The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Kematian Aosora bagian 2



"Janji. Kakak pasti akan datang. Jangan bersuara. oke...?" Bram melepas pelukannya dan melihat mata Adiknya yang biru gelap dan tak pernah melihat cahaya dari mata itu.


Arthur tersenyum dan mengangguk.


Bram langsung menutupi Arthur dengan pakaian Arthur yang digantung rapi dilemari itu kemudian menutup ya perlahan.


Arthur berdoa didalam lemari itu.


"Drap!"


Ia mendengar langkah kaki berlari keluar kamarnya.


Arthur keluar dari lemarinya dan melihat kamarnya yang lampunya dimatikan dan sepi.


...****************...


"Akan kusembunyikan dengan aman. Pusaka ini... Sangat berharga untuk keluargaku. Ayah pasti sedang bertarung diluarsana...."


Tangan Arthur bergetar dan Ia membuka selimut kasurnya yang menyentuh lantai.


Ia merabakan tangan kanannya dilantai kayu yang sedikit terbuka.


Arthur berusaha membuka kayu itu untuk menyembunyikan hinoken.


"Keras... sekali....." Lirih Arthur yang masih menariknya.


"Krakkkk......" Kayu itu terbuka.


"Ah... sudah lama sekali Aku tak membukanya.... hinoken akan aman disini" Arthur membersihkan sela kayu itu yang banyak permen cokelat yang sudah tak bisa dimakan lagi.


Itu adalah tempat rahasia Arthur saat kecil dulu untuk menyembunyikan permen-permennya yang diberikan oleh seseorang.


Namun, Arthur tak bisa mengingat sosok itu.


Ia langsung menyelipkan hinoken itu disela kayu tersebut. Kemudian, Ia meratakan kembali kayu itu dan merapikan selimutnya.


"BAAMMMM!!!!! BRAAAAAKKK!!!!" Suara diluar.


Arthur masuk kembali dilemari itu dan menutupnya.


...****************...


"CRATTT!!!!"


Sosok itu melepaskan pedang mananya yang berjumlah tidak sedikit dan salah satunya membeset kening Bram.


Luka itu kecil tapi, darah Bram tidak berhenti sejak tadi.


Bram kehilangan banyak darah dan pandangannya terus mengkabur.


"Serahkan Hinoken itu dan akan Ku beri penawar racunnya.


"Racun?" Bram berdiri dan memegang erat pedang mananya dengan erat.


"Sihir yang kukeluarkan ini adalah sihir bertype racun dan Kau akan terbunuh dalam waktu Lima menit dari sekarang.


DEGH!


Bram terkejut mendengarnya.


"Aku tak peduli bila Aku mati! Kewajibanku adalah menjaga seluruh warga Aosora dan Hinoken! Sampai kapanpun Aku tak akan memberikannya! AKU! SUDAH BERSUMPAH DIHADAPAN RAKYATKU!!!!" Tegas Bram dengan gestur tubuh akan menyerang.


"Hemmm?" Sosok itu mengangkat alis kanannya.


"Benarkah ? Kalau begitu... Lihatlah bagaimana Aku membunuh Aosora Arthur. Tujuan ku bukan untuk mengambil hinoken atas kemauanku sendiri. Tujuan utamaku, adalah membunuh Aosora Arthur" Pria itu mengangkat kedua bahunya dan menyeringai.


Bram membelalakan matanya dan langsung maju.


"Wosh!!! Crat!!! Jlebb!!"


Bram menebaskan pedang mananya kearah pria itu disaat yang bersamaan Pria itu melepaskan pedang mana beracunnya pada Bram.


Dan akhirnya, Serangan Bram hanya mengores pipi kanan Pria itu sedangkan serangan pria itu membuat pedang mananya yang beracun menembus perut Bram.


"Brukk!! KHUKHUK!!! Bram terjatuh dan langsung muntah darah karena racun itu.


"Prak!!!" Pria itu menginjak kepala Bram.


