
Tahun 926,
"CTARRRRRR!!!!!!"
Suara guntur mengelar dimalam hari pergantian musim panas menuju musim penghujan.
Kilat terlihat beberapa kali dalam satu menit.
"NGGGGGGHHHHH!!!!"
Ratu Akaiakuma ke X sedang bertarung untuk melahirkan anaknya dimalam itu.
De luce Arnold saat ini berusia 21 tahun berdo'a kepada Sang Cahaya agar Istrinya diberi kelancaran saat melahirkan anaknya.
Keringat membasahi seluruh tubuh Ratu Akaiakuma yang asli bangsa Manusia.
"Terus Baginda, Kepalanya mulai terlihat. Tarik napas..."
Bidan beranak mulai membantu untuk mengeluarkan bayi itu dari jalan lahirnya.
Tangan Arnold digengam erat dan dicakar oleh Istrinya hingga tangannya terluka.
Istri Arnold terus menerus mengatur napasnya.
Hawa dingin itu, benar-benar sangat panas.
"Kepalanya sudah keluar. Terus mengatur napas Baginda"
Bidan itu menarik perlahan tubuh bayi yang sangat rentan itu.
"Ooeeeekkkkkk!!!!!!!"
Tangis bayi terdengar ditelinga Arnold dan Istrinya.
"Dia laki-laki dan sehat"
Arnold tersenyum lega saat mengetahui jenis kelamin anaknya adalah laki-laki.
Ia adalah calon pewarisny kelak.
Bayi berambut hitam itu diberikan oleh bidan itu pada Arnold yang membawa kain untuk bayinya.
Tanduk yang tumpul dan kecil muncul diatas kening bayi itu.
Arnold mencium bayinya.
"Zenitta, Putra Kita sudah lahir...."
Arnold benar-benar sangat bahagia hari itu.
Ia menunjukkan Putra nya yang telah lahir itu pada Istrinya sambil mencium kening Istrinya yang berkeringat itu.
Zenitta, Istri Arnold mencium pipi bayinya yang masih merah.
"Putraku,.. Dia mirip denganmu. Baginda.... Tanduknya sama"
Senyum lebar dengan napas yang terengah-engah. Itu, adalah hasilnya setelah mempertaruhkan nyawanya untuk nyawa anaknya.
"NYUUUUTTTT!!!!!"
Arnold dan Istrinya pikir ini sudah usai namun, Istrinya mengalami kontraksi.
"Akkhhh.... Ar....no...ld.... perutku....sa...kit....." Istri Arnold langsung memegang lengan Arnold dan meremasnya dengan kuat.
Arnold mengambil bayinya dan langsung melihat kearah bidan itu yang kembali memeriksa jalan bayi Zenitta.
Tangan bayi, muncul terlebih dulu.
"Baginda, masih ada satu lagi. Tangannya muncul terlebih dulu"
Harusnya, bayi terlahir dengan bagian kepala terlebih dahulu diposisi normalnya.
"ARGGGGHHHHHHH!!!!"
Zenitta sangat kesakitan akibat posisi bayi yang salah.
"Atur pola napas Anda Yang mulia. Tarik napas,.... keluarkan perlahan dan dorong pelahan... Tarik napas.... keluarkan...."
Bidan itu, memerut perut Zenitta dengan hati-hati.
"AAAKKKHHHHH!!!!"
Teriakan Zenitta semakin kencang.
Arnold semakin panik karena teriakan Istrinya itu.
"SIALAN !!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA PERUT ZENITTA ?!!!"
"BAGINDA ! DIAMLAH SEBENTAR !" Bidan itu, balik membentak Arnold.
"!!!"
Arnold langsung diam ditempat.
"Saya, hanya memerutnya untuk mengembalikan posisi bayi. Ini memang agak membuat sang ibu sakit" Jelas halus bidan itu.
Bidan itu melihat jalan keluar bayi.
Kepala bayi mulai terlihat.
"Terus atur napas..."
Bidan itu, meminta Zenitta untuk mengatur napasnya.
Napas Zenitta tersengal-sengal.
Bidan itu mulai menarik perlahan kepala bayinya dari jalan keluar bayi.
Tangan bayi itu, keluar bersamaan dengan kepalanya.
"OEEEKKKKKK!!!!!!"
Tangisan bayi mulai terdengar.
Bidan itu membelalakan matanya saat Ia melihat kepala bayi yang keluar.
Bayi itu, berambut putih tipis dan tidak bertanduk.
Bidan itu, tetap bersikap profesional.
Ia mengeluarkan bayi itu terlebih dahulu.
"Anak Sulung Anda Laki-laki dan Sehat" Ucap Bidan itu dan Ia tidak menunjukkan wajah senang sedikitpun.
Arnold melihat rautnya.
"Ada apa ? Apa Putra sulungku, cacat ?" Tanya Arnold.
Hati Zenitta gemetar saat Arnold bertanya seperti itu pada Bidan tersebut.
"Tidak. Putra Anda sehat dan lengkap. Hanya saja bukan untuk ukuran normalnya bangsa Iblis" Jelasnya.
DEGH!!!!"
Itu adalah sesuatu yang harus dibayar saat seseorang menikah dan memiliki hubungan suami-istri dengan bangsa yang berbeda.
Arnold datang dan melihat Putra sulungnya itu.
Rambut putih dan tak memiliki tanduk membuat hati kecil Arnold menjadi rapuk.
Merah.
Matanya merah.
Arnold langsung meletakkan Putra keduanya disamping Zenitta.
"GREEP!!"
