
Setelah makan siang, Mereka kembali ke tempat Marsyal setelah empat jam mereka memulai misi pertama.
Dan, Arthur membawa kucing itu dengan memasukkannya kedalam tas yang awalnya berisi suar dan makanan kering. Kemudian Ia gendong didepan dadanya.
Orang orang yang melihat Arthur dengan tanduk iblis seperti itu, langsung berlari kerumah mereka dan menutup pintu rapat-rapat.
Arthur mengabaikan orang-orang seperti mereka dan malah mendekat kearah rumah mereka secara sengaja.
"Dia sengajakan?" Tanya Nao sambil menunjuk Arthur dengan ibu jarinya.
"Dia memang punya sifat jahil pada orang yang menghindarinya" Jawab Tsuha.
"Kau gak mau menjadi sepertinya?"
"Ogah! Karakterku gak cocok seperti itu. Lagian, menjadi diri sendiri itu lebih baik dari pada berusaha menjadi diri yang diinginkan oleh orang lain. Aku tidak suka berpura-pura" Jawab Tsuha.
Nao mengangguk-angguk.
Mereka bertiga sampai di tempat Marsyal.
Mereka menjelaskan tentang Cerberus.
Nao menjelaskan ciri-ciri cerberus berkepala tiga itu dan Ia berkata kalau yang menjumpainya pertama dulu adalah Arthur.
"Kami sangat panik. Dan Kami berlari kearah Danau lalu, Kami berenang untuk menyelamatkan diri dari cerberus itu" Ujar Nao.
"Lalu, Pangeran Arthur, Bagaimana menurutmu?" Tanya Marsyal sambil menuliskan hasil misi mereka.
Arthur membuka tas yang Ia bawa dan keluarkan kucing itu.
"Karena Kami kabur, Kami kehilangan jejaknya. Dan, Kami menemukan kucing hitam ini. Boleh kan Saya merawatnya? Di markas juga ada tiga hewan sihir. Saya berjanji akan merawatnya dengan baik"
Kucing itu, melihat Marsyal yang membelalakan matanya dan Kucing itu kembali masuk kedalam tas itu.
"An...Anda yakin kalau ini hanya seekor anak kucing?" Marsyal tau dan Ia mengeluarkan anak kucing itu yang meronta untuk di turunkan.
"Tentu saja tidak. Dia adalah hewan sihir" Jawab Arthur dengan santainya sambil menunjuk segitiga dibawah mata kucing itu.
"Hewan sihir? Apa Kau suka disebut hewan sihir oleh Pangeran Aosora, Kucing kecil?" Tanya Marsyal sambil mendekatkan kucing itu diwajahnya.
"Hufff.." Kucing itu mengendus bau Marsyal.
Mata hijau kucing itu terlihat bergetar kemudian menurunkan pandangannya dan tak berani menatap ataupun menjilat Marsyal.
"Ya! Sebenarnya tak masalah. Tapi sebelum itu, Aku akan membawa kucing ini ditempatku selama beberapa hari untuk pemeriksaan aman atau tidaknya kucing kecil ini untuk Anda pangeran" Ucap Marsyal sambil mengelus kepala kucing itu.
"Purrr" Kucing itu dengan samar terdengar mendengkur.
"Baik" Jawab Arthur.
"Lalu, Bagaimana denganmu, Tsuha?"
"Laporan Kami sama. Hanya saja, kucing itu terlihat mencurigakan. Saya pikir, kucing itu memiliki hubungan dengan cerberus itu. Aroma dari mananya terasa hampir sama" Jawab Tsuha.
"!!" Kucing itu tersentak dan langsung "GRRRRR" Mengerang pada Tsuha.
"Lihatkan, Dia paham dengan bahasaku" Jawab Tsuha sambil menunjuk kucing tersebut.
Kucing itu melihat ke Arthur kemudian menguap.
"Ahahaha,.... Itu karena Dia hewan sihir. Semua hewan sihir dihutan itu yang memiliki tanda segitiga hijau dibawah matanya, mengerti bahasa Kita" Jelas Marsyal.
Mendengar ucapan Marsyal, Nao kembali menyeringai dan Tsuha melihat seringaian Nao. Nao langsung berhenti menyeringai.
"Baiklah, Apa ada yang ingin Kalian sampaikan lagi?"
"Kami minta upah" Ucap Nao blak-blakan pada Marsyal sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Eh?!" Arthur dan Tsuha langsung melihat ke Nao dan mereka, malu atas ucapan Nao.
"Tentu saja, Kalian akan mendapatkannya. Sesuai upah minimum dikebijakan Markas penyidik untuk pemula, kalian mendapatkan masing-masing 30 koin perak" Marsyal memberi sekatong koin pada Nao untuk dibagi.
"Hehe... Terima kasih Kapten. Kami pamit ya" Nao melempar-lempar kantung koin itu sambil mengalungkan lengannya dibahu Arthur dan Tsuha.
"Tsuha, Kau tetap disini. Latihanmu belum selesaikan?" Tanya Marsyal.
"Eh, benar juga. Saya ingin diajari sesuatu sihir yang bisa digunakan untuk berpindah tempat. Apa, Anda bisa membantu Saya Kapten?" Tsuha melepaskan diri dari Nao.
Nao dan Arthur melihat kearah Tsuha dan mereka berdua ingin melihat Tsuha berlatih.
