
"Ini salahku! Aku yang salah! Harusnya, aku melarang Tsuki dan Nao memasuki hutan!"
"Ah, tidak! Tidak! Ini bukan salahku! Kenapa aku harus menyalahkan diriku?"
"Tapi, andai bila aku tak memasuki hutan, ayah tidak akan melawan iblis itu. Ahh, ini salahku. SALAHKU! SALAHKU! SALAHKU! SALAHKU!! AKU BUKAN ANAK YANG BAIK! BAGAIMANA BILA AYAH TERLUKA?! BAGAIMANA BILA AYAH TAK KEMBALI?! AKU HARUS BILANG APA PADA IBU?!"
Tsuha terus-menerus berbicara dengan alam bawah sadarnya. Ia terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri saat berlari sambil menarik tangan kanan Tsuki.
"IBU AKAN MEMBENCIKU LAGI. AKU TAKUT UNTUK PULANG. Apa aku kembali ke ayah saja? Apa aku mati saja? Dan menjadi wadah iblis itu? Ah, bila aku mati, ibu tidak akan membenciku. Tapi, bagaimana dengan ayah dan Tsuki? Lalu, bagaimana bila mereka sedih? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan! APA YANG HARUS AKU LAKUKAN!"
Tangan kiri kanan Tsuha mulai mengaruk telinga bagian belakangnya. Kecemasan Tsuha mulai kambuh.
Tsuki melihat tangan kanan Tsuha yang terus-terusan mengaruk. Dan ia juga, melihat telinga yang digaruk oleh Tsuha mulai memerah.
"Tsuha! Apa yang kau lakukan! Telingamu bisa terluka!"
Bentakan Tsuki membuat Tsuha tersadar. Kesendiriannya yang ramai langsung pecah karena bentakan Tsuki.
Tsuha melirik Tsuki yang mengusap air matanya dan ingusnya. Ia tersadar. "Benar, masih ada Tsuki. Setidaknya, aku harus melindungi dia. Aku adalah kakaknya"
Tangan kiri Tsuha mengengam erat telapak tangan Tsuki dan berlari bersama.
"HOSH! DRAP! DRAP!"
"Tsuki! Kita harus cepat! Tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi kita sampai"
Tsuha menarik tangan Tsuki sambil berlari. Ia melawan rasa takutnya demi Tsuki.
Dari kejauhan dimana setitik cahaya mulai terlihat dimata mereka, Tsuha dan Tsuki mulai melihat siluet perempuan berambut panjang digerai berlari kearah mereka.
"Ibu?"
"TSUKI!! NAK!"
"IBU!!!" Kedua saudara kembar itu berteriak memanggil ibu mereka. Pegangan tangan Tsuki, terlepas dari Tsuha. Tsuki, berlari lebih cepat darinya.
"TSUKI!"
Laju lari Tsuha mulai melambat.
"Kenapa?"
Tsuha hanya mampu melihat punggung Tsuki yang mulai menjauh.
"Kenapa ibu hanya memanggil nama Tsuki? Apa ibu tak melihatku?"
Tubuh Tsuha mulai bergetar. Kakinya mulai melemas. Namun, ia masih saja berusaha untuk berlari.
"Kenapa? Apa aku bukan anakmu?"
GREP!
Tsuha melihat Glashya yang memeluk Tsuki dengan erat. Tsuha berjalan perlahan kearah ibunya yang tingga 1 meter di depannya.
"Ibu, aku juga ketakutan. Apa kau tak memelukku juga? Ibu...?"
KRAK!
Hati kecil Tsuha mulai merapuh.
"...Tsuki! Ibu sangat mengkhawatirkanmu!..."
"Apa ibu tidak mengkhawatirkan aku?"
Tangan kanan Tsuha berusaha meraih wajah ibunya yang menangis.
Glashya melihat Tsuha yang mengulurkan tangan untuknya. "Tsuha! Dimana ayahmu!?"
"Ibu, kenapa kau menaikkan nadamu padaku dan merendakan nadamu pada Tsuki?"
Tsuha membelalakan matanya dan menurunkan tangan kanannya.
"Hiks! A-ayah ada dibelakang! Hiks! Di-dia! Di serang Iblis!" Tsuki menjelaskannya dengan gelagapan.
"Apa aku harus menangis dulu baru akan diperlakukan sama dengan Tsuki oleh ibu? Tapi, bagaimana caranya menangis? Apa aku tak bisa menangis? Pantaskah aku tuk menangis?"
Glashya melihat salah satu putranya (Tsuha) yang masih melamun di tempat. "Tsuha....Tsuha"
Alam bawah sadar Tsuha terlalu ramai untuk hutan yang sepi dan panggilan ibunya.