Sekujur tubuh Bram mati rasa karena sihir itu.


Diposisi Arthur.


Tiba-tiba suasana menjadi sunyi dan perasaan Arthur mulai gusar.


"CKLEK..." Suara pintu terbuka dan lampu kamar dihidupkan mulai terdengar sangking sepinya malam itu.


Tap


Tap


Tap


Jantung Arthur berdebar dengan kencang saat mendengar suara langkah kaki itu.


"Kak Ram....."


Arthur memanggil Bram dalam batinnya.


"Klak..." Pintu lemari itu dibuka.


Mata biru Arthur bertemu dengan mata gelap seperti orang mati milik sosok itu.


Arthur membelalakan matanya.


Pria itu menyeringai pada Arthur dan langsung... "Nggekkk..." Ia menarik rambut Arthur untul keluar dari lemari itu.


"Disini Kau rupanya... Aosora Arthur" Pria itu menjambrak rambut Arthur dengan kencang.


Bram melihat Arthur dengan pandangan yang kabur.


Ia tak bisa berteriak.


Mulutnya tak bisa digerakan dan suaranya tak bisa keluar.


"Katakan padaku. Dimana Hinoken itu berada"


Arthur menyentuh perut pria itu yang tak memiliki pelindungan.


"Apa yang Kau lakukan?"


"Pedang Mana! Wosh! Jleb!!!"


Arthur mengeluarkan pedang mana sambil menempelakn tangannya di perut pria itu hingga tembus dipungungnya.


"Khuk!" Pria itu memuncratkan darahnya tepat diwajah Arthur.


Pria itu kesal dan langsung mengangkat tinggi kera kemeja Arthur kemudian .....


"Bruuukkkk!!!! Brak!!!" Ia membanting tubuh Arthur dengan kuat ketembok depan kamar Arthur hingga Arthur jatuh didekat Bram.


Tubuh Arthur serasa remuk.


Bram tak bisa membuka matanya dengan lebar. Ia tau Arthur jatuh disampingnya.


"Bocah Sialan! Wosh! Krakkkk!!!!" Pria itu melesat kearah Arthur dan langsung menginjak bahu kirinya.


"ARRRRGHHHH!!!!!!!" Arthur berteriak dengan kencang.


Ia benar-benar kesakitan.


Pria itu menarik tangan kanan Arthur hingga Arthur terangkat.


"Syyyyuuuuuuttt Bruakkkk!" Pria itu terus melempar Arthur seperti boneka.


Arthur terpental jauh hingga dipintu kamar kedua orang tuanya.


"Khak!"


Bibir Arthur berdarah karena tergigit.


"Aku bisa mati..... apa yang harus Aku lakukan?!"


Arthur berdiri walau sakit.


Ia mengeluarkan pedang mana birunya itu.


Tangan Arthur bergetar menahan rasa sakit dipunggungnya.


Pria itu mengeluarkan lingkaran sihir yang cukup besar dihadapan Arthur.


Lingkaran itu berwarna merah terang.


Arthur sempat berfikir kalau sosok itu Iblis tapi, Dia beraroma seperti siluman.


"Wosh!!!!" Pria itu melepaskan seluruh pedang mana beracunnya pada Arthur.


"Jleb! jleb! jleb!"


Pria itu sengaja melepaskannya dan tidak mengenai Arthur.


"Bruk!"


Seketika, kedua kaki Arthur langsung lemas dan terjatuh.


Pria itu memandang rendah Arthur dan menyeringai.


Seringaian orang itu selalu teringat diotak Arthur.


"Grep!"


Lagi-lagi pria itu menarik kera Arthur dan menariknya sangat tinggi kemudian....


"BRUUUUUUUAAAAAAKKKKKKKKK!!!!!!"


Arthur menutup matanya saat dilempar oleh Pria itu kearah Pintu kayu loteng tempat kedua orang tua Arthur berada.


Pintu itu sampai rusak dan Arthur terjatuh dilantai itu.


Basah... lantai itu basah dan berbau amis.


