The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Enam Tahun yang Lalu [Kontrak]



Dari kejauhan Nel memandangi Arnold yang berdiri dihadapan Marsyal dengan waktu yang cukup lama. Sesekali, Nel melihat kearah lainnya. Nox sedang sibuk menutup luka salah satu dari pejuang yang lehernya tertebas. Darah dari pejuang muda itu, terus mengalir dengan deras.


Kepala Nel terasa pening karena mananya yang terlalu banyak terpakai. "Nel, bawa mundur pasukkan yang masih bisa berjalan sendiri. Biarkan Marsyal mengulur waktu untuk kita"


Nel melirik Nox yang masih berusaha menutup tebasan dileher pejuang itu. "Guru, bukankah kau terlalu gegabah? Bagaimana bila Marsyal terjadi sesuatu?".


Nox menghela napas panjang tanpa melihat Nel. "Kalau begitu, apa kau bisa bersikap setenang Marsyal di depan seorang Iblis kelas raja?"


Mendengar hal tersebut, Nel menyadarinya. Ia memang tak sehebat ataupun sepintar Marsyal. Ia ingin berguna di dalam pertempuran ini.


Nel mulai membawa pejuang yang terluka pergi dari tempat itu.


Zack masih belum muncul di hadapan Nel. Daniel, sudah pada batasnya dan Ia sudah dalam keadaan terluka parah akibat serangan Arnold yang berdaya luas.


Nel keluar dari ASJ setelah membawa teleport pejuangnya untuk menyembuhkan diri. Langit benar-benar sangat merah. Air hujan berwarna merah turun dengan deras dan membasahi pakaian Nel.


Nel merasakan mana yang aneh dari air hujan itu. Ia menegadakan tangan kirinya dan melihat warna air yang merah.


"Merah?" Nel langsung melihat ke langit yang maroon itu.


"Ini bukan hujan darah. Ini hujan mana. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Shinrin?"


Nel menundukkan pandangannya. "Apa aku masih mampu melihat esok? Aku, ingin merayakan pesta kenaikan ku sebagai kapten bersama dengan yang lain" Senyum tipis mengembang dibibir Nel. "Aku juga akan membelikan guru Nox minuman yang enak".


WOSH!


Nel kembali berteleport ketempat Nox berada. Pejuang yang lehernya tertebas telah mati karena kehilangan banyak darah.


Nel melihat ke arah Marsyal. Pedang besi yang bercampur dengan mana telah menembus perut Marsyal yang berdiri dihadapan Arnold.


"BKHUK!"


Marsyal muntah darah dan darah keluar dari dua lubang hidungnya. Mata Marsyal menatap mata Arnold yang beriris merah terang.


"Jika bukan karena hujan ini, De luce Arnold sudahku pastikan kau akan mati ditanganku. Namun, sayang sekali. Takdirmu tidak mati ditanganku" Ucap Marsyal yang menahan rasa sakitnya sambil menahan pedang sihir yang semakin ditusukkan diperutnya.


TRASH!!!


Arnold menarik pedangnya dengan keras dari perut Marsyal.


Darah yang mengalir dipedang Arnold kembali ke perut Marsyal dan luka Marsyal tertutup kembali tanpa meninggalkan luka.


Arnold melihat darah dipedangnya yang membentuk jaring-jaring dan melayang kembali ke luka Marsyal. Ini adalah sihir terunik yang Arnold lihat sepanjang hidupnya.


SYUUUNG.... BRUK!


Marsyal tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri.


Mata Arnold terbelalak. "Serius? Yang benar saja?" Arnold membalik tubuh Marsyal dengan kaki kanannya.


Marsyal pingsan. "Dia, lebih lemah dari yang ku kira. Padahal, kupikir dia adalah lawan yang setara dengan guru" Arnold sangat terkejut dan hampir tak mempercayainya.


Arnold kemudian berdiri dan merasakan sihir Tsuha yang sedang bersembunyi untuk menyembuhkan luka ibunya. Arnold membuka lubang teleport di belakang Glashya dan Arnold menggunakan sihir Telekinesis untuk menarik Glashya.


"GREP!!"


Nox mengepalkan tangan kirinya dengan kuat. "Nel, lindungi Tsuha seperti melindungi nyawamu sendiri. Bocah itu, sudah ku anggap seperti putraku sendiri. WOSH!!" Nox langsung berpindah ke atas Arnold dan "PASTSSS!!!!" Senjata mana yang berbentuk cambuk dengan ujung yang tajam melesat ke arah Arnold serta melukai wajah Arnold saat Arnold berusaha menghindarinya.


TEP!


Nox mendaratkan kakinya ke tanah yang berair dan menarik senjata mananya itu untuk kembali ke tangannya.


Arnold mengusap darah di pipi kanannya yang mengalir terkena air hujan mana itu.


"Mengapa kalian tak habis-habis? Ini membuatku semakin ingin membunuhmu. TRANGGGG!!!!!"


Arnold langsung maju dan menahan tebasan serangan cambuk Nox yang bergerigi dan tajam.


