
Hari demi hari berlalu.
Arthur, mulai bisa menguasai dasar-dasar ilmu pedang dan dasar-dasar sihir lebih cepat dari Tsuha, serta Bryan.
Ia hanya menempuh dua minggu dalam mempelajarinya.
"Ngak masuk akal" Ucap Naver saat mengetahui anaknya mampu menguasai dasar sihir, termasuk mengontrol jumlah mana yang Ia keluarkan.
Naver ingin melihat ketangkasan Arthur secara langsung dan menyuruh Bram yang baru pulang dari asrama ASM (Akademi Sihir Meganstria) untuk berlatih pedang dengan Arthur.
"DRAP! DRAP! DRAP! TANGGGGG!!!!!"
Arthur berlari zigzag kemudian, Ia melompat dan menghentakkan pedangnya pada Bram.
Bram kuat dengan kuda-kudanya. Ia menahan hentakan pedang Arthur yang membuat kuda-kudanya bergeser dan menepisnya.
Bram berdiri dengan tegak dan sedikit terkejut dengan perkembangan Arthur yang mulai lihai dalam menggunakan pedang kayu serta mengaliri pedang kayu itu dengan mananya untuk memperkuat daya serangannya.
"Hah.... Kak Ram hebat sekali! Bagaimana bisa Aku menang dari Kak Ram yang terkenal sebagai Ahli Pedang termuda?" Arthur berguling-guling dirumput hingga mengenai Tsuha yang sedang makan apel sendirian.
Tsuha mengeser tempat duduknya dan Arthur terus berguling kearahnya (menjahilinya).
Naver, sangat bangga pada Arthur. Sedangkan Bram, melihat pedang kayunya yang langsung retak setelah serangan terakhir Arthur itu.
Ia (Bram) memperhatikan pedang kayunya. "Bagaimana bisa? Dia, masih berusia enam tahun. Dan Aku yang berusia sepuluh tahun, belum pernah membuat pedang kayu milik ayah retak"
"KAK! Sekarang! gantian sama Tsuha! Aku ingin belajar teknik Kak Ram!!" Arthur membangunkan Bram dari lamunannya dan Ia (Arthur) menarik baju bagian belakang Tsuha hingga melar.
Tsuha hanya diam saja saat tubuhnya diseret oleh Arthur.
"Ahahaha.... Ayo Tsuha, Kita akan bermain pelan-pelan" Ucap Bram sambil memasang kuda-kudanya dan memperkuat pegangan pedangnya.
...****************...
Setelah makan malam, Bram menemui Naver diruangan pribadi ayahnya itu.
"Hmmph!" Bram masuk kedalam ruang pribadi itu tanpa mengetuk pintu. Dan Ia, melihat orang tuanya sedang bermesraan disana.
"Ehk?...maaf" Bram mundur dan menutup pintunya lagi.
Naver langsung berdiri setelah melihat anak tertuanya masuk.
"Masuklah Nak" Panggil Naver.
Jantung Bram berdegup dengan kencang. Ia tak pernah melihat seseorang berciuman dihadapannya selain pada komik yang Ia baca.
Ia kembali membuka pintu setelah ayahnya mengizinkannya.
Emilly tersenyum pada Bram.
"Aku gak mau punya adik lagi selain Arthur" Lirih Bram.
"Eh?!" Kedua orang tuanya langsung terkejut dan mereka berdua saling membuang muka.
"E...enggak! Aa... Apa yang Ka..kau pikirkan?!!!" Wajah Naver benar-benar memerah mendengar ucapan anaknya yang masih berusia 10 tahun itu dan Ia benar-benar salah tingkah didepan Bram.
"Ya! Lagian! Kamu diajari siapa bilang kayak gitu?!" Naver berusaha menyalahkan anaknya sambil mengangguk dan menunjuk Bram.
Bram membuang wajahnya sambil melipat kedua tangannya didadanya.
"Kata Angel, orang perempuan akan punya anak setelah dicium oleh laki-laki. Aku gak mau punya adik lagi" Cetus Bram.
Naver dan Emilly saling melihat.
"PFFFT! BAUAHAHAHHAHAHA!" Mereka berdua tertawa bersamaan.
"Pat! Pat!" Naver, menepuk-nepuk kepala Bram.
"Anakku satu ini benar-benar polos sekali. Anak ayah cukup Kamu dan Arthur saja. Ayah hanya rindu Ibumu saja" Ujar Naver.
Bram memanyunkan bibirnya.
"Rindu? Ayahkan selalu bertemu Ibu setiap hari? Kenapa Kalian harus rindu? Apa Kalian tak merindukanku yang baru pulang dari Asrama?" Bram menundukkan pandangannya.
Emilly dan Naver melihat bersamaan.
Emilly langsung mendekat pada Bram.
"Grep!" Naver dan Emilly memeluk Bram bersamaan.
"Hahaha, Siapa yang tidak merindukan ahli pedang kecil ayah ini! Kau juga sudah membuat ayah bangga. Kepintaran ayah, memang menurun padamu" Naver tertawa sambil mengosok rambut biru langit Bram.