"Tentu saja. Selagi Aku bisa membantumu, kenapa tidak? Istirahatlah setengah jam dan segera kembali kemari setelah mengganti pakaianmu yang basah"
Arthur dan Nao disuruh pergi oleh Marsyal.
Mereka tak tau kenapa Marsyal melarang Mereka melihat Tsuha berlatih.
Akhirnya, Mereka berdua pergi ke sebuah tempat makan untuk merayakan keberhasilan misi pertama mereka walau hanya berdua.
Saat masuk kedalam tempat makan itu, meja disana tak memiliki sebuah kursi dan hanya beralaskan kayu yang tertata rapi.
"Kita makan disini?" Arthur merasa ini bukan tempat untuk makan.
Ia melihat orang-orang disekitarnya yang makan tanpa aturan dan menggunakan tangannya.
Air bir, berceceran dimana-mana dan aroma keringat tercium sangat menyengat.
"Duduklah. Ini tidak terlalu buruk kok" Nao meyakinkan Arthur kalau ini adalah tempat yang terbaik.
"Semua orang disini, adalah pasukan dari Guild penyidik. Mereka tidak akan mencelakaimu. Ini adalah tempat yang direkomendasikan oleh Kapten Marsyal"
Karena mendengar nama Marsyal, Arthur langsung mempercayainya dan duduk dilantai kayu itu.
"Duduklah senyaman mungkin. Apa Kau mau minum-minum seperti mereka?" Nao mengangkat jari kelingkingnya.
Arthur mengeleng.
"Aku masih belum cukup umur. Kau saja yang minum" Ucap Arthur sambil melihat menu makanan digulungan kertas didepannya itu.
"Hfff...., Ya gak seru kalau gitu" Iirih Nao.
Melihat harga makanan di gulungan itu, Arthur sangat tidak mempercayainya.
Mayoritas, harga makanan ditempat ini adalah seharga lima hingga sepuluh koin perak dan minumannya dibawah lima perak.
Arthur menatap Nao dengan wajah tak percaya.
"Serius, harganya segini?"
"Ya, ada harga tentu saja ada kualitasnya. Mungkin, makanan disini, tak seenak makanan mewah yang sering Kau makan dikerajaan Aosora. Masih mau makan disini?" Tanya Nao.
Arthur mengangguk.
"Tentu saja. Aku ingin mencoba rasa gaji pertamaku setelah perjuanganku" Lirih Arthur pada Nao.
"Hahaha" Nao tertawa setelah mendengar ucapan Arthur.
"Tentu saja. Rasa hasil kerja keras Kita akan terasa lebih enak bila dibandingkan dengan hasil meminta pada Orang lain. Saat itu terjadi, Kau benar-benar akan belajar bagaimana cara menghargai satu keping perak yang sangat berharga" Ucap Nao sambil tersenyum pada Arthur dan menjepit kembali poninya yang menutup matanya itu.
Arthur termotivasi dengan ucapan Nao.
Ia menyadari sesuatu, Hanya demi sebuah koin perak, banyak sekali orang yang tumbang dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Itu semua, demi kelangsungan hidup mereka.
"Apa Kak Ram juga mengalami hal yang sama denganku? Aku harap Kak Ram masih hidup. Aku ingin bertemu dengannya"
Nao menuliskan makanan yang ingin Ia dan Arthur pesan kemudian, memberikannya pada pelayan makanan.
...****************...
"TRAAAASHHHH!!!!! CRAT!"
Darah Iblis, menguyur rambut birunya yang selaras dengan warna langit siang hari.
Ia mulai melucuti pakaian prajurit iblis itu yang sedang berpatroli seorang diri.
Enam belas koin emas, berhasil Ia dapatkan dari seorang Prajurit Iblis yang telah Ia bunuh dengan pedang mananya yang berwarna biru.
Matanya yang sebiru langit menatap koin emas yang Ia dapatkan.
"Semoga, Sang Cahaya mengampuni dosaku dan dosamu. Akan ku anggap emas ini sebagai amalmu"
Dia, adalah Aosora Bram yang dikabarkan telah mati dibunuh oleh Arthur dan Dia juga adalah Putra Mahkota Aosora yang sedang dicari oleh empat kerajaan.
Aosora Bram, berada jauh di ujung sebelah barat Kerajaan Akaiakuma dan ia harus terus berjalan ketimur untuk kembali ke Kerajaan Aosora.
Bram melihat langit yang dipenuhi dengan awan mendung.
"Semoga Arthur masih bisa bertahan di Aosora. Tunggu Aku, Aku akan segera menjemputmu"
Dari ingatan yang di ingat oleh Bram, Ia diselamatkan oleh Arthur yang membuatnya berpindah tempat dikerajaan Heraklesh. Kerajaan para siluman berada dan Kerajaan ini berada disebelah Barat laut Kerajaan Akaiakuma.
Bram sudah berusaha mati-matian untuk kembali Ke Aosora dalam kondisi perut yang masih terluka.
**Akankah takdir mempertemukan Mereka ?
Bukankah, memindahkan orang lain disebuah tempat harus pernah dikunjungi oleh pengguna sihir itu?
Jangan-jangan Arthur, pernah berkunjung ke Kerajaan Heraklesh? Atau semua itu kerjaan Archie?
Tapi, Archie pernah berkata Kalau Ia tak tau dengan Bram.
Tunggu kelanjutannya di Chapter berikutnya ya teman-teman....
Tetep semangat bacanya** :>