The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Awal dari Insiden Terbunuhnya Orang Tua Tsuha dan 80% Prajurit Shinrin bagian 1



ENAM BULAN KEMUDIAN....


Tsuha telah kembali ke Shinrin dan Ia tidak disekolahkan oleh kedua orang tuanya. Hari-hari Tsuha, hanya diisi dengan bermain dan bermain bersama adik kembarannya, serta teman masa kecilnya, Nao. Mereka bertiga, memiliki umur yang sama dibulan yang sama. Namun, Nao berbeda tanggal dengan Tsuha dan Tsuki.


Nao adalah anak periang dan terbuka pada siapapun.


"Pagi Paman!"


"Pagi juga Nao. Mau kemana?"


Nao menyapa semua orang yang Ia temui dijalan. Entah itu Ia kenal atau pun tidak.


"Mau main bareng Tsuha Tsuki" Jawabnya sambil melambaikan tangan pada laki-laki itu yang sedang bertani dan menyapanya balik.


"Iya! Kalau begitu, jangan bertengkar! Hati-hati dijalan!" Tegas laki-laki paruh baya yang bertani itu.


"Tentu!" Nao selalu menujukkan senyumannya pada semua orang dan rambutnya, bermodel short style dengan poni yang Ia tarik kebelakang agar tidak menutupi matanya.


"TSUKKI~ MA~EN YOK!" Nao mendatangi Tsuki yang sedang melihat Tsuha bertarung dengan Ayahnya dan belajar sihir baru.


Tsuki mendengus pelan saat melihat Tsuha mampu menangkis pedang mana milik ayahnya.


"Kenapa? Apa Kau mau berlatih dengan Tsuha juga?"


Wajah Nao, terlihat imut dengan pipinya yang sedikit chubby saat bertanya pada Tsuki.


Tsuki, melihat ke arah Nao dan pipi Nao, terlihat sangat menganggu dipandangan Tsuki.


"Tep! NGEKKKK!"


Sangking gemasnya Tsuki pada pipi chubby itu, Ia langsung menariknya dan melepaskannya begitu saja.


"ARRRGG! SAKKIT! TEP! TEP!" Mata Nao berair, Ia menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas.


TAK!!!!! BRUAKKKK!!!!!


Tsuha tak kuat menahan pedang mana Ayahnya hingga Ia terhempas menghantam kursi panjang tempat Tsuki dan Nao berada.


"Wuhh~ Kursi, Apa Kau sakit?" Nao menutup salah satu matanya dan mengosok kaki kursi yang terhantam punggung Tsuha.


"PFFTT! Bauahahahaha! Benar! Kasian kursinya. Padahal Dia enak diam disini. Tsuha! Kau harus minta maaf pada kursi ini" Lanjut Tsuki mengejek Tsuha sambil mengosok-gosok rambut Tsuha.


"Cih! Aku gak peduli dengan kursi! DAGH!!!" Tsuha berdiri dan menendang kursi itu. Kemudian, Ia pergi meninggalkan mereka bertiga.


Nao dan Tsuki, saling melihat dan "PUAHAHAHAHAHA!!!" Keduanya tertawa lepas. Mereka tau kalau Tsuha itu marah untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Dia, beneran gak berubah" Ucap Ayahnya Tsuha dan Tsuki sambil mendatangi mereka berdua.


"Kalian juga. Jangan menertawakan Tsuha. Ayo, berlatih sihir"


Ayah Tsuha dan Tsuki, memiliki kelebihan dalam mengontrol mana miliknya. Dan sedikit-sedikit, Ia mampu bertarung disaat yang mendesak.


"Eh?! Paman Gabriel mengajakku juga?!" Nao mengangakan mulutnya lebar-lebar dan menaikkan kedua alisnya.


Mata Gabriel memiliki warna hitam dengan garis-garis hijau. Dan Ia menggunakan penutup mata di mata kirinya. Itu, adalah sebuah keunikan bagi Gabriel.


"Tentu saja. Apa Kalian tak ingin jadi orang hebat sepertiku?"


