
Arthur duduk di halaman belakang markas. Ia menatap langit malam yang di penuhi bintang dan diikuti oleh sepoian angin malam yang lembut.
Kucing kecil itu tidur di atas pangkuan Arthur.
"Azuma kenapa kau kemari?"
Telinga kucing itu langsung bergerak dan melihat Ambareesh yang mengelus halus bulunya.
"Azuma katakan alasanmu" Arthur menurunkan anak kucing itu di sebelah tempat duduknya.
"PSSSSHHHHHH" Asap berwarna hijau terang keluar dari tubuh kucing itu.
"Saya menghadap Anda, Tuanku" Seorang laki-laki berambut gelap dengan potongan Taper cut, telinga yang runcing, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik, dan dua tanda segitiga hijau pada bawah garis matanya, serta terlihat anting dengan bandul teratai kecil di kedua telinganya.
Ia nampak seperti pria dewasa berusia 24 tahunan.
"Azuma kau terlihat tambah tua" Ucap Arthur sambil meregangkan kakinya dan menatap langit.
"Tentu saja Tuan. Usia saya hampir 900 tahun. Anda tidak jauh berbeda saat pertemuan terakhir kita" Jawab anak kucing itu yang berubah menjadi wujud elf.
Arthur melihat ke arah lain. Sorot mata Arthur terlihat kosong.
"Bagaimana dengan Aosora Arthur? Apa ada musuh yang mengincarnya?" Dia adalah sosok lain yang berada di tubuh Arthur.
"Sejauh ini, saya hanya merasakan beberapa energi asing yang kuat dan De luce Arnold"
"Ya, tidak perlu membicarakan bocah itu. Aku sudah paham. Energi asing apa yang kau rasakan?" Sosok itu masih memandang tempat gelap yang menarik perhatiannya.
"Energi asing yang pertama diketahui adalah milik seorang iblis yang selalu mengincar tubuh Anda, energi sihir yang kedua sulit saya deteksi karena sihir itu terasa seperti nyanyian yang terbawa angin, sihir yang ke tiga adalah milik kenalan Anda" Jelas Azuma.
"Kenalanku? Siapa?"
"Seorang gadis yang tengah menunggu Anda setelah kepergian Anda"
Mata Arthur langsung terbelalak. Ia langsung melihat ke arah Azuma di sebelah kirinya.
"Dia masih hidup?" Ia langsung bertanya kepada Azuma.
Azuma tersenyum melihat Arthur. "Dia menunggu Anda. Saya menantikan bangkitnya Anda" Ucap Azuma.
Kelopak mata Arthur menurun. "Aku tidak akan kembali padanya. Aku sudah tidak pantas menampakkan wajahku di hadapannya" Ucap Arthur sambil menatap langit.
"BWESSSSSH!"
Ha nashi tiba-tiba muncul di sebelah Arthur.
"Tuan Ha nashi. Bagaimana dengan pusaka itu? Apa cincinnya sudah boleh ku ambil?" Ia berbicara tanpa melihat Ha nashi yang baru muncul.
"Jangan dulu. Ini bukan waktu yang tepat. Ingatanmu masih belum matang sepenuhnya" Ha nashi memberikan sebuah surat kepada Arthur.
Ia menerimanya dan membaca surat berkertas yang sudah menguning.
"Ini surat dari Baginda Arnold sebelum pengangkatannya menjadi Putra mahkota. Ku harap, kau bisa membuka matamu dan memakluminya, Ambareesh"
"Dia telah dibesarkan tanpa mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Dia terlahir karena obsesi ayahnya terhadap darah titisan. Dia memiliki pandangan yang sangat berkebalikan dengan raja terdahulunya" Jelas lanjut Ha nashi.
"Lantas, kenapa dia membunuh hampir semua bangsa Elf dan seluruh keturunan yang memiliki darah Elf?" Ia melihat Ha nashi dengan wajahnya yanh tidak berekpresi dan dingin.
Ha nashi melihat ke arah Azuma yang mengalihkan pandangannya.
"Dia seperti itu karena kutukanmu dan dia ingin melindungi tatanan Akaiakuma tanpa membuat bangsanya melukai bangsa yang kau bebaskan" Jelas Ha nashi.
Arthur melirik ke arah Ha nashi.
"Tuan Ha nashi, bocah itu terlahir di keluarga yang tamak akan kekuasaan. Ia akan selalu seperti ayahnya dan budaya Akaiakuma akan tetap berjalan" Ucapnya.
