
Arthur kembali menuju kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sialan! Pantas saja dia masih di perbolehkan menginjakkan kakinya di tanah Aosora dan Shinrin. Jelas-jelas dia meminta maaf dan memohon pada Archie agar tidak dibunuh. Kenapa tersangka kasus ini malah lari merujuk pada titisan yang belum tentu terlahir di zaman ini?"
Arthur tidak menduga akan mengetahui kebenaran akan hal ini. Kepala Arthur terasa penuh. Archie sama terkejutnya dengan Arthur mengetahui hal ini.
["Arthur, aku sungguh tidak tau dengan isi lembar terakhir buku Alex"].
Archie merasa tidak enak kepada Arthur.
Arthur mengehela napas panjang. "Archie apa kakek buyutku adalah seorang peramal?" Arthur berbicara tanpa mengangkat wajahnya yang tertutup kasur.
[Alex itu bukan seorang peramal. Dia hanya seorang keturunan campuran biasa dan dia tak ada bedanya denganmu. Sifatnya semuanya turun padamu kecuali wajahmu saja]
"Ya, kau tak perlu membawa wajahku juga. Aku penasaran dengan kakek buyutku mengapa dia banyak sekali memiliki musuh?"
[Itu karena Alex mampu memegang hinoken]
[Hinoken itu adalah harta yang di jaga oleh Akaiakuma. Namun, karena aku mengambilnya dan Alex menggunakannya untuk membunuh ayahku itu, hasilnya seperti ini]
[Walau begitu, di mataku hanya Alex yang berbeda dari yang lain. Dia satu-satunya orang yang berani dan tidak segan untuk menjalin pertemanan dengan bangsa Iblis]
[Teman Alex yang berbangsa Iblis, bukan hanya aku dan Mizel saja. Dia memiliki sekutu lain yang membantunya dalam pengambilan sebagian wilayah siluman untuk tanah Aosora]
[Terkadang, aku melihat Alex yang selalu ceria tiba-tiba menjadi murung. Hari itu adalah hari pengangkatanku untuk menjadi raja Akaiakuma. Alex dan Istrinya membantuku dalam rencana pembunuhan ayahku. Rencana ini adalah rencanaku yang menjadikan Mizel sebagai pion utama]
[Kemudian, di hari kematian ayahku, Mizel dan Alex, termasuk keturunan Alex mendapatkan kutukan. Hanya aku yang tidak di beri kutukan itu oleh ayahku. Dia membuatku tersiksa secara perlahan]
[Aku pergi dari akaiakuma setelah kenaikan Mizel menjadi Raja pengganti. Kemudian, seperempat wilayah Shinrin di berikan kepada Alex sebagai hadiah. Alex melakukan pelebaran wilayah dalam skala besar. Hingga merebut setengah wilayah Nekoma. Untuk pertama kalinya, aku melihat sisi lain Alex yang tak pernah ku lihat]
[Ia mengancam raja Nekoma dengan hinoken untuk memberikan setengah wilayah Nekoma dan memindahkan semua bangsanya yang berada di wilayah itu. Dia tidak seperti Alex yang ku kenal selama ini]
...****************...
TAHUN 1028
Satu tahun sebelum kenaikan Alex menjadi Raja Aosora dan satu tahun sebelum Archie disegel.
Mata Archie terbelalak saat darah siluman menyiprat ke wajahnya.
"Ck, padahal tinggal menandatangi surat yang ku bawa saja apa sulitnya?"
Alex membersihkan darah yang menyiprat di jubahnya dengan sapu tangannyq. Kemudian, ia melihat ke Archie sambil menunjukkan senyumannya. "Sebentar lagi, desa akan menjadi keraj- eh, maaf darah dia menyiprat di wajahmu Archie" Alex mengulurkan sapu tangan yang baru pada Archie.
Archie melihat ke arah sapu tangan putih itu dan mengusapkannya pada pipinya.
"Alex, membunuh dia apakah sangat perlu?" Archie bertanya dengan sedikit menjeda. Seolah, ia ragu dengan pertanyaannya yang ia lempar pada Alex.
Alex menelengkan kepalanya ke kiri dan melihat sepatunya yang terkena darah dari siluman itu.
"Kurasa perlu. Sebelum aku membunuh dia. Aku sudah mencari informasinya terlebih dahulu. Raja Nekoma ini, dulunya pernah melecehkan pelayannya sendiri. Dia tidak pandang bulu hingga membuat bocah berusia 12 tahun mati karena dia perkosa"
"Ya, harusnya aku membuat dia sedikit menderita dulu sebelum memengal Kepalanya" Alex meringis sambil melihat ke arah Archie.
