
Arthur berjalan seorang diri diantara rakyat Shinrin yang telah di evakuasi. Ia berjalan sendiri tanpa memakai cadarnya. Orang-orang Shinrin tidak ada yang mengenali Arthur.
Perasaan Arthur menjadi sedih karena melihat orang-orang disekitarnya yang resah karena kondisi Shinrin saat ini. Tak hanya itu saja, tak sedikit dari rakyat yang di evakuasi mengalami luka-luka dan cedera. Bisa dikatakan, insiden ini adalah level A+ untuk dihadapi Shinrin.
Anak kecil menangis, wanita pingsan, orang tua dan lansia yang terluka. Pemandangan itu, membuat Arthur merasa tak berdaya.
Ia mendatangi seorang laki-laki yang kakinya terluka dan masih merembeskan darah. "Izinkan saya menyembuhkan kaki paman" Ucap Arthur sambil berjongkok disampingnya.
"Apa bisa?" Pria paruh baya itu, tidak yakin dengan penawaran Arthur. Sebab bagi pria itu, Arthur terlalu dini untuk bisa sihir. Apalagi, sihir penyembuhan.
"Izinkan saya membuktikannya" Jawab Arthur sambil mengeluarkan cahaya biru terang dari kedua telapak tangannya.
Hawa dingin yang menenangkan, dirasakan oleh pria itu dari mana yang dikeluarkan oleh Arthur. Ia (pria itu) membelalakan matanya. "Maafkan saya karena meragukan Anda" Pria itu membuka lipatan celana di kakinya.
Luka gigitan yang kroak membuat tubuh Arthur menjadi ngilu.
"Apa yang menjadi penyebab peristiwa ini?" Arthur bertanya lirih pada dirinya sendiri. Ia merasa tidak akan bisa banyak membantu selain, membantu mempercepat proses pengeringan pada luka.
"Iblis. Ini semua disebabkan oleh iblis" Pria paruh baya itu tiba-tiba menyaut.
Arthur melihat wajah pria itu. Ekspresi kebencian dikeluarkan oleh pria yang sedang menahan rasa sakitnya. "Kenapa Bangsa Iblis membenci kami? Apa salah kami? Kami juga ingin hidup dengan nyaman. Tidak puaskah mereka telah menguasai ¾ wilayah Negri Arden?"
"Ketidakpuasan?"
Arthur tidak mengerti dengan maksud pria itu. Arthur menunduk untuk merenungkannya. Usia Arthur terlalu muda untuk mengerti bahasa orang dewasa.
Pria itu melihat mimik berpikir yang diekspresikan oleh Arthur. "Bocah ini, apa anak dari keluarga kelas atas? Dari pakaian dan wajahnya sudah sangat terlihat"
"Tuan kecil,..."
Pria paruh baya itu, memanggil Arthur dengan sebutan Tuan kecil. Arthur melihat pria itu yang memiliki warna iris cokelat muda.
"Terimakasih. Anda telah membantu saya. Saya harap, suatu saat nanti orang-orang akan mengenal kebaikan Anda" Pria itu berdoa positif untuk Arthur.
Bibir Arthur berkembang. Ia tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi kecilnya rapi dan bersih.
"Terimakasih kembali paman!" Tegas Arthur pada pria itu.
Pria paruhbaya itu, tak berani memegang Arthur sembarangan. "Tuan kecil, Anda berasal dari keluarga mana?" Pertanyaan itu, adalah pertanyaan yang dilarang oleh Naver untuk Arthur jawab.
Arthur menunjukkan senyuman tipisnya. "Maafkan saya, saya tidak bisa menjawab pertanyaan paman" Arthur menatap mata pria itu.
Memang terdengar awam, namun beberapa keluarga memang tak ingin nama marganya diketahui oleh orang biasa.
Arthur adalah pangeran dan anak yang penurut. Ia selalu mendengarkan ucapan kedua orang tuanya walau terkadang, menghancurkan dirinya sendiri.
Tsuha melihat rambut yang berbeda dari rakyat Shinrin. Warna rambut Arthur yang lebih muda dan pucat dari warna langit siang sangat mencolok di mata Tsuha.
"Pangeran?"
Mata Tsuha langsung terbelalak. Ia termangun ditempat.
"Pangeran Arthur ada di Shinrin. Aku ingin bertemu dengannya. Ini kesempatanku untuk meminta maaf pada Pangeran!"
Tsuha melepaskan tangan Bara yang memegangnya. Pegangan Bara terlepas. Tsuha berlari kearah Arthur.
"Eh! Dek! Tunggu!"
Tentu saja Bara sangat terkejut. Ia langsung mengejar Tsuha dan meninggalkan Lucy yang menuntun Tsuki.