Zenitta meraih tangan Arnold.
"Arnold,.... Kamu, mau kemana ?"
Mata Arnold menjadi merah menyala saat melihat Istrinya itu.
"Mengambil pedangku"
Ia melepas perlahan tangan Zenitta yang memegangnya.
Arnold berjalan keluar dari kamar bersalin itu.
"Baginda !" Zenitta langsung duduk dan berniat mengejar Arnold.
"Yang Mulia Ratu, Anda jangan banyak bergerak dulu. Anda baru saja melahirkan" Ucap bidan itu.
Zenitta mengulurkan kedua tangannya.
"Tolong berikan putraku padaku"
Air mata menetes dari mata Zenitta dan mengambil Putranya dari tangan bidan itu kemudian Ia menyelimuti Putra sulungnya itu dengan dua lembar selimut.
"Yang Mulia, Apa yang Anda pikirkan ?" Bidan itu memegang tangan Zenitta yang terburu-buru menyelimuti Putra sulungnya itu dengan selimut bayi.
...****************...
Ha Nashi menanyakan pertanyaan yang sama seperti bidan itu pada Arnold.
Sejak tadi, Ha Nashi menunggu diluar kamar bersalin.
Arnold melepaskan tangan Ha Nashi dengan Kasar.
"Dia Lahir ! Iblis berambut putih tanpa tanduk. Dia akan menghancurkan susunan Kerajaan ini. Aku,... Tak ingin Kutukan Guru menjadi nyata !" Tegas Arnold sambil berjalan masuk didalam ruang Pribadinya.
"Apa yang akan Anda lakukan ?!"
Ha Nashi menutupi jalan Arnold.
"Tuan Ha Nashi menyingkirlah"
"Wuuusssshhhhh"
Ha Nashi mengeluarkan pedang mananya yang berwarna putih tulang dan menunjukkannya pada Arnold.
Arnold membelalakan matanya.
"Tuan Ha Nashi! Apa maksudnya ini ?!"
Arnold mundur beberapa langkah dari Ha Nashi.
"Bila Anda menyerang Ratu Zenitta, Saya tidak segan untuk mengkhianati Anda"
Ha Nashi berdiri dengan tegak, agak melebarkan kedua kakinya selebar bahu, dan menarik pedangnya diatas bahu kanannya dengan menunjukkan pedangnya itu pada Arnold.
Arnold mengkernyitkan kedua Alisnya.
"Tuan Ha Nashi. Ini adalah urusan keluargaku. Kau tidak ada hubungannya dengan ini"
Arnold tidak ingin menyerang Ha Nashi.
Ha Nashi semakin mengeratkan cara memegang pedangnya dan kuda-kudanya.
"WOSH!"
Ha Nashi langsung maju kearah Arnold dengan cepat.
"TUAN HA NASHI !!!!!" Bentaknya.
...****************...
"Tolong, halangi Arnold. Aku mohon padamu. Kita, sama-sama bangsa manusia. Aku... memohon padamu....."
Zenitta menangis saat mengatakannya.
Bidan itu juga memiliki seorang anak perempuan yang mati karena menikah dengan bangsa Iblis akibat luka robekan dan pendarahan dijalan bayi lahir saat melahirkan cucunya yang dominan Iblis.
"Grep!"
Bidan itu memeluk Zenitta.
"Pergi,.... pergilah ditengah hutan. Saya pernah melihat Gubuk kecil dihutan sihir itu. Yang Mulia Ratu, Semoga sang cahaya selalu melindungi Anda dan Putra Anda"
Bidan perempuan tua itu, mencium kedua pipi Zenitta.
Ia melihat Zenitta seperti Putrinya sendiri.
Zenitta menanggis.
"Semoga Sang Cahaya juga, Selalu melindungi Bibi dari Pemerintahan Akaiakuma ini"
"Wosh!"
Di kondisi yang lemah, Zenitta menggunakan sihir teleportnya untuk berpindah.
"BRUAKKKK!!!"
Arnold membuka pintu kamar bersalin Zenitta dengan kencang.
Tubuh Arnold penuh dengan luka besetan pedang.
Ia melihat disekitarnya yang hanya ada bidan itu bergetar didekat Putra keduanya.
"DIMANA ZENITTA ?!?!!!!" Tanya tegas Arnold pada bidan itu.
Badan bidan itu sangat gemetar.
"Ya..ng.....mu....lia...."
"BRAKKKKK!!!! PYARRRRRR!!!!! CLONTANG!!!"
Arnold menendang meja yang berisi peralatan untuk membantu melahirkan.
Dan barang yang berbahan alumunium itu jatuh serta air hangatnya mengenai sepatu Arnold.
"SAYA TIDAK TAU YANG MULIA ZENITTA KEMANA !!!! SAYA TADI SEDANG MEMBERSIHKAN BADAN PUTRA KEDUA ANDA !!!!"
Tegasnya.
"Cih !" Arnold langsung keluar dari kamar bersalin itu dan memanggil Prajuritnya.
"Susuri seluruh wilayah Akaiakuma ! Dan ! Temukan Yang Mulia Ratu dalam waktu 24 jam !" Tegas Arnold pada prajurit-prajurtnya.
"Baik! Grup A Kebagian Utara kerajaan ! Yang berbatasan langsung dengan Wilayah Greendarea ! Grup B...."
Arnold benar-benar kecewa pada Ha Nashi dan Zenitta.
Dan Ia akan menyusuri seluruh area Akaiakuma seorang diri apabila para Prajurit tidak menemukannya dalam waktu 24 jam