
"Archie.... sudah Pulang ? Apa Kamu sudah bermain dengan teman- temanmu? Ayo makan,... Ibu.... Hiks.... Ibu... sudah... hiks... buatkan... makanan... hiks... untuk anak... Ibu..Hiks!.."
Archie meniru kebiasaan Ibu yang selalu mengusap kepalanya dan menangis disana.
Archie mengeleng dan mengusap wajahnya.
"Baiklah ! Ayo cari bunga sihir untuk Ibunya Alex yang sakit! Drap!"
Archie berlari menuju hutan sihir yang cukup jauh dari rumah Alex untuk mencari bunga sihir seorang diri.
...*****************...
Archie terus berlari dan memasuki hutan yang penuh dengan serigala sihir hanya dengan tangan kosong saja.
Ia hanya mengandalkan bantuan dari cahaya bulan sebagai penerangannya.
Archie berjalan seorang diri dan memanjat pohon kemudian mencari dimana letak bunga sihir itu.
Hanya ada satu tempat dimana bunga sihir itu ada.
Yaitu, ditempat yang dikelilingi oleh srigala sihir dan makhluk itu, adalah penjaganya.
Malam hari adalah waktunya mereka untuk berburu.
Archie menunggu waktu yang tepat untuk mengambil bunga sihir itu.
Ia mulai merangkak untuk berpindah antar pohon kepohon yang lainnya.
Archie sangat berhati-hati.
Ia memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian para Srigala sihir yang sedang berjaga disana.
Archie memikirkan sesuatu dengan ranting kering didekatnya.
"Klak!"
Archie mematahkan ranting kering disana dan suara itu, membuat srigala sihir menjadi waspada.
Archie mengerutkan keningnya dan bersembunyi saat melihat salah satu srigala sihir mulai mengendus dan berkeliling disekitar pohon tempat Archie berada.
Archie mengangkat tangan kanannya dan "SYUUUT!!! KRASAKKK!!!!" Ia melemparkan ranting itu kearah semak-semak jauh didepannya.
Lima Serigala sihir yang menjaga bunga itu langsung bangkit dan melihat kearah semak itu.
"Drap!!!" Mereka berlari bersamaan kearah semak itu. Termasuk srigala sihir dibawah Archie.
"BAGUS ! TERIMA KASIH BANYAK SANG CAHAYA!!!" Tegas batin Archie.
Ia turun dari pohon itu dan berjalan dengan perlahan untuk mengambil bungan Sihir itu.
Archie mengambil dua belas tangai bunga sihir itu dan saat yang ke tiga belasnya, Serigala sihir itu kembali. Mereka melihat Archie mengambil bunga yang mereka jaga tanpa izin.
"GRRRRRRR" Enam serigala sihir mengeram pada Archie.
DEGH!!!
Archie mendengar suara geraman itu langsung berdiri dan melihat kebelakangnya.
Archie meletakan salah satu bunga sihir ditangannya.
"Maafkan Aku. Aku butuh bunga ini" Ucap Archie sambil berdiri dan mundur perlahan.
"GRRRRRRR...." Serigala sihir itu menunjukkan taring mereka pada Archie.
"GRRRAAAAA!!!" Serigala sihir itu berancang melompat ke Archie.
"SIAL ! DRAPPP!!!!" Archie langsung berlari untuk menyelamatkan dirinya dari enam serigala sihir itu.
"GRRRAAAAAA!!!!!! DRAP! DRAPPP DRAPPP!!!"
Serigala sihir itu mengejar Archie.
Archie terus berlari dan melompati dahan pohon yang roboh tanpa alas kaki.
"KRAK! AKH!"
Telapak Kaki Archie menginjak rumput yang berduri saat berlari.
"Ayo!!!! Yang penting Keluar dari sini dulu!!!" Tegas batinnya yang terus berlari keluar dari hutan sihir itu.
"TRASSH!" Ranting pohon mengores lengan Archie hingga lengan bajunya sobek.
Cahaya bulan membantu jalan pulang Archie.
Ia berhasil menyelamatkan dirinya dari hutan sihir itu.
Archie melihat kebelakang.
Serigala sihir itu berhenti saat berada diperbatasan hutan sihir .
Archie lega melihatnya.
"AHAHAHAHAHA!!!!! KALIAN GAK BISA KELUAR!!!!"
Archie benar-benar anak Iblis gak tau di untung.
Ia menertawakan Serigala sihir itu dan menunjuk-nunjuk mereka.
Enam serigala sihir itu saling melihat dan kembali memasuki hutan.
