The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Enam Tahun yang Lalu [IBLIS ADALAH MUSUH]



"Ayahku, ibuku, kakakku, adikku, teman-temanku, dan guruku harus mengorbankan diri mereka demi menjaga bangsa Adelio Alba. Aku bersumpah UNTUK MEMBUNUH SELURUH KETURUNANMU! DE LUCE!!"


Kanza berteriak dan melesat kearah Arnold.


"Adelino dan Adelio itu siapa?"


TRANGGGGG!!!!!


...****************...


Ditempat Arthur berada


Pemandangan berbeda terlihat dimata Arthur. Darah dan mayat baik warga sipil maupun prajurit berserakan dimana-mana.


Tep!


Ciel, menutup kedua mata Arthur dengan telapak tangan kanannya. "Belum saatnya untuk Anda melihat hal ini" Seringaian terpampang jelas di wajah Ciel.


Tangan Arthur yang mungil dan pucat memegang pelan telapak tangan Ciel yang lebar, serta berjari lentik.


"Guru, aku ingin membantu ayah. Dan suatu saat nanti, akan ada banyak hal seperti ini yang terjadi padaku untuk melindungi Aosora dan keluargaku. Guru, aku ingin menjadi orang yang hebat untuk bisa melindungi semuanya. Apa aku bisa?"


Arthur menarik telapak tangan Ciel dan mata Arthur yang berwarna biru kelam seperti laut dalam mengintip kearah mata Ciel.


DEGH!


Sontak, Ciel menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya dan membelalakan kedua matanya. "Tentu! Tentu!! Anda akan menjadi orang hebat bila berada dibawah bimbingan saya!" Ucap Ciel sambil meremas wajahnya sendiri sangking gemasnya.


...****************...


TUAKKKKKK!!!!!


Pedang besi yang Arnold pegang, terpental saat menghantam zirah hijau yang membungkus tubuh Kanza.


TRANGGGG!!!!!


Belum sempat bernapas, Kanza yang dipenuhi oleh api amarah tak buang waktu untuk melesatkan pedang mananya kearah Arnold.


JUMP! TEP!!


Arnold melompat untuk menjaga jarak dengan Kanza. Kanza sedikitpun, tidak terlihat kelelahan.


"Dia, bukan lawan yang harusnya ku lawan. Aku tak mungkin bisa menandingi Elf itu"


Arnold sudah menyadari posisinya yang akan kalah di tangan Kanza. Namun, hati kecil Arnold membantah. Ia yakin bila ia pasti menang. 'Bangsa Iblis adalah bangsa terkuat'. Kata-kata itu menjadi tonggak teguh diri Arnold.


"Demi Guru dan Akaiakuma, aku tidak akan mundur sampai disini. Kemenanganku, sudah ada di depan mata"


Arnold menyiapkan kuda-kuda ancang menyerangnya. Kaki kanannya agak di majukan dan tangan kanannya yang tersisa, menarik pegangan pedang sejauh bahu kirinya yang masih meneteskan darah. Pandangan mata Arnold, menatap Kanza dengan tatapan tajam.


CTASH!!


Kanza menghilang dari pandangan Arnold. Yang tersisa hanyalah asap. Arnold langsung membelalakan matanya. "Sial! Kemana hilangnya Elf itu!" Mata Arnold mulai berkeliling waspada dengan hilangnya Kanza yang tiba-tiba.


Kanza adalah seorang elf yang menggunakan salah satu ciri khas bangsanya untuk bisa berbaur dengan manusia. Kanza berbeda dengan Ruri.


Kanza menggunakan sihir ciri khasnya yang merupakan sihir penipuan para Elf yang digunakan untuk melindungi diri mereka dari bangsa lain. Sihir itu adalah sihir yang tidak diketahui oleh bangsa lain. Hanya orang-orang tertentu dengan indra perasa yang tajam-lah yang mampu membedakan mereka manusia atau Elf peniru.


PATSSSSS!!!!!! BRUAKKKKK!!!!


Dari belakang Arnold berada, tiba-tiba muncul-lah akar yang men-nyabetnya dan sabetan itu membuat Arnold terhempas kedepan.


Kanza tiba-tiba muncul di hadapan Arnold. Pedang mana berwarna hijau zamrud, menyambut Arnold dengan ramah. Sontak "JLEB!" Keramahan pedang itu, langsung menyapa jantung tubuh yang di gunakan Arnold.


BKHAKK!!!


Darah muncrat dari mulut Arnold dan cipratan darah itu mengenai sebagian wajah kiri Kanza. Arnold tak merasakan rasa sakit sedikitpun. Ia tersadar kalau dirinya harusnya sudah mati.


Mata hijau zamrud dengan dua setiga dibawah garis mata Kanza menunjukkan bila Kanza adalah salah satu Elf pengguna sihir terlarang.


"Kau lebih bodoh dan lebih lemah dari Adelino. Apa kau ini benar-benar keturunan keluarga De luce? TRASH!" Kanza, menarik pedang mananya dengan kasar.


Langit yang mendung dan berwarna kemerahan terlihat dimata Arnold saat tubuhnya hampir terjatuh menyentuh tanah hutan yang lembab.


Secercah pertanyaan muncul dibenak Arnold.


"Sebenarnya, mengapa mereka membenci Akaiakuma?"


BRUK!


Tubuh yang digunakan oleh Arnold jatuh menghantam tanah dengan keras. Matanya mulai menyipit dan mengkabur saat melihat wajah Kanza yang memandangnya dengan rendah.


Kanza mengangkat pedang mananya setinggi kepalanya. "Kau sampai kapanpun, tak akan pernah bisa mewujudkan impianmu. JLEB! CRAT!"


...****************...


TRASH! JLEB!


