The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Luciel



"Dahulu kala, sebelum turunnya para Titisan, ada 13 Malaikat Agung yang menjaga Langit dan menjaga serpihan cahaya dari tujuh Titisan yang ada.


Setiap serpihan cahaya itu, memiliki warna yang berbeda berbeda antaranya, Merah yang terbagi menjadi dua, Hijau, kuning, putih tulang, Biru, serta warna ungu.


Diantara Tiga belas Malaikat Agung itu, ada satu sosok Malaikat yang memiliki drajat tertinggi diantara mereka. Nama Malaikat Agung itu adalah, Luciel.


Sosok Malaikat berambut putih, bulu mata yang lentik dan bersayap yang membentang lebih besar dari tubuhnya.


Luciel, memiliki bola mata yang unik dan berbeda dari Malaikat Agung yang lainnya.


Bola mata kanannya berwarna kuning dengan pupil hijau dan bola mata kirinya berwarna biru dengan pupil merah. Ia bertugas melindungi, menjaga cahaya tititsan itu dan Menjaga ketatan Negri Arden.


Luciel, memiliki seorang murid bernama Charael yang ia anggap sebagai adiknya sendiri dan memiliki bola mata yang sama dengannya namun, tidak dengan pupil matanya yang hanya berwarna kuning dan biru"


"HOAAAMMMM......" Tsuha menguap karena mendengar cerita khayalan dari Arthur saat perjalanan menuju Guild Pemberantas Iblis.


"Tsuha! Kenapa Kau menguap! Dengarkanlah ceritaku ini"


Archie dan Arthur kembali bertukar tempat untuk sementara waktu setelah Archie berusaha mati-matian mengurang hawa keberadaannya yang tidak akan bisa bertahan lebih dari 30 menit.


"Itu adalah dongeng orang dulu untuk menidurkan anak-anak mereka. Kau percaya sekali dengan dongeng itu"


Arthur mengkernyitkan keningnya.


"Gini nih ! Kalo punya temen kek bocah macam Tsuha yang diingatkan tentang kejadian masa lampau dan berkata kalau kejadian itu hanya sebuah dongeng belaka. Benar-benar, Ck!"


Tsuha membetulkan cara duduk ya dan menunjuk Arthur.


"Aku lebih tua darimu, Kau tak pantas memanggilku bocah. Dan, Aku bukan temanmu, Pangeran!"


"Mau tidak mau, Kau harus berteman denganku. Kita akan seperti ini" Arthur mengikatkan kedua jari telunjuknya didepan mata Tsuha.


"Selamanya" Lanjut Arthur.


"Cih! Menjadi temanmu adalah sebuah azab untukku. Dasar menyusahkan!"


Nel menghela napas disebelah mereka berdua dan Ia hanya pasrah mendengarkan ocehan dua anggota barunya itu.


BREB!!


"Berisik! Dasar bocah-bocah bacot!"


Archie tak tahan mendengar ocehan Arthur dan Tsuha langsung bertukar tubuh dan ditinggal tidur oleh Archie.


"Ck!" Tsuha langsung kembali bersandar dikayu pembatas agar tidak terjatuh.


Hampir empat jam berada dikereta kuda akhirnya, mereka bertiga sampai di guild pemberantas Iblis.


Archie melihat rumah Guild itu yang terlihat sangat tidak terawat.


Itu layaknya dijadikan sebuah gudang.


Archie membawa barang bawaannya bersama Tsuha.


"Archie..... Ayo bertukar tubuh" Arthur merengek karena Archie tidak mendengarkan ucapanny itu.


"Kau diamlah Arthur. Kau sudah seperti nyamuk!" Archie menendang tas yang dibawa oleh Tsuha karena kesal pada Arthur.


Tsuha langsung melihat kearah Archie dan menarik tasnya yang terjatuh.


"Hah,..." Lagi-lagi Nel menghela napas.


Tsuha mengenakan tasnya dipungungnya dan membantu Kaptennya itu yang menggeluarkan barangnya dari gerobak kuda. Sedangkan Archie, Dia sedang berdiri melihat rumah Guild itu yang harusnya direnovasi ulang.


Tsuha dan Nel mengeluarkan semua barang yang nel bawa.


"Wezzzzttttthhhhh!!!!!" Hawa kehadiran Iblis dirasakan oleh mereka bertiga dan Arthur juga merasakannya.


Mereka dengan bersamaan langsung melihat kearah semak-semak.


"Kusir, ini upahnya. Terima kasih karena telah memgantarkan kami dengan selamat" Nel memberi satu koin emas pada kusir itu.


Satu koin emas sama dengan 250 koin perak.


Kusir itu terkejut melihat koin emas itu.


"Nak, apa tidak ada 25 koin perak ? Aku tidak memiliki kembalian sebanyak ini" Ujar kusir itu sambil melihat Nel dan memberikannya kembali emas itu.


Nel memegang tangan kanan kusir itu agar tidak mengembalikan koin emas tersebut.


"Sisanya bisa digunakan untuk membeli gerobak kuda yang baru. Selamat jalan" Ucap Nel.


Mata kusir itu langsung berkaca-kaca.


"Cih!" Archie memutar bola matanya dan langsung berjalan kearah semak itu.


"Tep!" Tsuha memegang lengan kiri Archie didepannya.


Archie langsung melihat ke Tsuha tanpa banyak bicara.


"Tunggulah Kapten. Jangan bertindak sendirian. Kita adalah tim" ucap Tsuha.


"HEH!!!! Sialan !!! Katanya Dia tidak mau berteman denganku ?!....."


