The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
MENYELIDIKI < KABUR



"Aosora Arthur, Apa matamu akan terus tertutup? Apa Kau tak akan melihat orang-orang disekitarmu? Berapa lama Aku harus menunggumu lagi? Lima ribu tahun telah kulewati hanya untuk kelahiranmu. Aku sudah banyak menyingkirkan dan mengumpulkan orang-orang yang akan berpengaruh padamu. Apakah Kau akan sadar atas keberadaanku ini?"


"Aku akan terus menunggumu. Jika waktuku telah tiba, jika Kau sudah berada diwilayahku. Aku bersumpah tak akan melepaskanmu. Bahkan, Aku rela menghancurkan Negri ini untukmu"


...****************...


Tsuha menarik jubah biru Arthur saat akan memasuki hutan Sihir.


"Bruk!"


Sontak, pungung Arthur langsung menabrak tubuh bagian depan Tsuha.


"Aduh! Apa-apaan Kau Tsuha?" Arthur membetulkan kera jubahnya yang sempat mencekik lehernya.


Tsuha melepaskan tangannya dari tudung jubah Arthur.


"Kalian, jangan asal masuk. Rencanakan dulu apa yang harus dilakukan apa bila ada yang terjadi. Kau tidak mungkinkan membawa Kami pergi dengan sihirmu secara bersamaan?" Tanya Tsuha.


Tsuha trauma untuk memasuki hutan sihir.


"Tep!"


Nao mengalungkan tangan kanannya dibahu Tsuha.


"Apa yang Kau khawatirkan? Tsuki akan menertawakanmu saat tau kalau Kau tak bisa mengalahkan traumamu itu" Nao meringis pada Tsuha.


"Trauma?"


"Cih!" Tsuha membuang muka.


"Kalau Kau diposisiku, Apa Kau akan dengan mudah melupakan peristiwa yang menewaskan hampir 4500 jiwa itu?" Tanya Tsuha sambil melepaskan tangan Nao yang mengalung pada bahu Tsuha.


Nao kembali mengosok rambut bagian belakang Tsuha.


"Tenanglah. Ada Aku disini dan ada Arthur juga yang akan melindungi Kita. Lalu, apa yang akan Kau khawatirkan? Lagian, Kalau Kau mati. Aku dan Arthur pasti akan mati terlebih dulu"


"HEM'!!" Arthur dan Tsuha tersentak setelah mendengar ucapan Nao.


"GREP!" Tsuha langsung menarik kera jubah Nao yang berwarna biru.


"SIALAN!!! KALAU KAU BERKATA SEPERTI ITU! LEBIH BAIK LEPAS SAJA MISI INI!!!!!"


Tsuha menarik dan mendorong tubuh Nao.


Nao hanya tertawa dan Arthur mengigit Ibu jarinya.


"Tsuha.... cepat nyalakan suarnya...." Ucap Arthur dengan nada gemetar.


"Dasar bodoh!" Tegas Tsuha.


"Hah...." Archie menghela napas panjang.


...****************...


Mereka mulai memasuki hutan setelah perdebatan yang cukup panjang.


Mereka bertiga berjalan dengan mengunakan formasi, Nao didepan dan Arthur di belakang.


Diantara mereka, hanya Tsuha yang tegang.


Ia benar-benar tak bisa sesantai Arthur dan Nao.


"Hei Arthur. Kalau benar-benar ada Cerberus dihutan ini,... Kira-kira, Apa yang harus Kita lakukankan?" Tanya Nao tanpa melihat kebelakang.


Arthur menintip kedepan.


"Tentu saja kabur dengan diam-diam. Tak mungkin, Aku bisa mengalahkan makhluk mitologi itu" Jawabnya sambil melihat sekitar.


"Eh! Jangan kabur diam-diamlah! Kasih tau kalau mau kabur!" Tegas Nao sambil membalik badannya dan langsung menghadap Ke Tsuha.


Arthur memegang kedua bahu Tsuha.


"Jump! Tentu! Jump! Saja!" Tegas Arthur sambil melompat lompat dan itu membuat beban dipungung Tsuha semakin bertambah.


"Cih! Tep!"


Urat kesabaran Tsuha benar-benar terputus akibat ulah Arthur.


Akibatnya, Tsuha memegang kedua tangan Arthur di bahunya itu dan, "SYUUUT! BRUAAAK!!!!" Ia berjongkok bersamaan dengan menarik kedua tangan Arthur hingga, Arthur terangkat keatas. Lalu, Ia lempar Arthur hingga menghantam batang pohon yang tumbang didekat sebuah batu yang besar.


"Ugh!" Nao langsung memutar posisinya dan berjalan duluan.


"Aduh....."


Arthur terbanting dengan posisi terbalik. (Kepala Arthur dibawah dan kakinya naik di batang pohon kayu itu hingga menyentuh Batu dibelakang kayu tumbang itu).


"Menjengkelkan. Seriuslah sedikit!" Tegas Tsuha yang meninggalkan Arthur.


"Eh! Teman-teman!!! Tunggu!!!"


"TEP!!" Tumit Arthur menendang batu itu untuk berdiri.


Batu itu tidak keras.


"TEP!"


Ia kembali menendang batu itu untuk memastikan.


"Apa? Kenapa batunya tidak keras?"


Arthur mengangkat kepala untuk melihat batu itu.


Betapa terkejutnya Ia saat melihat mata hijau sebesar telapak tangannya berada ditengah tengah kakinya.


"HUAAAAHHHHH!!!!!!! WOOSH!!" Arthur berteriak dengan kencang dan reflek Ia langsung berteleport di tempat Tsuha.


