The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Enam Tahun yang Lalu [Marsyal bagian 2]



Tak jauh dari bibir hutan. Arnold tersadar dari pingsannya. Ia merasakan jari-jari tangannya yang bisa digerakkan. "Apa?" Arnold mengangkat kedua tangannya yang kembali.


SRUK!


Arnold langsung duduk dan melihat kedua kakinya yang kembali menyatu dengan tubuhnya. "Apa-apaan ini? Apa tadi itu hanya mimpi?" Arnold meraba perutnya yang masih berzirah.


"Tidak. Ini tidak beres!" Tegas Arnold sambil berdiri.


"...CEPAT AMBIL HINOKEN KEMBALI ATAU JIWAMU YANG KU CABUT"


Sepintas ucapan dengan nada yang sulit diingat Arnold melintas begitu saja. Tubuh Arnold langsung bergetar. "Aku harus memanfaatkan kesempatan ini. DRAP!" Arnold berlari dengan kencang keluar dari hutan.


"Siapa sosok bersayap hitam itu?"


...****************...


BRUK!!!


Nel dan beberapa anggota pasukkan yang lain menjatuhkan diri mereka karena telah berhasil membuat serigala sihir mundur kedalam hutan.


Mereka bernapas lega.


"HARI INI! AYO KE WARUNG SEBLAK! KITA DITRAKTIR GURU NOX!!!!"


Nel berseru dengan tegas pada teman seperjuangannya sambil mengangkat pedang mana berwarna putih tulang miliknya.


"ASEEEK!!!!! MAKASI GURU NOX!!!!!"


Nox yang sedang berbicara dengan Naver dan tidak tau apa-apa langsung melongo ulah dari Nel.


"NEL SIALAN! MURID BANGSAT! KENAPA HARUS AKU?!!!"


Nox yang tak terima pun langsung mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


Naver hanya bisa terkekeh mendengar drama guru dan murid itu.


"AHAHAHA! INI SEBAGAI APRESIASI UNTUK KAMI GURU!~ BENER GAK TEMEN-TEMEN!?" Nel duduk dan berseru pada teman-temannya.


"BENAR!!!! SESEKALI DITRAKTIR GURU NOX! HUWAAAAAAA!!!!" Sorakkan mereka mengema.


Nox tak berdaya melawan pemuda yang jumlahnya lebih dari 200 orang itu. "Kalau gini, aku tidak akan cepat kaya" Air mata kekecewaan keluar dari mata Nox.


Naver mengelus punggung Nox agar tabah.


...****************...


Agleer Linus berdiri di hadapan Marsyal yang telah membuat serigala sihir mundur dari tanah Shinrin. Linus mengeluarkan pedang mananya pada Marsyal.


"Ren ve Marsyal. Siapa dirimu sebenarnya?"


Pedang mana berwarna biru langit, telah diarahkan oleh Raja Shinrin tepat di tengorokkan Marsyal yang berdiri di hadapannya.


Marsyal memegang pedang besi yang berlumuran dengan darahnya sendiri dan kembali pada dirinya seperti sebuah akar yang menutup luka besetan di pipinya.


"Saya adalah seorang ketua dari Guild Penyidik Shinrin. Anda memanggil saya untuk membantu pengusiran serigala sihir. Saya tidak bisa membunuh spesies serigala sihir. Hal ini, sudah tertulis jelas di surat kontrak yang sudah saya tandatangani dengan Shinrin yang akan berjalan selama 10 tahun masa jabatan." Jelas Marsyal tanpa ragu.


Saat ini adalah tahun kedua masa jabatan Marsyal dan usia Marsyal masih 17 tahun saat menerima tawaran menjadi ketua Guild untuk mengantikan ayahnya yang tewas saat bertugas.


Marsyal adalah siswa tercedas di Akademi Sihir Shinrin (***) dan ia memiliki penalaran yang luas mengenai para titisan.


"Apa Anda meragukan diri saya manusia atau bukan?"


Marsyal menatap tajam mata Agleer Linus. Tak ada seorang pun yang berani menatap matanya seperti ini selain ayahnya dulu.


Linus mengerutkan keningnya. Sejak kedatangan Marsyal, bagi Linus dia adalah ancaman. Aura yang dipancarkan Marsyal berbeda seperti kedua orang tuanya.


"Apa saya perlu memakan buah iblis untuk membuktikannya pada Anda?"


Menurut Nel, '...daripada membuat Marsyal sebagai ancaman Shinrin. Marsyal itu, sudah seperti rajanya serigala sihir yang menakutkan. Kurasa, bila serigala sihir melihat Marsyal, mereka pasti akan terbirit-birit untuk kabur darinya. WKAKAKAKAKKA!"