"Arthur bertanya padamu, Katanya Kau tidak mau berteman dengannya ? Lalu, apa ini ? Kita... Tim ?" Archie bertanya pada Tsuha dan memberi ekspresi mengejek.


"CK!"


Tsuha langsung melepas tangannya yang memegang lengan Arthur.


"Aku memang bukan teman Pangeran itu. Tapi, ini karena Kau Iblis, adalah rekanku" Jawab Tsuha dengan lirih.


"Hah?! Dia mengakuimu sebagai rekan tapi tidak denganku pemilik tubuh ini ?!"


"Bukan karena apa. Aku hanya takut kalau Kau memiliki hubungan dengan Iblis disana. Oleh karena itu, tunggulah perintah dari Kapten"


Archie mengangkat kedua tangannya sesiku.


"Menyebalkan..... Keburu hilang Iblisnya"


Archie tak terbiasa bekerja dibawah perintah seseorang kecuali Alex. (T_T)


Kusir itu pergi dan melambaikan tangannya pada Nel.


Tangan kanan Nel telah bersiap memegang pegangan pedang besi yang masih berada pada sarung pedangnya.


Hawa Iblis itu masih terasa.


Nel membalik badannya dan melihat dua anggota barunya yang telah menunggunya.


"Cklak!"


Nel mengangkat sedikit pegangan pedang besinya itu.


"Wosh!"


Ia melesat dengan cepat.


Archie dan Tsuha melihatnya.


"Trasshhhhhhh"


Pedang besinya yang tipis dan tajam, langsung menebas semak itu hingga terpotong dengan cepat.


"Wosh!!!" Kelibatan bayangan terlihat saat Nel menebaskan pedangnya itu dengan cepat.


Nel melihat rambut putih panjang yang ikutan tertebas disana.


Dimata Archie dan Tsuha, mereka tidak melihat apa-apa disana.


"Nggak ada Iblisnya ?" Tanya Archie.


Nel berdiri dan melihat Hutan sihir didepannya itu. Dan, dari kejauhan Ia melihat dua sosok berdiri diperbatasan hutan itu.


Nel tersenyum dan melihat ke Archie.


"Mungkin, Dia sudah kabur" Jawabnya.


"Kapten, apa Kita perlu mengejarnya ? Kalau hanya disekitar sini, Kita pasti bisa menemukannya. Mereka tidak akan bisa menggunakan sihirnya dihutan sihirkan ?" Tanya Tsuha disamping Archie.


Nel berjalan kearah mereka dan memasukkan pedangnya kembali ditempatnya itu.


"Mereka tidak berbahaya. Hawa tadi, sengaja mereka keluarkan untuk memancing Archie" Jawab Nel yang terus berjalan hingga sampai didepan pintu markasnya itu.


Archie dan Tsuha saling melihat.


"Bagaimana Kau bisa tau ? Apa Kau mengenal Iblis itu ?" Tanya Archie.


"Kau adalah Raja Akaiakuma ke XI. Dia pasti berasal dari kerajaan itu untuk menjemputmu. Kabar mengenai Pangeran Arthur yang menjadi wadah seorang Iblis telah sampai hingga ke telinga Negri sebelah, Negri Dawn. Intinya, Iblis itu tidak akan macam-macam bila Kau ada ditanganku. Mari masuklah" jelas Nel sambil membuka pintu markas Guildnya itu.


...****************...


Di perbatasan Hutan sihir.....


Jantung Mizel dan Ha Nashi bermaraton.


"Baginda, lain kali, dengarkan ucapan saya...." Ha Nashi berkata dengan suara yang lemas.


Mizel membungkuk dan ngos-ngosan. kemudian Ia melihat Ha Nashi.


"Tuan Ha Nashi!! Rambutmu!!!" Mizel panik melihat Ha Nashi dengan rambut pendek dan potongan srigala.


Rambut Ha Nashi yang panjang, terpotong oleh pedang tipis milik Nel.


Ha Nashi baru sadar dan Ia membelalakan matanya.


"Ah..... Tuan Ha Nashi.... Tolong maafkan Aku!!!!" Mizel berulang kali membungkuk dihadapan Ha Nashi.


Ha Nashi tersenyum dan memegang kedua bahu Mizel.


"Baginda, Jangan begini. Anda harus menjaga martabat Anda. Rambut Saya masih bisa tumbuh. Dan dengan begini, bukankah Anda tau kalau Kakak Anda akan aman bersamanya?" Tanya Ha Nashi.


Mizel langsung berdiri dengan tegak.


"Itu tidak benar! Apa Dia tau kalau Kau menjadi hakim di Shinrin?" Tanya Mizel yang menolak kalau keberadaan Archie di Pemberantas Iblis sangatlah berbahaya.


"Saya rasa, Beliau tau. Hanya saja, Beliau pura-pura tidak tau termasuk keberadaan Anda yang selalu disekitar Saya berada"


Mizel langsung membelalakan matanya dan melihat markas itu.


"Ini bisa gawat. Aku, takut Dia membalas dendam pada Kakak. Dan di markas itu, ada orang yang sepertinya. Apa semua itu, rencananya?" Tanya Mizel sambil melihat ke Ha Nashi.


"Apa maksud Anda?" Ha Nashi tak paham maksud dari ucapan Mizel.


Mizel memberi tatapan serius kearah markas itu.


"Ada sosok iblis lain disana. Dari segi auranya yang samar-samar terasa, sepertinya Dia Iblis masa lampau yang kembali dibangkitkan oleh seseorang sama seperti ayah dan kakak"


Ha Nashi membelalakan matanya.


"Ku harap, Kakak aman disana"