Archie duduk ditanah setelah serigala sihir itu pergi.
Darah terus keluar dari telapak kaki kanannya.
Ia menarik duri yang masih menusuk telapak kakinya dengan tangan kosong kemudian menghitung bunga sihir itu.
"Dua belas tangkai. Kalau tidak salah, tadi Alex membawa 13 tangkai. Berati masih kurang satu. Tidak mungkin kalau Aku kembali kehutan itu. Ah, gak papa sudah. Ayo, Langsung kerumah Alex setelah menyembuhkan Kaki ini dulu" Ucap lirih Archie sambil menyembuhkan luka ditelapak Kakinya dengan sihir penyembuhan.
"DONG! DONG! DONG!....." Suara Jam sihir di Aosora berbunyi sebanyak sembilan kali.
Ini menandakan telah pukul sembilan malam.
Archie harus bergegas kerumah Alex.
Perjalanan menuju Rumah Alex bila berjalan dengan santai membutuhkan waktu hampir Dua jam.
"Sihir Gerbang!" Archie membuka sihir teleport yang bisa dikatakan sebagai sihir tingkat tinggi kuno untuk menuju Rumah Alex.
"Dari pada sulit-sulit, Lebih baik buang mana untuk perjalan yang jauh" Archie mengumam sendiri dan masuk kedalam gerbang sihir itu.
Tak sampai hitungan detik. Ia sudah sampai dibelakang pohon tempatnya sembunyi beberapa saat yang lalu saat bersama Alex.
Archie menghilangkan Gerbang sihir itu dan berjalan kearah Rumah Alex.
Ia meletakkan bunga sihir itu didepan pintu.
"TOK! TOK!" Archie mengetuk pintu itu kemudian bersembunyi dibelakang kendi besar berisi air.
"Semoga Alex menyukainya" Archie senang dan menunggu Alex keluar dari rumahnya.
"Cklak!"
Memang benar Alex membuka pintu itu.
Ia melihat kesegala Arah dan saat melihat kebawah Ia langsung tau kalau ini perbuatan Archie.
"Archie. Keluarlah. Terima kasih telah membantuku"
Ia mengintip Archie yang bersembunyi dibalik kendi air.
Senyum Archie langsung hilang saat melihat Alex yang mengintipnya.
Archie terjatuh.
"Kau baik-baik saja?"
Alex mengulurkan tangannya pada Archie.
"Eh! Ba... Bagaimana Kau bisa menemukanku?!" Tanya tegas Archie sambil menepis tangan Alex.
Alex melihat tangan kanannya yang ditepis oleh Archie dan Archie berdiri sendiri.
"Apa Kau lupa ? Aku ini masih seorang elf. Penciuman dan pendengaranku sangat tajam" Jawab Alex sambil meringis dan menunjukkan dua telinga Elfnya.
Archie membuang muka.
"Benar juga. Bagaimana Aku bisa melupakannya?" Batinnya.
"Apa Kau yang membawakan bunga ini untukku?" Tanya Alex.
"??" Wajah Archie langsung memerah.
"I.. Itu untuk Ibumu! Katanya Ibumu sakitkan ? Jaga Ibumu baik-baik. Jangan sampai telat minum obat" Ucap Archie sambil menatap tajam Alex dan menarungkan kedua alisnya.
Alex tersenyum.
"Terima kasih karen perhatian pada Ibuku. Apa Kau sudah makan?" Tanya Alex.
"Sudah. Aku harus pulang. Selamat tinggal" Archie beranjak pergi.
"Hei Archie" Alex memanggil Archie yang akan pergi.
"Hm?"
"Sampai jumpa. Kita bertemu besok, bantuin Aku jual Kayu bakar dan akan ku beri upah" Ucap Alex.
Archie membelalakan matanya.
"Sungguh?"
Alex mengangguk.
"Baiklah ! Berjanjilah padaku!" Tegas Archie sambil mengulurkan jari telunjuknya pada Alex.
"Harusnya jari kelingking. Seperti ini. Janji"
Alex memegang tangan kanan Archie yang lebih pucat darinya dan mengikat jari kelingking dengan jari kelingking Archie.
Archie melihat Alex.
"Memang apa bedanya?"
Alex menaikkan salah satu alisnya dan melepaskan tangan Archie.
"Tentu saja beda. Kesannya yang jari telunjuk kek orang maksa" Jawab Alex.
"Kan, Aku memang maksa" Ucap Archie.
Alex termangun ditempat.
"Sialan! Untung.... Dia cantik" Batin Alex pada Archie.