The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Enam Tahun yang Lalu [Aosora bagian 1]



Dari kejauhan, Lucy melihat Nel yang sedang mengobrol dengan seseorang berjubah biru langit. Lucy memanggil Bara sambil menggandeng Tsuki yang mulai bingung mencari ibunya.


"Bara, dia dari tadi mencari Ibunya. Telingaku benar-benar lelah. Bolehkah aku membungkam mulutnya?"


Lucy berkata lirih dengan nada malas pada Bara. Bara hanya terkekeh kecil dengan menyipitkan matanya saat melihat mata Lucy yang sleep eyes. Bara sendiri kerepotan dengan Tsuha yang sulit ia mengerti.


WOSH!


Razel tiba-tiba berteleport ketempat penampungan. "PASUKAN PEMBERANTAS IBLIS!" Ia (Razel) memanggil anggotanya untuk berkumpul. Lucy dan Bara melihat ke arah Razel yang berantakan.


Kening Razel berdarah. Tak ada yang tau apa yang telah terjadi dengan Razel. Razel beberapa saat yang lalu izin kepada Bara untuk mencari warga yang masih bisa ditolong di tempat yang telah dihancurkan oleh serigala sihir.


Ia kembali dengan kondisi seperti itu membuat Nel dan anggota yang lain sangat terkejut.


Nel sampai meninggalkan Naver yang masih berdiri di ambang gerbang ASJ. "Razel! Apa yang terjadi!?" Ia melihat luka di kening Razel cukup lebar seperti tebasan pedang. Dan dari dekat, terlihat jelas bila tangan kiri Razel terluka parah.


"Kau! Menggunakan tangan kirimu!?"


Razel tak tau bila Nel ada disana. Mata Razel langsung bergetar. "Kapten, ini karena aku terpojokkan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menyerangku" Jawab Razel sambil menyembunyikan tangan kirinya yang meneteskan darah.


Nel mengkernyitkan keningnya. "Apa seorang iblis?" Ia langsung bertanya pada Razel tentang pria itu.


"Aku kurang tau. Ia memiliki hawa yang aneh. Aku tidak bisa membedakan dia dari bangsa manusia atau bukan. Orang itu, terlalu kuat untuk ku lawan sendirian. Maafkan aku karena telah kabur saat melawannya Kapten" Tangan kanan Razel terlihat bergetar.


Nel bingung dengan kondisi saat ini. Apa sebenarnya yang membuat penyerangan ini terjadi.


Arthur tiba-tiba berdiri saat menyembuhkan luka Tsuha. Tsuha membuka matanya lebar-lebar saat Arthur mengeluarkan pedang mana birunya. "Apa yang dilakukan Iblis itu" kata itu, terucap dari bibir Arthur dengan nada kesal.


DRAP!


Ia (Arthur) tiba-tiba berlari melewati Razel dan anggota pasukan Pemberantas Iblis yang sedang menyiapkan diri untuk melakukan perlawanan.


Mata Nel dan Razel terbelalak saat merasakan aura yang Arthur keluarkan. Mereka berdua melihat Arthur yang berlari ke arah Naver kemudian "WOSH!" Ia (Arthur) berteleport sebelum sampai ke tempat Naver berdiri.


"ARTHUR!" Naver langsung memanggil nama putranya saat mengetahui Arthur tiba-tiba menghilang.


"APA YANG TERJADI?!"


Naver sangat terkejut dan langsung bertanya tegas pada orang-orang yang ada disana. Tsuha sendiri tak tau apa yang terjadi dengan Arthur.


Tsuha berdiri dan mengengam tangan Bara dengan erat. "Pa-pangeran, mengatakan sesuatu tentang iblis" Lirih Tsuha pada Bara yang melihat kearahnya.


Bara setidaknya memahami sesuatu. Mata bara terbelalak secara perlahan dan Ia langsung melihat ke arah Nel yang membelakanginya "KAPTEN! PANGERAN AOSORA! BERNIAT MELAWAN IBLIS ITU!".


"APA!? ITU PANGERAN AOSORA!?"


Nel baru pertama kalinya bertemu Aosora Arthur. Ia hanya sering menghayal tentang Arthur saat mendengar Nox bercerita. "Razel! Sembuhkan lukamu dan cepat menuju sisi barat Shinrin! Kemudian, untuk semua pasukan Pemberantas Iblis yang ada disini! Langsunglah menuju ke perbatasan barat! WOSH" Tanpa banyak bicara lagi. Nel langsung menyusul Arthur.


"BAIK KAPTEN! WOSH!" Mereka langsung meninggalkan pengungsian dan turun ke medan pertarungan.


"Arthur pasti akan baik-baik saja. Tenanglah Naver!"


Ia berusaha menangkan hatinya yang gusar. Naver mengusap wajahnya yang berkeringat dingin. Saat ia membuka mata, dari kejauhan ia melihat sesosok anak kecil yang tak asing.


"Tsuha, nak! Kemarilah"


Naver memanggil Tsuha karena ia sempat melihat Glashya ada di lokasi penyerangan Iblis.


Dengan perlahan Tsuha mendatangi Naver. Tsuha memiliki ketakutan pada Naver. Mata Tsuha tertunduk di hadapan Naver.


"Tsuha, apa kau sudah sehat?"


"Maafkan saya" Tsuha tidak mendengar dengan apa yang dikatakan oleh Naver. "Maafkan saya. Iblis itu, ingin menjadikan saya sebagai wadahnya. Maafkan saya, karena tidak bisa mencegah Pangeran Arthur. Maafkan saya karena tidak bisa menjadi pelayan Pangeran dengan baik..."


