The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Kebenaran Yang Terungkap



Ritual pensucian untuk Arthur telah dimulai. Jantung Arthur berdebar karena seluruh pandangan tertuju padanya. Air yang dipercaya mampu menghilangkan semua pikiran buruk dan segala sesuatu yang buruk mulai disiramkan dari kepala Arthur.


Kemeja putih yang dikenakan Arthur menjadi basah dan tanda di dada kiri Arthur tembus pandang. Baal melihat Arthur dari kejauhan. Ia sedikit lega karena Aosora kini akan berada ditangan keturunan Aosora Alex.


Tanda di dada kiri Arthur bereaksi dengan air tersebut. Tanda di dada kiri Arthur berjalan perlahan.


Luxe membelalakan matanya melihat tanda di dada kiri Arthur yang sama dengannya. "Siapa Aosora Arthur itu sebenarnya?" Tanya Luxe pada Nao di sebelahnya.


"Kau bertanya padaku?" Tanya balik Nao.


"Terserah kau. Apa dia tau dengan tanda itu?"


"Kalau dia tau, bukankah dia akan mencari yang lain?" Jawab Nao sambil menyeringai.


Luxe melihat Nao. "Nao, kau tau tentang tiga jiwa yang ada di dalam tubuh Pangeran Aosora kan? Termasuk, sosok Pangeran Arthur yang sebenarnya. Kenapa kau tidak mengatakan hal sebenarnya pada dia?" Pertanyaan Luxe tidak disangkal oleh Nao.


Nao menunjukkan seringaiannya. "Aku hanya ingin menjalankan peranku tanpa mengusik Aosora Arthur. Semua rahasia yang tidak diketahui orang mengenai sejarah Aosora, sejarah Arden, sejarah terbentuknya danau harapan, akan tersimpan baik disini" Nao menunjuk kepalanya dan menyipitkan pandangannya.


Luxe mengkernyitkan keningnya. "Kau siapa sebenarnya Nao?"


Nao mendekatkan wajahnya ke arah Luxe. "Jawablah dulu pertanyaanku dulu. Apa jawabanmu?"


"Jawabanku adalah kesalahan" Jawab Luxe dengan tegas.


Seringaian diwajah Nao melebar. "Apa kau sudah berkaca dengan semua yang telah kau lakukan, Darnette Dean?"


"Dar..nette... De..an?" Mata Luxe terbelalak.


"Perlukah aku mengenalkan diriku lagi?" Luxe melihat garis hitam vertikal di tengah kelopak mata kanan Nao hingga di pipi bagian bawa matanya.


Mata Nao keduanya berubah. DEGH! Tubuh Luxe tidak bisa bergerak. Bibirnya bergetar. "Ru...ri...?"


"BWOSH!" Nao menghilang dari hadapan Luxe.


Luxe langsung melihat ke segala arah. Ia tidak dapat menemukan Nao. Luxe keluar dari Istana untuk mencari Nao. "Harusnya, aku sadar dari awal!" Luxe berlari ke arah kamar Tsuha.


"TSUHA!" Ia langsung membuka kamar Tsuha. Tsuha yang sedang merapikan kamarnya terkejut. "Kau kenapa?" Tsuha bertanya santai pada Luxe.


"Dimana Nao?!"


Tsuha langsung melihat Luxe. "Apa maksudmu? Bukankah dia bersamamu sejak dini hari? Coba tanyakan pada Guru Nox" Jawab Tsuha.


Tangan Luxe bergetar "Tsuha, berapa tahun kau mengenal Nao?" Perut Luxe mulai mual. Pandangan Luxe berputar-putar.


"Kenapa kau tanya begitu?"


Luxe bermandikan keringat dingin.


"Jawab saja" Luxe melangkah perlahan ke arah Tsuha. Setiap langkahnya terasa berat.


"Sejak kami kecil. Orang tuaku dan orang tua Nao adalah rekan kerja"


"Kau salah besar Tsuha. Sebenarnya.... Nao itu.... Syuuuut! BRUUUUUK!" Mana Luxe terhisap oleh sesuatu di belakangnya.


Luxe hampir terjatuh. "Grep!" Nao tiba-tiba muncul dari belakang Luxe dan menangkapnya.


"Eits! Kalau capek mending istirahat aja"


"Sial....lan..." Luxe melirik Nao yang meliriknya dengan pandangan samar sebelum ia pingsan.


Luxe pingsan dan Nao letakkan perlahan di lantai. Tsuha melihat ke arah Luxe. "Dia mau ngomong sesuatu denganku. Apa yang terjadi dengannya Nao?"


Nao meringis. "Kurasa, dia masih membenciku. Aku tidak sengaja membuatnya terkejut. Ngomong-ngomong, aku tidak bisa pulang dengan kalian. Aku harus duluan" Jawab Nao sambil mendatangi Tsuha.


"Ya, bagaimana lagi. Aku tidak bisa menolak panggilan ini. Bisakah kau sampaikan ini kepada rombongan kita?" Tanya Nao.


