
Malam itu, Seluruh daerah kawasan Greendarea dan Shinrin (baru empat tahun berdiri) digemparkan atas matinya komandan Greendarea yang merupakan Pangeran kedua Kerajaan tersebut, mati dengan cara yang mengenaskan.
Siur burung, mengatakan kalau Azkel dibunuh oleh Arnold.
Kabar itu, sampai ditelinga Arnold setelah dua hari usia Mizel.
"BRAAAK!!!!"
Arnold langsung berdiri dan lututnya, terhantam bagian bawah meja dengan keras.
Arnold memegang lututnya karena terasa sakit.
ini, bukan waktunya untuk komedi.
Arnold mendengar kabar itu dari Ha Nashi yang Ia tugaskan untuk memantau Zenitta.
"ITU TIDAK BENAR! Untuk apa Aku membunuh sahabatnya Istriku ?!!!" Tegas Arnold pada Ha Nashi.
Ha Nashi agak sulit untuk mempercayai Arnold setelah peristiwa lahirnya Archie.
"Saya harap, Anda menenangkan pikiran Anda selama beberapa hari ini. Saya akan mencarikan selir untuk Anda agar ..."
"Tuan Ha Nashi! Jangan urusi kehidupan rumah tanggaku. Tugasmu, adalah menuruti semua perintahku dan jangan lupa akan batasanmu" Ucap Arnold yang tiba-tiba berubah menjadi dingin pada Ha Nashi.
Ha Nashi membungkuk.
"Sesuai permintaan Anda,. Mohon maafkan Saya atas segalanya yang pernah Saya lakukan karena selalu melewati batasan Saya sebagai penjaga Anda dan Kerajaan Akaiakuma"
Arnold merasakan kekecewaan pada dirinya sendiri melihat Ha Nashi, orang yang Ia hormati membungkuk seperti itu.
"Mulai hari ini, Kau tak perlu memantau Zenitta dan lakukan apa yang harus kau lakukan untuk kutukan itu"
Ha Nashi melihat Hinoken milik Ambareesh didalam kaca yang dilapisi oleh sihir milik Arnold sebagai perlindungan Hinoken.
"Sesuai Perintah Anda, Baginda Raja ke X yang Agung De luce Arnold"
Ha Nashi membungkuk kemudian pergi dari ruangan Pribadi Arnold.
Sejak hari itu, Ia mulai menyelidiki sendiri siapa yang merusak namanya.
Dua minggu kemudian, Ia datang ke kawasan Greendarea. Tepatnya, dirumah Azkel yang baru dan Arnold sudah tak pernah lagi melihat Zenitta disana.
Arnold pernah mengintip dirumah baru itu, dan memang sudah tak ada Zenitta didalamnya.
"Mungkin, Zenitta diusir dari rumah itu karena kabar yang merusak namaku itu"
"Hei, Apa yang Anda lakukan disini Baginda ?"
Sosok Iblis berambut hitam dengan dua tanduk spiral kebelakang bertanya pada Arnold dan sama-sama bersembunyi di balik pohon yang sama.
Arnold melirik Iblis itu.
"Apa yang Kau lakukan disini?"
Arnold tidak mengenalnya. Walau begitu, Sudah jelas kalau Dia bangsa Iblis yang pasti berasal dari Wilayah yang Arnold pimpin.
"Mengikuti Baginda. Saya melihat baginda masuk kedalam hutan. Jadi, ya Saya ikuti karena Anda berjalan sendirian tanpa pengawal" Jawabnya.
"Kalau begitu, Ayo kembali ke Akaiakuma. Tempat ini, tak aman untuk bangsa Iblis seperti Kita"
Arnold mengajak Iblis itu untuk pergi.
Iblis itu, meneringai pada Arnold.
"Kenapa kembali ? Apa, Anda Ingin kutukan itu menjadi nyata ?"
Arnold membelalakan matanya. Sebab,
Tak ada seorang pun yang tau mengenai kutukan yang diberikan kepada Arnold dan Ha Nashi selain Zenitta, Istri Arnold.
"Kenapa ? Apa Anda terkejut Baginda atau harus ku panggil Murid Titisan Malaikat Alfarellza Ambareesh ? Bagaimana De luce Arnold ?"
Arnold menarik pedang besinya dan langsung Ia arahkan kearah Iblis itu.
"SYUUUUTTT!!!"
Iblis itu mundur beberapa kebelakang dengan santai.
