The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Lomba lari



"Di dunia ini, tak ada orang yang jahat. Semuanya adalah orang baik. Tergantung bagaimana cara Pandang Mereka. Kalian tau, itu adalah ucapan yang kudengar dari seseorang yang sangat bodoh. Bila tak ada orang jahat didunia ini,...."


"Lantas, Kenapa masih banyak tangis yang terdengar ditelinga ku?"


Sosok bersayap duduk di dahan pohon yang tinggi sambil menatap langit yang mendung.


Angin malam, dengan lembut mengusap rambutnya yang berwarna putih.


"Dan, tanpa seorang antagonis, Bagaimana cerita ini bisa berjalan?"


...****************...


Pagi hari yang gerimis, Tsuha menutup telinganya rapat-rapat dengan sebuah bantal dan masih tiduran diatas kasur.


"INTINYA! KAU HARUS MEMBENTULKAN SEMUA TANAMANKU ITU!!!!"


Shera marah-marah pada Arthur karena telah merusak tanamannya.


Arthur sendiri, bersembunyi dibelakang Zack yang baru datang karena mendengar keributan itu.


"ZACK! MENYINGKIRLAH! KALAU KAU IKUT CAMPUR! KAU HARUS MEMBENTULKAN SEMUA TANAMANKU SEPERTI ARTHUR!" Shera menaikkan nada suaranya sambil mengetuk-ngetuk dada Zack.


"Ahahaha... Shera.... Pagi-pagi jangan marah-marah, Nanti Kamu bisa cepet tu.."


"APA PEDULIKU... BANGS*TTTTTT" Ia 'Shera' melototkan matanya dan menekan suaranya, serta mencengkram baju kaos Zack


"Kak Shera.... maafin Aku, bila hujannya sudah reda, Aku akan menanamnya kembali. Jad,.."


"Sek..kar..rang..." Shera menatap mata Arthur dengan mata yang melotot itu dan Arthur menciut dibelakang Zack.


Zack tersenyum paksa sambil menyeret Arthur dibelakangnya, kemudia Ia mendekatkan mulutnya untuk membisikkan sesuatu pada Arthur.


"Arthur, pria sejati harus berani bertanggung jawab. Jangan buat Lina kecewa" Bisik Zack ditelinga Arthur.


Arthur melihat Lina dibelakang Shera sambil meminum minuman hangat.


Mata Arthur berkaca-kaca sambil melihat Zack yang menatapnya dengan raut percaya.


"Jangan menatapku begitu..." Lirih Arthur.


Archie sengaja keluar dari kamar saat mendengar suara Shera sebelum sampai dikamar Arthur dan Tsuha.


"Semangatlah!"


"JADI,... MAU SAMPAI KAPAN AKU MENUNGGU?" Aura Shera menyebar diseluruh ruangan kamar Arthur dan Tsuha.


Tsuha, ingin sekali keluar dari kamar itu.


Arthur mengaruk tengkuknya sambil cengegesan. "Baik Kak, akan ku lakukan sekarang"


Mata melotot Shera berubah dalam sekejap.


Ia tersenyum dan matanya terlihat menyipit, "Pat! Pat!" Ia menepuk kepala Arthur dengan halus.


"Lakukan dengan benar dan gantilah tanaman yang rusak dengan tanaman yang ada dihalaman depan markas. Aku akan membuatkanmu bubur setelah selesai mengerjakannya" Shera pergi dari kamar Arthur setelah mengatakannya.


Arthur tercengang melihat perubahan Shera yang drastis.


"Zack, bantulah Arthur. Aku juga, akan ikut membantu" Lina meminta bantuan pada Zack untuk membantu.


"Eh?" Zack tak suka terkena hujan.


"Val saja. Dia pasti akan dengan senang hati untuk membantumu" Ia mencari kesempatan untuk Val agar ia tak kalah dengan Arthur.


"Val?" Lina menempelkan sedok kecil dibibirnya.


"Kayaknya, Dia masih tidur. Aku tak bisa menganggunya. Dia pasti kelelahan setelah menjagamu semalaman" Ia menunjuk Zack dengan sendok kecil itu.


Zack memutar bola matanya "Ah... benar juga... Apa boleh buat. Ayo lakukan sekarang" Zack keluar dari kamar Arthur untuk membantunya.


