
Arthur dan Tsuha mengikuti Zack untuk melihat hewan sihir dibawah.
Ternyata memang benar. Disana ada tiga ekor srigala sihir.
Dua Srigala sihir itu mengendus Tsuha yang berjarak 2 meter dari kandang mereka. Dan salah satunya, Ia menelengkan kepalanya melihat Arthur.
Dimata Arthur, Srigala sihir itu seperti kebingungan dan terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Mereka bisa berbicara?" Tanya Arthur ditengah sepinya bawah tanah itu.
Zack dan Tsuha saling melihat.
"Pffft!!!!" Keduanya tertawa dan Archie ikutan tertawa karena pertanyaan Arthur.
"Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?" Arthur kebingungan sendiri.
"Maafkan Saya.... Pffft...." Zack tertawa hingga kakinya lemas.
"Kau bodoh sekali. Mentang-mentang tidak pernah keluar. Kenapa memberi pertanyaan sebegitu bodohnya ? Srigala sihir itu, hanya bisa melolong. Dan lolongannya seperti tangisan" Jawab Tsuha.
Mata Srigala sihir itu berwarna hijau dan disetiap bawah kedua garis mata mereka terdapat tanda segitiga hijau kecil.
Tanda itu, bisa membedakan antara srigala biasa dengan Srigala sihir.
Sebesar 20 persen, Serigala sihir tidak menyerang manusia kecuali manusia menganggu mereka.
Tiga serigala sihir itu dengan bersamaan melihat ke Arthur kemudian, mereka membungkukkan pandangannya dan mereka menekuk empat lutut mereka yang seolah olah bersujud.
"Mereka kenapa Mas?" Tsuha cukup kagum melihat tiga hewan sihir itu menunjukkan rasa hormat.
Zack sendiri sedang keheranan. Ia mengaruk tengkuknya.
"Jaky, Jevi, Jine. ada apa dengan kalian?" Zack memberi nama mereka bertiga.
Jaky memiliki badan tinggi tegap dan terlihat paling gagah diantara mereka bertiga.
Jevi adalah yang paling kalem diantara mereka dan jevi memiliki luka ditelinga kanannya.
Kemudian, Jine adalah Srigala sihir yang tergalak diantara mereka.
Srigala sihir itu, masih saja tidak mengangkat kapala mereka.
"Mas, coba periksa dulu mereka. Mungkin, mereka salah makan?" Saran Tsuha.
"Itu saran yang Gila. Kalian berdua, tungggu disini sebentar. Aku akan memanggil Kapten. Drap ! Drap !"
"Tunggu!! Mas Zack!!!!" Tsuha telat memanggil Zack.
Arthur tolah-toleh.
Mereka takut hewan itu mengeluarkan sihir yang bisa menghancurkan pembatasnya.
Serigala sihir itu mengaruk-garuk tanah dengan cakarnya dan melolong tanpa mengangkat pandangan mereka.
Lolongannya itu terdengar seperti tangisan.
"Mereka minta keluar dari sana ?" Arthur bertanya pada Tsuha.
"Eh?! Mana Ku tahu! Aku tidak pernah mendekati serigala sihir! Tanyakan pada Iblis yang ada didalam tubuhmu itu. Dia berusia lebih tua dari Kita kan?"
BREB !
Archie dan Arthur bertukar tubuh.
"Aku tidak pernah melihat serigala sihir seperti mereka. Serigala sihir kelopak hijau memiliki kemampuan yang hampir setara dengan makhluk berakal dengan Kita. Mereka tidak pernah bertengkar satu sama lain. Bila satu serigala sihir mati, mereka akan membunuh orang yang membuat kawanannya mati. Saat Aku kecil dulu, Aku sering masuk dihutan sihir dan mereka menjagaku dari orang-orang yang berniat membunuhku"
Tsuha mendengarkan ucapan Archie memberi ekspresi seperri bertanya "Iya Kah?"
Tsuha tidak percaya sama seperti Arthur.
"Aku tidak berbohong. Mereka, Serigala sihir itu, seolah-olah seperti melindungiku dan itu terulang lagi saat aku membawa Elf hijau yang merupakan kekasih adikku yang sangat terluka para dan mereka, para serigala menjilat luka gadis itu hingga sembuh dan itu, bisa dihitung dalam detikan" Jelas Archie.
"Apa mereka orang yang dikutuk seperti buku pemberian Kapten Penyidik setelah introgasi waktu itu?"
"Apa Maksudmu?" Tanya Archie dalam batin sambil membelakangi Tsuha.
"Ah, jadi gini.... Setelah selesai introgasi waktu itu, Kapten Marsyal memberiku Novel buatannya sendiri yang berjudul, Titisan Elf yang tak ingin tua. Aku belum selesai membacanya sih. Disana ada bab baru yang berjudul kalo gak salah, Kutukan titisan Elf pada pengikut setiannya. Genrenya memang komedi-fantasi. Tapi, dibagian awal-awal ada....."
"Ck! itu cerita fantasi. Cerita fantasi itu berasal dari alam liar penulisnya. Bisa saja hal itu terinspirasi dari kehidupan disekitar mereka. Kalau memang hal itu adalah nyata, Berarti mereka sedang bersujud dan mengeluh pada pimpinan mereka" Jelas Archie pada Arthur.