"Wuh~ menyerang dengan pedang seperti itu. Kau benar-benar murid Alfarellza yang baik" Ucap Iblis itu bernada dan membuka sedikit poni rambutnya yang menutup matanya bagian kiri.
Arnold melihat mata kiri Iblis itu yang berkornea biru dengan pupil merah dan juga, Ia memilioi telinga elf.
"Aku tidak mengenal Alfarellza ! Siapa Kau ?! Dan ! Kenapa Kau mengikutiku ?!" Tanya tegas Arnold.
Iblis itu membetulkan poninya.
"Hehey,... Kau ini Raja yang banyak ngomong. Pantas saja, gurumu pergi meninggalkanmu" Ucapnya.
Bola mata Arnold bergetar mendengarnya.
"Siapa Kau sebenarnya ?" Arnold menodongkan pedangnya kearah Iblis itu.
Iblis itu mengangkat tangannya sebahu.
"Aku sendiri tidak tau. Siapa sebenarnya Aku ? Bangsa Iblis ? Bangsa Malaikat ? Bangsa Manusia? Bangsa Elf ? Bangsa Siluman ? Atau bukan dari salah satu bangsa-bangsa itu ? Menurutmu, Apa Aku ini ?" Tanya Iblis itu dan diakhiri tawa.
"Sialan, Dia yang ku tanya, Kenapa malah bertanya balik ?"
Arnold memberi ekspresi kesal mendengar tawa iblis itu.
"Sudah dipastikan kalau Dia adalah Iblis gila. Tak ada gunanya bertanya lagi padanya"
Arnold memasukkan pedang besinya kedalam sarung pedangnya. Kemudian, meninggalkan Iblis itu.
Iblis itu hanya diam melihat Arnold memasukki hutan sihir.
Ia menyeringai sambil melihat langit diatasnya.
"Aku masih belum melupakan Tugasku. Kau tau kan ? Menurutmu, Siapa duluan yang akan bertemu dengan Titisan ke tujuh ? Wosh!"
Iblis pergi dengan sihir teleportnya.
...****************...
Lima belas tahun kemudian.....
Langit yang cerah di salah satu desa kecil Kerajaan Shinrin yang merupakan salah satu bagian terujung dari kerajaan Shinrin adalah tempat terindah yang pernah ada di Shinrin.
Serta, berbatasan langsung dengan Kerajaan Greendarea.
Dari sungai hingga pemandangan daratnya.
Rumput-rumput dan bunga dadelion terterpa lembut oleh halusnya angin sore hari.
Di padang rumput itu, ada sebuah pohon besar disana.
Itu adalah tempat bermain seorang anak laki-laki yang tak pernah memiliki seorang teman dan selalu dijauhi oleh orang-orang Aosora karena warna mata dan rambutnya yang putih sebahu.
Bulu matanya yang lentik, Ia terlihat sempurna dengan mata merah itu.
"Aku bukan bangsa Iblis. Craukkkk!"
Ia selalu mengucapkan kata yang sama setiap saat dan saat ini, Ia memakan buah pir dengan kondisi lutut yang terluka.
"Kalau Aku punya uang, Aku ingin beli buah ini"
"BRUAKKKK!!!!"
Di tenangnya padang rumput itu, tiba-tiba terdengar suara keras dibawah anak laki-laki itu.
"Yah! Pecah ! Bunga Ibu juga rusak. Sudah menjelang malam kalau Aku tak segera pulang Ibu akan khawatir"
Anak diatas pohon itu, melihat anak seusianya yang berambut biru dengan teliga Elf sedang memunguti bunga sihir yang rusak dan berusaha mengangkat Gerobaknya yang roboh.
"Hei, Kau payah sekali" Ucapnya diatas dahan pohon itu.
Anak bertelinga Elf mencari asal suara itu.
"Oi, Diatas sini!" Tegasnya sambil berjongkok diatas dahan itu.
Anak bertelinga elf itu melihatnya.
Mata biru sebiru langit menatap matanya dari bawah.
Anak diatas pohon itu membuang mukanya.
"Hei, Matamu bagus dan cantik. Siapa namamu ?" Tanyanya.
Anak bermata merah itu membelalakan matanya dan melihat anak bertelinga elf.
"Archie dan Kau,.." Balasnya.
"Aosora Alex. Senang berkenalan denganmu. Bisakah Kau membantuku ? Gerobak ini cukup berat" Ucap Alex.
"Aku akan membantumu, Asal kau memberiku upah atau makanan yang bisa ku makan" Jawab Archie.
Alex melihat Archie dari bawah hingga keatas.