"Membicarakan kutukanku yang menjadi nyata, itu seperti omong kosong. Aku bukan seorang Titisan yang bisa membuat sesuatu yang tak ada menjadi ada" Lanjut ucapnya sambil berdiri dan melihat wajah Ha nashi yang sedang melihatnya dengan raut khawatir.
Ia lebih tinggi.
"Ambareesh, kau tau. Aku menunggumu begitu lama. Banyak insiden yang telah terjadi dihadapanku. Aku berdiri disini hingga saat ini, karena kutukanmu. Ini adalah suatu hal yang baik untukku karena bisa melihat perkembangan zaman yang terus maju setiap waktunya. Ambareesh, beri aku waktu hingga Baginda Archie bersedia mengakui Baginda Raja Arnold sebagai ayahnya" Lanjut Ha nashi sambil memegang ke dua bahu Arthur.
Azuma menghela napas karena ia kehilangan perhatian Tuannya.
"Hei gagak. Kau membuat Tuanku berfikir terlalu dalam. Mendingan, urus saja masalah Akaiakuma. Tuanku harus istirahat. Wush" Azuma kembali ke wujud kucingnya dan melompat ke bahu kiri Arthur.
Arthur mengangkat Azuma dan melihat matanya.
"Azuma, berubahlah menjadi sesuatu yang bukan kucing. Aku tidak menyukai hewan itu" Ia meminta Azuma untuk mengubah wujudnya.
"Anda suka hewan apa?"
"Apapun, asal bukan kucing" Jawabnya.
"BLARRRRR!!!!" Ha nashi berubah menjadi gagak putih dan bertengger pada bahu kanan Arthur.
"Dah, kalau tidak bisa berubah menjadi sesuatu selain kucing, mending kembali saja ke hutan" Sindir Ha nashi.
"WUSSSHHHH" Azuma berubah menjadi anak bebek.
"Apa Tuan gagak ini hanya bisa berubah warna saja tanpa bisa mengubah wujud Kwek" Balas Azuma dengan suara khas bebek.
"Kalian berdua sudah tua dan jangan bertengkar seperti bocah kecil. Malu sama usia kalian" Ucap Arthur sambil berjalan masuk ke dalam Markas.
Keduanya langsung diam tidak berkutik.
Di dalam kamar Arthur melihat Tsuha yang baru keluar dari kamar mandi.
Ia melihat tubuh Tsuha yang telanjang dada dari atas hingga ke bawah.
"Hah? Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tsuha langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Wajahmu dengan tubuhmu tidak cocok sama sekali" Tubuh Tsuha sudah membentuk seperti seorang pria yang rajin berolahraga.
Tsuha langsung memakai pakaiannya karena risih dengan ucapan Arthur.
"Kenapa tidak cocok?" Tsuha langsung duduk di atas kasurnya sambil mengeringkan rambutnya.
" Itu karena kau berwajah cantik" Jawab Arthur sambil tiduran membelakangi Tsuha dan meletakkan Ha nashi yang berubah menjadi gagak dan Azuma di sebelah bantalnya.
Tsuha membelalakan matanya.
"Kau mengejekku?"
"Bukan. Itu adalah sebuah pujian. Kalau kau perempuan, aku tidak akan rugi untuk melindungimu sebagai pasanganku" Ucap Arthur yang membelakangi Tsuha.
Sekujur tubuh Tsuha bergidik ngeri.
"Untung aku laki-laki" Ucap Tsuha sambil tiduran.
"Ya, aku juga tidak masalah memiliki pasangan laki-laki. Aku tidak pernah memperdulikan gender" Jawab Arthur.
Tsuha sangat terkejut begitupun dengan Ha nashi dan Azuma.
"Sialan! Kau sudah mulai gila Pangeran!" Tegas Tsuha yang semakin merinding.
Arthur mengidipkan matanya untuk tidur.
"Gila? Darimananya? Bukankah pasangan dalam tim itu memang tidak memperhatikan gender dalam bertarung?" Tanya Arthur sambil melihat Azuma dan Ha nashi.
Ha nashi dan Azuma saling melihat. Mereka membatin hal yang sama, "Ah, pasangan yang dimaksud adalah partner tim".
Ha nashi menepuk kepala Arthur dengan sayapnya secara pelan. "Kau mengatakan sesuatu yang ambigu Ambareesh" Singkat Ha nashi.