The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Hubungan dan Laporan



Malam pengangkatan Arthur telah tiba. Ciel ataupun Nao sudah tidak terlihat di ruangan acara penting dan bersejarah itu.


Ha nashi telah menunggu Arthur di kamarnya. Ia mulai merapikan rambut Arthur yang kurang rapi. Arthur melihat hasil potongan rambutnya yang mirip sekali dengan pria yang muncul dimimpinya itu.


"Tuan Ha nashi, siapa sebenarnya Ambareesh itu?"


Mata Ha nashi langsung terbelalak begitu pula dengan Azuma dalam wujud kucingnya.


"Darimana Anda tau nama itu Putra Mahkota?" Ha nashi memanggil Arthur dengan gelar tersebut karena Arthur telah menjalankan ritual pengangkatannya dan tinggal menunggu pengumumannya secara resmi empat jam lagi.


"Dia selalu muncul di mimpi saya akhir-akhir ini. Ditambah lagi, dia memenggal kepalaku dengan hinoken yang Anda bawa" Jawab Arthur.


Azuma mengeleng pelan pada Ha nashi yang memberi tatapan seolah ia berkata, 'Akan ku katakan'.


"Ambareesh itu- TOCK! TOCK!" Suara ketukan pintu membuat Ha nashi diam sejenak.


"Arthur, bolehkah kami masuk?" Itu suara Angel.


Ha nashi berjalan ke arah pintu dan membukanya. Angel agak kaget melihat Hakim Shinrin di Aosora.


"Apa Anda di undang kemari?"


"Tentu saja, saya dipanggil khusus oleh Putra Mahkota Aosora" Jawab Ha nashi.


Angel melewati Ha nashi begitu saja. Tsuha melihat Azuma yang berjalan ke arahnya kemudian memanjat tubuhnya dan bersandar nyaman pada bahu Tsuha.


"Apa Anda baru tiba?" Tanya Tsuha sambil keluar dari kamar Arthur dan bertanya pada Ha nashi.


"Tidak. Sudah cukup lama kami disini. Maaf karena sudah membawa kucing Putra Mahkota kemari. Dia kabur dari markas kalian" Ucap Ha nashi sambil terkekeh ringan.


"Benarkah?" Tsuha mengangkat kucing itu dan kucing itu memutar matanya.


...****************...


"Arthur, maaf atas keterlambatannya. Aku ada sedikit masalah di markas. Jadi, dokumen yang kau cari sudah ada didalam sini. Hasil resumenya, ada pada buku catatan kecil yang ku sendirikan. Akan ku tinggal dulu karena aku juga harus bersiap untuk acara peresmianmu" Angel langsung berpamitan pada Arthur.


"Tunggu kak, apa kakak akan mengajak Tsuha lagi?"


"Iya, aku butuh dia untuk menilai sesuatu. Aku tidak bisa datang di acara peresmianmu dengan pakaian yang terbuka" Jawab Angel.


"Tumben?" Tanya lirih Arthur.


"Hah?"


"Bercanda" Sahut Arthur.


...****************...


Angel menuju kamar Tsuha untuk menganti pakaiannya. sebab, semua ruangan di istana ditutup sementara untuk pengecekkan ulang.


Tsuha memakai kemeja putihnya dengan sabuk hitam yang melintang di dadanya (Body belt). Tujuannya adalah untuk memberi nuansa unik dan modern pada tujuh orang yang terpilih untuk mengatar Arthur.


Angel melihat bentuk punggung Tsuha lebih jelas dari sebelumnya. Punggung Tsuha lebih lebar dari yang ia kira. "Apa warna kemejamu?"


"Biru gelap" Jawab Tsuha sambil merapikan pakaiannya. "Bagaimana denganmu?" Tsuha tidak berani membalik badannya karena ia tau Angel masih belum menyelesaikan pakaiannya.


"Bisakah kau membantuku?" Angel kesulitan menutup resletingdi bagian punggungnya. Tsuha langsung membalik punggungnya dan melihat Angel yang kesulitan.


Model dress yang dikenakan oleh Angel, selaras dengan kemeja Tsuha. Ini karena seragam mereka telah ditentukan warnanya. Dress Angel tranparan pada bagiam bahu hingga belahan dadanya.


Tsuha melihat kulit Angel yang bersih dan tercium aroma wangi. Ia langsung menarik resleting itu tanpa memikirkan apapun. Tsuha melihat wajah Angel yang bercermin dan sedang memakai lipstiknya. Tsuha melepas gelungan rambut Angel yang sudah rapi.


"Eh?! Kenapa kau lepasin Tsuha?" Angel sudah susah payah untuk merapikan rambutnya itu.


"Ini lebih baik" Jawab Tsuha sambil pergi dari kamarnya. "Tep!" Menarik tangan Tsuha. "Apa kau tak ingin memujiku?" Tanya lirih Angel dengan nada ragu.


