
Marsyal mengangkat tangan kanannya.
"Kapten Penyidik. Silahkan berbicara" Hakim itu melihat Masyal dan langsung mengizinkannya.
Masyal berdiri.
"Bukankah dengan isi surat kedua tersebut secara tak langsung mengatakan kalau De luce Archie tidak bersalah dan Pangeran Aosoralah yang bersalah ?" Tanya Marsyal.
Itu adalah pernyataan yang benar.
"Pangeran Aosora bisakah Anda menjelaskannya ?" Hakim melempar pertanyaan tersebut pada Arthur.
Archie berdiri.
"Arthur tidak sadarkan diri. Izinkan Saya yang mengatakannya"
Mata merah Archie menatap mata hakim itu.
"Arthur tidak sadar setelah Aku bangkit dan Aku sendiri tidak sadar setelah membunuh pembunuh Orang tua Arthur. Dan apakah Aku boleh mengatakan kalau Kalian harus menyelidik Pria disana itu ?" Archie menunjuk Barron.
Semua mata tertuju pada Barron.
"Arthur sendiri bercerita padaku kalau, Dia tidak tau apa yang terjadi setelah berhadapan dengan pembunuh itu. Yang Arthur ingat pembunuh itu memiliki luka sayatan di pipi kanannya kemudian, Dia memiliki bau seperti siluman dan pria itu, memiliki sorot mata yang kosong seperti mayat. Aku sendiri melihatnya saat Aku melawan Orang itu. Dan, Pria didepan sana, datang setelah Aku membunuh pria itu. Pria itu bersujud dihadapanku saat Aku berniat membunuhnya. Aku serasa disedot dan Aku sadar telah berada dipenjara bawah tanah itu" Jelas Archie yang masih melihat Barron.
Barron menyangkalnya.
"Itu memang benar ! Aku meminta maaf dan bersujud pada Arthur karena terlambat menolong Kalian. Arthur pasti menyadarinya. Lagi pula ! Untuk apa Aku membunuh Kakak tiriku ?" Tanya Barron.
"Lalu, Kenapa Kau mengurung Arthur dipenjara itu dan Kau tertawa dibalik pintu ?!" Tanya Tegas Archie.
"!!"
Barron tak bisa menjawabnya dan Ia hanya membelalakan matanya.
Tangan Archie sedikit gemetar.
Ia menahan rasa takutnya dan Ia juga Khawatir pada Arthur yang sadarkan diri.
Dua ketua Guild penyidik dari Shinrin dan Aosora menangkat tangannya bersamaan.
"Nona Angel, Anda dipersilahkan untuk berbicara"
Angel adalah Ketua Guild penyidik dari kerajaan Aosora dan Ia sangat bertanggung jawab pada pencarian serta penyelidikan insiden ini.
Angel mengeluarkan kertas miliknya.
"Saya Angel Ketua dari Guild Penyidik Aosora. mendapatkan beberapa hal unik dari guild Penelitian yang meneliti darah pada mayat Raja dan Ratu Aosora. Didalam darah mereka terdapat racun yang mematikan dan racun tersebut membuat luka yang berdarah tidak bisa berhenti dan kering akan terus mengalir. Kemudian, racun itu, Kami Tim Penyidik menemukannya pada mana yang tersisa pada jasad yang terpenggal ditubuh seseorang yang merupakan sosok guru untuk Aosora Bryan" Jelas Angel.
*Aosora Bryan adalah anak dari Aosora Barron.
Linus melihat kearah Barron.
"Dia memang Guru anakku"
"Kemudian, secara logis De luce Archie muncul setelah. Setelah, Kematian Raja dan Ratu Aosora" Angel memberi tanda kutip di kata setelah.
"Itu adalah pengungkapan dari Aosora Barron. Saya harap Anda memberikan keputusan yang seadil-adilnya. Sekian " Tutup Angel.
Angel kembali duduk ditempat duduknya dan tersenyum pada Archie.
Archie sangat berterima kasih pada Angel kemudian Ia sedikit membungkukkan badannya.
Kemudian Hakim mempersilahkan Marsyal kembali berbicara.
