
Tak lama setelah Arthur dan Tsuha dikamar, Zack mendatangi mereka karena penasaran dengan Aosora Arthur dan ingin melihat anggota baru yang lain.
"Jadi, Kalian Anggota baru kami"
Zack muncul dalam keadaan rambut yang berantakan dan lengan kirinya yang berdarah setelah tercakar hewan sihir.
Arthur dan Tsuha sangat terkejut saat melihat itu.
"Dia, siapa ?" Tanya Arthur sambil melihat ke Tsuha.
"Dia senior Kita. Kalau tidak salah, namanya Mas Zack. Benarkan ?" Tanya Tsuha sambil berdiri dan melihat Zack yang menyandar di pintu kamar.
Zack mengangguk sambil menyembuhkan lengannya dengan sihir penyembuhan.
"Kemarilah Tsuha. Sekarang Kau tinggi sekali. Berapa tinggimu ?" Tanya Zack sambil melambaikan tangannya.
Tsuha mendatangi Zack.
"173 cm"
"173 ? Berapa usiamu sekarang ?"
"18 tahun"
"18 ?" Batin Arthur.
Zack menghela napas.
"Dulu Kau masih se sikuku. Makan apa dirimu kok bisa setinggi ini ?"
Zack yang hanya memiliki tinggi 170 heran.
"Makan bambu dipagi hari, makan tiang bendera disiang hari, makan bambu cucian disore hari dan menyemil sisa amplas kayu" Jawab Tsuha.
"Makan tiang bendera ? Kenapa di Shinrin banyak sekali makanan yang aneh ? Atau, itu hanya merek makanan ?" Arthur memanggapinya dengan serius.
"Dasar bodoh" ucap Archie.
Zack menepuk pungung Tsuha.
"Kenapa gak sekalian makan pilar istana biar kuat dan kokoh ?"
"Mas dulu aja yang coba. Kalau memang berhasil membuat hati Mas jadi kuat dan kokoh. Jangan lupa kabarin Aku" Balas Tsuha yang kembali menepuk punggung seniornya itu.
"Sialan Kau paham saja"
"Tentu saja. Karena hanya Kau saja yang masih waras disini" Jawab Tsuha.
"Mau coba melihat hewan sihir dibawah ?" Tanya lirih Zack.
"Boleh. Dan Aku ingin mengajak Dia juga untuk melihat hewan sihir yang Mas katakan" Jawab Tsuha sambil menunjuk Arthur yang berbicara sendiri dengan raut wajah yang kesal.
"Ajak saja" Zack melirik Arthur dan melihat tanduknya itu.
"Hei !"
Tsuha membalik badannya dan langsung memanggil Arthur tanpa menyebutkan namanya.
Arthur melihat Tsuha yang menyilangkan kedua tanganya didadanya.
"Mau ikut kebawah ? Melihat hewan sihir. Tapi, jangan terlalu dekat-dekat" Singkat Tsuha.
Hewan sihir adalah hewan yang berbahaya dan mereka memiliki pola pikir sendiri dan terkadang bertindak layaknya orang. Serta, Mereka bisa mengeluarkan sihir sendiri sebagai perlawanan saat melihat orang lain.
"Bukankah berbahaya bila hewan sihir itu tiba-tiba terlepas ?" Arthur mengkhawatirkan hal negatifnya.
"Santai saja Pangeran. Disekitar hewan sihir itu sudah dilengkapi sihir tingkat Dua. Jadi cukup aman untuk didekati. Jangan pikirkan lukaku tadi. Luka tadi karena Mereka
bercanda dan tidak sengaja mencakarnya" Jelas Zack.
Arthur mempercayai ucapan seniornya itu dan mengikuti mereka dari belakang.
Arthur tidak pernah berjalan disamping orang. Dia selalu, berjalan dibelakang mereka.
Ia mekakukannya bukan karena takut pada sesuatu. Tapi, itu sudah menjadi kebiasaan untuk Arthur yng lebih nyaman berjalan dibelakang mereka.
Karena, tak akan ada yang tau bahaya yang selalu mengintai mereka.
...****************...
Daeva, Iblis yang selalu mengawasi pergerakan Arthur, masih mengikuti Arthur kemana-mana.
Dia tau segalanya.
"Tep!"
Alder berdiri didahan pohon, samping Daeva.
Mereka saling melihat.
"Apa yang Kau lakukan ditanah Markas pemberantas Iblis, Daeva ?" Alder bertanya sambil mengawasinya.
"Aku memiliki tugas sendiri. Kau sendirir, Kenapa tidak membebaskan, Bangsamu yang terkurung disana?"
Alder paham maksud Daeva.
"Aku masih belum bisa melakukannya. Antingku, belum ketemu" Jawabnya.
"Benda Pusaka seperti Antingmu, Kenapa Kau berikan pada Orang lain. Jelas-jelas Kau pasti bisa kembali lagi. Walau, benda itu tak akan hancur. Tindakanmu sangatlah ceroboh"
"Kenapa diantara orang yang mengenalku, harus Kau yang memberi komentar ?" Tanya Alder.
"Mau bertarung ?" Tanya Daeva dengan nada pertanyaaan yang mengesalkan.
