
"Sruuuk! BRUUUK!!!!"
Ditengah Arthur berlari, ia tiba-tiba tersungkur didepan Tsuha.
"Pfffft! Bodoh!" Tsuha tetap belari melewati Arthur dan tertawa.
Zack sudah jauh didepan Tsuha.
belum beberapa detik Tsuha berlari melewati Arthur, Ia melihat ke belakang karena tak mendengar suara derapan kaki.
Arthur masih dalam posisi yang sama. Ia masih tersungkur disana.
Tsuha berhenti sejenak dan setengah lari kearah Arthur.
"Hei, Apa Kau sakit?"
Arthur tak menjawab apa pun.
"Hei! Jangan bercanda!" Tsuha membalik tubuh Arthur dan ia menempelkan telinganya didada Arthur.
Suara jantungnya terdengar. Arthur tak sadarkan diri.
Ia tak tau apa penyebabnya.
Tsuha berdiri dan melihat Zack yang berhenti menunggu mereka dari jarak yang cukup jauh.
"KAK ZAAAACK!!!! PANGERAN AOSORA!!!"
Mendengar teriakan Tsuha, Zack langsung berteleport ketempat Arthur "Wosh" Saat ia sampai, betapa terkejutnya Dia melihat Tsuha telah ditodong i pedang mana dari arah samping oleh Arthur.
Seketika, Tsuha tak bergerak dan Ia melirik perlahan Arthur yang menodongkan pedang mana padanya.
"Apa yang sed.... DEGH!" Tsuha membelalakan matanya saat melihat tatapan Arthur yang berbeda.
Zack tak bisa bergerak karena sekelilingnya, telah ditiputi oleh sihir yang bisa memotong dirinya bila bergerak.
"Arthur! Apa yang Kau lakukan?! Jangan bercanda!" Zack berusaha menenangkan dirinya dan rambut Zack yang dikuncir di belakang terpotong oleh sihir itu.
"Kau, bocah yang dikejar oleh Arnold...." Nada suara yang datar.
"Di..Dia...." Mata Tsuha bergetar.
"Penggil Gurumu untuk segera menemuiku, sekarang. Ctak!" Pedang mana berwarna biru itu, mengeluarkan sengatan dan meninggalkan luka merah pada leher kiri Tsuha.
"Akh!, Aku akan berangkat sekarang asal Kau, melepaskan sihir itu dari Kak Zack. Jangan mengotori nama Pangeran Aosora" Lirih Tsuha padanya.
Ia menurut dan langsung menghilangkan semua sihirnya yang mengikat Zack.
"Maafkan Aku, Cepatlah pergi dan ku tunggu" Ia tersenyum.
"Ya"
Zack berhati-hati padanya.
"Jadi, Kak Zack, mau kemana Kita hari ini?" Ia meniru gaya bicara Tsuha yang sempat ia dengar.
"Tep! Tep!" Tsuha menepuk dua kali bahu Zack dan mengangguk.
Zack mengangguk balik tanda Ia paham.
"Kita akan mrnjengguk seseorang yang Kita selamatkan kemarin. Dia memiliki warna mata yang unik" Zack berjalan duluan setelah Tsuha pergi berlari untuk memanggil orang yang dikatakan sebagai Gurunya Tsuha.
...****************...
Tsuha mempercepat langkahnya menuju Nox.
Ia tak bisa menggunakan sihir teleportnya. Namun, Tsuki akhir-akhir ini belajar sihir tersebut dan Ia sudah mulai bisa menggunakan sihir teleport.
Tsuha berlari dengan kencang. Namun, diperjalanan Ia berhenti karena melihat seorang laki-laki tua sedang berjualan batu mana.
Batu mana adalah batu yang bisa membantu penggunanya dalam mengontrol mana dan batu tersebut bisa digunakan untuk seorang pemula ataupun seorang yang memiliki kelainan dalam aliran mananya.
Tsuha melihat harga yang murah pada gerobak itu.
Mata hitam kecoklatan Tsuha, tertuju pada batu warna hijau zamrud yang berada didalam toples terpisah.
"Cari apa nak?" Penjual batu itu terlihat menutup matanya saat bertanya seperti itu pada Tsuha.
Tsuha warna alis dan rambut penjual itu yang seluruhnya telah memutih.
"Cari apa Nak?" Ia bertanya untuk yang kedua kalinya.
"?? Dalam toples? Apa itu berwarna hijau Zamrud?" Tanya pria itu sambil menoleh ke kanan.
"Iya,..."
"Ada berapa didalamnya?"
"Satu"
Pria itu menunduk setelah mendengar hanya sisa satu dalam toples itu.
"Apa Kau tak salah lihat Nak?"
