The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
TITISAN



Daeva berhasil masuk ke dalam acara peresmian Arthur. Ia memperhatikan sekitarnya dan ia tidak menjumpai Ruri. Namun, Luxe membeku ditempat melihat pria berkaca mata hitam di depannya.


Daeva terkejut pula melihat sosok titisan manusia berada di tempat yang sama dengannya. Luxe pura-pura tidak melihat Daeva. Ia minuman di meja Daeva kemudian pergi.


Mata Daeva tidak berhenti melihat Luxe yang terburu-buru. "Apa-apaan ini? Kenapa dia disini? Apa dia mengincar Arthur?" Daeva langsung berdiri dan mengikuti Luxe.


"Bisa-bisa semua rencanaku gagal karena dia" Daeva melihat Luxe yang masuk ke ruangan gelap disana. Ia berhenti sejenak dan tidak ingin masuk ke ruangan itu.


"Aku tidak akan termakan tipuanmu Dean. Mumpung kita bertemu disini, ada yang ingin aku katakan" Ucap Daeva.


Luxe, mendengarkan ucapan Daeva. "Ruri memiliki rencana buruk untuk malam ini. Dia kini berhasil menyusup di Aosora. Ku harap, fokuslah pada Ruri. Aku tidak berniat bertarung denganmu saat ini" Ucap Daeva.


"Aku sudah bertemu dengannya. Dia meniru wujud temannya Aosora Arthur" Jawab Luxe dibalik pintu.


Daeva terbelalak. "Siapa dia?"


"Nao"


"Nao?" Daeva langsung teringat siswa ASJ berbet 2-1 itu. "Apa? Selama ini, dia dekat sekali dengan Arthur?" Daeva termenung di tempat.


"Untuk sekarang, aku tak tau lagi dia berada dimana. Ruri tidak mempan dengan segelku. Lalu, apa tujuanmu kemari?"


Daeva mulai paham dengan ucapan yang dikatakan oleh Ruri di hutan. Semua tersusun seperti pazzel.


"Aku hanya mengejar Ruri"


"Jangan berbohong! Aku tau kau itu iblis macam apa!" Tegas Luxe.


"Terserah kau. Aku hanya menjalankan tugasku" Daeva berjalan meninggalkan Luxe.


Luxe tidak bisa tinggal diam. Daeva memiliki sejarah panjang dengannya. "BWOSH!" Luxe membuka lubang sihir tepat di bawah Daeva. Hal itu, membuat Daeva terjatuh dari ketinggian.


"WOSH!" Daeva mendarat di tanah dengan halus menggunakan sihir teleportnya. Luxe berdiri di hadapan Daeva.


Daeva melihat Luxe dengan mimik tajam. "Wajah ini, mengingatkanku masalalu yang sangat ingin kulupakan" Ucap Daeva sambil menyeringai pada Luxe.


Luxe menatap tajam Daeva. "Pergi dari Aosora dan biarkan kami yang menjaga Ambareesh hingga kembali pulih" Ucap Luxe.


Daeva melipat kedua dadanya. "Tujuanku bukan Alfarellza. Namun, Aosora Arthur-lah tujuanku" Jawabnya.


Luxe mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


Daeva membalik tubuhnya dan mengibaskan salah satu tangannya, "Titisan biasa sepertimu, tidak akan memahaminya. Wosh!" Daeva menghilang dari pandangannya.


Luxe mengkernyitkan keningnya. "Apa Ruri mengincar Aosora itu juga? WOSH!"


...****************...


Dada kiri Arthur semakin sakit. Ia berjalan untuk mencari Nox dan meninggalkan tamu-tamu yang sedang menikmati acara tersebut.


Semakin sesak dan ia merasa sangat gerah. Arthur melepas jubahnya dan membuka kancing-kancing kemejanya. Ia juga mengeluarkan kemerjanya dari dalam celananya.


Arthur berjalan keluar dan Baal tidak sengaja melihat Arthur yang meletakkan jubahnya sembarangan. Ia mendatangi Arthur sambil membawa jubah Arthur.


"BKUKH!" Darah muncrat dari hidung dan mulut Arthur saat ia terbatuk.


Arthur melihat telapak tangannya. Darah masih hangat dan nampak merah karena malam itu cahayanya terang diluar, terlihat juga di mata Baal.


Baal dan Arthur sama terkejutnya. "ARTHUR! APA KAU SEDANG SAKIT?!" Baal panik ia tidak membawa sapu tangan. Ia membersihkan darah Arthur dengan syal yang ia kenakan.


Iris Arthur bergetar. Ia melihat Baal satu-satunya orang yang berdiri dihadapannya.


"Pukul berapa sekarang kak?" Arthur mengambil syal yang Baal gunakan untuk mengusap wajah Arthur.