Lina tersenyum sambil melihat perginya punggung Zack. Kemudian, Ia mengikuti Zack tanpa melihat Arthur.


"Hmmm? Ah,... mungkin hanya perasaanku saja" Arthur membuang muka sambil mengaruk tengkuknya dan mengikuti Lina dari belakang.


Tsuha memindahkan bantal yang menutupi sebagian kepalanya dan duduk diatas kasur.


Ia memindahkan salah satu serigala sihir yang tidur dikasurnya.


"Dia, benar-benar Pangeran bodoh yang pernah ku temui"


Tsuha memakai jaket abu-abunya yang tebal dan kembali tiduran.


...****************...


Di hujan yang semakin deras, Arthur dan dua orang lainnya membersihkan tanaman Shera yang tumbang tanpa menggunakan jas hujan ataupun payung.


Arthur melihat kuku jari yang terlihat panjang dan terdapat tanah didalamnya.


"Kapan terakhir kali Aku bermain tanah? Dua tahun yang lalu yah?"


Arthur melihat Lina yang sedang menyiprati wajah Zack dengan daun yang basah.


Zack langsung menguyur Lina dengan setimba air hujan yang sedikit kecoklatan.


"Ah! Curang!"


"Hmpf! Terserah Aku" Jawab Zack sambil memasukkan ember kekepala Lina.


Arthur melihat tangannya kembali dan mencabut tanaman yang rusak.


Arthur, tidak benar-benar memiliki perasaaan untuk Lina. Ia, hanya ingin tau bagaimana perasaan Lina pada Val.


Dan ternyata, "Kak Zack benar-benar pria yang tak peka" Yah, padahal Dia sendiri juga begitu.


Dari awal Arthur sudah sadar. Sejak Lina yang suka curi-curi pandang pada Zack.


"TUAKKKK!!!" Zack tak sengaja melempar ember besi itu dikepala Arthur, saat Lina menghindarinya.


Arthur menundukkan kepalanya menahan rasa sakit itu.


"Eh?! Maaf Arthur! Gak sengaja!" Zack mengambil ember itu dan mengosok ember itu.


Tangan kanan Arthur meraup lumpur didekatnya.


"Ugh..."


"IHHHKKK!!!!" Arthur mengkernyitkan keningnya dan menaikkan kedua bahunya.


"Arthur...." Lina melepaskan kaca matanya yang terbalut lumpur dan membersihkannya dengan genangan Air hujan.


"Ma...maaf....!" Sontak, Arthur langsung bersujud dihadapan Lina.


Tangan Lina, meraup lumpur yang lain dan langsung memasukkannya kedalam baju bagian belakang Arthur.


"Im...pas"


Arthur mengangkat pandangannya.


"PFFFT! AHAHAHAHA! Kau... lucu sekali Arthur!" Lina tertawa terbahak-bahak melihat mimik wajah Arthur.


Arthur tertawa balik dan kembali membetulkan tanaman Shera.


...****************...


Sore hari, Arthur telah menyelesaikan tanggung jawabnya beberapa jam yang lalu. Saat ini, Ia sedang mendengarkan Razel mengenai permintaan Marsyal.


"...Jadi pada intinya, Marsyal memintamu untuk tidak ceroboh dan selalu mendengarkan perkataan yang lain. Marsyal juga, memintamu untuk menolak ajakan Nao. Bila Kau merasa keberatan. Pak!" Razel mengetuk kepala Arthur dengan mengepalkan tangan kanannya namun, perlahan.


"Lalu, Lina. Kau dapat panggilan dari Rumah penyembuhan Guild keamanan Masyarakat untuk segera datang karena pasien sudah sadarkan diri"


Mendengar itu, Zack langsung mengeluarkan setengah tubuhnya dari ruangan sebelah tempat Ia ngopi.


"Sudah sadar? Kalau begitu, biar Aku yang mengunjunginya"


Nada suara Zack terdengar sangat senang. Bagaimana tidak, Ia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil menyelamatkan nyawa seseorang.


Arthur menyingkirkan kaki Archie yang tidur dari atas pahanya.


"Apa orang yang terluka hari itu?" Arthur ingin ikut menjengguknya.


Zack dan Lina mengangguk bersamaan.


"Wakil! Apa Aku boleh ikut?" Ia meminta izin pada Razel.


Meminta izin ikut dengan Zack hanyalah abal-abal untuk Arthur agar bisa keluar menghirup udara segar setelah hujan.