Archie mengosok tengkuknya dan menepuk bahu Alex. "Bukankah lebih baik bersekutu dengannya dari pada membunuhnya seperti ini? Ini akan berefek buruk pada namamu nanti"
Alex tersenyum pada Archie. Senyuman Alex terlihat sangat tulus di mata Archie. "Tak apa. Aku tidak berniat bersekutu dengan siluman dari Nekoma. Aku hanya mengambil wilayah Kerajaan Greendarea yang merupakan hak keluarga terdahuluku" Jawab Alex sambil membawa Archie keluar dari istana Nekoma.
Mendengar pertanyaan Archie, Alex berhenti di tempat sejenak sambil menaikkan salah satu alisnya. "PFFT! Pahahahaha! Mana ada aku membenci siluman! Mereka sama seperti kita. Mereka juga ingin hidupkan?" Alex melontarkan pertanyaan pada Archie.
"Tenanglah Archie, aku hanya membuang rongsokan yang tidak berguna"
Darah masih menetes dari hinoken berwarna merah ke tanah yang di injak oleh Alex. Archie mulai merasa tak nyaman berada di sekitar Alex.
OEEEEEEKKKKKK
Kemudian, anak pertama Alex terlahir. Dia berkelamin laki-laki. Anak pertama Alex ini, ia beri nama Aosora Aiden. Dia lebih mirip dengan istri Alex.
Untuk pertama kalinya Archie mengendong putra pertama Alex. Bayi itu meringkuk.
"WOAH! Alex! Anakmu kayak bayi kucing"
Archie salah bicara sangking takutnya mengendong bagi yang bisa remuk di pelukannya itu. Alex tersenyum dan mengambil putranya.
"Archie, apa kau tak ingin memiliki seseorang yang ingin kau lindungi dan sangat berharga di hidupmu?"
Itu adalah pertanyaan yang Alex lontarkan pada Archie sambil menatap wajah putra kecilnya yang merah.
Archie terkekeh kecil. "Cukup kau saja yang menjadi orang berharga untukku. Ya kan, calon Raja Aosora?" Jawab Archie sambil meringis.
"Raja Aosora? Kurasa itu nama yang bagus!"
Kemudian, pada tahun 1029 Alex di angkat menjadi Raja Aosora. Di hari sebelum kenaikan Alex, ia sempat berbicara sesuatu dengan Archie.
"Jadi, kenapa Raja Aosora memanggil iblis berambut putih ini~?" Hati Archie senang. Ia tidak menyangka bila cita-cita mereka saat kecil itu menjadi kenyataan saat ini.
Alex duduk di sebelah Archie sambil memberikan hinoken itu pada Archie. "Aku mengembalikan ini pada seseorang yang harusnya memegang ini" Hari itu, Archie melihat ekspresi Alex yang berbeda. Seolah ia tau bila akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Archie.
"Eh?! Kenapa?"
Alex mengalihkan pandangannya. "Kau taukan siapa pemilik pedang ini?" Alex mengaruk pipi kanannya dengan jari telunjuknya.
"Guru ayahku. Memangnya kenapa? Lagi pula, pedang ini tidak akan bisa di pegang oleh Mizel bila aku mengembalikannya ke Akaiakuma" Archie mendorong hinoken itu dari tangan Alex.
Alex meletakkan pedang itu di atas meja di sebelah buku catatan bersampul hitam dengan tujuh batu mana sebagai hiasan sampulnya. "Pemilik pedang ini mendatangi mimpiku. Dia berkata sesuatu tentang pedang ini dan tentang kutukanmu" Jawab Alex.
Archie mendengarkan cerita Alex.
"Archie, aku ingin kau kembali ke Akaiakuma dan membawa pedang ini. Kau boleh mengunjungiku sesekali. Jangan membuat Mizel menderita" Alex melihat ke arah Archie sambil menepuk punggungnya.
Saat itu, Archie tak paham dengan maksud Alex. Ia mendengus kesal. "Apaan dah! Kek orang yang bisa ngelihat masa depan aja. Lagian, pemilik pedang itu sudah mati. Apa menurutmu jiwa pemilik pedang itu gentayangan?" Archie malah bercanda.
Alex mengeleng. "Dasar. Kau ini...." Alex menepuk-nepuk punggung Archie.
"Akhir-akhir ini, Alex sering sekali menepuk punggungku" Batin Archie sambil melihat buku bersampul hitam di atas meja.
"Buku apa ini?" Archie mengambil buku bersampul hitam dengan hiasan tujuh buah batu mana itu.
Ia membolak-balikkan buku itu. "Bagaimana membukanya?" Ia mengulurkan buku itu kepada Alex.
Alex mengambil buku itu. "Aku sendiri tidak tau bagaimana membukanya. Ini buku yang ku temukan di depan pintu. Ku pikir, ini bukumu" Jawab Alex sambil memberikannya lagi kepada Archie.
"Itu buku yang aneh. Lebih baik di buang saja. Takutnya, ada sihir aneh di buku itu"