Jangan diangap serius. Saat itu, Nel mengatakannya di depan para ketua Guild termasuk ada Marsyal dipertemuan itu karena mabuk setelah minum kopi yang ia pesan.


Marsyal sering kepikiran kata 'ancaman Shinrin' yang mengarah padanya. Walau itu candaan, bagi Marsyal ucapan yang selalu dikeluarkan oleh Nel adalah kejujuran. Marsyal percaya pada Nel. Oleh karena itu, Marsyal sangat membuka pintu markasnya lebar-lebar dan tak ragu untuk membantu Guild pemberantas Iblis karena ada Nel disana.


"Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan saya Baginda? Apa pertanyaan saya semuanya benar? Perlukah saya menganggap diamnya Anda adalah jawaban IYA?"


BWOSH


Marsyal menepis pedang mana Linus didepannya dan melenyap begitu saja.


Mata Linus terbelalak saat pedang mananya melenyap dengan mudah seperti pedang mana milik anak yang baru belajar sihir.


Marsyal memiliki class-rank tertinggi diantara para Kapten yang lainnya. Marsyal berkelas S sedangkan kapten yang lain pada saat ini hanya ber-class A. Kemudian, tingkat class-rank Agleer Linus adalah SS. Bila Marsyal semudah itu menghilangkan pedang mana Linus, bukankah seharusnya Marsyal memiliki drajat yang lebih tinggi dari Linus?


Linus memberanikan dirinya untuk menatap tataoan tajam Marsyal. "Iya. Aku memang meragukanmu sebagai manusia. Apa kau salah satu pengguna sihir terlarang?" Linus mengepalkan tangan kanannya untuk memberanikan dirinya bertanya demikian pada Marsyal.


"Oh, jadi Anda bertanya hal itu!" Nada suara Marsyal dan cara Marsyal melihat Linus langsung berubah.


"Huh~"


Kaki Linus sampai lemas rasanya.


"Ya, ini bukan sihir terlarang. Ini hanya regenerasi tubuh saya yang saya percepat dengan sihir penyembuhan diri sendiri. Ini hanya bisa dilakukan oleh keluarga saya yang terpilih saja. Maafkan saya atas ketidaksopanannya tadi Baginda. Saya benar-benar panik" Ucap Marsyal sambil mengosok tengkuknya yang tertutup rambut hitam miliknya.


Linus hanya bisa tersenyum. "Lagi-lagi aku tak akan menunjukkan pedangku padanya lagi. Untung saja disini tak ada yang mengetahuinya. Bisa-bisa aku malu sendiri" Batin Linus yang ingin berguling-guling ditanah.


Hidung Marsyal tiba-tiba berdenyut.


"Baginda, ada Iblis yang mendekat tolong kabarkan kepada pasukkan yang lainnya. Disini hanya ada saya dan Anda. Dan yang mampu menggunakan sihir teleport hanyalah Anda" Ucap Marsyal sambil menatap kedalam hutan.


"Apa? Iblis? Berapa banyak?"


Linus sangat terkejut mendengar hal itu. Prajuritnya, banyak yang gugur. Bila menghadapi segerombolan Iblis, rakyat Shinrin yang di evakuasi akan menjadi korban.


"Satu. Tapi, dia bukan Iblis biasa. Saya rasa, itu De luce Arnold yang kembali di bangkitkan"


DEGH!


"De luce Arnold? Raja Akaiakuma ke-X yang telah di bunuh oleh Raja Aosora pertama kembali bangkit?"


Tap! Tap!


Arnold keluar dari dalam hutan. Aroma kebebasan mulai tercium di hidungnya. Arnold melihat kedua tangannya yang terkena sinar matahari.


"WOSH!"


Ia mengeluarkan pedang mana berwarna merah miliknya.


"Baiklah, ini akan menjadi hari dimana aku membawa kembali harta Guru. AGLEER LINUS!!!!"


Arnold tiba-tiba memanggil nama Linus.


Marsyal langsung berdiri di hadapan Linus dan menutupi pandangan Arnold.


"AKU! MEMINTAMU SECARA HALUS UNTUK MENGEMBALIKAN PUSAKA YANG KAU KENAKAN DI JARI MANIS MU ITU!" Tegas Arnold dari kejauhan.


Marsyal tau ini akan buruk bila menghadapi Arnold sendirian. Ia melirik Linus dibelakangnya. "Baginda, cepatlah. Saya akan mengulur waktu untuk Anda" Ucap Marsyal.


"Wosh!" Linus langsung berteleport ketempat Naver berada.


"HOSH! NAVER!....."