"Kalau begitu, sekalian ajaklah Tsuha. Dan, antar Dia untuk menemui Putra Mahkota Baal"


"Hah?! Di.. Dia! Diundang Kak Baal?!" Arthur menunjuk Tsuha yang tengah diam memperhatikan mereka dan membaca buku panduan Anggota Guild yang baru.


"Hmfff...." Tsuha mendengus ejek pada Arthur.


"Kenapa Dia diundang?"


"Untuk kenaikkan kelas rank dari D menjadi B setelah misi pencarian Putra Mahkota Aosora" Jawab Val sambil menepuk-nepuk punggung Tsuha.


Tsuha full-senyum dan menunjukkan ibu jarinya pada Arthur.


"....B....Be?"


Arthur mengepalkan tangan kirinya dan Ia menunjuk Tsuha dengan tangan kanannya "Aku, akan segera menyusulmu dan kelasku akan lebih tinggi darimu!" Tegas Arthur.


"Ya, Aku akan tetap lebih tinggi darimu" Tsuha berdiri dan mengukur tingginya yang lebih tinggi dari Arthur.


"Hah?! cuma selisih 2 cm aja jangan sombong!" Suara Arthur membuat ramai Markas pemberantas Iblis yang dulunya sepi.


"Jangan lupa, Kau lebih muda 18 bulan dari ku. Panggil Aku Kakak~"


"Cuih! Najis! Sekarang, Aku menantangmu untuk sampai lebih cepat Ke Rumah penyembuhan Itu! Yang sampai lebih dulu, boleh melakukan sesukanya termasuk membabu yang kalah" Ucap Arthur sambil menunjukkan kepalan tangan kirinya pada Tsuha.


"Ogahlah! Kau pasti akan menggunakan Sihir teleport" Tsuha tak bisa dibodoh i oleh Arthur.


"Eh?! A..Aku... mana mungkin berbuat curang seperti itu" Arthur membuang mukanya dan sebenarnya, itu memang yang diinginkan Arthur.


Zack memegang pegangan pintu keluar markas yang terbuat dari Kayu.


"Ayo lomba lari. Yang kalah, harus mencuci piring selama Seminggu penuh! Brak! Drap!" Zack keluar dari markas dan lari mendahului mereka.


Arthur dan Tsuha saling melihat.


"Eh! Kau curang!!!! Drap!!" Mereka berdua berlari keluar markas dan berlomba.


Archie terbangun karena terkejut mendengar suara derapan Kaki berlari.


"Apa yang sedang terjadi?" Ia melihat ke segala arah sudah tak ada Arthur disana.


"Archie, Apa Kami boleh meminta bantuan padamu?" Tanya Razel dan Mereka semua melihat Archie bersamaan.


"Bantuan apa?" Archie duduk sambil merapikan rambutnya yang telah dipangkas.


Seketika, Mereka selain Razel keluar dari markas.


Archie merasa keanehan pada Markas yang sunyi ini.


"Kembalilah ke Akaiakuma, Shinrin bukanlah tempatmu. Kami telah memikirkannya matang-matang. Kami adalah Anggota Guild pemberantas Iblis. Dan Kau adalah seorang Iblis yang merupakan musuh Kami. Kami harus berpegangan teguh pada visi misi Kami"


Mendengar itu, Archie tak bisa berkutik.


"Bagaimana dengan Arthur? Tubuh asli ku, masih ada di Aosora"


Archie memikirkan Arthur dan Ia juga tau kalau tubuh ini hanya bersifat sementara.


"Aku, akan membicarakannya secara baik-baik. Jadi, kuharap Kau segera pergi dari Kerajaan Shinrin"


Archie menatap mata Razel yang hitam.


"Tentu, Bagaimana dengan Iblis yang lainnya di Markas ini? Apa Kau hanya akan mengusirku saja?"


Razel tak paham maksud Archie, "Apa Maksudmu?"


"Kau adalah seorang Anggota permberantas iblis. Harusnya, Kau tau maksudku. Aku akan pergi. Bila Arthur mencariku, Katakan saja kalau Kau dan yang lainnya tak tau" Archie tak ingin berasa ditempat yang tak ada seorangpun yang menginginkannya.


Ia pergi dengan sihir teleportnya menuju perbatasan hutan dan Archie, masih tak ingin kembali ke Akaiakuma.