"Ck, kau membuatku repot Nao. Ya sudah pergilah. Hati-hati di jalan"


"Tentu. Oh iya, jangan mudah percaya dengan orang lain bila kau tidak melihat dari tiga sudut pandang Tsuha dan jangan lepaskan pandanganmu dari Pangeran Aosora. Banyak sekali orang yang berbahaya"


Tsuha merasa aneh dengan perkataan Nao. "Kau ini, ngomong apa?"


"Saat De luce Archie keluar dari tubuhnya. Yakinlah, bila itu bukan Aosora. Yah! Itu saja. Selamat tinggal"


"Ya, jangan berbicara yang aneh. Cepatlah berangkat sebelum Kapten Marsyal marah denganmu!" Tegas Tsuha.


"Satu lagi, pilihlah jalanmu sendiri. Temanmu, tak hanya aku dan Tsuki" Nao keluar dari kamar Tsuha sambil menambaikan tanganya dari belakang tanpa melihat Tsuha.


"Dia, kesurupan apa lagi?" Tsuha mengelengkan kepalanya.


Nao melihat Arthur yang mengatakan sumpahnya terlebih dahulu di atas lingkaran sihirnya. "Ini lebih cepat dari dugaanku" Nao merubah wujudnya menjadi Ciel guru Arthur setelah Nox. Tak hanya wujudnya yang berubah. Pakaian yang ia kenakan pun, turut berubah.


Ia mendatangi Nox yang sedang melihat Arthur dari jarak dekat. "Apa Anda menikmati pemandangan ini?" Tanyanya pada Nox.


Nox melihat sosok yang lebih tinggi darinya yang berpakaian rapi dan serba putih termasuk warna rambutnya. "Kau siapa?" Nox mengkernyitkan keningnya. "Saya, guru penganti Anda untuk Pangeran Aosora" Jawabnya.


"Oh, kalau tidak salah namu Niel?"


"Ciel yang benar" Jawabnya sambil terkekeh kecil.


"Maaf, Tuan Ciel. Saya sering sekali salah menyebut nama orang. Kenapa Anda baru muncul? Dimana saja Anda sejak hilangnya Pangeran Aosora? Saya tidak sedikitpun melihat Anda khawatir dengannya" Nox tidak menyukai keberadaan Ciel.


"Maafkan saya. Anda taukan kekhawatiran untuk Pangeran Aosora akan sia-sia saja dan membuang-buang waktu bila tidak ada yang mengusutnya. Apa lagi, saya disini hanya seorang guru privat Pangeran Aosora saat malam hari. Saat insiden itu terjadi, saya tidak berada di istana. Ini adalah kelalaian saya. Saya tidak akan marah bila Anda menyalahkan saya" Ucap Ciel.


"Yeah, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Mau bagaimana lagi?" Ucap Nox.


Mereka berdua melihat ritual pensucian Arthur hingga usai. Nox tidak sedikitpun mencurigai Ciel disebelahnya.


"Tuan Nox, apa Anda menyukai peribahasa?"


Nox melirik ke arah Ciel. "Aku tidak terlalu menyukai sesuatu yang membuatku berfikir keras"


"Ini tidak membuat Anda berfikir dengan keras. Kondisi Pangeran Aosora saat ini ibarat menegakkan benang basah?"


"Apa maksudnya? Aku tak mengerti maksudmu" Ucap Nox.


"Pangeran Arthur tidak akan kuat menahan beban sebagai penerus Aosora tanpa adanya tanda kutukan di punggungnya. Hal ini, akan sia-sia saja dan akan merusak tubuh Pangeran Arthur sendiri" Jelas Ciel.


Nox tidak bisa menjawab ucapan Ciel. "Tanda kutukan Aosora memiliki fungsi untuk mengumpulkan semua kebencian orang-orang terhadap Aosora dan menjadikannya sebagai sumber energi sihir mereka" Lanjut Ciel.


"Oleh karena itu, Aosora dianggap sebagai marga yang paling kuat di Negri ini sebelum Marga De luce. Semakin mereka membenci dan takut kepada Aosora, maka semakin besar pula energi sihir yang dikeluarkan oleh penerus tanda kutukan itu"


Nox melihat tanda di dada kiri Arthur. "Bukankah, tanda kutukan yang ada di punggung penerus Aosora, hampir sama dengan lambang di dada kiri Arthur?"


"Jelas berbeda" Elak Ciel. "Dilihat dari warna, pola, simbol yang digunakan, dan fungsinya sangat jauh berbeda" Ycap sekali lagi Ciel.


"Bedanya darimana?" Tanya Nox sekali lagi.


"Carilah sendiri. Aku tidak suka membagi ilmuku dengan orang sepertimu" Lirih Ciel sambil melambaikan tangan pada Arthur yang melihatnya.


"Guru Ciel!" Arthur membalas lambaian tangan Ciel.


"