
Titisan adalah sosok Pria yang terlahir untuk membawakan kedamaian bagi Negri Arden yang merupakan pusat dari kehancuran akan terjadi dimasa depan kelak.
Titisan itu, berjumlahkan enam orang. Dan Lima dari keenam orang itu, berasal dari bangsa yang berbeda beda. Yakni; Iblis, Elf, Siluman, Manusia, dan Malaikat.
Mereka memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding bangsa Mereka dalam bentuk Normal.
Diantara Mereka, ada Dua sosok Titisan yang sangat dipercaya oleh Sang Cahaya. Yaitu, Daeva Nerezza atau Titisan pertama dari bangsa Iblis dan Alder Ren dari Bangsa Elf yang merupakan Titisan Ketiga setelah Kakak Daeva yang juga merupakan seorang titisan.
Namun, ada Satu titisan yang memiliki Keistimewaan yang berbeda dari Keenam titisan itu. Dia, Alfarellza Ambareesh.
Seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Alfarellza yang Kini memiliki Nama Akaiakuma.
Alfarellza Ambareesh adalah ayah dari Keturunan Keluarga De luce.
Dan Ia, mati ditangan anaknya sendiri.
Namanya, Alfarellza Adelio De luce. Dia Putra Pertama Istri pertamanya namun, Ia merupakan Putra kedua dari Alfarellza.
Bagaimana bisa begitu?
Sebab, Alfarllza memiliki Dua Istri yang merupakan anak dari Titisan kedua Lingga Federick dan Alba ve Ranu.
Alba ve Ranu, merupakan titisan bangsa Siluman.
Diceritakan, anak pertama Alfarellza merupakan cucu dari Alba ve Ranu. Putra pertamanya bernama Alba De Lino. Ia tak bermarga Alfarellza karena bukan anak yang bisa mengantikan posisi Alfarellza sebagai penerusnya.
Namun, walau begitu Ia memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding Adelio De luce.
Adelio memiliki rambut hitam sama seperti Ibunya dengan rupa Alfarellza yang beralis tebal dan mata yang memiliki garis mata lebih panjang.
Rupanya memang rupawan.
Namun, Ia termakan dengan ucapan seorang Pria yang menjadi Gurunya dan sekaligus temannya yang berkata kalau De Lino akan mengantikannya sebagai penerus Alfarellza.
Kita kembali Lagi ke pembahasan Titisan
Titisan, tercipta dari bongkahan batu murni dan suci milik sang cahaya.
Batu itu, ada enam buah.
Merah, Hijau, Kuning, Putih, Biru, dan Ungu.
Setiap warna merupakan lambang dari Lima bangsa yang ada di Negri Arden.
Warna itu, akan berubah menjadi gelap bila sosok titisan tak menjalankan tugasnya dengan benar dan bila Mereka Membunuh bangsa lain yang tak bersalah.
Para titisan, memiliki tanda yang sama sebagai identitas mereka.
Mereka adalah orang terpilih dan spesial.
Hanya Titisan Malaikatlah yang tak memiliki Tanda itu.
Lalu, Diantara mereka berenam. Hanya ada satu titisan yang masih abu-abu keberadaannya.
Titisan Kehancuran.
Daeva beropini kalau, Aosora Arthur adalah seorang titisan Terakhir itu. Namun, opini Daeva disangkal oleh Alder.
"Kalau Ia adalah Titisan Kehancuran, Lantas! Kenapa Aku harus menjaganya agar Kau tak membunuhnya?"
"Kau bisa melihat masa depan. Harusnya, Kau tau Mengapa Sang Cahaya menginginkan itu"
Daeva memiliki keistimewaan bisa mendengar batinan orang lain. Dan Ia, selalu mendengar perbincangan Arthur dengan Archie setiap didekat mereka.
Alder terdiam ditempat sambil melihat Daeva yang pergi mengikuti Arthur yang berjalan bersama Zack.