"TSUHA!" Nada tinggi Glashya menyadarkan Tsuha dari lamunannya.
Glashya menunjukkan senyuman tipis pada putra tertuannya itu.
"Tsuha, kamu adalah seorang kakak. Seorang kakak harus dapat diandalkan dan harus melindungi adiknya. Jadi, fokuslah pada orang yang berbicara di depanmu. Dan jadilah pendengar yang baik"
Tsuha sangat paham maksud ibunya. Ia mengangguk tanpa banyak bicara. "Ayo, segera keluar dari hutan dan mengevakuasi diri. Ayahmu, pasti akan kembali"
Tangan kiri Glashya menuntun tangan kanan Tsuha agar mempercepat jalannya.
Tsuha kembali berada dialam bawah sadarnya.
"Benar. Aku adalah seorang kakak. Aku harus bisa segalanya. Aku harus bisa melindungi Tsuki, menemani Tsuki, menjaga Tsuki, mengingatkan Tsuki, menasehati Tsuki, melakukan apapun untuk Tsuki. Benar. Aku tidak perlu mendapatkan pelukan ibu, asal Tsuki mendapatkannya, aku sudah senang. Seharusnya aku senang. Tapi, mengapa dadaku terasa aneh? Kenapa aku ingin terus-terusan membelalakan mataku? Kenapa telinga kanan bagian belakangku gatal sekali? Aku ingin mengarukknya. Tapi, bila aku mengaruknya, tanganku akan terlepas dari pegangan ibu. Benar. Aku harus pegangan dengan ibu. Dibelakang sana ada Iblis. Tahanlah sebentar, aku akan segera keluar dari hutan"
...****************...
Setiap langkah terasa menyakitkan bagi Tsuha saat melihat banyaknya mayat yang berhamburan dimana-mana.
"Apa ini karena kesalahanku?"
Seluruh kulit Tsuha mulai berkeringat dingin. Tsuha dan Tsuki mulai di tuntun oleh Bara dan Lucy menuju tempat pengevakuasian. Glashya sengaja tidak kembali menuju tempat pengevakuasian. Ia berniat mendatangi suaminya (Gabriel) yang ada di dalam hutan.
"Perlukah aku menjemputmu Gabriel?" Batin sambil menatap kedalam hutan.
"Jangan mati dulu Gabriel. Kita masih belum menuntas tugas yang harus kita selesaikan bersama. Demi putra kita"
...****************...
Kanza kembali setelah mencari Gabriel. Jasad Gabriel tidak ditemukan. Sehelai kain milik Gabriel pun tidak ditemukan oleh Kanza. Kanza langsung kembali ke wujud manusianya dan kembali menuju tempat Nel dan Daniel berada.
Disisi lain tak jauh dari tempat Kanza berada, Arnold sudah pasrah dengan takdirnya. "Ak-Aku kalah?". Tangan dan kaki yang terpisah dengan tubuh dan perut yang berlubang akibat serangan yang ia terima, membuat Arnold berasumsi bila dirinya tak akan mampu berpindah pada wadah yang lain.
"BWOSH!!!!"
Sayap yang membentang dengan lebar dan berwarna gelap, terlihat indah dimata Arnold. "Malaikat? Apa aku sudah mati?"
TEP!
Suara sentuhan halus kaki saat menyentuh dedaunan yang jatuh di tanah yang lembab, membuat Arnold teringat seseorang yang sudah lama tidak ia temui.
"Guru?"
Mata Arnold melihat sosok itu dengan jelas. Dia sadar bila sosok itu bukan gurunya. Rambutnya yang hitam dan menutupi matanya dan seringaian sepanjang rahangnya yang menampak-kan gigi taringnya yang pajang membuat jiwa Arnold bergetar.
"Si-siapa kau?" Suara Arnold bergetar.
Sosok itu berdiri diantara tubuh Arnold dan membungkukkan tubuhnya dengan dalam. Wajah Arnold berjarak sejengkal orang dewasa dengan wajah sosok itu.
"Hei~ Lama tak berjumpa. Apa kau masih ingin hidup, De luce Arnold?"
Sosok itu masih saja menunjukkan seringaiannya yang lebar. Dia adalah sosok yang paling menakutkan yang penah Arnold lihat semasa hidupnya.
Sangking takutnya Arnold, ia sampai tak sanggup untuk mengeluarkan suaranya.
"Hei, Apa kau mendengar pertanyaanku?"
Arnold mendengarnya. Namun, pita suaranya seperti tak berfungsi.
"Kalau tak ada jawaban. Artinya IYA. Hehe"
Sosok itu terkekeh dan mencengkram wajah Arnold dengan kasar.
Rasa panas yang aneh mulai dirasakan oleh jiwa Arnold.
"Arg! ARRRRRGHHHHHH!!!!!"