda dengan wajah Alex.


"Pernah, saat Kau berusia tujuh bulan" Jawabnya.


"Tujuh bulan? Oh, Kau seorang penyembuh?"


"Bukan. Aku tidak bisa menyembuhkan penyakitmu" Jawabnya.


"Lalu, Kau siapa?" Arthur bertanya lagi.


Pria itu menyandarkan pungungnya di batang pohon besar belakangnya.


Pria itu ternyum dan menurunkan pandangannya.


"Kau akan mengetahuinya sendiri. Bisa ceritakan, apa yang membuatmu bahagia?"


Pria itu memainkan jari manis tangan kirinya seperti memakai sebuah cincin.


"Hal yang membuatku bahagia?..emmm.. Kurasa, bisa keluar dari Istana, itu cukup menyenangkan. Sayangnya, Keluargaku meninggal dua minggu sebelum Aku kabur dari Istana. Kalau saja Mereka masih ada, Aku ingin membawa mereka ditempatku" Jawab Arthur sambil meringis.


Raut Arthur langsung berubah seperti orang berfikir.


"Kenapa Kau kabur? Apa yang Kau takutkan?" Tanya pria itu.


Arthur melihat ke bunga Lyli spider merah didepannya.


"Apa yang Kutakutkan?"


Arthur melihat itu dan kembali berkata,"Aku tidak tau. Membawa Mereka pergi? Kemana?"


Ia melihat kedua tangannya yang kini berubah menjadi bayang hitam.


"Eh? Apa yang terjadi padaku?"


Ditangan kirinya, Ia melihat cahaya ungu yang menjalar disepanjang aliran mananya.


Arthur kembali melihat sosok itu yang hanya melihatnya.


"Kau adalah Aosora Arthur. Tak akan ada hal buruk yang akan menimpamu selagi ada Aku. Saat Aku ******* disitulah Kau akan******. Oleh karena itu, Aku harap Kau*******"


"NGGGGUUUUNGGGG" Telinga Arthur berdengung.


"Kau,....mengatakan....apa? Aku....tak...bisa....mendengarmu" Arthur merasakan suaranya semakin mengecil.


Pria itu mengusap rambut Arthur yang terlihat beberapa helai berwarna Biru kehitamanan.


Senyum seringai terlihat keluar dari bibir pria didepannya itu.


"Bangunlah....Syuuut" Ucap lirih Pria itu yang samar terdengar ditelinga Arthur dan Pria itu, mendorong perlahan Arthur.


Arthur tak merasakan beban pada dirinya.


Tubuh Arthur, terasa seperti sebuah kapas yang terjatuh dari langit.


Ia melihat langit yang membentang sangat luas dan "Blub!" Tubuhnya terjatuh digenangan air.


Arthur langsung membuka matanya dan menarik napas panjang. Kemudian, terengah-engah.


"Arthur! Kau! Baik-baik saja?!" Suara itu terdengar lebih jernih dan tak asing ditelinga Arthur.


Sepasang mata merah ditatap oleh mata Arthur.


Arthur mengedipkan matanya dan otaknya berusaha menerima apa yang Ia lihat.


"Mata merah. Matanya merah.... merah....mer... DUGGGHH!!!!"


Arthur sadar kalau mata merah adalah milik seorang Iblis.


Ia langsung duduk dan keningnya mencium hidung mancung Archie dengan kerah.


Archie langsung berdiri dan memegang hidungnya yang terhantuk kening Arthur dengan keras itu.


"Sialan!!!! Apa yang sebenarnya Kau pikirkan bocah?!!!!"


Archie mengosok-gosok hidungnya dengan kasar hingga memerah.


Arthur mengeluarkan pedang mana birunya dan langsung berdiri diatas kasur.


Zack, Daniel, Shera, dan Lina berdiri didepan Archie.


Arthur tak mengerti kenapa mereka berempat melindungi empat Iblis di belakangnya itu.


