The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Perjalanan ke Aosora [Perjalanan]



Arthur melihat ke langit yang cerah dan awannya yang berjalan dengan cepat ke utara.


"Nao, sepertinya pembunuh itu mengetahui sesuatu tentang diriku" Ucap Arthur sambil menghela napas.


...****************...


Nao melihat ke arah Arthur. Ia cukup terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arthur. "Apa maksudmu?".


Arthur melihat ke arah Nao dan tersenyum tipis padanya. "Dia tau sesuatu yang dirahasiakan oleh keluarga Aosora. Sesuatu yang tidak ku ketahui" Jawab Arthur.


Nao membuang mukanya. "Apa-apaan itu?! Kenapa keluagamu main rahasia-rahasiaan. Ya! Kalau begitu! Kau harus bisa membongkar rahasia itu! Jadi, gimana? Mari mencarinya bersama-sama" Nao berusaha membujuk Arthur.


Arthur menurunkan pandangannya.


"Hei Arthur!" Archie tiba-tiba bersuara.


"Bocah itu berusaha untuk menghiburmu. Dasar bodoh! Yang sedang susah disini itu bukan kau saja! Bila kau seperti ini terus, orang-orang yang mengantarmu juga akan kena imbasnya!" Archie berusaha membuka mata Arthur.


Dalam benak Arthur ia berkata "Itu benar. Tapi, aku khawatir mereka celaka karena aku" Archie memiliki pikiran yang sama dengan Arthur.


"DASAR BODOH! Mereka! 7-8 orang disini datang untuk melindungimu! Mereka sudah sadar konsekuensi yang akan mereka dapatkan dalam pengantaranmu ini Arthur! Musuhmu! Bukan hanya orang jauh saja! Musuhmu bukan hanya dari musuh ayahmu! Tapi! Ini juga karena musuh Alex! Dia itu Argh! Sudahlah! Intinya jangan sampai mengikuti jejaknya! Cukup nikmati saja hasil yang sudah dia perjuangkan!" Tegas Archie pada Arthur.


Suara Archie sangat memenuhi kepala Arthur. Arthur memegang kepalanya karena sakit.


Hidung Arthur tiba-tiba terasa gatal dan panas. Ia menekan hidungnya yang terasa gatal itu. "Tes" Namun, sesuatu keluar dari hidung Arthur dan menetes di apel yang dimakan oleh kucing hitam kecil Arthur.


Nao membelalakan matanya melihat Arthur mimisan. "Sial!" Ia meraba sakunya dan langsung memberi sapu tangan pada Arthur, serta mengambil apel hijau dari tangan Arthur.


"Pakai ini, aku akan menemui guru Nox untuk memeriksamu dulu" Nao berdiri dan berancang berlari. Namun, Arthur langsung menahan ransel Nao.


"Tidak apa-apa. Ini sudah biasa" Arthur berdiri sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan Nao. "Tolong panggilkan Tsuha, katakan bila aku menunggunya di kereta" Arthur berjalan menjauhi Nao.


Kucing dan gagak itu mengikuti Arthur dan masuk ke kereta kuda.


Wajah Nao terlihat murung, tak lama dari itu dia kembali menyeringai. "Benar-benar Aosora Arthur" Ia membuang apel hijau itu dan mendatangi Tsuha yang berjongkok di kejauhan.


...****************...


Di malam yang gelap itu, Marsyal melambaikan tangan pada Nao yang meringis dan melambai-lambai padanya di dalam kereta kuda yang sama dengan Arthur.


Razel muncul di sebelah Marsyal, "Kau yakin dengan orang yang menjadi tersangka?" Tanyanya pada Marsyal yang menurunkan lambaiannya.


"Ya, firasatku tidak pernah meleset" Jawab Marsyal sambil melihat Razel yang lebih pendek darinya dan berjalan untuk kembali ke markasnya.


Razel berjalan di sebelah Marsyal.


"Issac yang kau maksud itu, adalah keturunan siluman ras serigala. Dia memiliki hubungan dengan orang itu. Target orang itu adalah Aosora Arthur" Ucap Marsyal sambil berhenti di jalan.


Razel membelalakan matanya, "Tadi, kau berkata bila orang itu ada pada salah satu anggota yang mengantarkan Arthur kan? Kalau begini, semua orang yang ada di sana dalam kondisi berbahayakan?" Tanya Razel sambil melihat kereta rombongan Arthur yang sudah memasuki hutan.


Marsyal tersenyum tipis, "Kita masih punya waktu" Ujar Marsyal sambil menepuk punggung Razel.


"Apa maksudmu?" Razel melihat raut Marsyal yang senang.


"Orang itu bukan orang yang sembrono. Dia melakukan semuanya dengan cara yang halus dan perlahan. Puncaknya, akan terjadi pada malam pengangkatan Arthur sebagai Putra mahkota" Jawab Marsyal.


