The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Luxe Dan Rencananya



Arthur kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mendatangi rumah-rumah yang rusak karena Archie berusaha melindungi diri.


"Jadi, berapa rumah yang harus dikunjungi hari ini?" Nao mulai kelelahan dan melihat air kemasannya yang ia bawa habis.


"25" Jawab Arthur sambil melihat denah lokasi rumah yang harus dikunjungi.


"HAH?!" Nao dan Tsuha terkejut setelah mendengar jawaban Arthur.


Mata Nao melihat Tsuha dan merangkul leher Tsuha hingga Tsuha sedikit membungkuk. "Tsuha! Kakiku beneran capek. Masih ada 9 rumah yang harus di kunjungi. Tolong bujuk Arthur untuk istirahat karena sekarang matahari hampir tengelam. Yah! Yah!" Nao berusaha merayu Tsuha untuk membujuk Arthur.


"Syuut!" Tsuha menghapit lengan Nao dengan bahu dan kepalanya yang ditelengkan ke kanan.


"Kita akan istirahat bila Pangeran Aosora sudah mengatakannya" Jawab Tsuha sambil menyikut rusuk kiri Nao.


Nao menghindar dari sikutan lemah Tsuha dan ia memanyunkan bibirnya ke depan sambil meniru logat Tsuha berbicara.


Arthur melihat kebelakang sambil meringis. "Setelah ini selesai, kita akan berjalan ke arah utara lalu istirahat di penginapan yang sudah di siapkan oleh Istana" Arthur mengulurkan air kemasan dari tas pinggangnya untuk Nao.


Nao menerima air itu dan "Minumen" memberikannya kepada Tsuha. "Baiklah~ Setelah sampai nanti, kau harus mentraktirku makanan yang banyak" Nao berjalan ke arah Arthur dan merangkul bahu Arthur untuk mempercepat jalannya.


Verza melihat Tsuha yang sedang memasukkan air kemasan itu ke dalam tasnya. "Minumlah. Aku tau kau tidak membawa air untuk perjalanan ini"


Mata Tsuha langsung terbelalak saat mendemgar lirihan Verza. Tsuha langsung melihat Verza yang sedang menepuk punggungnya. "Ck" Tsuha membuang pandangannya.


Verza berhenti menepuk punggung Tsuha dan mengosok tengkuknya. "Dia anak yang pemalu"


...****************...


Arthur mengunjungi rumah ke 21.


Rumah ke 21 adalah rumah yang ditinggali oleh seorang wanita berusia 43 tahun.


Jantung Arthur berdebar saat akan mengetuk pintu rumah itu. "BYUUUUUR!!!!!" Setimba air kotor di siramkan ke Arthur dari loteng rumah itu.


Sekujur tubuh Arthur basah dan beraroma menyengat. Nao dan yang lain melihat sesorang di atas sana yang menyiram Arthur. Nao hanya diam menatap Arthur yang mengusap wajahnya yang kotor.


"Nyonya. Apa Anda memiliki waktu sebentar? Saya Aosor-"


"PERGI DARI SINI! IBLIS SEPERTIMU! TIDAK DI TERIMA DI TANAH INI! BAM!" Wanita itu membanting jendela dengan kasar setelah mengusir Arthur.


Arthur membelakangkan rambut putihnya yang kini terlihat abu-abu karena air itu. "Tidak bisa begini. Nyonya... Tok! Tok!"


Wanita itu adalah yang paling parah dalam mengusir Arthur.


"PERGI! AKU BILANG PERGI!" Suara teriakan wanita itu.


Tsuha melihat bayangan pria di dalam rumah itu. "Kenapa mereka bisa sebenci ini dengan dia?" Tsuha menepuk bahu Arthur untuk lanjut ke tempat yang lain.


"Pangeran, Anda harus membersihkan diri dulu" Verza prihatin melihat kondisi Arthur.


