The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
TSUHA bagian 7



Hari ini, usia Arthur tepat menginjak 10 tahun dan Bram telah menyelesaikan sekolahnya yang telah Ia tempuh selama 8 tahun dengan predikat A+ dan kini berkelas S setelah bergabung dengan Guild Kesatria pedang Meganstria sebagai wakil Guild bersama dengan dua temannya. Yakni, Angel dan Dylean.


Mereka bertiga, berencana untuk mengejutkan Arthur dihari ulang tahunnya. Dan Bram telah mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Kemudian, Naver berbicara bertiga dengan Tsuha dan Nox untuk membuat kejutan untuk Arthur. Syaratnya, Tsuha harus mengikuti semua permintaan Arthur dan tidak berhak menolaknya, selama Bram menyiapkan kejutan untuk Arthur di dalam Taman milik Emilly.


Sayangnya, Nox tidak bisa hadir diperayaan kecil-kecilan Arthur karena Ia harus menghadiri pengangkatan sebagai Kapten dari Guild Pemberantas Iblis untuk dipindahkan tugaskan di Shinrin dengan masa uji dan kontrak selama Lima tahun.


Di perayaan kecil-kecilan itu, adalah awal dari rasa bersalah Tsuha muncul.


...****************...


Tsuha telah menyiapkan tempat dan menata kue kering di selatan taman bunga milik Emilly atau, batas utara hutan sihir. Tempat itu, adalah tempat yang sudah ditentukan oleh Bram dan yang lainnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa Kau tiba-tiba menata ini? Apa ada yang menyuruhmu?" Arthur sangat memgenal Tsuha. Tsuha, sangat tidak menyukai hal-hal yang membuatnya kerepotan seperti ini.


Tsuha duduk dan memuangkan teh hangat aroma lavender dicangkir untuk Arthur.


"Silahkan diminum Pangeran. Saya memang disuruh untuk menemani Anda, agar Anda tidak berlatih dan belajar seharian. Sesekali, marilah bersantai" Jawab Tsuha sambil menuangkan air biasa dicangkir miliknya.


Arthur melihat Tsuha minum air biasa benar-benar membuatnya jengkel.


Ia mengambil cangkir Tsuha dan menukarnya dengan cangkirnya.


"Kalau begitu, Kau juga harus bersantai bersamaku. Aku juga punya ide yang bagus" Arthur meminum air milik Tsuha.


"Jadi, hari ini.... mari bermain bertukar tempat. Kau jadi Pangeran Aosora dan Aku, menjadi seorang Estelle. Ini dimulai dari, pakaian. Kau harus pakai jubahku dan Aku, pakai bajumu"


"Kau, harus mau menuruti semua keinginan Arthur" Ucapan Bram terngiang diotak Tsuha.


"Baik" Ia tak bisa menolaknya.


"Lagi pula, ini tak akan lama." Batin Tsuha.


...****************...


Arthur mengajak Tsuha ke kamarnya dan Ia, mulai mencari pakaiannya untuk Tsuha. Tinggi Arthur dan Tsuha saat mereka berusia 11 dan 10 tahun sama-sama 143 cm.


"Emmmm..... Aku baru sadar,.... Pakaianku ini, serba biru dan putih" Gumam Arthur sambil memilah satu persatu.


Tangan Arthur membuka kotak pakaian Arthur yang lainnya. Kotak itu, berisi pakaian baru Arthur yang baru datang kemarin. Arthur memilah satu persatu. Hanya ada satu set pakaian miliknya yang berbeda warna. Yakni, warna ungu. Itu, pakaian yang bagus, dengan paduan warna abu-abu muda.


"Apa Kau suka warna ungu?" Arthur, menunjukkan se set pakaian itu pada Tsuha.


Terlihat batik dengan warna emas berbentuk teratai dibagian dada kiri pakaian itu. Itu, pasti pakaian yang mahal.


"Ah..., Pakaian Anda yang anda pakai hari ini saja...." Tsuha tak enak bila memakai pakaian sebagus itu.


Arthur mengerutkan keningnya. "Kalau Kau pakai bajuku yang kupakai sekarang, Kau harus meminjamkan pakaianmu yang baru. Kalau Kau pakai ini, Aku akan pakai baju yang Kau pakai itu. Pilih mana?"


Jelas-jelas, Tsuha tak bisa membeli pakaian baru. Pakaian yang Ia kenakan adalah pakaian pemberian dari anak pelayan lainnya.


"Ayo jawab" Arthur memaksa Tsuha.


"Bagaimana bila Baginda Raja dan Baginda Ratu tau? Saya bisa dimarahi Ibu Saya" Lirih Tsuha sambil menundukkan pandangannya.


"Hah?" Arthur berdiri dan sedikit membungkuk untuk melihat wajah Tsuha.


"Aku akan bilang, kalau Aku yang memberikannya padamu. Lagi pula, Kita ini teman. Ambil ini, Aku tak terlalu suka warna ungu" Arthur berdiri dangan tegak dan mengalungkan pakaian itu dileher Tsuha.


"Ta..tapi..."


