
Sebelumnya, Aosora Arthur adalah seorang Pangeran Aosora yang melarikan diri dari Kerajaannya sendiri karena didalam tubuhnya, ada jiwa Iblis bernama De luce Archie.
Saat alat pemenggal hampir jatuh mengenai lehernya, Archie dengan cepat bertukar tubuh dan Ia menghancurkan daerah sekitar pemancungan.
Pemancungan itu, dilakukan dihadapan warga.
Tak banyak dari warga yang tidak setuju dengan pemancungan ini.
Setelah Archie menghancurkan alat itu dan sekitarnya,
Ia melarikan diri dengan cara berteleport di perbatasan hutan sihir Aosora.
Archie berlari dan terus berlari.
Demi menyelamatkan 'keturunan Alex', Ia tidak ingin menanggung dosa karena Ayahnya.
Sejak hari itu, Archie bersumpah akan melindungi Arthur seperti melindungi dirinya sendiri.
Tapi, tiap harinya Archie dibuat kesal oleh Arthur. Walau begitu, Archie senang kerena disusahkan oleh keturunan Alex (Bukan Arthur). T^T
Saat ini, Arthur dan Archie berada dibawah pelindungan Shinrin lebih tepatnya Guild Pemberantas Iblis.
Kini, Guild pemberantas Iblis, diserahkan kepada Nel dan Razel yang merupakan murid Nox.
Archie, membaca bab tiga buku Arthur pemberian dari Marsyal.
Bab itu, bercerita tentang, Titisan pertama yang memiliki nama Liam, membunuh keluarga kecil kakak kembarannya.
Disini, dijelaskan kalau Liam adalah Titisan iblis pertama yang tak beranduk dan berambut putih. Sama seperti Archie dan Daeva.
Kemudian, Kakaknya Liam juga merupakan titisan iblis, dengan rambut hitam dan tanduk yang menjulang keatas.
Archie, membacanya dengan seksama karena, Ia penasaran juga dengan sosok berbet kelas Rank L itu.
Liam menghancurkan Dua desa tempat keluarga kecil Titisan siluma dan titisan Iblis.
Saat itu, hujan turun begitu deras dibulan Oktober.
Langit malam yang berwarna jingga dan air hujan serta mana yang turun dari langit. Itu fenomena yang sulit diterima oleh nalar.
Aku, menatap langit jingga itu yang mengeluarkan kilatan guntur.
Guntur-guntur itu, menyanyi diiringi dengan melodi hujan.
Dingin....
Hujan itu, membuat Kerajaan Alfarellza menjadi gelap dan dingin dimalam hari.
Warga saling memeluk satu sama lain untuk menghangatkan diri mereka yang tak memiliki kayu bakar.
Aku berjalan dilorong Istana Alfarellza untuk berjaga.
Malam itu sangat ramai.
Suara lonceng pertanda sinyal bahaya dibunyikan dari lantai teratas Istana.
"Kebakaran !!!!! Penyerangan terjadi di desa Siluman!!!!!!!" Prajurit yang membunyikan lonceng itu, berteriak dengan keras.
Telingaku mendengarnya.
Desa Siluman adalah rumah kepala koki Istana yang juga merupakan seorang Titisan.
Semua prajurit, bangun dan bergegas memakai atributnya.
Aku adalah salah satu Prajurit Alfarellza.
Aku berlari dengan kencang menuju tempat untuk berkumpul, sama seperti yang lain.
Disaat yang bersamaan, Suara lonceng berbunyi lagi untuk yang kedua kalinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?"
Aku tidak tau, tak ada pemberitahuan mengenai suara lonceng kedua.
Awalnya, kami pikir lonceng seberat 73kg itu tak sengaja dibunyikan.
Kami semua dikirim menuju Desa itu.
Saat kami melewati Desa Iblis ras rambut hitam, Api bergejolak dimana-mana.
Tangisan, rintihan dan teriakan membuat dadaku sesak.
Titisan Iblis yang bernama Lingga itu, membagi lagi kelompok Kami menjadi dua bagian.
Harusnya, Aku mengomandoi Pasukan yang menuju ke Desa Siluman. Tapi, Aku melihat sosok bersyal merah yang sedang mencekik seorang pria dengan tangannya sendiri.
Aku dan Lingga, sangat mengenal Pria yang mencekik itu.
Dia adalah Liam, Temanku dan juga kembaran Lingga.
"Liam!!!!!!!"
Lingga berteriak dengan keras.
Ia berlari kearah Liam dengan sangat kencang.
Lingga tak bisa menggunakan sihirnya, Tapi, Dia adalah sosok titisan yang hebat walau tanpa sihir.
Lingga berlari dan menggeluarkan pedang besinya.
Pedang besinya itu, Ia lesatkan kearah Liam yang berjarak cukup jauh dengannya.
Liam mengeluarkan sihir yang bisa membalik arah pedang itu dan melesat dua kali lebih cepat kearah Lingga.
Aku, mengeluarkan pedang mana hijauku dan menangkis pedang itu.
