The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Pengingat & Mimpi



"Sial! Kau gagak jadi-jadian! Apa kau mata-mata dari Akaiakuma!?" Tsuha langsung menebak.


"Daripada mata-mata, aku ini hanya penjaga" Gagak itu berbicara.


Tsuha dan Arthur langsung membelalakan mata mereka.


"SIAL!!! SYUUUNG! BWOSH!"


Tsuha langsung melempar gagak itu dengan kencang. Cahaya putih menyelimuti gagak itu dengan diikuti oleh angin yang memporak-porandakam seisi kamar Tsuha dan Arthur.


Rambut putih dengan gaya mulet terlihat dimata Tsuha dan Arthur.


"Eh! Hakim Shinrin!?" Tsuha dan Arthur mengeluarkan suara mereka bersamaan.


"Yo" Ha nashi menyapa keduanya dengan mengangkat telapak tangan kanannya.


...****************...


Arthur dan Tsuha sangat terkejut melihat petinggi Shinrin dapat mengubah dirinya menjadi gagak.


Tsuha langsung berdiri dan menunjuk Ha nashi.


"Kau! Bangsa apa?!"


Tsuha sudah bersiap mengeluarkan pedang mananya. Begitu pula dengan Arthur. Ia sudah mengeluarkan pedang mananya dan dalam pose siaga.


Ha nashi mengangkat kedua tanganya setinggi bahunya.


"Tentu saja Bangsa Manusia. Ini hanyalah keistimewaan yang ku dapatkan. Santai saja nak, aku bukan dari golongan Siluman ataupun Elf" Singung Ha Nashi sambil tersenyum.


Tsuha dan Arthur tidak bisa mempercayai begitu saja.


"Arthur. Dia memang dari Bangsa Manusia. Dia itu, tangan kanan Raja Akaiakuma. Aku mengenal dia. Dia Tuan Ha nashi dan dia orang baik" Archie membuka mulutnya setelah seharian diam saja.


"Kau tidak bohong?"


"Tentu tidak bodoh! Apa untungnya untukku membohongimu" Ucap Archie.


Arthur langsung menghilangkan pedang mananya dan menepuk bahu kanan Tsuha.


"Tsuha. Archie mengenalnya. Dia memang dari Bangsa Manusia" Arthur tidak mengatakan bila Ha nashi dari Akaiakuma.


Tsuha melirik Arthur sekilas kemudian, ia menghilangkan pedang mana hijaunya.


Ha nashi menunjukkan senyumannya dan berjalan kearah Arthur. Tsuha merasa tak nyaman dengan keberadaan Ha nashi. Ia langsung berdiri di depan Arthur untuk menghalanginya.


Ha nashi, meletakkan telapak tangan kanannya di dada kirinya dan membungkuk perlahan.


"Maaf atas ketidaksopanannya, Pangeran Aosora Arthur" Ha nashi membungkuk memberikan salam hormat untuk Arthur.


Arthur menepuk bahu kanan Tsuha untuk menyingkir.


"Cih!" Tsuha mendecih setelah mendapatkan kode itu. Ia berjalan ke kasurnya dan menatap Ha nashi dengan tatapan tajam.


Ha nashi mengangkat pandangannya.


"Tuan, apa Anda kemari untuk bertemu dengan Archie?" Arthur menarik kursi belajarnya dan mempersilahkan Ha nashi duduk disana.


Ha nashi duduk setelah mendapatkan izin dari Arthur.


"Sebenarnya, saya kemari karena saya membutuhkan bantuan Anda untuk melepaskan segel yang mengunci Raja De luce Archie" Ha nashi langsung berbicara pada intinya dan menghindari basa-basi.


Arthur mengaruk tengkuknya dan terkekeh ringan sambil duduk di atas kasurnya.


"Ya. Saya sudah memiliki rencana seperti demikian. Empat hari lagi, saya akan kembali ke Aosora. Disana, saya akan mencoba untuk membebaskan tubuh Archie. Anda tidak perlu terburu-buru" Jelas Arthur sambil menganguk pelan.


Ha nashi, melipat kedua jari-jari tangannya pada atas lututnya.


"Begini Pangeran, Baginda Archie sudah menjalin perjanjian dengan Baginda Mizel. Kedatangan saya kemari, untuk mengingatkan Anda dan Baginda Archie" Jelas Ha nashi.