"Saya tidak berbohong"
Pria itu meraba-raba batu sihir disana dan Tsuha mengarahkan tangan pria itu pada toples kaca tempat batu mana hijau zamrud itu.
"Aku ini, adalah seorang pria yang buta" Ia membuka toples itu dan ia merasakan ada satu batu sihir disana. "Harusnya, ditoples ini, ada batu mana. Enam batu ini, tak Ku jual. Ini adalah batu mana dari sebuah buku kuno yang telah lama terpencar. Bila Kau mau beli, belilah yang lain. Katakan saja apa yang sedang Kau inginkan dari batu-batu ini?" Pria itu menutup toples tersebut.
"Saya akan membeli batu didalam toples itu. Saya akan membeli seberapa pun yang Anda mau" Tsuha memegang batu sihir digerobak itu yang memancarkan aura tak sekuat dengan batu berwarna hijau didalam toples itu.
"Kenapa Kau memaksa?"
"Saya, ingin adik Saya bisa sihir dan agar Dia bisa seperti teman-temannya"
Pria itu mengelus pinggiran toples kaca itu.
Batu mana tersebut, mengeluarkan cahaya hijau.
Tsuha, terbelalak
"Ini bukan sembarang batu. Aku tak bisa menjualnya padamu. Walau itu bertaruhan dengan nyawaku, Aku tak akan menjualnya" Pria itu, memeluk toples tersebut.
Tsuha tak bisa memaksanya lagi.
"Baiklah, maafkan Saya atas permintaan Saya yang memaksa. Lalu, batu yang cukup baik selain batu didalam toples itu. Saya sangat terburu-buru. Bisakah Anda mem..." Belum usai Tsuha berbicara. Pria itu mengangkat kepalanya dan melihat kearah Tsuha tanpa membuka matanya.
"Apa Kau menyerah?" Pria tua itu, melontarkan pertanyaan pada Tsuha.
"Menyerah?"
"Iya. Apa Kau akan tertipu oleh ucapan seperti itu?"
"Apa Anda membohongi Saya?" Tsuha menanyakan balik pada pria tua itu.
Pria tua itu membuka mata kirinya yang berwarna putih.
Tsuha kembali membelalakan matanya.
"Mataku memang buta. Aku tak bisa melihat jelas. Aku hanya bisa memperkirakan tinggimu saat Aku menutup mataku. Dan, Aku hanya bisa melihat aliran mana orang lain dengan mata kiriku. Batu-batu ini, seperti lampu bagiku. Diantara batu-batu itu, hanya batu didalam toples yang bersinar paling terang" Pria itu membuka toplesnya dan mengambil batu berbentuk kristal panjang. Sepanjang 5cm.
Tsuha melihat retina pria tua itu yang terus bergerak.
Pria itu tak berbohong.
"Ulurkan tanganmu" Pria itu meminta Tsuha untuk mengulurkan tangannya.
Tangan kanan Tsuha telah diulurkan.
Pria itu mengelus telapak tangan kanan Tsuha dan memberikan batu itu.
"Kau, akan mati ditangan seseorang berambut gelap dengan tanduk yang melingkar diatas kepalanya dan di tanduknya terdapat enam batu yang sama seperti batu yang Kau pegang ini. Namun, batu itu lebih murni dan suci"
Pria itu, tiba-tiba membual.
"Apa yang Anda katakan?" Tsuha melepas tangan kanannya dari pria itu.
"Kau akan segera mengetahui rahasia yang lama dipendam. Tak ada orang yang jujur didunia ini. Satu persatu milikmu akan hilang. Layaknya, sebuah daun kering dipohon yang mati"
Tsuha mengeluarkan kantung koinnya.
"Ketahuilah, musuhmu tak jauh darimu. Dia yang akan membunuhmu, bukan sembarang orang. Dia memiliki kekuatan yang kotor. Dia adalah yang mencuri sihir orang lain, seorang yang mencabut nyawa orang lain tanpa pandang bulu. Seorang yang akan mengubah negri ini" Pria itu, kembali memegang tangan kiri Tsuha.
"Jauhi Dia. Kau pemuda yang baik, Kau layak hidup dengan damai dan melihat negri ini yang lebih berwarna" Tsuha melepaskan tangan kanan pria tua itu yang mengengam tangan kirinya sambil menyelipkan empat koin emas yang setara dengan 400 koin perak ditelapak tangan kanan pria itu.
Tangan kiri pria itu, meraba wajah Tsuha dan mengembalikan koin itu dengan mendorong tangan kiri Tsuha untuk menyimpannya.
"Simpan uangmu baik-baik. Pergilah dari Negri ini sejauh mungkin,....Tep!" Tiba-tiba tangan lain memegang tangan pria tua itu.