The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Makan Malam



Percikan elektromagnetik keluar dari tangan dan lengan Luxe.


Dari percikan itu, terlihat pola seperti akar yang langsung menjalar ke tangan kiri Luxe. "GREP! WUTTTS!" Jalaran tato itu menghilang saat Luxe mencengkram leher Nao.


"Nao, siapa kau ini?"


Senyum seringai terpampang jelas di wajah Nao. "Tebaklah" Luxe melihat dua gigi taring bagian Nao yang lebih lancip dari gigi orang normal saat ia berbicara di jarak sedekat itu.


...****************...


"TEP!"


Arthur memegang pergelangan tangan mereka.


"Kalian, tolong berkerja samalah denganku. Jangan mempertengkarkan sesuatu yang tidak jelas" Ucap Arthur.


Arthur memang tak tau dengan jelas apa masalah yang membuat mereka bertengkar.


Nao melihat ke arah Arthur sambil tersenyum. Ia melepaskan lengan Luxe.


"Arthur, ngomong-ngomong kenapa kau kemari?" Arthur mengalungkan lengannya pada kedua bahu Arthur.


Arthur baru ingat bila ia kemari untuk memanggil mereka semua makan bersama. Ini sudah lewat 5 menit.


"Kita dipanggil untuk makan malam. Dimana Kepala Verza?" Tanya Arthur yang baru sadar bila ia tidak melihat Verza di ruangan itu.


"Oh, dia sedang mandi. Ayo kita berangkat dulu. Biar Tsuha yang menunggu disini" Ucap Nao sambil membawa Arthur keluar dari kamar.


"Eh? Kenapa dengan Tsuha?"


"Dia mimisan melihat gadis malaikat itu" Jawab Nao yang telah keluar dari pintu itu.


"Cih!" Tsuha mendecih kesal. Dia mimisan karena kelelahan dan bukan karena Angel.


Di sela itu, Tsuha merasa aneh dengan diri Nao. Biasanya, Nao suka sekali menjahili orang yang baru ia kenal. Sama seperti yang Nao lakukan pada Arthur. Namun, daripada menjahili Luxe, Nao terlihat seperti membenci Luxe.


"Hei, apa kau pernah bertemu Nao?"


Tsuha mendonggakkan kepalanya dan melihat ke arah Luxe yang sedang menutupi lengan kirinya dengan perban putih.


"Hah? Aku belum pernah sekalipun melihat orang semacam dirinya. Mending, kau putuskan saja tali pertemanan kalian" Luxe mengatakan hal tersebut kepada Tsuha.


"Apa maksud ucapanmu?"


Verza ikut mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu kamar mandi.


"Ini hanya saran. Dia bukan orang dari golongan kita. Dia berkata, tebaklah, apa yang membuat ribuan bunga menjadi gugur. Menurutmu apa jawaban dari pertanyaan dia?"


Itu adalah hal yang dibisikan oleh Nao pada Luxe.


"Apa yang aneh dengan pertanyaan itu? Nao memang suka memberi tebakan kecil pada orang-orqng disekitarnya" Jawab Tsuha.


"Aku tanya, apa jawabannya menurutmu?" Tanya Luxe sekali lagi.


Tsuha mengkernyitkan keningnya. "Musim" Jawabnya.


Luxe menggeleng. "Yang benar adalah kesalahan. 1000 kebaikkan yang telah kau tuang, akan menghilang saat kamu melakukan setitik kesalahan" Luxe meninggalkan Tsuha di kamar tamu itu.


Tsuha membetulkan posisi duduknya. Ia berfikir "Apa selama ini, Nao menggunakan soal tebakkannya untuk mengekspresikan dirinya sendiri?"


Tidak ada yang tau dengan hati seseorang. Tsuha mulai sadar. Selama ini, Nao tidak pernah menceritakan tentang dirinya atau teman kelasnya pada Tsuha. Namun, Nao selalu datang saat ia membutuhkan. Ia merasa, hubungan dia dengan Nao masih jauh dari kata persahabatan.


Verza keluar dari kamar mandi dan melihat Tsuha yang termenung di tempat. Ia pura-pura tidak tau dengan kondisi sekitar.


"Dimana yang lain?"


Suara Verza, membuat Tsuha terbangun dari lamunannya. Tsuha langsung berdiri dan membuang tisu yang penuh darah.


"Oh! Mereka menunggu Anda di ruang makan" Jawab Tsuha dan kembali duduk dengan santai dan perlahan. Ia menunjukkan wajah kalemnya.


Verza melipat kedua lengannya di dada. "Lalu, kenapa kau tetap disini?"


"Saya sudah kenyang" Jawab Tsuha.


"Dah, ayo makan bersama dengan yang lain. Kau tidak boleh menolak pemberian orang lain" Verza berjalan terlebih dahulu di depan Tsuha.


Tsuha tidak boleh menolak ucapan Verza. Ia mengikuti Verza yang berjalan di depannya.