Daeva ikut mendengar ucapan Marsyal. "Cih! Dasar bodoh. Kenapa dia suka sekali dengan memperhitungkan firasatnya. Wosh!" Daeva melompat ke dahan pohon berikutnya dan mengikuti perginya rombongan Arthur.


...****************...


Di dalam kereta kuda. Pria bermata hazel dengan rambut kecokelatan memperhatikan Arthur yang duduk di depan kursi Arthur.


"Anu, bolehkah kita saling berkenalan?" Pria bermata hazel itu membuka mulutnya untuk bersuara dan tersenyum pada Arthur.


Pria itu, mengosok dadanya. "Oh! Kau yang anak baru yang langsung naik jadi rank B+ itu ya?" Kabar tentang kenaikan Nao sudah terdengar di telinga semua pejuang Shinrin.


"Hahaha, jadi malu. Lalu bagaimana dengan namamu?" Nao berbalik tanya pada Pria itu.


"Aku Leurel Vest Dera dari Markas Kesatria dan Keprajuritan" Jawabnya sambil melihat ke arah Tsuha.


"Oh, aku Tsuha" Singkat Tsuha dalam memperkenalkan dirinya.


Nao mendekatkan dirinya pada Dera dan mulai berbisik, "Sudahlah. Kau tidak perlu menanyakan diri Tsuha. Dia memang sok sikap gitu. Berapa usiamu?" Nao mengalungkan lengannya pada bahu Dera.


"19 tahun" Jawabnya.


"Woah! Selisih setahun denganku dan Tsuha. Tapi, kau akan selisih dua tahun dengan Arthur. Apa Aku boleh memanggilmu Dera saja?" Tanya Nao sambil menepuk-nepuk Dera.


"Panggil saja sesukamu" Jawab Dera dengan lirih.


"Berapa tahun kau sudah mengabdikan diri untuk Shinrin Dera?" Nao melihat bet rank Dera yang sama dengan miliknya.


"Empat tahun. Aku sudah bergabung dengan Guild itu sejak usiaku 15 tahun" Jawab Dera.


"Wow, itu usia yang sangat muda. Lalu, apa alasan Putra Mahkota Baal..."


Tsuha memperhatikan Nao dan Dera berbincang. Arthur fokus membaca lanjutan Novel Marsyal yang hampir habis. Ia ingin mengembalikannya saat hari pengangkatan nya.


Tsuha sesekali melihat ke arah Arthur yang lebih pendiam dari sebelumnya.


"Apa yang menganggu pikiranmu?" Lirih Tsuha pada Arthur.


Arthur melihat ke luar kereta. "Tidak ada" Arthur menutup bukunya dan melihat kucing hitamnya yang tidur diatas pangkuannya.


"Tsuha, bila aku kehilangan kendali atas diriku sendiri, ku harap kau menjadi satu-satunya orang yang menyadarkanku" Ucap Arthur yang telah menyelesaikan membaca bukunya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Tsuha.


"Pada bab ke 5 sampai bab terakhir, Alder Ren ternyata bukan tokoh utama di cerita Kak Marsyal" Ucap Arthur sambil memberikan buku itu kepada Tsuha.


Nao melihat ke arah Arthur.


"Apa maksudnya?" Tanya Tsuha yang masih tak paham dengan ucapan Arthur.


"Di sini, ada salah satu tokoh yang ceroboh bernama Alta. Ia bertemu dengan Alder Ren di usianya yang ke 16 tahun. Dan Alder Ren memberi sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh Alta. Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh titisan yang lainnya. Kemudian, Alta bertemu dengan titisan iblis dan berguru padanya. Agak nyedihin ceritanya" Jelas sedikit Arthur.


"Lalu, apa yang terjadi?" Tanya Nao dengan tiba-tiba.


"Alta di culik. Di culik menuju negri yang tidak bisa di jangkau oleh para Titisan"


"Siapa yang menculiknya?"


"Ruri" Jawab Arthur.


Nao terseringai dengan lebar


"Ruri, ini karakter antagonis dia cerdik dan aku cukup menyukai karakternya. Bukankah, karakter antagonis yang bisa berubah wujud menjadi siapapun itu keren?!" Arthur tiba-tiba bersemangat.


"Nah! Bener! Aku juga ingin bisa memiliki sihir seperti itu. Kalau aku bisa, aku akan menyamar seperti Arthur!" Tegas Nao.


"Wah! Cocok itu! Aku juga ingin berubah menjadi ayahku. Gara-gara novel ini, aku sampai bisa mimpi bertemu dengan Ruri. Kau tau! Dia bisa berubah menjadi ibuku dan ayahku. Astaga, walau cuma mimpi aku merasa senang bertemu dengan orang tuaku" Cerita Arthur dengan nada yang riang dan senyum yang lebar.


Dera melihat raut itu dari wajah Arthur. "Dia terlihat sekali dalam menyembunyikan perasaannya"