Arthur langsung diam karena itu memang benar.
Tidak ada seorang pun yang tau seberapa dalam alam imajinasi si penulis.
Tapi, saat itu, Marsyal berkata sesuatu tentang buku pada Arthur.
"Buku ini, tidak bisa diterbitkan karena pihak penerbit berkata kalau Novelku mengandung konspirasi. Karena 19 penerbit tidak ada yang mau menerbitkannya, akhirnya Aku mencetaknya sendiri atas bantuan kenalanku. Buku ini akan sangat berguna untukmu. Jangan lihat genre dan covernya. Perhatikan dengan inti disetiap babnya"
Arthur masih ingat dengan raut senang wajah Marsyal saat Arthur menerima buku itu.
Arthur dan Archie kembali bertukar tempat. Tak lama setelah itu, Nel datang bersama Zack.
"Mereka kenapa?" Nel sendiri tidak tau.
Tsuha menarik baju Arthur agar tidak mendekat ke serigala sihir itu.
Serigala sihir itu mengaruk-ngaruk sel penjara yang mengurung mereka.
Nel membuka sel itu untuk menenangkan mereka. Namun, itu tidak sesuai rencana Nel.
Tiga Serigala sihir itu, langsung berlari kearah Tsuha.
Tsuha dan Arthur membelalakan mata mereka termasuk yang lain.
"BRUK!!!" Tiga serigala itu melompat kearah Tsuha, hingga Ia terjatuh.
"LICK!!! SLUURPPP" Mereka menjilat wajah Tsuha.
"Ughhh..." Tsuha takut digigit oleh mereka.
Zack dan Arthur yang melihatnya sempat terdiam sejenak kemudian tertawa bersama.
"Hah..... mengejutkan saja" Nel menghela napa lega setelah ia hampir membunuh tiga Serigala sihir itu.
Tiga Serigala sihir itu berguling dan mengendus seluruh tubuh Tsuha dan Arthur.
Serigala sihir itu, tidak berani menyentuh Arthur lebih dari sekadar mengendusnya.
"Kapten, bukankah Tsuha ini orang kedua setelah Kanza ?"
Ada orang lain yang dilakukan sama seperti Tsuha oleh tiga serigala sihir itu.
"Benar. Tsuha, Kau kuberi tanggung jawab baru untuk menjaga tiga serigala sihir itu. Mereka menyukaimu" Ucap Nel sambil tertawa.
"Apa ?! Tapi Kapten!"
Tsuha duduk sambil menahan salah satu wajah srigala sihir itu yang terus menjilatnya.
"Saya! Takut pada mereka! Tolong saya..."
Wajah Tsuha sangat pucat.
Arthur membelakangi Tsuha dan ia tertawa bersama Zack hingga Zack tidak kuat berdiri melihat juniornya yang sangat pucat itu.
"Mereka tidak akan menyerangmu. Diatas sudah ada Razel. Kalian berdua keataslah setelah ini. Dan Tsuha, setiap pagi, bawa mereka bertiga berjalan-jalan. Mereka hampir tidak pernah keluar selama empat tahun ini" Jelas Nel sambil keluar dari ruangan itu.
"Syukurlah,.... Mulai sekarang, Aku tak perlu merasakan cakaran mereka lagi. Berjuanglah Tsuha" Zack meninggalkan mereka.
Tsuha melihat Arthur.
"Berjuanglah" Ucap Arthur meninggalkan Tsuha.
"Sialan ! Tunggu Aku!!!" Tegas Tsuha yang berusaha berdiri.
Salah satu dari serigala sihir itu mendekatkan mulutnya ditelinga Tsuha.
"Khau... berbhwaukh Pekhmimpkhin.... Dikhmankh... Bkheliauuu ?" Serigala sihir itu berbicara.
*Kau berbau pemimpin. Dimana Beliau ?
Tsuha membelalakan matanya.
Ia berfikir sejenak.
"HUAHHHH!!!!! Bruk!!!!! Drap! Drap!!!" Saat Ia sudah sadar, Tsuha langsung berteriak, mendorong dan berdiri kemudian, Ia berlari sekencang-kencangnya keatas.
Tiga Serigala sihir itu saling melihat kemudian mengejar Tsuha bersamaan.
"KAPTEN!!!!!! SERIGALA SIHIR ITU BISA BICARA!!!!!!" Tsuha berteriak sambil berlari.
Siapa juga yang tidak takut kalau mengalami hal itu.
Nel, Zack, dan Archie berfikir kalau Tsuha itu hanya membual saja.
"KAN! AKU TADI BILANG APA!!!! MEREKA MEMANG BISA BICARA!!!!" Tegas Arthur sambil mundur karena Tsuha berlari kearahnya.
Tsuha memegang kedua bahu Arthur.
"Tolong Aku..... Gdebuk!!!!"
Tiga Serigala sihir itu menarik kaki Tsuha hingga Tsuha menarik Arthur dan keduanya jatuh bersamaan.
"PFFFTTTT...... BUAHAHAHAHHAHAA!!!!!" Zack tidak bisa menahan tawanya lagi.
Ia senang sekali melihat juniornya menderita.
Razel dan yang lain datang karena mendengar suara keributan itu.
Razel tersenyum melihat dua anggota baru yang sangat Ia inginkan masuk kedalam Guildnya.