Nel terus menebas serigala sihir yang muncul dan tak ada habisnya di pinggiran bibir hutan. Tak sedikit serigala sihir yang berhasil meloloskan diri dan menyerang warga desa. Tak sedikit pula bagian tubuh warga desa yang hilang akibat dimakan oleh serigala hutan tersebut.


"BRUAK! GROOOOOAAAAA!"


Daniel terhempas saat melawan salah satu serigala sihir dengan tubuh yang lebih besar dari mereka. Serigala sihir itu, menginjakkan kaki kanan depannya ke perut Daniel dan membuka mulutnya yang bergigi taring panjang untuk mengigitnya.


Daniel menahan mulut besar serigala sihir itu dengan pedang besi yang ia bawa sebagai jaga-jaga.


Nel melihat Daniel yang berada diujung tanduk itu.


"DANIEL! JANGAN MATI DULU! KAU BELUM BERCINTA DENGAN GADIS!"


Nel dengan berteriak seperti orang bodoh. Mulut Daniel langsung ternganga saat mendengar teriakan kaptennya itu.


"KAPTEN BANGSAT! FOKUSLAH DENGAN YANG ADA DI DEPANMU SIALAN!!!! DUAGH!" Daniel langsung mengarahkan kedua kakinya di perut serigala sihir itu dan menendangnya dengan bersamaan dan dengan keras hingga serigala sihir tersebut terpental keatas Daniel.


Nel melirik Daniel dan meringis kecil padanya.


Daniel berdiri dan mengambil kacamatanya yang jatuh. "Kapten bangsat! Gak tau malu! Gak ngaca! SIALANNNN!!!!! Drap!!! Trash!" Semangat Daniel kembali membara karena sorakan memalukan dari Nel.


Dahulu, Daniel bukanlah orang yang kaku. Bagi Daniel, Nel bukan hanya seorang Kapten. Namun Nel adalah keluarganya. Lebih tepatnya, Daniel sudah menganggap Nel sebagai saudara.


...****************...


Di tempat Naver berada


"Nox apa kau mengetahui penyebab serigala sihir ini menyerang?"


Kini, Naver dan Nox saling menjaga punggung. Mereka telah dikepung oleh sekawanan serigala sihir. Keduanya, sama-sama mengeluarkan pedang mana mereka.


"Aku tak tau. Kalaupun tau, aku pun akan langsung menuju ke sumber penyebabnya" Jawab Nox sambil berancang menebaskan pedang mananya.


Naver melirik kearah Nox dan kembali melihati serigala satu persatu di depannya.


"Aku membawa Arthur kemari"


"APA!?"


Nox terkejut saat mendengar hal tersebut. Menurut Nox, Naver bukan tipe orang yang ceroboh walau pun Naver suka bercanda.


"Membawa Arthur kemari sama saja dengan menyuruhnya untuk bunuh diri! Apa kau lupa! Bila Arthur itu!-"


Nox sangat marah dengan keputusan Naver yang ceroboh.


"Aku sudah tau. Aku kasihan padanya. Biarlah dia merasakan pedihnya melihat kematian disekitarnya karena bangsa Iblis. Aku tidak ingin membuat Arthur membenci bangsa Iblis. Setidaknya, aku ingin tau bagaimana pandangan Arthur terhadap Iblis setelah insiden ini. Dagh!"


Naver menjelaskan dengan panjang pada Nox sambil menedang serigala sihir yang melompat kearahnya.


Jleb! CRAT!!!


Nox melesatkan pedang mananya dan menusuk serigala sihir yang berlari kearahnya. Ia berdiri dengan tegap dan melirik Naver.


"Baginda, kau adalah ayah dan teman yang aneh. Aku sama sekali tak paham dengan cara pikirmu. Sudah jelas bila bangsa iblis adalah musuh kita. Untuk apa dipertanyakan lagi mengenai pandangan orang lain terhadap Bangsa Iblis!? DRAP!"


Nox mulai berlari dan menghadapi serigala sihir di depannya.


Naver menurunkan pedang mananya.


"Arthur itu berbeda. Dia tidak sama dengan kau, aku, maupun orang-orang lainnya. Nox, bila aku mati apa kau masih akan mendengarkan ucapanku?"


DEGH!


Nox berhenti ditempat saat mendengar hal tersebut. "A-apa yang kau bicarakan Naver?" Ia melihat kearah Naver dengan perlahan.


Naver menunjukkan senyuman kecilnya.


"Jagalah Arthur hingga usianya 17 tahun. Pangeran kecil-ku yang ingin tau itu, tidak bisa berusia lebih dari itu. Setidaknya, berilah dia kebahagiaan. Aku berbicara seperti ini karena Keluarga Aosora, memiliki kutukan yang membuatnya tak bisa hidup lebih dari usia 40 tahun. Usiaku sekarang menginjak 36 tahun, berarti tidak lebih dari 4 tahun lagi" Ucap Naver.


Naver melihat wajah Nox yang selalu menarungkan kedua alisnya tiba-tiba berubah.


"Eh! Hahaha, apa kau tiba tiba sedih Nox? Kau tipe orang yang gak tegaan ternyata yah! Kalau aku mati nanti, kau harus datang di acara pemakamanku. Bila tak datang, siap-siaplah aku akan meremas biji *****-Mu~ Hahahaha"


Naver sedikitpun, tidak menatap tatapan Nox. Sesuatu yang jauh ada didalam Nox terasa ngilu.


"Dasar Raja aneh. Setidaknya, berusaha-lah untuk bisa hidup selama 1000 tahun dan carilah cara untuk melepaskan kutukan itu"


Naver selalu mengangap semua hal itu lelucon, hingga Nox kesulitan untuk membedakan yang mana yang serius dan yang tidak.