"Ya, saya tidak melupakannya dan Archie juga tidak lupa. Tolong tunggulah sebentar lagi"


Di posisi Tsuha yang mendengar perbincangan dua oran- Eh! tiga makhluk. Ia membantin di sepanjang perbincangan itu.


"Perjanjian apa yang mereka berdua jalin dengan Raja Akaiakuma? Kenapa si bodoh ini, suka sekali berurusan sengan bangsa iblis? Sialan! Ini yang membuatmu, diincar oleh iblis-iblis yang berbahaya!"


Tsuha tidak tau apa yang ada dipikiran Arthur. Ia kesal dengan setiap perbuatan Arthur yang selalu membahayakan nyawanya.


Tak lama dari itu, Ha nashi pamit kapada Arthur dan Tsuha. Ha nashi mempercayai dua remaja itu. Ia yakin bila keduanya akan menjaga rahasianya.


Tsuha melihat Arthur yang cengegesan di depannya sambil membaca Novel Marsyal.


"Pangeran. Tidurlah. Ini sudah lewat waktumu untuk tidur" Tsuha melihat jam dinding yang berada di angka 03.20.


"Ini sudah waktunya jam bangunku. Jadi, biarkan aku untuk membaca buku ku Tsuha" Ucap Arthur sambil tertawa.


Sebenarnya, Arthur takut untuk tidur. Ia bertemu orang yang sama dimimpinya. Bukan Ruri yang ku maksud. Ini adalah sosok lain yang telah mengancam Arthur dialam bawah sadarnya.


......●MIMPI SAAT ARTHUR DEMAM●......


Langit yang dikelilingi awan membentang luas dihadapan Arthur yang duduk di sebuah ayunan dibawah pohon dengan batang yang besar dan berpola berupa lilitan.


Ia mengayunkan ayunan dengan pelan sambil melihat rumput hijau setinggi lutut orang dewasa tersapu angin.


Bibit bunga dadelion berhamburan terbang ke udara.


Arthur menikmati pemandangan itu.


Tampak dari kejauhan, sesuatu yang berkilau membuat mata Arthur tertarik dengan benda itu di tengah hamparan rumput itu.


Arthur mendatanginya.


Di tengah hamparan rumput itu, ada sebuah genangan air yang mengelilingi sebuah pedang berwarna biru yang tertancap ke tanah.


Melihat pola yang mirip dengan akar dan bunga teratai, itu adalah Hinoken.


"Hinoken? Kenapa ada di sini?"


Arthur melihat sekelilingnya untuk memastikan keberadaan orang lain.


Ia mulai menyentuh Hinoken untuk ia sembunyikan dan ia kembalikan ke Aosora. Namun, tangan Arthur menyentuh sesuatu yang halus.


Anak kecil berambut yang lebih pucat dari warna langit siang duduk sambil menundukkan kepalanya disana.


Genangan air itu hilang.


"Ah, maaf. Anu, apa kau baik-baik saja?" Arthur mulai menyadari ke anehan.


Anak kecil itu, berdiri dan memeluk Arthur.


Arthur merasa bingung.


"Ah, apa kau baik-baik saj-"


"Apa kau sudah bahagia?" Anak kecil itu berbicara.


Arthur langsung membelalakan matanya dan melihat anak kecil itu. Mata Arthur dan mata anak itu berkontak.


"Apa kau sudah bahagia?" Anak itu, melepaskan pelukannya.


Mata anak itu, berwarna biru kelam. Arthur seperti melihat foto masa kecilnya sendiri yang hidup.


"Ya, aku bahagia. Bagaimana denganmu?" Arthur menutup matanya dan meringis.


"Apa kau sudah benar-benar bahagia?" Suara anak kecil itu, langsung berubah menjadi suara pria dewasa.


Arthur kembali terkejut. Ia langsung membuka matanya.


Pria yang memiliki tinggi sekitar 180-an dengan dua telinga elf, satu tanduk yang melingkar dari belakang telinga kanannya hingga ke telinga kirinya, bulu mata yang lentik, matanya yang sama dengan mata anak kecil itu, dan memakai jubah merah sepajang lututnya sedang melihat Arthur sambil sedikit menelengkan kepalanya ke kanan.


"BRUK!"


Arthur sangat terkejut. Ia langsung terjatuh saat mendongakkan kepalanya.


"KAU! Kau kenapa meniruku!!?" Arthur mundur dengan mengunakan pantatnya dan menggunakan kakinya sebagai pendorong.


Pria itu menginjak dada Arthur dan membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya berjarak dekat dengan Arthur.