Marsyal berdiri.
"Yang ingin saya katakan sama seperti Nona Angel dan Saya memiliki beberapa tambahan mengenai aura jasad itu. Jasad itu, adalah jasad yang telah dirasuki oleh jiwa lain. Kenapa Saya tau ? Saya telah memeriksanya sendiri dan mana tersisa itu, adalah berbeda dari mananya sendiri. Setelah Saya selidiki. Pembunuh itu adalah salah satu Prajurit Shinrin yang menghilang diperbatasan Nekoma lima belas tahun yang lalu. Tak!" Marsyal mengeluarkan dokumen pembunuh itu.
Dia memang salah satu Prajurit Shinrin yang menghilang saat bertugas diperbatasan.
"Marsyal, benar-benar hebat. Padahal dia menyelidiki belum ada 24 jam dan bisa menemukan informasi sebanyak itu. Jadi, itu alasannya kenapa Guild Penyidik Shinrin adalah Guild terbaik di negri ini ?" Batin Nel yang memuji kehebatan Marsyal dalam menyelidiki suatu hal dan Marsyal selalu menemukan titik terang dari semua peristiwa yang sulit dipahami oleh nalar.
Angel memberikan beberapa bukti yang Ia temukan pada Marsyal untuk menyalurkannya juga pada Hakim.
Marsyal maju dan memberi dokumen itu pada Hakim.
Hakim sendiri, tidak percaya akan hal ini.
"Jadi maksud Anda, ada Jiwa lain yang menyusup didalam tubuh orang ? Sama seperti Pangeran Aosora ?" Tanya Hakim itu yang memberikannya juga pada Raja-raja yang hadir untuk melihatnya.
"Singkatnya begitu. dan semua ini, ada campur tangan dari titisan" Jawab Marsyal sambil memegang tengkuknya yang tertutupi oleh rambut hitamnya dengan tangan kanannya.
Nel dan Archie membelalakan matanya.
"Kenapa, Anda bisa berkata seperti itu ?" Tanya Hakim pada Marsyal.
"Tubuh seorang Titisan bisa dijadikan sebagai wadah dan Jiwa seorang titisan bisa menyusup ditubuh orang lain dengan mudah. Diluar itu, ada sosok yang tingkatnya lebih dari seorang titisan yang melakukannya" Jelas singkat Marsyal dihadapan semua orang.
Linus berdiri.
"Apa Maksud mu Antara Arthur dan Archie adalah seorang Titisan ?" Linus memang sempat memikirkannya akhir-akhir ini.
"Aku/Dia bukanlah seorang Titisan !" Archie dan Nel mengatakannya dengan tegas bersamaan.
Keduanya saling pandang.
"Ck!" Nel langsung mengalihkan pandangannya.
Archie masih melihat Nel.
Marsyal tersenyum.
"Hanya itu saja yang Saya ketahui. Untuk selanjutnya, mohon bantuan An.." Marsyal belum usai berbicara.
Hakim itu berdiri.
"Kapten Marsyal. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang Titisan selain itu" Pinta Hakim itu.
Marsyal melihat sekelilingnya yang juga penasaran.
"Maafkan Saya. Itu sudah diluar dari tugas Saya disini" Jawab Marsyal.
Marsyal sengaja mengatakan hal tersebut.
"Maafkan Saya. Saya sangat tertarik pada sosok yang disebut-sebut sebagai sosok Titisan" Hakim itu kembali duduk dan merapikan pakaiannya.
"Anda, dipersilahkan untuk duduk. Selanjutnya, Istirahat setengah jam. Kami akan melakukan penilaian pada keputusan Akhir. TOK! TOK! TOK!" Palu dibunyikan sebanyak tiga kali untuk mengakhirinya.
Archie masih belum bisa bernapas dengan lega.
Ia dibawa kembali ke sel khusus tersebut.
"Ha....." Archie menghela napas cukup panjang.
"Arthur. Apa Kau masih belum sadarkan diri ? Siapa Kau sebenarnya ?" Archie bertanya lirih pada Arthur dan menekuk lututnya.