Tsuki dan Lucy saling melihat. "Kenapa kembaranmu berlari?"
Tsuki mengusap ingusnya. "Dia sering seperti itu sejak enam bulan yang lalu. Ayah dan Ibu menyuruhku untuk menemani Tsuha kapan-pun dan dimana-pun. Dia pernah berteriak ketakutan saat melihat prajurit yang lewat. Kata Ibu, Tsuha sedang sakit dan dia butuh waktu lama untuk sembuh. Aku lelah harus menemani dia seperti itu. Terkadang Tsuha bersifat berlebihan padaku. Dia seperti mengekangku" Jelas Tsuki.
Lucy kembali melihat Bara yang sudah menangkap Tsuha dan membungkukkan tubuhnya berulang kali untuk meminta maaf pada orang yang di langkahi dan di lompati Tsuha.
Air mata Tsuha menetes begitu saja. "Kumohon, lepaskan aku. Aku ingin bertemu Pangeran Arthur" Lirih Tsuha yang dipeluk Bara.
"Pengeran Arthur?" Bara bertanya pada Tsuha. Tsuha tak sedikit pun melihat Bara. Pandangan Tsuha, terfokus pada Arthur. Ia mengangguk dan menunjuk Arthur yang sedang berbincang dan menyembuhkan pria paruhbaya jauh di depan mereka.
Bara melihat punggung anak-anak dengan warna rambut yang lebih pucat dari warna langit. "Pangeran Arthur? Jangan-jangan! Pangeran Aosora kedua yang dikabarkan terlibat insiden penculikan itu. Kenapa anak ini bisa mengenalnya!?" Bara membelalakan matanya. Ia tak menyangka akan bertemu Aosora Arthur di insiden ini.
Tsuha melihat kearah Bara. "Kakak, kumohon, Aku ingin meminta maaf padanya"
Bara tak kuat melihat anak menangis dihadapannya. Ia langsung berdiri dan menuntun Tsuha menuju Arthur.
"Aku, ingin tau wajah Aosora Arthur dan apa hubungan adik ini dengannya? Bagaimana dia bisa mengetahui kalau itu adalah Aosora Arthur yang bahkan, Razel dan Nel pun tak tau dengan wajahnya"
Arthur melihat kebelakang sebelum Tsuha memanggil namanya.
Arthur melihat Tsuha yang menangis tanpa suara. Arthur kaget dan berdiri.
"Oh, jadi Pangeran Aosora ke-2 memiliki wajah seimut ini?"
Arthur mendekat kearah Tsuha. Tsuha tak sanggup berkata-kata.
"Apa ada yang terluka?"
Arthur bertanya pada Tsuha dengan sedikit menelengkan kepala kekanan. Ia masih tak ingat dengan Tsuha. Arthur memasukkan kedua tangannya di kantung celananya karena Tsuha tak menjawab sedikitpun.
"Ah, apa dia baik-baik saja?" Arthur berusaha tersenyum. Dia sendiri bingung.
Tsuha menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Lutut saya berdarah. Bisakah Anda menyembuhkannya?"
Tsuha memutuskan untuk tidak meminta maaf sekarang. Ia masih tak bisa menghentikan tangisannya. Ia menyalahkan dirinya akibat kebodohannya itu.
Bara yang berdiri dibelakang Tsuha hanya bisa mendengarkan percakapan anak kecil biasa (Menurutnya). "Kenapa tidak jadi minta maaf? Apa dia salah orang?"
Arthur berjongkok dan melihat lutut dan pergelangan kaki Tsuha yang terluka. Ia melihat Tsuha sambil menunjukkan senyuman ramahnya. Tsuha hanya mampu melihat di sela jari-jari yang menutup wajahnya.
"Kau akan baik-baik saja. Tenang dan duduklah. Aku akan mengeringkan lukamu"
Tsuha didudukkan oleh Bara.
"Tidak. Kenapa aku tidak sekuat dirinya? Dia lebih muda dariku. Kenapa aku tak bisa melindungimu? Kenapa aku tak bisa meminta maaf yang benar padamu? Pangeran, apa Anda benar-benar lupa dengan saya? Saya Estelle Tsuha, tem- pelayan Anda"
Tsuha menagis hingga sesegukkan.
TEP! TEP!
Arthur menepuk kaki Tsuha beberapa kali.
"Kata ayahku, laki-laki harus kuat gak boleh nangis. Kalau ada yang menganjal, sampaikan saja. Biar tidak menjadi penyakit" Ucap Arthur sambil meringis pada Tsuha.
.
.
.
.
.
.
BONUS: