
Archie bediri melihat ada Tsuha didekatnya.
"Kenapa Kau kemari?"
Archie tidak senang melihat kehadiran Tsuha. Ia telah diusir oleh 'Semua anggota Guild pemberantas Iblis' Jadi, Tsuha pasti termasuk salah satu dari mereka itu.
Itu, menurut pandangan Archie.
Tsuha sendiri, tak tau kenapa Archie tiba-tiba tak ada dimarkas. Dan Tsuha mencarinya, hanya karena iseng untuk membuktikan kebenaran buku catatan Aosora Alex.
"Gak sengaja lewat" Balas Tsuha sambil berjalan mendekati Archie dan mengaruk telinga kanan bagian belakangnya.
Archie sudah malas berurusan dengan 'Mereka'. Dan Ia kembali duduk didekat danau tengah hutan sihir yang dikenal sebagai, DANAU HARAPAN.
"Kembalilah Ke Markas secepatnya. Pangeran itu, mencarimu. Jangan membuat Dia berulah seperti barusan"
Setidaknya, Tsuha paham kalau Archie tak akan kembali Ke Markas. Ia hanya menilai Archie dari cara pengintonasian nada bicara Archie padanya.
Tsuha, berusaha membuat Archie penasaran dengan apa yang ia katakan.
Tentu saja, Archie langsung melihat kearah Tsuha setelah mendengar nama Arthur yang telah disebutkan dan berulah.
"Berulah seperti apa?"
Tsuha membalik badannya dan tersenyum.
Archie benar-benar telah tergila-gila dengan keluarga Aosora.
"Lihatlah sendiri. Aku harus pergi duluan. Sampai jumpa di markas" Tsuha berjalan keluar dari hutan.
Ia merasa sangat puas dengan hasil penyelidikannya sendiri mengenai kebenaran Catatan Aosora Alex.
Mungkin, memang benar Kalau Archie tak seperti Bangsa Iblis yang lainnya.
Namun, Perasaan Tsuha masih tak bisa tenang. Ia merasa seperti ada yang mengawasinya dari kejauhan. Sesekali, Ia melihat ke arah belakang untuk memastikan aura aneh yang Ia rasakan.
Perasaan itu, sangat tak asing Ia teringat insiden enam tahun yang lalu. Dan, hal yang terjadi dengan Arthur adalah hal yang sama seperti enam tahun yang lalu.
"TSUHA!"
Archie tiba-tiba meneriakkan nama Tsuha.
Sontak, Tsuha langsung melihat kearah Archie yang cukup jauh darinya.
Cahaya biru, mengeliling tubuh Archie.
Mata Tsuha terbelalak melihat Tubuh Archie menjadi deburan mana.
"DRAP!" Ia langsung berlari kearah Archie.
Mata Archie terbelalak melihat tangannya telah melenyap seperti gelembung sabun yang terbawa angin.
Sebagian tubuh Archie telah menghilang..
Tsuha mengulurkan tangannya dan berusaha meraih jubah Archie yang melambai-lambai karena angin yang berpusar disekeliling Archie.
"Bwosh!"
Saat kain jubah Archie berhasil dipegang oleh Tsuha, disana Archie menghilang dihadapannya.
Degh!
Tsuha syok melihat lenyapnya Archie yang tiba-tiba.
"A...Archie...?" Mata hitam Tsuha bergetar sambil melihat jubah Archie yang telah menyentuh ditanah.
Tsuha, berusaha berfikiran tenang. Namun, tangan kanannya tak bisa diam dan mengaruk telinga kanan bagian belakangnya. Pasti, ada sesuatu yang terjadi disekitarnya. "Aku,.... Aku harus kembali Ke Markas!" Tegasnya sambil melipat jubah Archie dan masukkannya kedalam tas pingang miliknya.
Ia mulai berlari dan tak peduli anggota Guild gabungan yang baru melihatnya, termasuk Nao.
Ia melihat Tsuha yang berlari dan melompati pohon yang tumbang. "Kenapa Dia tergesa-gesa?"
"Jump! Drap!" Kaki Tsuha yang lebar saat melompat, mampu melompati dua batang pohon sekaligus.
"Sial! Kalau terjadi sesuatu lagi, Dia pasti tak kan bisa bertahan diguild pemberantas Iblis!"
Tsuha mengkhawatirkan Arthur. Ia tidak seburuk dengan apa yang Arthur bayangkan.
11 menit, Tsuha telah sampai di markas pemberantas Iblis dengan ngos-ngosan.
Tak ada seorangpun dibawah, keadaan markas pun masih porak poranda.
"Mereka Kemana?"
Dada Tsuha mulai menyesak. Seluruh ruangan yang terlihat dipandangan Tsuha, seperti bergelombang.
Jantungnya, mulai berdebar dengan sangat cepat
Ia merasa sangat ketakukan seolah, nyawanya sedang terancam.
Ia melihat segala arah dan berusaha menganalisis sekitarnya. Namun, pandangan Tsuha telalu berantakan.
"hosh....hosh...hosh" Ia bermandikan keringat dan berjalan perlahan menuju anak tangga.
Setiap pijakan anak tangga, itu terasa seperti langkahnya jauh dan tinggi sekali.
Ia berhasil meraih pegangan pintu kamarnya dan Ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan.
Disana, Ia melihat semua orang yang berdiri dan duduk disekitar Arthur dan di dalam kamar itu, ada seorang yang sedang berdiri dengan jubah hijau dengan berseledang emasnya mengeser dilantai kayu.
Ia berambut hitam dengan mata biru yang melihat kearahnya (Tsuha) dan Ia adalah, Agleer Baal, Putra Mahkota Shinrin.
Kedatangannya kemari karena, Merasakan sihir asing yang kuat.
"Jadi, sihir tadi milik siapa?" Baal melihat kesegala arah.
Bola mata Arthur bergetar. Ia ingin mengatakan bahwa itu adalah "Sihir mil..."
"Sihir milikku, Aku, tak sengaja menggunakan tangan kiriku!" Sahut Razel sambil berdiri didepan Baal.
Baal, menatap mata Razel dengan tajam dan -
"GREP!" "BRAK"
Baal menarik baju kaos Razel dan semua anggota pemberantas Iblis berdiri mengeluarkan pedang mana Mereka (Kecuali Issa, Arthur dan Tsuha).
Razel melirik Mereka dan merentangkan tangan kirinya pada Mereka.
"Hilangkan pedang Kalian"
"Wushhh" Bersamaan, Mereka semua menghilangkan pedang mana mereka tanpa banyak bicara.
Kemudian, Razel melepaskan tangan Baal dari bajunya.
Baal, melepasnya dengan kasar dan Ia mengerutkan alisnya seambil berkata, "Jaga tangan Kirimu dengan baik. Ada Arthur disini. Bila ada sesuatu yang terjadi padanya karena ulahmu, Aku tak segan untuk melenyapkan tangan kirimu itu"
Ancaman Baal, tidak mengetarkan hati Razel dan para anggotanya. Yang ada, anggota pasukan pemberantas Iblis yang lama (Para senior Arthur dan Tsuha) memilih memberontak pada Baal yang merupakan Putra Mahkota Shinrin.
Baal melihat wajah pucat Arthur dan Ia menunjukkan senyuman itu pada Arthur.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan ke Istana Shinrin, Arthur. Istana Shinrin adalah rumahmu juga" Baal pamit pada Arthur dan Ia keluar dari kamar itu.
Val membelakangi Baal dan mengikuti gaya bicaranya.
Arthur sudah terlalu merepotkan Razel. Andai tak ada Razel, Mereka (Anggota pemberantas Iblis) pasti sudah menghancurkannya sejak tadi.
Arthur menundukkan kepalanya dan melihat kaki Razel yang terluka.
Ia menutup matanya dalam-dalam.
Ia, ingin keluar dari tempat ini. Ia tak sanggup melihat tatapan orang-orang disekitarnya yang menatapnya penuh dengan keraguan.
"Dugh!" Seseorang memukul bahu kiri Arthur yang membuatnya, tersadar dari lamunannya.
Arthur membuka matanya dan melihat sepasang Kaki bersandal slop hitam ada didepannya.
Ia menaikkan pandangannya.
"Hei, Besok Kita ada misi. Cih! Kenapa wajahmu begitu?"
Mata Arthur, terbelalak melihat Tsuha yang memiliki pandangan mata yang sama seperti Razel dan berbeda dari yang lain.
Tsuha menjauhkan wajahnya dari Arthur kerena Ia ditatap aneh.
"Hei, Apa ada yang salah dengan wajahku?!"
Tsuha, berkaca dikaca lemari kayu didekatnya sambil memegang telinga kiri bagian belakangnya. Kemudian, Tsuha melihat ke arah Razel dan yang lain.
"Wakil, sepertinya Pangeran terkurung dan bodoh ini, harus Istirahat. Aku juga sangat lelah. Apa Kalian semua bisa keluar dari kamarku?" Tsuha memegang kedua pingangnya yang ramping dan meregangkannya.
Mereka (Anggota pemberantas Iblis) keluar dari kamar Tsuha dan berencana membetulkan semua jendela kaca yang rusak.
Razel tersenyum pada Tsuha sambil menepuk bahu kanan Tsuha.
"Tentu, Istirahatlah. Kau sudah memutuskan suatu hal yang baik. Besok, misi kalian diganti Sebelas hari lagi. Misi itu digantikan oleh Marsyal dan misi itu adalah misi tingkat A yang beranggotakan Aku, Val, Liebe, dan Tsuha. Jadi dimisi itu, Arthur, tidak diwajibkan untuk ikut" Jelas Razel.
Mendengar hal itu, Tsuha dan Arthur sangat kaget.
"Sebelas hari lagi?" Tujuh hari lagi, adalah hari pengangkatan Arthur menjadi Pangeran Mahkota (Bila Nel dan Daniel masih belum menemukan Aosora Bram di Akaiakuma).
"Iya, Hari itu Arthur sudah jadi Putra mahkota. Tapi, Kau masih anggota Kami. Jadi, Ikut ataupun tak Ikut, Aku tidak memaksamu. Ini pasti akan menjadi misi tingkat A pertamamukan?"
Itu memang benar.
Arthur membuang mukanya dan mengaruk kulit kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Semoga Kakakku ketemu, dan Aku ingin ikut wakil Razel sebagai misi terakhirku di Guild Pemberantas Iblis."
"Misi terakhir?" Tsuha sedikit menyayangkan bila Arthur menjadikannya sebagai misi terakhirnya.
Ia duduk diatas kasurnya dan mendengarkan percakapan antara Razel dengan Arthur.
Inti dari pembicaraan itu adalah, Misi itu merupakan misi yang bersangkutan dengan Siluman dan Masyal melemparkan misi itu pada Guild pemberantas Iblis setelah menyelidiki narasumber disekitar tempat itu.
Narasumber itu bercerita, kalau area Shinrin bagian barat sering terjadi gempa dan tanah yang bergelombang dengan pohon yang berjalan.
Marsyal, mengatakan kalau area itu telah ditempati oleh kumpulan siluman. Marsyal, tidak mengatakan dimana letak pastinya area itu. Ia hanya mengatakan kalau ada di Shinrin barat.
Tsuha, berfikir kalau mengajak Arthur dimisi itu adalah ide yang buruk. Namun, Ia malas untuk mengatakannya pada Razel.