
DAGH! TEP!!
Shera dan Arthur mulai berduel di lapangan belakang markas yang diberi empat matras sebagai alas mereka agar tidak terlalu sakit saat menghantam tanah.
Arthur menahan Shera dengan memasukkan tangan kanannya ke ketiak kanan Shera dari belakang hingga menahan tengkuk Shera dengan tangan kanan yang Ia lilitkan. Kemudian, ia melipat tangan kiri Shera dan mengunci Shera dengan kedua kakinya hingga Shera kesulitan untuk bergerak.
Val, Liebe, Razel, Tsuha, dan Lina menyaksikan duel mereka berdua.
"Anjir. Arthur untung banyak. Aku juga pengen gitu" Lirih Val di samping Liebe.
"Jangan ngimpi" Sahut Tsuha di samping Razel.
"Heh! Bocah dibawah umur mending diem aja" Cetus Val.
Shera menepuk punggung Arthur dengan tangan kanannya. Itu adalah tanda bila Shera menyerah.
"Ah, padahal kakak masih bisa menggunakan tangan kanan kakak untuk menyerangku. Coba bila kakak berada di pertarungan yang sebenarnya, apa yang akan kakak lakukan kalau dalam posisi seperti ini?" Bisik Arthur pada telinga kanan Shera.
Shera bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya. Bagaimana cara Shera untuk terbebas dalam posisi ini?.
"Mengeluarkan pedang mana?" Tanya Shera yang mulai pegal dengan lehernya.
Arthur meletakkan dagunya pada bahu Shera.
"Kalau seperti ini, apa yang akan kakak lakukan? Tubuh kakak sudah tidak bisa di gerakkan. Tapi kedua kaki kakak sudah bisa di gerakkan. Selanjutnya, kakak akan melakukan apa?" Tanya Arthur sambil tersenyum melihat telinga Shera memerah.
"Menghentakkan kakiku dan membanting tubuhku ke belakang" Jawab Shera.
"Coba praktekkan" Jawab Arthur.
Shera tidak bisa mempraktekannya. Berat badan Arthur dengan Shera tidak seimbang.
"UGHHH.... Ayolah Arthur. Aku sudah menyerah" Shera menepuk-nepuk punggung Arthur berulang kali.
"Ahahaha, baiklah aku lepasin" Arthur melepaskan tubuh Shera yang ia kunci.
Shera langsung berdiri dan meregangkan tubuhnya yang pegal dan sakit.
Arthur masih duduk dan melihat ke arah orang-orang yang menontonnya.
"Kak Val!" Ia memanggil Val.
"Hei! Ya!" Val spontan menjawabnya sambil mengangkat tangan kanannya.
"Aku dengar kakak adalah pengguna dua pedang. Bolehkah kita berduel?" Arthur mengulurkan tangannya pada Val dari jarak yang cukup jauh.
Val berdiri dan mendatangi Arthur. "Untuk apa?"
"Hanya menguji skala ketahanan serangan kakak dalam menggunakan dua pedang sihir" Jelas Arthur.
Val menerima uluran tangan Arthur dan menarik tubuh Arthur untuk berdiri.
"Hehehe, jangan meremehkan aku ya. Kita alihkan dulu matrasnya agar tidak rusak" Ucap Val sambil menggulung matras.
Empat matras telah selesai digulung.
Zack yang lewat bersama tiga serigala sihir langsung bergabung untuk menonton duel Arthur dengan Val.
"Mari berduel tanpa aturan. Jangan lupa lapisi tubuh kakak dengan sihir armor. Wush" Arthur mengeluarkan dua pedang mana berwarna birunya.
"Biru?" Tsuha dan kucing disebelahnya saling melihat.
"Apa? Tanpa aturan?" Val terkejut mendengar ucapan Arthur.
"Ya, anggap saja ini pertarungan jalanan. Mari bertarung dengan sungguh-sungguh. Aku tidak akan ragu melesatkan dua pedangku dan menusukkan kedua pedangku pada kakak" Arthur menunjukkan seringaiannya pada Val.
