The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
TAKDIR bagian 1



Nox kembali ke Markas Pemberantas Iblis sambil membopong Arthur.


Arthur pingsan setelah perbincangan rahasia itu.


"Guru, Apa yang sedang terjadi dengan Pangeran Aosora?"


Razel mengkhawatirkan Arthur.


"Dia hanya kecapekan. Dan, Kami tak sengaja bertemu dijalan"


Kenapa Nox berbohong? Apa yang sebenarnya Mereka bicarakan?


"Kapan Pangeran Arthur bisa kembali Ke Aosora?"


Apa perbincangan rahasia mereka memiliki hubungan dengan pertanyaan Nox barusan?


"Tiga minggu lagi, saat sidang penutupan pencarian Putra Mahkota Aosora Bram. Pangeran Aosora Arthur akan kembali ke Aosora untuk menjadi penganti Putra Mahkota Bram"


"Tiga minggu lagi? Kenapa tidak minggu depan saja? Saat usia Pangeran Arthur tepat 17 tahun?"


"Itu adalah keputusan empat Kerajaan. Saya tidak bisa mengubahnya"


Nox terdiam, Ia tak bisa berkutik mendengar keputusan itu.


"Apa ini ada hubungan dengan ucapan anda waktu itu?"


Itu memang benar. Namun, Nox tak bisa mengatakannya.


"Tidak. Hanya saja, Aku tak ingin Kerajaan Aosora jatuh ditangan yang salah"


Nox pergi dari Markas pemberantas Iblis.


...****************...


Ditempat Tsuha, Ia telah berdiri dihadapan Putra Mahkota Agleer Baal.


Ia ditemani oleh Zack yang menunggu Tsuha dari balik pintu sambil menggendong cerberus yang menjadi anakan kucing itu.


Baal memberi sebuah jubah baru pada Tsuha.


Jubah itu, adalah jubah untuk pengangkatan Tsuha sebagai Anggota gabungan perwakilan dari Guild pemberantas Iblis dan 60% Tsuha, harus mematuhi Aturan Guilf kesatria dan Keprajuritan.


Tsuha hanya diberitahu tentang kenaikan level rank nya.


Ia mundur selangkah saat Baal akan memakaikan jubah itu padanya.


Zack dan semua orang yang diundang dalam kenaikan level rank 17 anggota 5 guild.


"Maaf atas ketidaksopanan Saya. Izinkan Saya untuk tidak menerima jubah itu. Saya, Ingin mengabdikan diri pada Guild pemberantas Iblis" Tsuha menundukkan pandangannya pada Baal.


Sebab, Baal adalah sosok yang berdrajat lebih tinggi darinya.


Menatap mata seorang Putra mahkota, sama saja seperti sedang menantangnya.


"Kenapa? Bukankah Kehidupanmu akan lebih terjamin? Kau juga, akan mendapatkan fasilitas asrama dan pelatihan Khusus dari Lima Kapten terbaik di Shinrin. Serta, Kapten atau guru-guru lain yang berkelas Rank S"


Baal sangat menyayangkan bila Tsuha menolaknya. Sebab, banyak sekali orang yang menginginkan menjadi salah satu dari anggota Gabungan ini.


Anggota gabungan, akan mudah mendapatkan kelas rank S karena sudah dipastikan kalau Mereka berprestasi.


"Kehidupan Saya terjamin? Lalu, bagaimana dengan kehidupan adik Saya? Apa Anda bisa menjaminnya? Saya memiliki musuh yang banyak sejak bergabung dengan Guild pemberantas Iblis. Bila Saya masuk di guild gabungan itu, Apa Anda masih bisa menjamin keamanan adik Saya? Semua orang tau kalau Saya memiliki kembaran. Maafkan Saya karena harus menolak tawaran Anda"


Tsuha membungkuk 90° dihadapan Agleer Baal.


"Kau akan menyesal Tsuha. Tapi, bagaimana lagi? Kami, tak bisa memaksamu. Kau akan tetap naik level. Dan, mulai hari ini Kau sudah tidak diwajibkan untuk penelusuran Putra Mahkota Aosora lebih lanjut" Baal meninggalkan tempat Tsuha setelah memberi bet kenaikan level menjadi kelas B.


Tsuha melirik Baal yang sedang memberi penghargaan kepada Anggota yang lainnya.


"Aku, tak pernah menyesali ucapanku"


"Tsuha. Aku tau Tsuki itu, bukan alasanmu yang sebenarnya untuk menolak ajakan menjadi anggota Guild gabungankan?"


Nao berbisik pada Tsuha tanpa melihatnya.


Tsuha kembali berdiri dengan tegak.


"Ya, lagi pula itu bukanlah urusanmu. Kuucapkan selamat untukmu karena sudah menjadi salah satu dari 16 anggota Guild gabungan. Teruslah hidup dan jangan suka menyeringai"


"Hmpf...."