"Ya, untung saja nilai praktek sihir milik ayahmu yang turun padamu. Jangan sampai nilai teori ayahmu yang merah-merah juga menurun padamu" Sindir Emilly.
"Teori itu hanya membuat ku mengantuk. Salahkan gurunya, jangan salahkan Aku" Lirih Naver.
Bram tersenyum tipis ditengah-tengah mereka.
Naver dan Emilly yang mendengarnya, langsung melihat Bram bersamaan.
"Minta apa? Ah,... Apa Kamu minta untuk mengundang Angel kesini?"
Mendengar ucapan Ibunya itu, Bram langsung melepaskan diri dari pelukan mereka.
"Bukan itu!" Tegasnya.
"Hemmm?" Naver menunjukkan senyum jahilnya.
"Apa Kamu minta Angel?" Goda Naver.
"ENGGAK! AKU HANYA INGIN ARTHUR MASUK KE AKADEMI YANG SAMA DENGANKU!" Tegas Bram sangking kesalnya Dia pada kejahilan Naver.
Senyum jahil Naver langsung menghilang dan Naver berdiri dengan tegak sambil melihat Emilly.
Suasana diruangan itu, langsung berubah seketika.
"Ada apa ini?" Bram merasa ada yang aneh.
Emilly menunjukan senyumannya.
"Tidak bisa, Arthur itu lemah dalam sihir. Dia bisa langsung pingsan setelah mengeluarkan sihir. Dia tidak sama sepertimu...." Jawab Emilly sambil mengusap rambut Bram.
Bram tau tentang penyakit Arthur bayi.
"Ya! Walau begitu, Arthur akan tetap sekolah Privat dan mendapatkan pelajaran yang sama seperti mu" Lanjut Naver.
"Itu benar" Sela Emilly.
Bram saat itu, tidak menyimpan lama-lama rasa curiganya.
Ia memiliki pendirian yang sama seperti Arthur. Orang tua tidak akan pernah membohongi anaknya.
Setelah seminggu kedatangan Bram di Aosora, Ia harus kembali ke Meganstria untuk melanjutkan bersekolah lagi.
Bram, akan kembali dua minggu setiap semesternya.
Arthur melambaikan tangan pada kedua orang tuanya yang mengantar Bram ke pelabuhan kejuruan Meganstria.
Arthur menampakkan senyuman lebarnya saat itu, Tsuha hanya melihat i Arthur yang berada didepannya.
Tangan Arthur turun dan senyumannya menghilang setelah Kereta kuda orang tuanya keluar dari gerbang Istana Aosora.
"Ayo, latihan lagi" Arthur meninggalkan Tsuha begitu saja.
Tsuha menaikkan salah satu alisnya. "Apa, Dia baik-baik saja?" Kemudian, Ia mengikuti Arthur dari belakang.
Didalam ruang pelatihan, telah ada Bryan yang menunggu mereka berdua.
"Kau lama sekali Art-"
"Apa urusanmu, Sialan."
Bryan belum usai bertanya, tiba-tiba Arthur menyela ucapannya dan memakinya, sambil memberi ekspresi yang tidak menyenangkan.
"SRUK! MAAF!"
Bryan langsung membungkukkan tubuhnya 45° di belakang Arthur.
Tsuha agak terkejut dengan perubahan Arthur yang tiba-tiba seperti itu. Ia berhenti tepat disamping Bryan.
"Kenapa Pangeran begitu?" Bryan bertanya pada Tsuha tentang perubahan sikap Arthur yang tiba-tiba itu.
Tsuha melihat Bryan yang tingginya sama dengan Dia disini, Tsuha dan Bryan, usianya sepantaran (7 tahunan)
"Entah" Tsuha menghindari menjawab pertanyaan yang tak perlu dan Ia mengangkat kedua bahunya.
Nox datang dari arah belakang Tsuha. Dan mereka berdua, tak sadar akan kehadiran Nox.
"Haha, kayaknya.... Aku harus jaga jarak dulu dengan Pangeran Arthur. Bisa gawat kalau Dia marah padaku" Lirih Bryan.
Tsuha melirik Bryan yang kini berada di sisi kirinya.
"Memangnya, Pangeran Arthur apa pernah marah padamu?" Tanya Tsuha.
Bryan menghela napas sambil menunjukkan mimik yang berkata, "Bagaimana cara menjelaskannya"
"Ya, intinya... Pangeran Arthur itu, sangat membenciku. Padahal, Aku tak tau dimana letak kesalahanku. Dan juga,.... Hah.... (Menghela) Aku, tak akan pernah bisa membencinya" Ujar Bryan.
"Kenapa?" Tsuha adalah type anak yang ingin tau.
"Orang tuanya, banyak berjasa untuk orang tuaku. Suatu hari nanti, Aku ingin Pangeran Arthur menjadi sosok yang ramah padaku seperti perlakuan Dia pada yang lain"
Tsuha merasa aneh dengan jawaban Bryan. Sebab menurutnya, Arthur selama ini adalah sosok yang bisa dikatakan cukup ramah untuk ukuran Pangeran kecil.