Tsuha berhenti dan melihat Angel di sisi kanannya. "Make up yang bagus" Jawab Tsuha dengan singkat.


"Bukan itu anjir! Apa aku terlihat cantik?"


"Tentu saja kau cantik karena kau perempuan" Jawab Tsuha.


"Ck! Ayolah yang serius!" Tegas Angel sambil memanyunkan bibirnya.


"Benarkah?"


"Iya"


"1 dari 10?"


"11" Jawab Tsuha.


"Aaaaaa.... Terima kasih! Grep!" Angel langsung memeluk pinggang Tsuha.


"Lepaskan" Ucap Lirih Tsuha tanpa ada perlawanan.


Angel mendongakkan wajahnya. "Tsuha lihat aku" Tsuha menurut, ia langsung menunduk dan melihat Angel.


Angel menjijitkan kakinya. Kemudian, "Cup" Angel mencium Tsuha. Sayangnya, tangan Tsuha lebih cepat darinya. Sehingga, Angel mencium telapak tangan Tsuha yang Tsuha tutup pada bibir Angel.


"Tsuha, kenapa kau menutup mulutku?"


"Karena kakak yang memulai" Jawab Tsuha.


Angel membuang pandangannya namun ia masih mendongak ke atas. "Cih, ini caraku mewujudkan rasa kasih sayang padamu. Lagi pula, aku hanya ingin mencium pipimu saja"


"Sama saja" Jawab Tsuha.


"Kalau begitu, apa kau mau berdansa denganku"


"Aku menolaknya. Tugasku lebih penting dari kakak" Tsuha menyeringai usil.


"Apa iya?"


"Tentu saja. Lagi pula, aku yakin pasti akan banyak orang yang mengajakmu" Jawab Tsuha.


"Sebenarnya, hari ini orang tuaku akan kemari sambil membawa keluarga temannya yang ingin melamarku"


Tsuha sedikit terbelalak mendengar ucapan Angel.


"Bukankah itu bagus?" Tanya Tsuha sambil mengosok tengkuknya.


"Apa kau tidak mau menolong ataupun melarangku?" Angel melepaskan pelukannya.


"Memangnya, aku siapa?"


"Apa dengan kehadiranku, orang tua kakak akan dengan mudah mendengarku?"


Angel mengeleng, "Aku tidak menyukainya. Dia bukan pria baik. Temanku, Bram pernah menghanjar pria itu untukku. Apa... kau orang yang ku sukai akan membiarkanku dengan dia? Kalau aku dengannya, aku tidak akan bisa menjadi Kapten Penyidik lagi" Lirih Angel yang sesekali berhenti. Sebab, ia ragu mengatakannya.


"Kak, jangan menilai orang hanya sekali. Ada kemungkinan orang itu akan berubah. Orang tua pasti tau dengan hal yang terbaik untuk anaknya" Tsuha merasakan dadanya yang berat.


"Apa kau menyuruhku untuk menerima dia?"


"Aku tidak memutuskan akan hal itu, semua ini, terserah kak Angel" Jawab Tsuha.


"Tsuha, apa kau tidak merasa sesak sedikit pun?"


"Tidak" Jawab Tsuha, ia masih melihat Angel.


"Ah, begitu ya.... Baiklah, kurasa aku tak punya pilihan lagi. Nanti, ketemu di bawah ya" Angel memalingkan wajahnya. Ia berpamitan kepada Tsuha sambil berjalan menuju pintu kemudian ia melambaikan tangan pada Tsuha tanpa melihat ke belakang.


Tsuha melihat Angel hingga pintu kamarnya di tutup. Tsuha mengambil jas biru gelapnya dan memakainya sambil berkaca. "Sudahlah, ini yang paling terbaik untukku dan dia" Lirihnya sambil merapikan pakaiannya dan rambutnya.


...****************...


Arthur membaca hasil resuman Angel. Ini persis dengan yang ia tau tentang kakaknya, ayahnya, dan kakek buyutnya. Pada hasil resuman itu, ia tidak menemukan data milik kakeknya, Aosora Aiden. Di catatan kecil itu tertulis bila mereka tidak menemukan sedikitpun tentang Aosora Aiden. Kemudian, data milik Alex hanya di temukan sebanyak lima dokumen yang terdiri dari riwayat hidup, dokumen permohonan untuk menjadikan desa Aosora sebagai kerajaan baru, perjalanan Alex dalam peluasan wilayah Aosora, laporan tentang warga yang menjadi pelaku percobaan pembunuhan, dan laporan kematian Alex sendiri.


"Ini sia-sia. Tidak ada laporan yang memang ku butuhkan"


Kemudian, Arthur melihat lembar berikutnya. Tentang penyakit mana yang menjangkit dirinya dulu. Disana tercatat, bila ada kesalahan pada aliran mana Arthur yang menyedot mana orang di sekitarnya terutama Emilly.


"Ini juga, bukan laporan yang ku harapkan. Walau begitu, terima kasih untuk kak Angel yang sudah membantuku"