Arthur membuka matanya.


Mata hitam agak kebiruan terbuka melihat ke Arthur dengan wajah yang bersimbah darah.


"Ibu....." Itu adalah wajah Ibunya.


Arthur langsung duduk.


"Ibu!!!" Ia melihat kepala dan tubuh Ibunya yang sudah terpisah.


Pandangan Arthur benar-benar langsung berantakan.


Ia melihat kesegala arah.


Darah dimana-mana.


Ayahnya tergeletak didekat pintu dengan kondisi dada yang tertusuk pedang besi.


Pria itu berjalan dan melangkahi jasad ayahnya yang tergeletak disana.


"Berikan Hinoken padaku" Ucap Pria itu.


Air mata Arthur menetes saat itu juga.


"Aku! Tidak akan menyerahkannya!!!" Tegas Arthur.


"Siapapun.... tolong Aku..... Sang Cahaya..... Terdahulu... Siapapun itu.... tolong Aku...."


Pria itu lagi-lagi mengangkat tangan kanannya kearah Arthur dan Ia mengeluarkan Lingkaran sihir serta, Pedang mana yang banyak.


"BLAAAARRRRRRRR!!!!!!"


Angin yang bercampur dengan api merah tiba-tiba keluar dari tubuh Arthur dan itu berkeliling disekitar Arthur.


Arthur sempat melihatnya tapi, tiba-tiba matanya tak bisa untuk dibuka.


...****************...


"Saat Aku sadar dari pingsan ku, Aku sudah berada dipenjara bawah tanah. Mereka sudah mengurungku dipenjara bawah tanah tanpa ada introgasi seperti ini. Dan mereka juga menyalahkan ku dengan berkata kalau Aku yang membunuh keluarga ku serta Aku yang membunuh orang yang membunuh keluargaku. Dan, Katanya orang itu adalah Prajurit. Coba selidiki dulu orang itu sebelum menuduhku. Mereka seenaknya saja berkata kalau itu sudah buktinya. Padahal bukti itu belum tentu benar. Lagian untuk apa Aku membunuh keluargaku?" Arthur balik tanya pada Marsyal yang mengintrogasinya.


Seisi ruangan langsung diam dan saling melihat setelah mendengar penjelasan dan pertanyaan Arthur itu.


"Ehmmm...." Marsyal berdehem.


"Anda memang tak membunuh keluarga Anda dari cerita yang Anda ceritakan. Tapi, bagaimana dengan Iblis yang ada didalam tubuh Anda?" Ucap Marsyal.


Nel (Ketua Guild pemberantas Iblis) melihat ke Arthur.


"Apa Anda berusaha menyalahkan Archie tanpa mencari buktinya?" Balas tanya Arthur.


Nel membelalakan matanya.


"Kan Aku sudah mengatakan kalau Kedua orang tuaku telah terbunuh saat Aku dibanting ke arah loteng. Jika seseorang kepala dan tubuhnya sudah terpisah kira-kira masih bisa hidup? Ayahku juga dada bagian kirinya ditusuk oleh pedang besi. Kira-kira Dia masih bisa hidup bila jantungnya tertusuk? Archie berada didalam tubuhku. Dan Bagaimana bisa dia membunuh orang tuaku saat Aku bersembunyi didalam lemari?" Arthur merasa jengkel karena pertanyaan itu terdengar seperti menyalahkan Archie.


Marsyal mengangguk.


"Maafkan Saya bila itu terdengar seperti menyalahkan De luce. Saya bertanya seperti yang sudah tertulis disini. Bila Anda berkenan, tolong Izinkan Saya mengobrol dengan De luce Archie" Marsyal meminta izin pada Arthur.


Arthur menutup matanya


"Archie... Kau mau bertukar tempat?"


BREEB!!!!


"Jujur saja, Aku tidak terima bila dicap sebagai pembunuh keluarga Alex"


Archie telah berpindah tempat dengan Arthur dan Ia membuka matanya yang berubah menjadi warna merah.