The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Perjalanan ke Aosora [Serangan]



"GLADAK!" Sesekali Arthur tiba-tiba terbangun dari tidurnya saat roda kereta kuda mengelindas lubang ataupun batu.


Ia melihat Nao yang tertidur dipangukan Dera yang tertidur dalam keadaan duduk. Sedangkan Tsuha, ia tidak bisa lengah sedikitpun saat di dalam hutan. Perjalanan ini, sudah memakan waktu tiga jam.


"Arthur. Istirahatlah terlebih dulu. Aku akan menjagamu saat kau tertidur" Saran dan tawar Archie.


Arthur memang berniat untuk tidur. Tapi, dia kasihan dengan Tsuha yang akan berjaga sendirian.


"Pangeran, kau tidurlah biar aku yang menjaga terlebih dulu. Di luar sudah ada guru Nox yang menjaga kita. Satu jam lagi, adalah waktu Nao untuk berjaga, lalu dua jam setelah Nao adalah waktunya Kak Dera yang berjaga" Jelas Tsuha.


"Ah, berarti aku sudah cukup lama tertidur" Batin Arthur yang mengintip keluar jendela. Di luar sana, Arthur merasakan hawa keberadaan serigala sihir. Ha nashi yang berubah menjadi gagak masih aman.


"Kenapa sihirnya tidak menghilang?" Lirih Tsuha sambil melihat Ha nashi yang melihat ke arahnya.


Arthur berfikir hal yang sama juga dengan Tsuha. "Benar juga. Apa rahasianya?" Arthur menangkap Ha nashi dan melihatnya dengan seksama.


"GRASAK!!!! BRAK!!!" Sesuatu yang keras, tiba-tiba menghantam atap kereta kuda yang digunakan oleh Arthur.


Nao dan Dera yang tertidur langsung terbangun sangking kagetnya. Keduanya langsung dalam ancang siaga. Sedangkan Tsuha, membuka tirai yang membatasi kusir dengan pemumpang.


"Apa yang sedang terjadi pak?" Tanya Tsuha yang melihat ke arah depan.


Hutan terlarang itu, penuh dengan kunang-kunang di malam hari.


Mata Tsuha terbelalak saat melihatnya. Ini, adalah sesuatu yang terakhir kali Tsuha lihat saat pertama kalinya ia akan menuju Aosora 11 tahun yang lalu.


Tsuha mengkernyitkan keningnya. Ia teringat sesuatu yang berusaha ia lupakan.


"Tenanglah nak, hanya dahan yang jatuh ke atap" Jawab kusir itu yang masih memacu kudanya. Mendengar hal tersebut, Tsuha langsung kembali ke tempat duduknya dan melihat Arthur yang sedang minum air.


"Hanya dahan jatuh" Sampai Tsuha pada yang lain.


"Fuhhh..." Nao dan Dera membuang napas lega.


Di tengah perjalanan Kereta kedua, golongan Nox yang berisi kepala guild Shirin atau Verza dan Dua orang lainnya mengalami kendala. Namun, kereta kuda golongan Arthur tidak diperbolehkan berlama-lama di hutan sihir.


Kereta kuda Arthur tetap melanjutkan perjalanannya dan diikuti oleh Verza dari belakang bersama dua anggota lainnya yang merupakan perwakilan dari markas penelitian dan keamanan masyarakat.


Nox di belakang membantu kusir yang sedang memeriksa kereta kuda.


"Besi penghubung antar rodanya rusak. Apa kau tidak memeriksanya sebelum pemberangkatan?" Nox menatap tajam kusir itu.


Tubuh kusir itu gemetar. Ia ketakutan. "Demi Sang Cahaya! Saya sudah memeriksanya setiap 5 menit sekali. 15 menit sebelum pemberangkatan, saya sudah memeriksanya hampir 20 kali Tuan! Saya tidak mengerti kenapa besinya bisa keropos seperti itu" Jawab kusir itu sambil bersujud dan memegang kaki Nox.


"Cih! Lalu ini kenapa?! Hah! Sudahlah, tolong lepaskan" Nox menarik kakinya dari pria itu.


Nox menyusup ke bawah kereta kuda dan melihat keroposnya besi itu. "Ini, bukan karena air dan udara" Nox juga meraba angka tahun yang terukir di besi itu.


"1091"


"Ini adalah tahun pertama besi ini di produksi. Sangat tidak masuk akal bila besi ini mengalami pengaratan secepat ini. Lagi pula, tempat ini sangat terlindungi dari air ataupun cipratan. Ini ada yang tidak beres" Batin Nox yang mulai mewaspadai sekitarnya.


Nox berdiri dan melihat sekitarnya. "Kusir, tahun berapa kereta kuda ini di beli oleh Shinrin?" Tanya Nox sambil melirik ke berbagai arah.


"Belum ada satu tahun kereta kuda ini ada di Shinrin. Saya benar tidak tau ARRRRGGGGGGHHHH SRAAAAAAAA" Dari mulut dan mata kusir itu, tiba-tiba keluar api biru yang menyembur ke langit.