"Tunggu! Kenapa Kalian seperti ini?! Siapa Iblis dibelakang Kalian itu?! Kenapa Kalian malah melindunginya?" Tanya Arthur yang telah menghilangkan pedang mananya itu.


Zack dan Daniel saling melihat.


"Dia De luce Archie" Jawab Zack.


Mendengarkan nama itu, Arthur langsung membelalakan matanya.


"Apa?! Archie?! Tidak mungkin.... Kenapa Wajahnya...."


Arthur memperhatikan Archie dari atas hingga kebawah.


"Kenapa? Aku lebih tampan?"


"Kenapa wajahnya malah cantik? Pfft! Tubuh dan wajah itu...Pffft.... gak cocok banget!! PUAHAHAHHAHAHA!!!"


Arthur tertawa paling kencang didalam markas.


Daniel membuka kaca matanya dan mengosoknya.


"TEP!" Zack menepuk bahu Daniel.


"Tertawalah, tak perlu ditahan. Pffft" Sebenarnya Zack juga ingin tertawa. Namun, Ia menahannya sejak tadi untuk menjaga imagenya dari Lina.


"Hah?! Apa yang Kalian tertawakan?!"


Wajah Archie sangat memerah dan Ia berniat untuk memotong rambutnya.


Arthur tertawa hingga kehilangan suaranya dan wajahnya sangat memerah karena Ia berulang kali melihat bentuk tubuh Archie yang tegap dan membentuk dengan wajahnya yang cantik seperti seorang wanita berambut sebahu.


Ini, bukan pertama kalinya Ia disangka seorang perempuan oleh orang lain.


"Haha, Sifatmu, sama seperti Alex. Bedanya, Alex lebih menghargai daripada Kau menertawakanku seperti ini" Archie tertawa kecil sambil melempari Arthur buku dari Marsyal itu.


Arthur menangkap buku itu sambil memegang perutnya yang sakit.


Ia merasa kepalanya lebih enteng dari sebelumnya.


Lina menepuk nepuk pungung Arthur.


"Sebelum itu, ada yang ingin kutanyakan Pangeran" Zack tiba-tiba mengubah nada suaranya menjadi serius.


Arthur berhenti tertawa kemudian, "Tanya Apa Kak Zack?"


"Apa, Pangeran punya kepribadian ganda?"


Semuanya menoleh kearah Arthur.


"Eh?! Kenapa bertanya seperti itu? Aku sehat dan tak memiliki kepribadian ganda" Jawab Arthur.


Arthur tidak tau kenapa mereka bertanya seperti itu dan awal tadi, mereka sempat mewaspadai Arthur.


"Begitukah? Niel, sepertinya, Kita harus melaporkannya pada Wakil" Bisik Zack.


Daniel memakai kacamatanya dan berkata "Kenapa tak langsung saja ke Kapten?"


Zack sedikit mengangkat kedua alisnya.


"Kapten sangat sibuk akhir-akhir ini. Ada baiknya, kalau tak menganggunya" Jawab Zack.


"Baiklah, Kita tunggu hingga wakil kembali"


Arthur memegang keningnya.


"Eh?! Tanduk... Tanduknya hilang! Gilak!!! Archie! Bagaimana bisa?!!!"


Arthur langsung berkaca dan sangat senang melihat tanduknya menghilang.


Zack,Lina, Daniel, dan Shera semakin percaya kalau Arthur berkerpibadian ganda.


"Eh, Aku tid..."


"Eh?! Jangan-jangan! Kau! Apa Kau bertemu adikmu saat Aku tertidur?"


Arthur pikir, ini ulah Mizel.


"Jangan bodoh! Untuk apa Aku melakukannya?!" Tanya tegas Archie.


Ia sendiri, tak ingin kembali ke Akaiakuma.


"Cih! Kau itu jangan sok-sok sundere gitu! BUGH! BUGH!" Ucap Arthur sambil memukul bahu Archie.


"Dasar bodoh"