"Iya itu benar. Sisanya lanjut besok saja. Kau terlihat berantakan sekali Arthur. Jangan memaksakan dirimu okey" Nao mengacak-acak rambut Arthur yang kasar karena kotor.


Arthur menerima saran dari Nao. Ia menundukkan pandangannya. "Archie, apa kau tau sungai yang dekat di sekitar sini?"


Disisi lain, ada segerombolan remaja yang sedang memantau Arthur dari kegelapan.


"Luxe, apa kau yakin kita tidak akan di masukkan ke penjara?" Remaja laki-laki berbangsa Malaikat sedang berjongkok dan memperhatikan Arthur.


"Tenang saja. Dia sedang tidak di lindungi oleh aturan Aosora. Jadi, kita boleh melakukan apapun asal tidak membuatnya terluka. Aku, bisa melihat ada tiga jiwa di dalam tubuhnya" Remaja berambut hitam dengan leher yang di penuhi oleh perban putih sedang melihat Arthur dengan salah satu matanya dari jari tangan kanannya yang ia bentuk lubang lingkaran.


Remaja itu adalah Luxe, remaja yang kabur dari panti asuhan Aosora dan menjadi ketua anak jalanan Aosora. Luxe, berusia seumuran dengan Arthur yakni, 17 tahun. Ia adalah keturunan murni bangsa manusia.


Luxe menurunkan tangan kanannya kemudian ia menyipitkan kedua matanya melihat ke arah Nao yang sedang merangkul Arthur.


"Siapa dia?" Luxe menepuk punggung salah satu temannya.


"Yang mana?" Teman Luxe melirik keatas.


"Itu loh, yang merangkul Aosora. Dia aneh sekali" Lirih Luxe yang semakin menyipitkan matanya.


Luxe, tidak bisa melihat jiwa Nao. Di dalam tubuh Nao penuh dengan kabut yang menyelimutinya.


"Gobl*k! Aku juga tau anj*r!" Maki Luxe sambil memukul punggung kedua temannya yang ada di sebelahnya.


Salah satu remaja yang lebih tua dari Luxe memegang pundaknya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan? Perlukah kita memisahkan mereka berdua?" Tanya remaja itu.


Senyum mengembang di bibir Luxe.


"Benar. Pisahkan mereka dengan Aosora. Aku akan mengambil uangnya saat dia lengah. Setelah kalian memisahkan mereka, langsung pergilah sejauh mungkin dan berpencar" Luxe mengulurkan tangannya di depan dan teman-teman lainnya menumpuk tangan mereka di atas pungung tangan Luxe.


"Bila kita berhasil, ayo membangun rumah bersama dan menjual sesuatu untuk kehidupan kita agar lebih layak" Ucap Luxe sambil meringis.


"Ya! Siap!" Tegas mereka kemudian "Ssshhh, pelan pelan" Lirih Luxe. "Yeahhh.... siaaappp......" Lirih mereka.


...****************...


"Hah....." Arthur membuang napas lega saat dirinya telah masuk ke dalam air yang cukup dingin. "Blub" Arthur menenggelamkan tubuhnya hingga kepalanya ke dalam air.


Tsuha duduk diatas batu sambil mengalungkan tas pinggang Arthur pada dadanya dan menunggu Arthur yang sedang merendam di sana.


Nao dan Verza sedang mencari tempat untuk memanaskan makanan kering yang mereka bawa.


Arthur mengangkat kepalanya ke udara untuk mengambil napas. Ia melihat Tsuha yang sedang duduk disana dan membelakanginya.


"Tsuha, apa kau tidak ikutan mandi?" Arthur membelakangkan rambutnya yang menutup matanya.


"Gak. Nanti saja" Jawab singkat Tsuha yang sangat mewaspadai area sekitarnya yang gelap.


Arthur meringis jahil di belakang Tsuha. "SRATTTT!!!" Ia menyipratkan air sungai pada Tsuha hingga membuat jubah guild yang digunakan oleh Tsuha setengah basah. "Tsuha! Apa kau malu?" Arthur terus menyipratkan air pada Tsuha.