"Siapa yang peniru?" Tanya pria itu.


"Kau!" Tegas Arthur sambil berusaha mengangkat kaki pria itu. Namun, Arthur tidak bertenaga.


"Aku? Kau menuduhku sebagai penirumu? Lalu, bagaimana dengan mu yang masuk ke dalam alam bawah sadarku tanpa izin?"


DEGH!


Arthur tidak paham maksudnya. Ia berusaha mendorong kaki pria itu.


"Apa kau berusaha menguasai tubuh ini? Apa hidup selama 17 tahun saja untukmu tidaklah cukup? Apa kau merasa tidak bahagia dengan kehidupanmu? Apa kau ingin meminta bantuanku lagi? Apa yang ingin kau minta dariku?" Pria itu mengintimidasi Arthur dengan melemparkan pertanyaan secara bersamaan.


"Sialan! AKU TIDAK TAU MAKSUDMU! GREP! Wosh!!!"


Arthur langsung melilitkan kedua kakinya pada salah satu kaki pria itu yang berdiri dengan tegak kemudian membuat kaki pria itu terlipat kebelakang hingga Arthur berhasil membuat pria itu hampir terjatuh dan berteleport di sebelahnya.


"Eh? DAGH! BRUAKKK!!!!" Arthur melirik pria itu disebelahnya dan pria itu langsung melemparkan tendangan kaki kanannya pada gambang sisi kiri Arthur hingga Arthur terlempar kekanan.


Tubuh Arthur menghantam sesuatu dengan keras.


PRACKKK


Arthur berdiri sambil memegang rusuk kirinya yang sakit. "Tidak mungkin kalau ini mimpi". Arthur melihat ke arah belakangnya yang terdapat tabung besar dengan seri angka 2-27 dari kaca yang mulai retak. Air dari tabung itu merembes hingga ke kaki Arthur.


Tempat Arthur berdiri saat ini, berada di sebuah bangunan yang setengah hancur.


BRUAKKKK!!!


Pria itu memukul dinding bangunan yang retak dengan tangan kirinya hingga hancur.


Wujud pria itu, berubah menjadi wujud remaja dengan pakaian lusuh dan tanduk yang melintang hingga di atas alis kirinya.


Dia memiliki rupa seperti Arthur 100%


Helaan napas panjang terdengar di telinga Arthur dari pria yang berubah menjadi remaja itu.


"Siapa dia ini?" Batin Arthur yang tak bisa mengeluarkan pedang mana miliknya.


"KHIKHIKKHIK, APA KAU MENGUJI KESABARANKU AOSORA!? WOSH! SYUUT!!! PRAKKKK!!!!!"


Remaja itu terkekeh renyah. Ia seperti orang yang gila dan langsung berteleport ke arah Arthur kemudian ia melepaskan pukulan tangannya. Arthur menggunakan cara lama. Ia langsung berjongkok dan berguling. Kemudian tangan remaja itu, menghantam tabung berisi cairan di belakang Arthur hingga tabung itu pecah dan airnya menghantam remaja itu.


Arthur memilih melarikan diri dan bersembunyi.


Jantung Arthur degup kencang. Ia mulai berkeringat dingin.


WUSHHHHH......


Tempat persembunyian Arthur berganti.


Arthur merasakan hawa dingin di sekitarnya. Ia melihat tanah yang ia pijak berubah menjadi es.


"Sialan! Apa aku terkena genjutsu sama seperti di komik yang ku baca!? Perlukah aku mengatakan Kai atau melukai diriku sendiri agar aku terbangun?!"


Arthur mencoba melukai dirinya sendiri dengan bongkahan es di sebelahnya. Tangan Arthur terluka. Ia merasakan sakit. Namun, tangannya tidak mengeluarkan darah.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki terdengar di telinga Arthur.


KRAKKKK!!!


Lantai yang berlapis es mulai retak dibawah kaki Arthur. Remaja itu, kembali di wujud dewasanya. Ia mengulurkan tangannya pada Arthur.


GRETTT!!!!


Arthur tiba-tiba melesat ke arah pria itu dan ia tercekik.


"Jadi, siapa yang peniru disini?" Arthur melihat bayangannya di dari es belakang pria itu.


Arthur melihat remaja berambut berwarna biru tua tercekik.


"Lihatlah, saat kau tertidur nanti. Akan ku buat kau merasakan kesulitan untuk terbangun dan akan ku tunjukkan bagaimana cara meniru yang benar"