Serangan Nox bukanlah serangan yang berat bagi Arnold. Walau begitu, serangan Nox membuat Arnold sulit untuk menyerang Nox dengan serangan skala dekat.


"Cih!" Arnold mendecih karena mulai muak dengan pertarungan ini.


"******TUNDUK******" Ucap Arnold pada Nox.


DEGH!


Nox tiba-tiba merasakan aura mengintimidasi dari Arnold.


BRUUUK!


Tubuh Nox bergerak dengan sendirinya. Ia tiba-tiba berlutut di hadapan Arnold.


"Apa yang terjadi?" Nox tidak bisa mengeluarkan suaranya. Arnold berjalan kearahnya semakin dekat dan mengangkat pedangnya untuk ia hunuskan ke arah Nox.


"Kau membuatku muak. SYUUUUNG!!!! JELBBB!!!!"


Saat pedang itu akan dihunuskan pada kepala Nox, dari belakang Arnold, Glashya menusukkan pedangnya tepat pada kerongkongan Arnold.


"KHOOOK......" Arnold terkejut saat melihat pedang mana hijau menembus kerongkongannya.


Glashya menghilangkan pedang mananya setelah melihat darah muncrat.


"GRRREETTT!" Arnold memutar posisi ia berdiri dan mencekik Glashya dibelakangnya hingga terangkat keatas.


"IBUUUUU!!!!!" Tsuha berteriak memanggil ibunya yang tercekik.


Entah apa yang ada dipikiran Glashya. Ia melilitkan sihir akar ke tubuh Arnold hingga Arnold keulitan untuk bergerak.


"Kau datang di saat yang salah" Arnold berbicara sambil menutup lehernya yang terbuka dan menunjukkan seringaiannya.


Darah milik Arnold, mengalir pada luka Glashya yang masih terbuka. Arnold semakin mencekik Glashya hingga tubuh Glashya kejang dan tak bergerak lagi.


Tsuha diangkat oleh Nel untuk membawanya keluar dari tempat itu. Tsuha terus memberontak pada Nel. Ia ingin kembali bersama ibunya.


CTASSSH!!!!! DUAGH!!!!!


Nel terhantam sesuatu yang keras dari belakang. Ia langsung terjungkal jauh dan Tsuha terlepas dari tangannya.


BRUAKKKK!!!!


Pungung Nel menghantam pilar kayu rumah milik warga yang setengah terbakar.


"Akh, Sakit"


Tentu saja ia merasakan sakit. Sekujur tubuhnya terluka. Ia mengangkat pandangannya untuk melihat sesuatu yang menghantamnya itu.


Glashya, berjongkok dan mengangkat Tsuha agar berdiri. Ia membersihkan wajah Tsuha yang kotor terkena lumpur.


Bekas cekikan, terlihat di leher Glashya. Tsuha menyentuh memar kebiruan itu di leher ibunya.


"Ibu, apa ini sakit?" Tsuha memeluk ibunya itu.


Glashya membalas pelukan Tsuha lebih erat.


Nel membelalakan matanya saat melihat warna mana yang keluar dari tubuh Glashnya dan berganti merah.


"TSUHA! JAUHI DIA! WOSH!"


Nel tau bila itu bukan Glashya. Ia langsung memperingatkan Tsuha dan melesatkan serangan pedang mananya yang mampu melesat dari kejauhan.


"TRAK! BWOSH"


Sihir perlindungan tiba-tiba muncul dan menghalangi lesatan pedang Nel.


Tsuha melihat bibir ibunya yang menyeringai.


DEGH!


Jantung Tsuha memompa dengan cepat saat melihat mata ibunya yang kini berwarna merah. Tsuha mendorong tubuh ibunya yang memeluknya dengan erat.


"Kenapa? Apa putraku ini tak ingin dipeluk oleh ibu?"


Dia adalah Arnold yang berhasil menyusup ke dalam tubuh Glashya setelah ia mencekik Glashya.


WOSH!


TRANKKKKKKK!!!


Nel muncul di belakang Arnold untuk menyerangnya. Namun, Arnold telah membaca pergerakan dan aura Nel.


Arnold benar-benar menyeringai dengan lebar. "Tubuh ini, benar-benar hebat! Aku bisa merasakan aura orang lain lebih tajam!"


"Tapi, sayang sekali. Tubuh ini tak kuat menahan kapasitas sihir ku"


WOSH!


Arnold berpindah tempat untuk menghindari serangan Nel.


Arnold berjongkok dibelakang Tsuha yang termangun setelah menyadari bila ibunya sudah mati.


Arnold mengelus perlahan kepala Tsuha.


"Kau, paham maksudku kan nak? Kau adalah wadah yang bagus. Tubuhmu adalah tubuh muda yang bisa beradaptasi dengan kapasitas mana orang lain. Sama seperti Pangeran Aosora" Arnold mencengkram kedua pipi Tsuha dengan tangan kanannya.


"Mari kita membuat kontrak jiwa. Aku tidak akan membunuhmu ataupun membunuh orang di depanmu itu. Aku hanya akan tinggal di dalam tubuhmu dan kita akan mati bersama" Tawar Arnold pada Tsuha.