"Ck! Kau pikir, Apa Aku bisa melihat segalanya? Hanya Sang Cahaya yang tau itu. Aku hanya bisa melihat beberapa serpihan saja"
"Kalau Arthur adalah seorang titisan, Harusnya Ia sudah sadar sejak dulu. Dan tanda didadanya itu, belum tentu tanda titisan seperti Kita. Kau tau kan! Kalau Arthur itu sejak terlahir sudah memiliki tanda itu?! Siapa Tau, tanda itu hany sebuah kutukan yang bisa membahayakan orang disekitarnya yang hanya bisa disembuhkan oleh Ku dan Dibunuh dengan sihirmu!" Alder mentelepati Daeva didepannya.
Daeva mendengarnya. Dan Ia, masih teguh atas pendiriannya itu.
Sepasang mata dengan kornea dan pupil yang berbeda warna, memperhatikan mereka berempat dari samping Lonceng sihir besar milik Shinrin.
Ia menyeringai melihat mereka semua yang berjalan seperti segerombolan semut.
Rambutnya yang berwarna putih, terkena sepoian angin sore yang menyepoinya dengan halus.
Ia memegang buku dengan sampul yang berlapiskan tujuh batu sihir yang berbeda warna.
"Tiga Titisan dalam satu tempat, satu titisan yang berada ditanah Aosora dan Dua titisan ditanah Akaiakuma. Apa Kalian sudah menjalankan tugas Kalian dengan benar?"
Sayapnya membentang dan memiliki panjang yang melebihi tubuhnya Serta, mengeser ditanah saat Ia berjalan.
Ia adalah Luciel Malaikat jatuh akibat menjalankan tugasnya dan telah melenyapkan tiga desa besar dizaman sebelum turunnya para titisan Serta, sebagian kecil dari desa yang lenyap itu, telah menjadi sebuah kerajaan yang bernama Aosora.
Aosora, adalah tanah Kutukan bagi Negri ini.
Ia menyerigai.
Dan melihat kesebelah kirinya.
"Menurutmu, Apa perbuatanku Salah?"
Ia sadar akan keberadaan Author dan Readers.
"Dunia ini, tak seindah dan seberwarna bayangan Kalian. Menurutmu, apakah Aosora Arthur itu sosok yang lebih baik dari Nao ataupun Daeva?"
Ia mendengus dan berjongkok disana.
"Bermimpilah terus. Mereka semua adalah sebagian kecil dari milik Aosora Arthur. Kalian paham maksudkukan?"
Luciel menatap langit yang mulai menjingga.
Tangan kanannya membuka buku itu.
Tulisan tangan dengan tinta hitam sedikit terlihat disana dan tulisan tinta hitam itu, bertuliskan Daeva, tak bersalah.
Buku siapa itu?
"Buku ini? Menurutmu, milik siapa?"
Lagi-Lagi Luciel menyeringai dan seringaiannya itu, terlihat tak asing.
"Apa yang Kau pikirkan? Lanjutkan ketikanmu ini. Ritme novelmu ini, terlalu berantakan. Fokuskanlah pada MC nya! Jangan padaku"
Ia menutup buku tersebut dan Aku adalah pemula. Bila Ritme alurnya berantakan, tolong bantulah dengan memberi support dengan memberi saran dikolom komentar.
"Anjay~ malah numpang ngiklan"
Mari, Jauhi Luciel dan Kembali pada Titisan.
Kemudian, Titisan yang mati akan kembali beringkarnasi tanpa kehilangan ingatan masa lalunya.
Bila, Ia kehilangan ingatan tentang kehidupan pendahulunya, itu karena dirinya sendiri.
Lalu, Jiwa seorang titisan tak bisa disegel seperti Archie.
Teori Marsyal beberapa waktu yang lalu, adalah benar.
Kemudian, Seorang Titisan tidak bisa dikutuk oleh sembarang orang.
Hanya ada dua sosok yang bisa mengutuk titisan.
Yaitu, Sang Cahaya dan Seorang Malaikat Agung yang memiliki drajat lebih tinggi diantara 13 Malaikat Agung yang lainnya.
Malaikat Agung itu,...
"Aku..." Luciel menyela.
Lupakan Saja.
Lalu, Setiap Malaikat Agung memiliki sihir yang tak bisa ditiru oleh orang Lain selain, Malaikat Agung yang bertugas menjaga sepihan cahaya Para titisan (*Maaf, Aku malas mengetik ataupun menyebut Namanya).