...****************...


Angel menyantap makanannya sambil melihat ke arah Tsuha. Ia merasa tidak asing dengan wajah itu.


"Arthur. Siapa nama pria cantik itu?"


Angel berbisik pada Arthur yang tengah makan sambil menendang pelan kaki Arthur.


Arthur mengangkat pandangannya. "Sepertinya, tadi Tsuha sudah menyebutkan namanya" Batin Arthur sambil menelan makanannya.


"Dia, Estelle Tsuha" Jawab Arthur.


Mendengar namanya di sebut, Tsuha langsung melihat ke arah Arthur yang berbicara dengan Angel. "Sialan!!!!!!" Tsuha ingin berteriak dan membanting Arthur.


Tsuha mempercepat makannya agar bisa keluar dari ruangan itu.


Angel membelalakan matanya.


"Estelle Tsuha? Owh! Kau! Kau bocah yang dulu itu kan?!" Angel langsung melihat dan menunjuk Tsuha.


Tsuha menyelesaikan makannya dan berancang pergi dari sana.


"Hei!" Angel langsung berdiri dan berjalan ke arah Tsuha. Tsuha terus berjalan ke samping menjauhi Angel.


"Kak Angel kenal dengan Tsuha?" Arthur melihat Angel yang berusaha menangkap Tsuha.


"Hei Estelle! Apa kau pura-pura tidak mengenal gadis yang pernah kau cium?!"


"CIUM?!!!" Arthur, Nao, Verza, Luxe, dan Archie terkejut mendengarnya.


"HUAH! AKU TIDAK SENGAJA! LAGI PULA! ANAK UMUR 9 TAHUN TAU APA?!!! Drap! Drap!"


Tsuha melarikan diri dari ruangan itu.


Angel memegang gelas milik Luxe di antara tempat makan Luxe dengan Nao. "Laki-laki bangs*t.... PRAK!" Gelas berisi air itu langsung pecah karena Angel mengengamnya dengan erat.


Nao dan Luxe langsung bergidik.


"Lihat saja nanti...." Angel berjalan ke arah Arthur. Ia memegang salah kedua bahu Arthur dan mencondongkan wajahnya dari bahu sisi kanan Arthur.


"Arthur...."


"Glegh!" Arthur menelan makanan di mulutnya yang belum halus.


Ia melirik Angel yang tersenyum paksa.


"Besok, kamu akan kemana?" Ia mencengkram bahu Arthur.


"Ugk, Panti Asuhan di desa sebelah" Jawab Arthur sambil menahan rasa sakitnya.


"Besok ajak aku ya dan biarkan mereka bertiga yang masih ada di sini untuk istirahat"


Angel berniat membalas Tsuha yang mengabaikannya.


Arthur tertawa canggung. "Aha ha ha, tentu kak...." Jawab Arthur sambil melepaskan cengkraman tangan Angel yang berkuku panjang dan berkutek maron.


"Umuach! Terima kasih Pangeran kecil..." Angel mengeluarkan suara seperti mencium dan mengosok rambut Arthur yang putih hingga berantakan.


Angel menyadari perubahan warna rambut Arthur. Ia memegang rambut Arthur dengan tangan kanannya dan melihatnya lebih pasti.


"Arthur warna rambutmu, kenapa lebih putih seperti ini? Kau mewarnai rambut mu yang lebih muda dari warna langit?" Angel menarik kening Arthur hingga kepala Arthur mendongak ke langit-langit penginapan yang tinggi. Angel memastikan bila itu hanya semir. Namun, warna putih itu adalah warna rambut Arthur.


"Putih gimana? Rambutku memang seperti ini" Arthur tidak menyadari bila warna rambutnya perlahan memutih.


Nao segera pergi dari ruangan makan di sela Angel memeriksa rambut Arthur.


Luxe melihat punggung Nao dan Nao tidak melihat ke belakang sedikitpun. "Aku akan mencari tau siapa dirimu dulu, sebelum aku menjawab pertanyaanmu" Luxe meletakkan sendok di sebelah kanan dan garpu di sebelah kiri secara sejajar tepat di atas piringnya. Sama seperti Nao.


Cara meletakkan sendok dan garpu seperti itu adalah etika yang biasanya dilakukan oleh seorang bangsawan setelah selesai makan.


Verza melihat sendok dan garpu milik Tsuha yang di letakka begitu saja di atas piring dan berbeda dengan piring Luxe, serta Nao.


"Bagaimana bisa mereka berdua meletakkan sendok dan garpu serapi itu. Tidak mungkin bila mereka berdua belajar secara otodidak" Verza mulai mencurigai kedua remaja itu.


Verza memperhatikan Arthur yang bingung dengan rambutnya.


"Mungkin, karena aku sering mengunakan mana Archie kak. Dia kan iblis berambut putih. Jadi, tidak perlu di khawatirkan" Jawab Arthur.