Aku memang menangkisnya, tapi pedang itu terlalu cepat dan berhasil membeset pipi kiriku.
Liam menunjukkan seringaian pada Kami kemudian, Ia melesat dengan cepat ke arah yang berlawanan dengan Kami.
Aku mengenal Liam dan Lingga lebih mengenal Liam lebih baik dariku.
"Liam!!!! Kabur seperti ini ! Seperti bukan dirimu!!!!"
Harusnya, Aku menyadarinya sejak awal.
Liam muncul tiba-tiba didepankh.
Pedang mana, menembus lenganku saat Aku akan mengejarnya.
Ia menipu kami.
Liam yang kini berada dibelakangku menarik dengan kasar pedang mana merahnya yang menembus lenganku.
"BRUAKKKKK!!!!!!!"
Sepanjang pertarungan itu, Ia tidak memperlihatkan matanya dan hanya menyeringai pada kami.
"Ada Kata yang bagus untuk Kalian hari ini. Apa Kalian ingin tau ?"
Liam bertanya sambil menjambak rambut hitam legam dan panjang milik Lingga.
Aku tak bisa bergerak.
Kedua tangan dan Kedua kakiku, ditusuk pedang mana olehnya.
"Kalian dekat denganku, tapi, Kalian tidak bisa mengenaliku"
Aku tidak paham maksud ucapan Liam.
"Kalau begitu, coba tebak. Apa yang akan Aku lakukan titisan elf ?"
Dia tau kalau Aku bisa melihat masa depan.
Aku melihat mulutnya yang masih menyeringai padaku.
Aku melihat, pedang besi yang menusuk tanah penuh dengan darah.
"Ding dong~ waktu habis"
Dia bahkan tak memberiku waktu untuk menjawabnya.
"Aku beri kesempatan lagi untuk Kalian"
Dia terlalu kekanak-kanakan.
Wajahnya mendekat ketelinga Lingga.
Aku tak tau apa yang Ia bicarakan walau Aku memiliki telinga elf yang bisa mendengar hingga jarak 5 meter.
"Jangan!!!!!!"
Lingga berteriak begitu saja.
"Aku akan berlari dan tidak mengunakan sihir teleport. Alder, Kau harus membantu Lingga. Cepat, kejarlah Aku. Drap!!!!!"
Liam berlari dengan kencang setelah mengatakanya.
"Alder!!!!! Tolong Aku!!!!! Anak dan Istriku!!!!"
Mata Lingga berlinang air mata dan berusaha menarik empat pedang mana yang menancap tangan dan kakiku.
Aku tanya apa yang Liam katakan.
Ia menjawab " Dia akan membunuh keluargaku kalau Aku terlambat sedetik! Tolong bantu Aku dengan sihirmu!!!"
Aku tidak bisa sihir teleport, tapi, Aku memiliki kelebihan bisa melesat dengan cepat.
Setelah Aku terlepaskan,
Aku membawa Lingga dengan sihir ku kerumahnya.
Betapa terkejutnya Aku,
"Cratttttt!!!!!!"
Aku, melihat Pedang besi Lingga menebas leher istrinya yang sedang hamil tua anak pertama.
"Jleb!!!!"
Pedang besi itu, ditancapkan oleh Liam ditanah yang berlumpur dan berair.
Itu, sama seperti yang kulihat.
Lingga jatuh lemas melihatnya.
Karena kejadian itu, Aku dan para titisan yang lainnya semakin membenci Liam, SANG TITISAN PERTAMA
Sejak hari itu, Kami tidak mengakui Liam sebagai Titisan pertama.
Archie menutup buku itu dan melihat covernya yang tanpa judul dan hanya genrenya.
"Komedi, aksi, fantasi, historis"
"Kalau memang titisan petama seperti ini, pantas saja Ayahku berniat membunuhku saat kecil karena ini ? Dia takut kalau memiliki anak yang merupakan seorang ingkarnasi Titisan pertama ini"
Archie akhirnya mengerti.
Walaupun begitu, Ia masih saja membenci ayahnya itu.
"Tok!!!"
Suara kerikil mengenai kaca.
"Tok!!!"
Ada seseorang yang sengaja melempar batu kerikil itu mengenai jendela kaca disamping tempat tidur Arthur.
"Hei! Ada yang mengetuk jendela"
Tsuha membangunkan Archie dari lamunannya sejenak.
"Krotok-krotok-krotok!"
Seseorang itu, semakin banyak melemparkan kerikil di jendela itu.
Archie tambah kesal dan langsung membuka jendela itu dengan kuat dan lebar.
"SIALAN!!!!! KENAPA MENGANG.....DEGH!!!!"
Mata merah, memiliki tanduk menjulang keatas dan berambut putih dengan potongan mulet itu, berada dibalik jendela sambil memegang batu seukuran kepala orang dewasa yang akan ia lempar ke jendela itu.
Dia adalah, De luce Mizel yang sedang tersenyum melihat Kakaknya.