Naver melihat tangan kanan Tsuha mengaruk telinga kanan bagian belakangnya. "Tsuha masih belum sembuh". Naver langsung berjongkok di hadapan Tsuha dan memegang tangan kanan Tsuha dengan perlahan.


"Hei Tsuha. Lihatlah paman. Hei" Naver meminta Tsuha untuk mengangkat kepalanya yang menunduk. Mata Tsuha berlinang air mata sangking takutnya pada Naver. Ia melihat wajah Naver dengan perlahan.


Naver mengusap air mata Tsuha dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari saku dadanya. "Nah, kan gini enak di lihat" Naver menunjukkan senyuman lebarnya pada Tsuha.


"Laki-laki itu, harus kuat gak boleh nangis. Kalau ada yang menganjal, sampaikan saja. Biar tidak menjadi penyakit" Ucapan Naver sama persis dengan ucapan yang dikatakan oleh Arthur.


Bibir Tsuha berdenyut menahan tangisnya. "Tsuha, ingatlah. Jangan selalu menyalahkan dirimu atas segala hal yang bukan terjadi karena kesalahanmu. Ini semua adalah takdir yang harus diterima keluarga Aosora. Iblis akan selalu berusaha untuk masuk ke istana Aosora. Itu bukan karena kesalahan Tsuha. Di dalam Istana Aosora ada harta karun yang ingin dimiliki oleh Bangsa Iblis. Jadi, ini adalah kesalahan Iblis yang menyerang kalian berdua. Kalian berdua adalah korban" Naver mengelus pelan rambut kepala Tsuha.


Tsuha masih terisak. Ia sudah menyadari bila Ia adalah korban. Namun, ia masih memiliki pikiran kata 'andai'. 'Andai bila aku tidak menerima permainan Pangeran Arthur sejak awal'. Tsuha terjebak pikirannya itu.


"Karena saya, Pangeran Arthur tak bisa mengingat Guru Nox. Pangeran Arthur sampai kehilangan ingatannya empat tahun kebelakang. Saya sedih karena itu. Saya takut hal tersebut akan terulang lagi pada orang-orang disekitar saya. Saya takut dibenci ibu lagi. Saya,... saya masih ingin berada disekitar Pangeran Aosora"


Hati Tsuha merasa lega setelah mengatakannya pada Naver. Naver tak pernah menyangka bila isi hati Tsuha seperti ini. Ia tidak salah memilih keputusan untuk tidak menghilangkan ingatan Tsuha.


TEP!


Naver menepuk dan memegang kedua bahu Tsuha.


"Estelle Tsuha. Kau masih bisa menjadi teman Arthur. Kau tau, Arthur dulu pernah memintaku untuk menjadikanmu sebagai Prajurit pribadinya dimasa depan. Apa Tsuha mau menerima permintaan Arthur itu?" Naver bertanya dengan lembut pada Tsuha.


Tsuha melihat iris mata Naver yang berwarna ice blue (sama seperti Bram). "Apa saya masih pantas?" Mulut anak laki-laki berusia 11 tahun, mampu bertanya seperti demikian. Hati Naver, ngilu mendengarnya. Ia sadar, bila dirinya dulu tak pernah memiliki pertanyaan seperti Tsuha di usianya yang ke 11 tahun.


"Tentu saja. Asal Tsuha bisa tumbuh seperti sebelumnya dan tidak takut pada apapun yang ada dihadapanmu. Orang-orang yang ada di hadapanmu, yang merendahkanmu atau-pun mengatakan sesuatu yang tak ingin kau dengar, jadikanlah mereka batu tumpuan untuk mengasah kemampuanmu. Buktikan bila dirimu bisa melampaui apa yang mereka katakan. Paman yakin, suatu hari nanti, Tsuha pasti akan kembali bertemu dengan Arthur dan akan menjadi teman. Saat hari itu tiba, perlakukanlah Arthur sebagai temanmu. Bukan sebagai Pangeran Aosora Arthur. Bila dia keras kepala, kau boleh memukul ataupun menendangnya"


Naver merasa terlalu banyak mengatakan kata-kata. "Ahahaha, padahal paman tidak terlalu pintar membuat kata-kata semacam itu, setidaknya Tsuha paham maksudnya"


Naver tumbuh tanpa seorang ayah. Ayahnya yang bernama Aosora Aiden mati (di usia 26 tahun) karena penyakit kronis yang tiba-tiba menyerangnya saat usia Naver masih empat bulan didalam kandungan. Namun, ada rumor yang mengatakan bila kematian Aosora Aiden adalah sesuatu yang telah direncanakan seseorang. Sebab, keluarga Aosora memiliki banyak musuh sejak diangkatnya Aosora Alex sebagai Raja dari setengah wilayah Shinrin dan kini melebar hingga ¼ wilayah Kerajaan Nekoma yang dirumorkan diambil dengan kelicikan Aosora Alex.


Kemudian, Naver sering sekali mendapatkan tindakan buruk dari saudara tirinya (Aosora Barron) dan mendapatkan kata-kata yang tak pantas dari orang disekitarnya, baik itu prajurit, pelayan, ataupun para petinggi Aosora yang mengatakan bila Naver itu bukan anak kandung Raja ke-2 Aosora. Hanya ada tiga orang didalam hidup Naver yang saat itu, menentang segala sesuatu hal buruk yang pernah Naver pertanyakan. Mereka adalah Ibu Naver, Nox dan Gurunya yang merupakan ayah Nox (Yang sekaligus merupakan Kepala Keprajuritan Aosora).


Setidaknya, Naver mengatakan hal tersebut kepada Tsuha dari pengalaman pribadi yang pernah ia rasakan dimasa kecilnya.