"Wakil, apa ini tidak berbahaya? Serangan Val itu, memiliki kecepatan yang tinggi" Liebe tidak setuju dengan ucapan Arthur.
Razel menekuk dua lututnya. "Tenanglah, ini adalah permintaan Pangeran Aosora sendiri" Jawab Razel.
"Tapi wakil. Kurasa, orang itu bukan Pangeran Aosora" Sela Tsuha.
Razel teringat ucapan Nox. Kemudian ia tersenyum. "Itu tidak mungkin" Razel masih memegang ucapan Nox dan ia yakin orang dihadapan Val itu memang Arthur. Tidak ada yang berubah dengan sifat Arthur yang periang.
"Baiklah! Aku menyetujuinya. Pangeran gunakan sihir armormu juga. Kau tidak ingin kehilangan lenganmu dalam sekali kedipan matakan?" Val mengingatkan Arthur untuk melapisi sekujur tubuhnya hingga ujung rambut dengan mana pelindung.
Val mengeluarkan dua pedang mana putihnya.
"Ya! Tak perlu diingatkan aku sudah si- WESHT! TRANKKKKKK!!!!" Arthur belum menyelesaikan perkataannya dan Val langsung melesat ke arahnya dengan menyerang Arthur tepat pada wajahnya. Namun, Arthur dapat melihat pergerakan Val yang lebih cepat dengan kedipan mata.
BATSZZZZ!
Val melompat kebelakang karena pandangannya tertutup oleh asap yang tiba-tiba muncul setelah pedang mana Arthur beradu dengan pedang mananya.
Val mundur ke tempat yang tidak ada asap yang menghalangi pandangannya.
"Arthur! Apa kau baik-baik saja?!" Val tidak berani masuk ke dalam. Ia merasakan hawa aneh dari asap itu.
"WUTHHHHHH!!!!" Arthur tiba-tiba muncul dihadapan Val dengan cepat. "Tentu aku baik-baik saja" Ini terjadi begitu cepat dan bersamaan. Val langsung membelalakan matanya dan "SYUUUUUNG!" Arthur langsung menebaskan pedang kedua pedang mananya secara bertahap ke arah Val.
Val mundur kebelakang dan menghindari setiap serangan rentet dari Arthur.
Kemudian, Val kembali menyiapkan pedang mananya dan menebaskannya ke arah Arthur. Arthur tidak menghindari pedang mana Val. Ia terus menangkis dan maju.
Arthur membuat Val berjalan mundur.
"Ayolah kak. Yang serius melawanku. Anggap saja aku musuhmu yang berniat membunuh orang terdekatmu. Aku ingin tau kemampuan kakak untuk melindungi yang lain" Ucap Arthur sambil berhenti menyerang Val.
Val berdiri dengan tegak dan mengaruk tengkuknya. "Tentu saja aku tidak bisa. Kau adalah calon Putra Mahkota. Bila terjadi sesuatu padamu ataupun tergores sedikit saja kulitmu, aku bisa kehilangan kedua tanganku atas tuduhan mencelakai pewaris kerajaan Aosora" Jelas Val sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat Arthur.
Arthur melihat tangan Val yang penuh bekas luka.
"Bila aku dikuasai oleh Iblis, apa kakak akan menyerangku dengan serius?" Arthur mengosok keningnya yang sudah tidak bertanduk.
Val menghela napas dan meletakkan tangan kirinya di pinggang. "Tep" Val memegang kepala Arthur dan mengusapnya pelan.
"Walaupun kau dalam wujud iblis, bila itu kau masih ada disana. Aku lebih memilih menyadarkanmu daripada harus menyerangmu" Ucap Val sambil meringis pada Arthur.
Arthur menurunkan pandangannya. "Orang yang berfikir sepertimu, tidak akan bisa hidup lama di dunia ini. Kau harus membuka matamu lebar-lebar. Terkadang, orang yang berwujud malaikat ia memiliki jiwa iblis dan terkadang orang yang berwujud iblis belum tentu hatinya seperti iblis juga. Bila kau masih memiliki dua tangan, jangan ragu untuk menebaskan pedangmu pada orang yang setingkat raja" Lirih Arthur pada Val.