Dia melirik karena Namanya tak disebut lagi*.
Titisan, bisa mengubah wujudnya sesukanya tanpa menghilangkan ciri Khasnya dalam artian, Bila Seorang titisan itu bisa mengubah warna rambut atau matanya, Itu kerena sihir ilusi yang Ia ciptakan.
Yang bisa menggunakan sihir ilusi itu, hanyalah Alder Ren.
Dan, tubuh para Titisan bisa digunakan wadah untuk jiwa seseorang yang telah menjalin perjanjian dengannya.
Dan Alder Ren, Bisa membuat duplikat tubuh dari jiwa yang terpisah itu dengan sedikit DNA dari tubuh aslinya.
Serta, Ia bisa melihat sebagian hal yang akan terjadi dimasa depan secara rinci asal, Ia tak kehilangan dua pusakanya yaitu, anting-antingnya.
Baik itu darah, material mana dari tubuh itu, ataupun bagian/potongan tubuh lainnya seperti Rambut atau kuku.
Daeva Nerezza, Memiliki keistimewaan bisa menghentikan waktu, kembali ke masa lalu sekali dengan bayaran kehilangan keistimewaannya untuk bisa menghentikan waktu. Dan, Ia juga bisa membaca batinan orang disekitarnya.
Titisan Kedua adalah Kakak dari Daeva Nerezza. Ia, bernama Lingga Federick.
Lingga Federick memiliki keistimewaan sama seperti Daeva.
Bedanya, Ia tak bisa mendengar batinan Orang lain ataupun menggunakan sihir sehebat titisan yang lainnya.
Ia adalah pengguna pedang yang terhebat diantara para titisan dan Ia memiliki kekhasan dalam pengendalian sihir Api yang skala serangannya itu, bisa seluas hutan sihir di Negri Arden.
Luas hutan itu, dua kali lebih daripada kerajaan terbesar di Negri Arden (Akaiakuma)
Negri Arden, 65% adalah hutan sihir.
Lalu, titisan keempat adalah Alba ve Ranu titisan dari bangsa Siluman.
Ia berasal dari keturunan Rubah putih yang saat ini adalah keturunan siluman dengan darah yang langka.
Ranu, memiliki kelebihan dimatanya yang bisa melihat dari jarak jauh melebihi mata normal asal tidak tertutupi oleh dindin dan Ia memiliki penciuman yang tajam dengan radius 30 Km.
Titisan ke Lima adalah Darnette Dean.
Dean merupakan murid dari Daeva. Dan, Ia memegang gelar sebagai seorang Titisan bangsa Manusia diusianya yang ke 16 tahun (Tiga tahun lebih muda dari Daeva dan Lingga serta, tujuh tahun lebih muda dari Ranu saat mendapatkan gelar titisan)
*Alder mendapati tanda titisan dan bertemu dengan sang Cahaya diusianya yang ke 15 tahun dan Usia Alder dengan Daeva hanya selisih Empat tahun lebih muda dan Dua tahun lebih tua dari Dean Namun, Lima tahun lebih muda dari Ranu.
Maksudnya, Alder lebih muda dari Ranu dan Daeva, serta Ia mendapatkan gelar Titisan sebelum Ranu menjadi Titisan.
Itulah sebabnya, kenapa Alder menjadi titisan ke tiga (Sebelum Ranu).
Lalu, titisan ke enam Ia adalah Alfarellza Ambareesh.
Seorang Putra mahkota yang menjadi titisan malaikat diusia termuda diantara Lima titisan yang lainnya. Ia menjadi salah satu titisan diusia yang ke 6 tahun dan Ia berjarak 12 tahun dari Dean.
Keistimewaan Alfarellza adalah Ia mampu menerima transferan sihir milik orang lain dan menyimpan sihir itu ditanduk buatannya.
Dan itu adalah sedikit penerangan tentang enam titisan di Negri Arden.
...****************...
Di chapter yang berikutnya, akan kembali menceritakan tentang Nox yang sedang dalam perjalanan menuju tempat Arthur berada.
^^^**BONUS:^^^
Gambar untuk ilustrasi Luciel**