"Aku adalah Aosora Arthur. Aku tidak ada hubungannya dengan para Titisan. Aku tak pernah sedikitpun mendekati para Titisan karena dilarang oleh Orang tuaku" Jelas Arthur.
Archie membelalakan matanya dan sedikit lega mendengar suara Arthur.
"Astaga ! Kau benar-benar membuatku khawatir bocah !" Tegas Archie dan mengosok dadanya.
"Maaf, membuatmu khawatir. Apa kepalaku baik-baik saja ? Apa itu mengeluarkan tanduk ?" Nada bicara Arthur terdengar lemas ditelinga Archie.
Archie memegang satu tanduk itu.
"Iya, Ada satu tanduk yang tumbuh dikepalamu"
"Apa itu tandukmu ?"
Archie merasa tidak enak pada Arthur.
"Iya, ini tandukku" Archie berbohong pada Arthur.
Bentuk tanduk Archie tidak seperti itu, Ia memiliki dua tanduk yang melintang dan mengarah hingga kealisnya.
"Ah, Syukurlah.... barusan Aku bermimpi menyeramkan ada sosok seperti diriku yang berdiri dihadapanku dengan satu tanduk. Dia membunuh seorang Iblis berambut hitam dan bermata merah dengan sangat sadis. Dia memisahkan setiap bagian tubuhnya. Dari jarinya, kedua kaki dan kedua tangannya kemudian, lehernya. Dan Dia bertanya padaku, Apa Aku sudah menikmati semuanya ? Dia benar-benar gila. Aku bersyukur karena itu hanya mimpi. Itu, terlalu nyata"
Archie menutup rapat mulutnya.
"Arthur, apa alasan orang tuamu melarangmu mendekati para titisan ?" Tanya Archie yang serius pada Arthur.
Archie memasang raut wajah datar saat bertanya hal itu. Archie sendiri, mengkhawatirkan sesuatu yang baru terpikirkan karena ucapan Marsyal.
Yang Archie takutkan adalah, Alex bisa saja membuat sebuah perjanjian terlarang dengan salah satu Titisan untuk menyelamatkan jiwanya.
"Ibuku berkata, Para Titisan adalah sosok yang mulia dan disekitar mereka hanya akan ada pertempuran yang tak akan usai begitu saja. Ibuku tak ingin Aku terlibat akan hal itu"
"Iya! Aku tau ! Tapi, Apa alasannya ?!" Tegas Archie pada Arthur sambil berdiri.
"Ah.... Aku sendiri tidak tau !!!! Mereka melarangku dan Aku hanya menuruti ucapan Mereka karena Aku tak ingin membuat orang tuaku khawatir !!!" Tegas Arthur.
Archie terdiam setelah mendengarkan ucapan Arthur itu.
"Apa itu ada hubungannya dengan tanda didadamu ini ? Kau tau kan, Ini bukan hanya sebuah tanda biasa ?" Archie melirik ke dada kirinya.
Arthur sudah pernah menjelaskannya sekali. Tapi, menurut Archie, alasan itu seperti dibuat-buat.
Kalau ini adalah sebuah kutukan, yang pasti Arthur akan merasakan kesakitan tiap harinya. Tapi, Arthur tak pernah merasa tersiksa karena tanda ini"
"Ayahku berkata kalau itu adalah tanda lahirku. Ini sudah ada sejak Aku terlahir. Kemudian, imun tubuhku sangat lemah saat bayi karena tanda ini menyerap mana milik orang tuaku dan Aku hampir mati karena tanda terkutuk ini. Kemudian, ada sosok baik hati yang membantu orang tuaku untuk meringankan rasa sakitku. Mereka tidak menjelaskan secara pasti bagaimana wujud orang baik itu tapi, katanya orang itu sedang tidur panjang dan akan terbangun setelah 17 tahun berlalu. Saat Dia terbangun, Aku akan mencarinya dan mengucapkan terima kasih yang sangat banyak padanya" Jelas Arthur.
"Apa Kau yakin, orang itu bukan Titisan ? tidur panjang selama 17 tahun, Apa Dia orang gila ?" Tanya Archie.