"Jangan suka melarangku. Harusnya, hilangkan dulu kebiasaanmu yang suka melarangku dan lihatlah apa yang sebenarnya terjadi"


Nao mengatakan suatu hal yang membingungkan bagi Tsuha.


"Ya, Kalau Kau sudah menjadi seorang Kapten. Kau tak perlu ingat denganku, Ingatlah dengan Guru Nox saja. Dia adalah orang yang paling berjasa untuk menolongmu dulu"


Mulut Nao terlihat tersenyum.


"Aku, akan menjadi orang yang lebih hebat dari seorang Kapten. Semua orang akan mencariku dan memanggil namaku. Dan tentu saja, Aku tak akan melupakan Kau, Tsuki, Guru Nox, dan Arthur. Mereka juga, tak akan bisa melupakanku"


Ucapan Nao, terdengar besar kepala.


Tsuha sangat memakluminya.


"Ya. Tapi, kenapa Kau menyebutkan nama Pangeran Aosora? Apa yang Dia lakukan hingga membuatmu tak bisa melupakannya?" Tsuha hanya melemparkan pertanyaan kecil dan itu, bersifat candaan.


Namun, Ia tak tau kalau Nao akan meresponnya dengan serius.


"Aku, akan menjadi sosok yang tak akan bisa Arthur lupakan walau Aku mati. Ia tak akan bisa melupakan Aku walau Aku sudah pindah kerajaan, walau wajahku sudah berubah, walau Aku memiliki tubuh lain dan Aku, akan menjadi sosok yang paling berpengaruh dihidupnya"


Mendengar itu, Tsuha langsung membelalakan matanya.


"Tak peduli bila Aku membawa Arthur keluar dari Negri ini. Aku, akan mengajarkan suatu hal baru yang bersifat mutlak untuk Arthur"


"Hal mutlak? Seperti apa?"


Nao melihat kearah Tsuha dan Ia tersenyum kemudian,


"Pat! Pat!" Ia menepuk-nepuk kepala Tsuha.


"Seperti takdir. Dimana, Kau harus menerima segalanya, termasuk sesuatu yang tak Kau inginkan. Entah itu kematian, kehilangan, drajat, status dan seseorang yang akan ada disisimu. Aku, yakin Kau pasti paham Tsuha"


"Plak!" Ia menepis tangan Nao.


Mendengar ucapan Nao dengan nada lembut, "Kau membuatku Najis!" Ucap Tsuha sambil menutup kepalanya dengan tudung jubah Guild pemberantas Iblis.


Nao membuka matanya lalu meringgis.


"Ya, Kalau gak gitu, Kau masih akan marah padaku. Maafkan Aku ya. Apa, Kau masih bisa memaafkan Aku lagi Tsuha?"


Nao mengangkat jari kelingkingnya.


"Cih!" Tsuha membuang wajah.


"Sejak Kapan Kau menjadi orang seperti ini? Aku akan memaafkanmu setelah mentraktirku"


^_^' "tentu" (Nao melakukannya dengan terpaksa).


...****************...


"Hoahhhhhhh....... kenapa membosankan sekali?"


Daeva merasa dirinya sangat menganggur dan kehidupan di Shinrin terlalu tenang untuknya.


"Ibu! Kenapa Ayah bisa mati?" Seorang gadis berusia 14 tahun lewat dibawah Daeva, Ia sedang mengobrol dengan Ibunya yang membawa sebuket bunga berwarna putih.


Daeva mengintip mereka.


"Oh, wanita itu....."


"Semua karena takdir, Ela. Ayahmu, menghilang sejak Kau masih dalam kandungan. Sebelum Ibu mengandungmu, Ia berpamitan untuk menelusuri jejak Siluman yang sering menganggu wilayah Aosora. Ayahmu adalah salah prajurit berRank S. Dan, Ia tiba-tiba kembali setelah 7 minggu tak ada kabar. Kemudian, Ayahmu menghilang begitu saja saat usia mu baru enam minggu dalam kandungan"


Daeva membuang mukanya.


"Lalu, kenapa Ayah menjadi pembunuh Keluarga kerajaan Aosora? Teman-teman mengejekku, Ibu. Aku malu"


Ibu dari anak itu, memeluk anaknya dengan lembut.


"Yang membunuh keluarga Aosora, bukan ayahmu Ela. Ayahmu sudah mati sejak kepulangannya. Dan jangan sedih. Aeolabi Darla, masih anak Ibu"


"HUWEEEEEEEE......" Anak perempuan itu menanggis dan dibawa pergi oleh Ibunya.


"Cih!"


Daeva tiba-tiba merasa kesal dan melihat langit Shinrin yang mulai menjingga karena petang akan tiba.