Jantung Arthur bermaraton dan bukan hanya Dia saja.


"HUAAAHH!!! AARRRGGHH!!!" Nao, Tsuha ikutan berteriak saat Arthur tiba-tiba berteriak dan muncul dihadapannya.


Nao memeluk Tsuha akibat Arthur.


"CIH!" Tsuha mendorong Nao.


"SIALAN! Kenapa tiba-tiba muncul?!" Nao geregetan dengan Arthur.


Tangan dan kaki Arthur bergetar.


"SIALAN! LIHAT SENDIRI DIBELAKANG KALIAN!!!!" Tegas Arthur sambil mundur beberapa langkah dan menunjuk kebelakang.


Mereka berdua menoleh kebelakang.


Yang awalnya Tsuha beraut kesal kini, memiliki Raut yang sama dengan Nao.


"Arthur... lakukan sesuat.... Drap!"


Nao menoleh kebelakang dan Ia melihat Arthur yang telah kabur duluan.


"Eh!" Tsuha ikutan lari menyusul Arthur.


"TEMAN-TEMAN BAJ*NGAN!!!!! BANGS*ATTTTTTTT!!! DRAP!!!!! DRAP!!!!" Nao berteriak dengan kencang kemudian berlari lebih kencang dari mereka berdua karena Cerberus itu mulai berdiri dan mengejar mereka.


"WOI! NAO!!!!!" Nao melewati Tsuha dan Arthur.


"GROOOOAAAAAA!!!!!!" Cerberus itu mengejar mereka layaknya, seekor anjing.


"TSUHA! SUARNYA!!" Teriak Nao didepan mereka.


Tsuha berlari sambil membuka tas itu.


"JANGAN!!! JANGAN DULU! YANG MENGEJAR KITA BUKAN CERBERUS KEPALA LIMA! TAPI KEPALA TIGA! INI TIDAK SESUAI DENGAN MISI KITA!!!" Tegas Arthur.


"Arthur, Kalau Kau mati, Aku akan dengan Ikhlas menerima tubuhmu" Ucap Archie setelah mendengar ucapan Arthur yang terlalu mentaati misi.


"SIALAN!!!! APA BEDANYA!!!" Tegas Tsuha dan Nao bersamaan.


Mereka bertiga terus berlari hingga sampai di danau dengan air yang sangat jernih hingga bisa melihat ikan yang berenang didalamnya.


Tanpa banyak bicara. Mereka masuk kedalam danau itu bersamaan untuk kabur dari cerberus itu.


Danau itu adalah danau yang menghubungkan air sungai dari seluruh wilayah Negri Arden.


Mereka bertiga berenang bersamaan menuju cabang danau itu yang akan membawa mereka ke Shinrin.


"Plung!" Cerberus kepala Tiga itu, masuk kedalam air danau tersebut dan mengubah dirinya menjadi seekor kucing kecil dengan bulu hitam.


Cerberus kucing kecil itu, masuk kedalam air dan masuk kedalam tudung jubah Arthur tanpa diketahui oleh mereka.


"PUAH!" Setelah cukup lama didalam air dan merasa aman. Mereka langsung menarik napas dan segera keluar dari Air yang dingin itu.


"BHUAHHHH..." Mereka bernapas dengan lega.


"NGEONG!" Mereka bertiga mendengar suara anak kucing dan bersamaan Tsuha Nao melihat kearah Arthur.


"Aku mendengarnya juga. Tapi, itu bukan suaraku" Ujar Arthur.


"Tep! Ngeong..." Cerberus yang berubah menjadi seekor anak kucing biasa berwarna hitam naik di bahu Arthur.


Mereka bertiga melihat kucing itu.


Kucing itu, memiliki tanda segitiga di samping kedua matanya.


Itu menandakan, kalau kucing itu adalah,...


"SIAL! ITU HEWAN SIHIR!" Tegas Nao dan Tsuha bersamaan sambil menunjuknya.


"SLURP!" Kucing itu, menjilat pipi Arthur.


Arthur langsung mengangkat kucing itu dengan cara menarik tengkuknya.


Kucing kecil itu terlihat seperti usia kucing tiga bulanan.


"Kayaknya, ini bukan hewan sihir yang berbahaya. Lihatlah, anak kucing memang bisa apa?" Tanya Arthur yang luluh pada anak kucing.


Arthur mengubah cara gendongnya pada kucing itu yang basah kuyup.


"Dasar gila! Apapun yang namanya hewan sihir itu, pasti berbahaya! cepat lepaskan Dia dan Ayo segera kembali ke Kapten Marsyal!" Tegas Tsuha.


Mereka tak bisa menggunakan suar, karena suarnya basah akibat terjun ke danau.


Arthur mengendongnya dan menunjukkannya pada Nao.


"Nao! Bukankah Kucing ini kalau dilatih bisa menjadi senjata yang bagus untuk melawan Iblis sepertu Archie?" Tanyanya.


"Ha? Apa maksudmu?" Tanya Archie.


Nao melihat anting berbentuk bunga teratai berwarna hijau di telinga kucing itu.


Nao menyeringai.


"Sepertinya, Itu... ide yang bagus. Kalau Kau tak mau merawatnya, Aku bersedia merawat kucing kecil in.. PLAK!" Tsuha memukul wajah Nao dengan daun jati setengah basah didekatnya.


"Hilangkan kebiasaanmu menyeringai itu" Ucap Tsuha.


Nao memegang wajahnya yang kotor.


"Harusnya Kau juga! Hilangkan kebiasaanmu untuk memaksaku menghilangkan kebiasaanku!" Ucap Nao sambil mengosok wajahnya.