"Kepalaku sedang banyak pikiran. Jangan sesekali mengajakku bertarung di kondisi seperti ini"
"Hempf.." Daeva menertawakan Alder.
"Apa Kau tidak lelah menjalankan Dua peran sekaligus ?"
Alder melirik ke Daeva yang tersenyum kesal.
"Kau sendiri, Apa tak lelah melakukan semua hal yang tak Kau sukai dan seolah-olah Kau menyukai semua ini?" Tanya balik Alder dengan ekspresi puas.
"Lupakan. Cepatlah menyingkir. Kau dan Aku adalah musuh. Teruslah bertindak seperti Kau tak mengenalku" Daeva mengusir Alder.
"Lingga Federick, sudah bangkit 17 tahun yang lalu. Apa Kau tak ingin mencarinya ?"
Mendengar nama itu, Daeva langsung melihat Alder dan mata mereka.
"Apa peduliku ? Pergilah jangan menganggu tugasku"
Daeva terus saja berusaha untuk mengusir Alder.
"Jujur saja. Aku ingin Kau menyelesaikan masalahmu dengan Dia. Kau dan Aku masih memiliki tugas yang sama sebagai seorang titisan. Dan Tugas itu, adalah menemukan Ruri dan membunuhnya"
Daeva menyeringai.
"Apa semua yang terjadi antara Aku dengan Lingga. Kau tidak merasa terlibat sedikitpun, Wahai Titisan Elf, Alder Ren ?" Daeva mengangkat tangan kanannya setinggi sikut.
Alder melihat Daeva dengan ekspresi santai.
"Memang, Aku melakukan Apa ? Apa Kau lebih mendengarkan ucapan Ruri dari pada sosok Titisan yang sama sepertimu ?" Balas Alder.
Daeva kembali melihat ke arah Kamar Arthur dan Ia sudah tak melihat Arthur disana.
"Kau dan Dia sama saja. Aku tidak bisa mempercayai Kalian semua termasuk Titisan dan Alfarellza" Jawab Daeva.
Alder diam sesaat.
"Aku tidak memberitahu dimana Kau berasal dan darimana Ranu berasal. Ruri itu, tau apa yang tidak Kita tau. Aosora Arthur pernah berkata kalau Ia bertemu dengan sosok bersayap dipertandingan saat di introgasi"
Daeva langsung tertarik pada obrolan ini.
"Ruri sudah menemukan Aosora Arthur. Kau pasti taukan Apa yang akan terjadi padanya ?" Tanya Alder.
"Tentu saja Aku sudah tau. Mencari Ruri, sama saja seperti mencari sebuah jarum ditumpukan jerami. Aku tidak mau berkorban hanya untuk melindungi, sosok yang harus ku bunuh" Jawab Daeva.
"Aosora Arthur itu, seperri bencana. Aku sudah berusaha untuk membunuhnya. Tapi, Dia tetap saja bisa hidup karena ulah mu dan Alfarellza yang ikut campur"
"Tapi, Karena adanya bantuan dari Alfarellza, Aku bisa sedikit berleyeh-leyeh dan tak perlu menjaganya 24 jam dari mu" Jawab Alder.
Daeva semakin kesal mendengar kegagalannya itu.
"Pergilah dari sini. Kehadiranmu membuat hari-hariku semakin kacau"
Daeva untuk kesekian kalinya, Ia kembali mengusir Alder.
Alder sedikit terkekeh.
"Bersabarlah. Aosora Arthur itu, seperti sebuah jembatan untuk Kita para Titisan. Katakan, Apa alasanmu untuk membunuhnya ?"
Alder tertarik dengan alasan Daeva. Padahal, jelas-jelas mereka berdua tau apa yang akan terjadi kedepannya.
"Aosora Arthur itu bagaikan sebuah Bom. Kau pasti tau kalau Aosora Arthur itu, adalah sosok yang bisa berdiri diantara Kita berenam. Dia bisa membantu Kita untuk membunuh Ruri. Tapi, disisi lain. Aosora Arthur, adalah sosok titisan yang akan sangat berpengaruh dimasa depan dan bila Dia bersama Ruri. Ruri, akan memberikan sesuatu yang harusnya Kau berikan pada Aosora Arthur. Dan itu, bisa menjadi kehancuran untuk Negri Arden dan negri yang lainnya"
"Saat Kau mengetahui itu, Katakan Padaku! Apa Alasanmu untuk mempertahankan SEORANG TITISAN YANG BERSIFAT MENGHANCURKAN SEPERTI DIA ?!" Daeva sangat marah dan langsung menarik kera jubah Alder.
"Aku bisa memberikan sesuatu yang Ia butuhkan. Dan Aosora Arthur, harus berada di pihak para Titisan agar Kita bisa menuntaskan semua ini. Dia batu loncatan untuk Kita. Daeva. Apa Kau ingin selalu seperti ini ? Aku sudah melihat masa depan yang akan terjadi. Kau dan Aosora Arthur akan berjalan bersama. Dia menolak Kami. Dia memiliki pandangan yang berbeda dari kami. Bila masa itu memang benar-benar terjadi, Bersumpahlah, kalau Kau akan menghindarkan Arthur dari Ruri"
Daeva hanya mendengus pada Alder.