Terkadang Gabriel juga menyombongkan dirinya dihadapan anak-anaknya untuk menumbuhkan motivasi belajar bagi Mereka.


Mendengar itu, Gabriel tak bisa menyalahkan kepolosan Nao.


"Apa orang tuamu bisa sihir?" Gabriel bertanya dengan nada datar. Ia berusaha sabar pada Nao.


"Ti..dak!" Nao mengatakannya dengan bangga.


"Tep!" Gabril memegang kedua bahu Nao dan membungkukkan tubuhnya menghadap Nao.


"Nak, Apa Kamu hanya ingin sebatas menjadi seperti orang tuamu?"


"Aku ingin punya sawah. Jadi, nanti Ayah dan Ibu punya tempat untuk menanam sayur Mereka sendiri"


Pls, Gabriel ingin menangis rasanya mendengar ucapan Nao. Di waktu yang bersamaan, Ia ingin mengigit pipi Nao yang membuatnya gemas.


"Bagaimana caramu punya sawah?" Gabriel berusaha mengarahkan Nao dengan jawaban Nao.


Nao melihat ke arah kiri atas "Kerja?" Kemudian, Ia meringis pada Gabriel.


"Kerja apa?"


Nao mengaruk tengkuknya "Emm..., Kerja kayak Ayah!" Tegas Nao sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Apa Kamu gak mau menjadi seseorang yang lebih baik dari orang tuamu?"


Nao mengerutkan keningnya. "Menjadi orang yang lebih baik? Itu seperti apa?"


Tsuki yang mendengar percakapan Mereka berdua, ikutan berfikir.


"Menjadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh orang tua. Contohnya, kalau Nao saat sudah besar menjadi seorang Prajurit yang hebat. Dan orang tua Nao melihat Nao menggunakan Seragam Prajurit, Mereka pasti akan bangga dan secara tidak langsung akan berkata, 'Wah, itu anakku! Anakku sudah jadi prajurit yang hebat!!!' Hati kedua orang tua Nao pasti sangat senang. Apa, Nao hanya ingin menjadi seperti orang tua Nao?" Tanya Gabriel dengan nada yang lembut.


Gabriel, berusaha membuka mata Nao lebih lebar lagi mengenai dunia yang akan sangat luas didepannya.


"Kalau jadi prajurit, Apa Aku akan punya sawah?"


Hati kecil Nao, mulai terketuk dengan semua ucapan Gabriel yang sangat memotivasinya.


"Tentu saja! Kalau Nao udah berbet A atau S, Nao akan bisa beli sawah tempat Ibu dan Ayahmu bekerja dalam waktu dua bulan" Jawab Gabriel yang ngasal.


"Benarkah?!" Nao dan Tsuki berseru bersamaan.


Gabriel terkejut dengan Tsuki yang tiba-tiba ikutan tertarik. Ia senang sekali. "Tentu saja! Boleh. Kalian berdua dan Tsuha, harus bisa menjadi Prajurit yang hebat dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan Kalian" Gabriel, mengusap ubun-ubun dua anak itu.


...****************...


Jauh didalam hutan sihir. Sesosok bersayap hitam sedang bertengger di atas dahan pohon besar sedang memperhatikan Iblis yang berbicara dengan sekumpulan serigala sihir dibawah pohon tempat Ia berada.


"Sepertinya, akan ada sesuatu yang seru. WOUSHHHH! TEP!"


Sosok itu, berdiri menjatuhkan dirinya dari atas dahan pohon. Tubuh sosok itu, mengeluarkan asap gelap dan sosok itu, berubah menjadi serigala sihir ukuran dewasa.


Ia, mendekat kearah Serigala lainnya, seperti sedang berkomunikasi dengan serigala sihir yang lain.


Sosok itu, membuat sekelompok serigala sihir berpihak pada Iblis itu. Iblis itu, adalah De luce Arnold.


Dan ini, adalah awal dari INSIDEN KEMATIAN KEDUA ORANG TUA TSUHA SERTA, 80% PRAJURIT SHINRIN.