"BRAKKK!!! BRUK! Hahh..." Nox, tiba-tiba terpental kebelakang dan menghantam pohon besar di belakangnya.


Daeva yang memantau dari atas pohon, terkejut melihat perubahan kusir itu yang menjadi iblis. "Haha, sialan, apa lagi ini?".


Di tempat Arthur, Tsuha membaca novel buatan Marsyal yang sulit untuk dipahami oleh Tsuha. Tulisan novel Marsyal terlihat sangat acak dan berantakan.


Tsuha sesekali melirik Arthur yang terlelap. Ia tidak menyangka ada orang yang bisa paham dengan novel berantakan seperti ini.


"Yuttt....." Dada Tsuha tiba-tiba merasa ngilu ia langsung merinding.


Nao membuka jendela kereta kuda dan melihat ke arah luar.


"Ada apa?" Tanya Dera pada Nao yang tiba-tiba berubah ekspresi.


"Bangunkan Arthur. Ada musuh. Brak! Drap!" Ucap Nao dan langsung melompat keluar dari kereta kuda.


Tsuha dan Dera saling melihat.


"Eh! Nao! Tunggu! Kau meninggalkan pedangmu!" Teriak Dera sambil mengulurkan pedang besi Nao. Nao menghiraukannya dan pergi menjauh.


"Kak, biarkan saja. Nao itu, lawan yang licik. Dia tidak akan mati di hutan ini" Jelas Tsuha sambil menutup Novel Marsyal dan langsung membangunkan Arthur.


Dera membelalakan matanya dan melihat ke arah Tsuha. "Kau ini, santai sekali menjadi orang" Ucap Dera.


"Tentu saja. Hidup itu untuk santai, bukan untuk tergesah-gesah" Jawab Tsuha sambil merekatkan pelindung dada pada punggung Arthur.


Arthur memasukkan novel Marsyal ke dalam ransel Tsuha. Dera meminta kusir untuk mempercepat kudanya. Kusir itu langsung memercepat laju kudanya tanpa banyak pikir lagi.


"Apa Nao akan baik-baik saja?" Tanya Arthur pada Tsuha yang sedang memakai sarung tangannya.


Tsuha melihat ke arah Arthur. "Tentu saja. Dia pasti sedang membuat jebakan untuk memperhambat waktu musuh. Oleh karena itu, sebisa mungkin kau harus segera sampai di perbatasan Aosora" Ucap Tsuha.


"Gunakan sihir teleport saja" Suara halus tiba-tiba melintas di kepala Arthur.


Arthur mengangguk karena ia pikir itu adalah suara Archie. "Benar juga. Aku bisa menggunakan sihirku di hutan ini" Ucap Arthur sambil menepuk tangannya.


Tsuha baru ingat kalau Arthur bisa menggunakan sihir teleportnya untuk menyebrangi hutan terlarang. "Dasar sialan! Kenapa baru bilang sekarang!?" Sangking kesalnya Tsuha, ia tidak sadar telah menarik kera kemeja abu Arthur.


Arthur menyipitkan matanya dan mengangkat ke dua tangannya. "Ini karena aku dilarang memakai sihirku selama perjalanan hingga selama aku di Aosora. Ini adalah perjanjian yang ku tanda tangani" Jawab Arthur dengan raut wajah yang takut di pukul.


Raut wajah Tsuha langsung berubah. Dera melihat mereka berdua dengan seksama. "Cih! Kau kenapa menjadi orang yang sangat penurut?!".


Arthur hanya terkekeh ringan sambil menggosok tengkuknya dan tiba-tiba "SRAAAAA GRAAAAAAAA" Api biru itu menyerang kusir dari kereta kuda yang Arthur naiki hingga kereta kuda itu terperosok jatuh pada jalanan hutan yang licin dan menurun. "BRAK!"


Ini terjadi sangat cepat. Dera menangkap Arthur sebelum kereta itu terguling. Tsuha dan kucing milik Arthur terpental keluar dari kereta kuda.


Dera mengangkat kepala Arthur. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan mengalir yang pada keningnya.


"Pangeran, apa Anda terluka? Apa sebenarnya yang terjadi" Dera tidak bisa melihat apapun. Pandangannya gelap.


"Kak, kita harus keluar dari sini" Arthur duduk dan mulai meraba pintu keluar.


"Ya, tolong perhatikan langkah Anda" Dera menarik perlahan kakinya yang terjepi pintu delman di bawah.


Arthur keluar dari kereta kuda itu. Di luar, ia melihat cahaya biru besar yang mengamuk disana.


Tsuha menggunakan sihirnya untuk mengurung kusir itu di dalam kubah akar miliknya.


"WOSHTTTS!" Tsuha terus melapisi kubah itu tanpa henti.


"PANGERAN ARTHUR! Teruslah berjalan ke utara! Dan bila bertemu dengan aliran air yang deras! Sebrangi dan terus lah ke utara! Bila sampai sana, artinya kurang 15 menit lagi perjalananmu akan selesai! BWOSH!" ucap Tsuha yang terus-terusan melapisi kubah akar miliknya itu.