"Cih! Pakaianku jadi basah sialan!" Tsuha berdiri sambil melihat pakaian bagian belakangnya yang di siprati air oleh Arthur.


"Pfftt. Buahahahaha!" Arthur tertawa dengan kencang. Ia menepuk nepuk air dan mengusap wajahnya.


"Sudah, letakkan saja tas-tas itu disana. Jangan kaku dan tegang seperti itu Tsuha. Semuanya pasti aman" Ucap Arthur sambil meringis dan mengulurkan tangannya.


"Berisik. Cepat selesaikan mandimu lalu gantian!" Tegas Tsuha sambil berbalik dan kembali berjongkok.


Arthur melihat ke langit malam yang mulai berawan.


"Huh, kau memang begitu Tsuha. Apa kau tidak suka mandi bersama teman-temanmu? Kau selalu menolak ajakan mereka. Kenapa? Apa kau malu teman-teman yang lain melihat punyamu? Atau kau malu dengan ukuranmu?" Celoteh Arthur sambil memanyunkan bibirnya.


Tsuha langsung melihat ke arah Arthur. Tsuha menundukkan padangannya dengan wajahnya yang semerah tomat matang "Sialan! Tarik kembali ucapanmu" Ia langsung berdiri dan meremas botol air kemasan yang baru ia minum.


Arthur melihat ke arah lain dan menaikkan ke dua bahunya. "Kurasa itu benar~ Tsuha malu dengan miliknya sendiri~" Ejek Arthur yang semakin menjadi.


"Bruk!" Tsuha menjatuhkan ransel berisi obat-obatan dan bahan makan makanan di tanah. "Jangan mengejekku. Aku menolak semua itu karena aku tidak terbiasa mandi dengan orang-orang" Tsuha melepaskan tas pinggang Arthur yang ia kalungkan di bahu kirinya hingga ke dada.


"Disini, banyak sekali orang yang membencimu. Aku tak bisa bersantai sedikitpun bila melihatmu berada di luar ruangan" Tsuha melepas seragam markasnya yang basah dan membelakangi Arthur sambil mengambil pakaian kering dari sana.


Arthur melihat pinggang Tsuha yang ramping. "Wuuh~ Aku tidak pernah melihat seorang pria yang memiliki pinggang seramping kau Tsuha dan tubuhmu juga memiliki lekukan yang bagus. Latihan apa yang kau jalani?" Arthur keluar dari air dan memegang pingangnya sendiri.


"Latihan? Aku tidak melakukan latihan khus-" Tsuha membelalakan matanya saat melihat ke arah Arthur yang telanjang di belakangnya dan sibuk dengan pinggangnya sendiri.


Tsuha kembali melihat ke tas ransel itu dan ia mengulurkan tas pinggang Arthur.


"Terima kasih" Arthur mengambil tas pinggang itu dan mengambil kemejanya yang ia lipat di dalam.


"Aku tidak pernah melakukan latihan khusus. Mungkin ini sudah dari keluarga ayahku atau ibuku" Tsuha mengambil pakain kotor Arthur dan mencelupkannya ke sungai.


Arthur menaikkan salah satu alisnya. "Tapi jujur saja, bentuk tubuh yang seperti itu termasuk bentuk tubuh yang ku inginkan. Bentuk pinggang yang ramping itu, cocok dengan tinggi tubuhmu dan model wajahmu yang cantik itu Tsuha" Ujar Arthur sambil mengenakan celananya.


Mendengar hal itu, Tsuha merasa terejek. Ia hanya terdiam karena sudah sering sekali mendengar hal tersebut.


"Ini sebuah pujian. Wajahmu itu memang cantik, kurasa bulu matamu yang lentik dan pola dagumu itu yang membuat wajahmu bisa seperti itu" Lanjut Arthur.


"Terserah"


Ya, apapun itu Tsuha tidak peduli.