Ia melihat lutut Archie yang berdarah.
"Turunlah, Aku punya roti mau makan bersama ?"
Untuk pertama kalinya, di dalam hidup Archie. Ia menemukan orang lain yang memujinya dan ramah padanya.
"Apa, Kau bisa Kupercaya ?"
Archie tak langsung turun melainkan, Ia memiliki rasa curiga pada Alex.
"Percaya ? Apa Kau orang yang bodoh ? Kita ini baru saja bertemu. Tapi, tenanglah, Aku tidak punya niat buruk. Aku hanya meminta bantuan padamu dan memberimu roti yang baru ku beli. Ini enak tau. Mau apa enggak ?" Tanya Alex sambil mengulurkan roti kering itu pada Archie.
Archie langsung turun dengan perlahan dan ia pincang saat berjalan menuju Alex.
"Ada apa dengan Kakimu ?" Alex berjongkok dan melihatnya.
"Kepukul kayu" Jawab singkat Archie sambil duduk dan meluruskan kaki kirinya.
"Siapa yang melakukannya ? Ibumu ?" Tanya Alex sambil menyembuhkan kaki Archie dengan sihir penyembuhannya.
"Orang yang buahnya ku curi" Jawab jujur Archie.
"Tapi ! Suatu hari kalau Aku punya Uang, Akan ku ganti dan membeli buahnya sampai habis!" Tegas Archie sambil mengeleng-geleng.
"Dimana Ibumu ? Apa yang sedang Dia lakukan sampai Kau mencuri makanan ?" Tanya Alex sambil memberi Archie roti itu untuk dimakan.
Archie menerima buah itu.
"Ibuku, mati setahun yang lalu. Dan Alex, Apa Kau tidak takut dengan Ku ?" Balas Tanya Archie sambil membagi dua roti iti dan memasukkan roti itu didalam tas kecil dipingangnya.
"Turut berduka. Memang, Apa yang harus ku takutkan padamu ? Kita sama-sama anak kecil. Jangan mendengarkan ucapan orang-orang disekitarmu" Ucap Alex sambil memakan rotinya.
Archie terlihat sedikit tersenyum dan memakan roti itu.
Kemudian, Mereka berdua mulai membereskan semuanya.
Langit mulai menjingga. Itu, tanda hari akan malam.
"Aku harus pulang. Terima kasih karena telah mrmbantuku Archie" Ucap Alex sambil membawa bunga sihir yang rusak itu.
Archie melihat bunga itu kemudian melihat Alex.
"Untuk apa bunga itu ?" Archie menunjuk bunga tersebut.
Alex mengangkat bunga itu.
"Ibuku memiliki masalah dengan aliran mananya jadi, Aku butuh bunga ini untuk menyembuhkannya. Stok obat dirumah hanya tingga besok. Tanpa obat dari bunga ini, Ibu ku akan sangat kesakitan. Tapi, bunganya sudah rusak. Besok Aku akan mencarinya lagi dan Aku harus pulang agar Ibuku tidak Khawatir. Dah, selamat malam Archie. Jumpa besok" Ucap Alex sambil menarik gerobaknya yang berisi kayu bakar.
"Tunggu...." Lirih Archie sambil mengulurkan tangan kanannya pada Alex.
Pungung Alex semakin jauh.
Archie mengepalkan kedua tangannya dan Ia tak ingin kehilangan teman pertamanya yang telah membagi roti padanya.
Archie mulai mengikuti Alex perlahan dan hati-hati.
Rumah Alex cukup jauh dari padang rumput itu.
"Ibu, Aku pulang" ucap Alex sambil masuk kedalam rumah dari kayu dengan pencahayaan obor dan lilin.
"Tok! Tok ! Ibu... Aku pulang...." Lirih Archie sambil mengetuk pohon tempat ia sembunyi.
Raut Archie langsung berubah.
Ia merindukan sosok hangat dihidupnya.
"Archie.... sudah Pulang ? Apa Kamu sudah bermain dengan teman- temanmu? Ayo makan,... Ibu.... Hiks.... Ibu... sudah... hiks... buatkan... makanan... hiks... untuk anak... Ibu..Hiks!.."
Archie meniru kebiasaan Ibu yang selalu mengusap kepalanya dan menangis disana.
Archie mengeleng dan mengusap wajahnya.
"Baiklah ! Ayo cari bunga sihir untuk Ibunya Alex yang sakit! Drap !"
Archie berlari menuju hutan sihir yang cukup jauh dari rumah Alex untuk mencari bunga sihir seorang diri.