"Ssst! Nanti kalau Kau jadi orang yang hebat, Kau harus mau meminjamkanku pakaianmu dan bermain lagi seperti hari ini. Ya, setidaknya.... Kau harus menjadi prajurit pribadi Pangeran Aosora Arthur ini, lalu mengajakku berkeliling dunia!. Benar! Hari ini, Aku akan menjadi Prajurit Pribadi Pangeran! Lalu, Tsuha! Kau harus mau jadi Pangerannya!" Arthur benar-benar sangat antusias.


Ia sangat bersemangat karena hari ini, Tsuha tumben sekali bersedia bermain prajurit-prajuritan dengannya.


Tsuha tak tau harus berkata apa lagi. Ia membuka tas pinggang yang Ia bawa dan meraup semua permen cokelat yang sempat Ia ambil dari dapur.


Melihat itu, mata Arthur langsung berbinar.


Tanpa banya bicara. Tsuha langsung memberikan permen-permen itu pada Arthur.


"Tolong, rahasiakan ini dan sembunyikan dulu. Makanlah, saat Anda sedang sendirian"


Arthur sangat girang. Ia langsung menerimanya dan berjongkok sambil membuka selimut kasur yang menyentuh lantai kayu itu.


Tsuha mengintip tangan Arthur yang membuka sebuah kayu yang sedikit terbuka. Arthur meletakkan semua permennya kecuali satu permen cokelat yang ingin Ia makan.


"PAK! PAK!"


Arthur memukul-mukul kayu itu agar rapat.


Ia meringis sambil berdiri dan melihat wajah Tsuha. "Rahasiakan ini juga. Ah! Sekarang, Kita atur alur ceritanya!"


Padahal, Tsuha berharap Arthur melupakan permainan yang Arthur inginkan. **


"Jadi, ceritanya... Aku akan membawamu kabur disebuah kastil penyihir. Kastil penyihirnya, ada di dekat hutan tadi. Lalu, prajurit dan tukang kebun dibawah adalah monster sihir milik Penyihir. Paham Tsuha?"


Bersamaan dengan Arthur menjelaskan alur cerita mereka, Tsuha mendapatkan telepati dari Naver "Tsuha, 15 menit lagi, Bram dan yang lainnya akan menyelesaikannya. Sebisa mungkin, jauhkan Arthur dari taman Istriku. Mengangguklah kalau Kau paham"


Mendengar itu, Tsuha langsung menganggukkan kepalanya.


"BAGUS!!!! SEKARANG! Ganti pakaianmu! Cepat!" Arthur salah paham dan mendorong-dorong Tsuha hingga masuk ke kamar mandi.


"Apa?! Tunggu! BRAK!" Arthur menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Tsuha menghela napas dengan panjang. "Apa, Aku boleh seperti ini?"


...****************...


Tsuha dan Arthur telah menukar pakaian Mereka dan Arthur, tak lupa membawa pedang kayu miliknya. Arthur, memperhatikan Tsuha yang dari tadi bersembunyi saat ada orang yang melintas.


"Hooh!! Apa Tsuha sangat suka bermain seperti ini?! Dia benar-benar hebat dalam berperan sebagai Pangeran!!!" Mata Arthur berbinar akibat kesalahpahaman ini dan Ia membetulkan topinya untuk menutupi rambut biru mudanya yang hampir ke putih.


Yang ada dipikiran Arthur yang sebenarnya adalah....


"** **, Bisa gawat kalau ada yang melapor pada Ibu"


"Tap! Tap!" Seorang Prajurit, berjalan kearah Arthur dan Tsuha yang bersembunyi dibelakang Vas besar tanpa bunga.


"Pangeran,... ada monster sihir yang mendekat" Bisik Arthur pada Tsuha disampingnya.


Tsuha, hanya bisa menghela napas karena Arthur.


"JUMP! TAK! HAH!!!" Arthur melompat dan mengejutkan prajurit itu. Kemudian, Ia memukulkan pedang kayunya pada zirah lengan prajurit itu.


Prajurit yang terkejut itu langsung berteleport kebelakang Arthur dan mengunci leher Arthur dengan refleks.


"PANGERAN!" Tsuha langsung berdiri dan Prajurit itu langsung melepaskan leher Arthur setelah, Ia sadar kalau anak yang Ia kunci lehernya adalah Arthur.


"Pangeran! Ampun,.... Dagh! Bruk!!!" Arthur memutar tubuhnya dan Ia melesatkan kaki kirinya dengan cepat yang Ia aliri dengan mana ke pipi kanan prajurit itu dengan keras, hingga prajurit itu terjatuh.


"Jump! Tep!"


Ia melompati tubuh Prajurit tersebut dan menarik tangan Tsuha.


"AYO PERGI PANGERAN!!! SEBELUM MONSTER LAIN DATANG!!!!! DRAP! DRAP!" Tegas Arthur pada Tsuha.


Tsuha membelalakan matanya. Ia sadar kalau Arthur, menyerang Prajurit itu dengan sungguhan.


"PANGERAN! ANDA! BAIK-BAIK SAJA?! TOLONG AMPUNI SAYA!!" Prajurit itu, mengejar Arthur.


Arthur melihat kebelakang.


"Sial! Monster itu, mengejar Kita! Apa yang harus Kita lakukan Pangeran?!" Arthur menikmati permainan ini dan Ia, kesal pada Prajurit itu karena mambuatnya hampir kesulitan bernapas.