Kemeja Arthur penuh dengan darah di bagian dadanya. Baal melihat tanda kutukan Arthur yang memudar.


Arthur melihat Ha nashi dengan wujud gagaknya bertengger diatas dahan disana. "Aku harus bertemu dengan seseorang. Lalu, bolehkah Kak Baal menutup semua akses pintu keluar. Jangan biarkan orang yang berada di dalam keluar dan orang yang berada di luar masuk" Ucap Arthur.


Langit tiba-tiba menghentikan saljunya.


Baal menatap mata Arthur. "Apa yang sedang terjadi Arthur?"


"Serigala sihir akan memasukki Aosora melalui pagar belakang istana. Oleh karena itu, aku keluar untuk menghentikan ancaman ini" Jawab Arthur.


"Siapa yang mengancammu?"


"Kak Baal, segeralah masuk. Kemudian kalian boleh keluar setelah melewati pukul 10 malam. Pastikan tak ada kepanikan di dalam" Arthur tersenyum pada Baal.


Baal terdiam. "Arthur, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Kau itu, penerus Aosora" Ucap Baal.


Arthur mundur beberapa langkah. "Ini karena aku penerus Aosora. Jadi, berilah aku jalan untuk melakukannya. Jangan katakan apapun pada paman" Ucapnya sambil meninggalkan Baal.


"Arthur! Jalan berjalan sendirian! Masih ada kami!"


Arthur tidak sedikitpun melihat ke belakang. Ia sadar akan sesuatu. Jantungnya terus berdebar dan sesak. Arthur berusaha bernapas dengan tenang.


"Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja" Arthur terus melangkah maju sambil mengengam erat syal milik Baal.


Baal langsung berlari menuju pintu istana. Ia menutup pintu itu dengan kuat dan menyuruh semua prajurit untuk menutup semua ventilasi sekecil apapun.


Baal memberi argumen ringan yang dapat diterima oleh nalar semua orang. Mereka langsung percaya tanpa penolakan.


Ha nashi kembali ke wujudnya di depan Arthur.


"Anda siap Putra Mahkota Aosora?" Tanya Ha nashi yang diangguki oleh Arthur.


Azuma memperhatikan mereka berdua. Lingkaran sihir milik Ha nashi, melilit di seluruh tubuh Arthur. Azuma termenung sejenak.


"*Berarti, kurang satu jam lagi sebelum penyerangan kita mulai. Apa dia sudah paham dengan ucapanmu kemarin malam?"


"Dia lebih paham dari yang kita kira. Dia akan keluar sebelum pukul 10.50*"


Azuma menatap Arthur dengan raut sedihnya. "*Apa yang kau pahami tentang dunia ini, wahai Putra Mahkota yang malang?"


"Kau terlahir di zaman dimana para titisan kembali terlahir. Aosora, sudah dipastikan akan hancur"


"Tak lama lagi, Tuan-ku akan bangkit dan Shinrin akan kehilangan pemimpin mereka*" Mata Zamrud Azuma menatap langit yang tiba-tiba menampakkan bulan merahnya.


"Hebat juga. Aku tak menyangka bila manusia itu mampu memanipulasi cuaca disekitarnya"


Azuma kembali melihat Ha nashi. Sihir yang digunakan Ha nashi kepada Arthur adalah sihir pengobatan yang berfungsi untuk mengurangi rasa sakit.


Ruri menyeringai jauh di belakang Azuma. Ia memakan apel hijau di tangannya. "Orang-orang bodoh. Itu semua akan percuma saja" Ia melapisi sekeliling wilayah Aosora dengan sihir miliknya hingga membuat serigala sihir tak mampu masuk di area yang ia lapisi.


"Lambat sekali" Ruri menujuk Arthur kemudian mengepalkan tangannya.


DEGH!


DEGH!


Jantung Arthur memompa semakin cepat. Sakit, ngilu, perih, panas menjalar keseluruh tubuh Arthur. Ia menahan rasa itu.


"PATS!!!" Sihir milik Ha nashi gagal untuk mengurangi rasa sakit di tubuh Arthur.


"BKHUUUKHH!!!" Arthur kembali terbatuk. Ia kembali menyemprotkan darahnya. Kini tak hanya dari hidung dan mulut saja yang keluar darah. Dari kedua lubang telinga Arthur mengeluarkan darah.


Telinga Arthur berdengunh dengan kencang. Ha nashi langsung melihat ke arah Azuma. Ini tidak sesuai seperti yang ia rencanakan. "Kucing! Kenapa kau ikut campur?!" Azuma tidak tau apapun. "CTASH!" Ia langsung melesat ke arah Ha nashi. "Apa maksudmu?! Aku tidak melakukan apapun!" Tegasnya.