"Ya! Aku tidak akan ragu untuk menebaskan pedangku pada orang yang kau maksud itu. Kami semua memiliki pemikiran yang sama denganmu. Kami mencintai Shinrin, tapi tidak dengan petinggi Shinrin" Jelas Val sambil merangkul bahu Arthur dan berjalan menuju yang lain.
Arthur tidak tersenyum sedikitpun.
"Pandangan mata Arthur berbeda. Pandangannya lebih terlihat dingin dari biasanya. Apa Arthur sedang galau?" Val melirik Arthur. Tinggi mereka berdua hampir sejajar.
...****************...
Arthur berdiri di belakang kursi yang Liebe duduki. Ia memijat kedua bahu Liebe dengan kedua tangannya.
"Woah, Arthur sepertinya kau memiliki bakat dalam memijat. Coba agak ke bawa lagi" Liebe membungkukkan punggungnya.
Arthur menuruti ucapan Liebe. "Disini kak?"
"Ah..., harusnya kau membuka praktek pijat Arthur" Liebe menikmati pijatan tangan Arthur.
"Haha, Kak Ken, bagaimana dengan hidupmu?" Arthur terkekeh ringan sambil memijat Liebe.
Liebe yang menutup matanya langsung membuka matanya kembali. "Kak Ken?" Ulang Liebe.
"Iya. Bagaimana kabarmu. Kau terlihat lebih sehat dari biasanya. Sepertinya kau tidur dengan cukup" Ucap Arthur dengan nada yang senang.
Liebe duduk dengan tegak. "Arthur. Kau salah dalam memanggilku. Namaku Liebe bukan Ken" Jawab Liebe sambil melihat wajah Arthur yang ada di atasnya.
Liebe membelalakan matanya saat melihat wajah Arthur yang dingin. "Jangan melupakan nama dan wajahku" NYUUUUUTTTT!! Kepala Liebe tiba-tiba terasa sakit.
Arthur tersenyum "Oh, apa nama kakak tidak ada Ken-nya?" Senyuman Arthur terlihat seperti senyuman palsu. Senyuman itu berbeda dari senyuman Arthur yanh biasa.
Liebe memegang kepalanya yang ngilu. "Tentu saja. Kau ini, bagaimana coba. Nama seniornya saja diganti-ganti" Celoteh Liebe.
Arthur kembali terkekeh. "Maafkan aku. Lagi pula, nama Ken sangat cocok untuk wajah kakak" Jawab Arthur sambil berjalan dan duduk di kursi lain yang ada di depan meja ruang tamu.
"Oh, benarkah?" Liebe mengosok dagunya.
"Iya" Jawab Arthur.
...****************...
Zack kepikiran dengan ucapan Razel siang tadi. Zack berusaha menenangkan pikirannya dengan tiduran di loteng markas sambil melihat langit yang cerah dan dipenuhi bintang.
Ia menghela napas dengan panjang dan menutup matanya. Sebenarnya, benar dengan apa yang diucapkan oleh Razel. Dia adalah pihak yang paling rugi dalam kontrak darah ini.
"Kak Zack, kenapa sendirian?" Suara perempuan dan diikuti oleh langkah kaki berhenti di sebelah Zack.
Zack membuka matanya. Rupanya Issac mendatanginya sambil membawakan secangkir kopi di tangan kanannya.
Zack langsung duduk dan menerima kopi itu.
"Issac, jangan membawakanku kopi lagi. Bagaimana bila tangan kananmu terluka" Issac telah kehilangan tangan kirinya hingga sebagian bahu kirinya yang rusak karena insiden saat itu.
Issac duduk di sebelah Zack. "Aku hanya tidak ingin melihat Kak Zack sendirian" Jawab Issac sambil melihat langit dedaunan pohon di depannya yang bergerak karena tertiup angin.
Zack meletakkan kopi itu di meja kecil yang sudah ada di sana.
"Issac, terima kasih"
Issac tersenyum sambil melihat ke arah Zack yang berterima kasih kepadanya.