
Mata merah, memiliki tanduk menjulang keatas dan berambut putih dengan potongan mulet itu, berada dibalik jendela sambil memegang batu seukuran kepala orang dewasa yang akan ia lempar ke jendela itu.
Dia adalah, De luce Mizel yang sedang tersenyum melihat Kakaknya.
...*****************...
Archie sangat terkejut melihat Mizel berada di halaman Markas Pemberantas Iblis.
"HUAAHHHH!!!! ARCHIEEEEEE!!!!!! ADA IBLIS!!!!!! SIALAN!!!! PANGGIL KEPTENNNNN!!!"
Arthur panik melihat ada iblis lain tepat didepan matanya (dari penglihatan Archie)
"Tenanglah, Aku mengenal Dia, Dia... masih teman Alex"
"APA ?! KENAPA KAKEK BUYUTKU MEMILIKI BANYAK TEMAN BANGSA IBLIS ?!!!"
Archie memegang telinganya yang berdengung karena teriakan Arthur.
"Apa yang Kau lakukan disini ?!"
Archie mencondongkan wajahnya keluar jendela sambil sedikit menutup jendelanya.
"Menjemputmu. Ayo, Kita pulang ke rumah. Bruakkkk!!!"
Mizel menjawab sambil melepar batu besar itu.
"Apa ?! Kau gila ?!!!" Lirih Archie.
"Hei, siapa yang sedang Kau ajak bicara ?"
Tsuha mendengar perbincangan mereka.
Archie menutup jendela itu karena terkejut dengan suara Tsuha.
Ia langsung membalik badannya dan melihat kearah Tsuha.
"Anak nyasar. Aku akan kedepan sebentar"
Archie berusaha santai menjawab pertanyaan Tsuha dan turun perlahan dari kasurnya.
Walau begitu, Jantungnya bermaraton dan tangannya berkeringat.
"Mizel sialan !" Archie memaki adiknya dalam hati.
Saat turun kebawah disana ada Nel dan Liebe yang berjaga serta, belum tidur.
Archie meminta izin untuk keluar sebentar.
Nel mengizinkannya begitu saja.
Mizel berpindah tempat didekat perbatasan hutan atas suruhan Archie.
Setelah makian panjang dari Archie.
Mizel memperlihatkan pola yang sama seperi milik keturunan pewaris tahtah Kerajaan Aosora yang ada dipungung hingga tubuh bagian depannya.
Pola itu, seperti bunga benalu yang membatik ditubuh Mizel.
Archie membelalakan matanya melihat pola itu yang mengerogoti tubuh Mizel hingga kurus.
Itu, terlihat sangat menyakitkan.
"Sejak kapan tanda itu muncul ?"
"Setelah meninggalnya Ayah. Awalnya cuma berbentuk seperti kuncup benalu. Tapi, ini mulai melebar setelah Kau disegel. Kembalilah Ke Akaiakuma. Aku ingin cepat telepas dari penderitaan ini. Kau tau, ini sudah berapa tahun ?" Mizel bertanya pada Archie.
Archie terdiam mendengarkannya. Sedangkan Arthur, berusaha memahami keadaan.
"Sekarang, adalah tahun 1092, Kau disegel saat tahun 1029. Berarti, tanda ini sudah ada lebih dari 63 tahun ditubuhku"
Mizel kembali mengancing bajunya.
Ha Nashi, memandangi mereka dari kejauhan dengan wujud gagaknya.
"Aku bersyukur karena Ayah hanya mengutukku dan tidak mengutukmu. Dia, Ingin Kau menjadi pewarisnya yang memegang tahta Istana Akaiakuma. Bila Kau bersedia kembali, Tuan Ha Nashi sudah menyiapkan ramuan untuk menghilangan tanduk abnormal itu" Tawar Mizel.
Archie menundukkan kepalanya.
"Arthur, Apa Kau ingin menghilangkan tanduk ini ?"
Archie memegang kepalanya yang bertanduk.
"Kalau Kau tak menyukainya, jangan dilakukan. Aku tak masalah memiliki tanduk. Karena, Aku bukan bangsa Iblis"
Archie terlihat mengangkat kedua alisnya saat mendengar jawaban Arthur
"Pfffttt!!!! Buahahahaha.... jawaban macam apa itu ?!" Archie tertawa saat mendengarnya.
"Loh ? Memang apa yang salah dengan ucapanku ?"
Arthur bingung sendiri mendengarnya.
"Begini loh Arthur, Tubuh ini adalah milikmu. Aku hanya menumpang. Katakan saja bila Kau ingin menghilangkan tandukmu ini. Aku, tak keberatan untuk menjadi Raja Akaiakuma" Jelas Archie sambil mengusap Air matanya.
"Kalau Kau menanggis, maka menanggis saja. Jangan sok kuat dengan menyembunyikan air tangismu dengan air tawamu yang Kau buat-buat itu" Sela Arthur.
Archie berhenti mengusap air matanya.
"Apa ?! Aku tidak menanggis!" Tegas Archie sambil memegang kepalanya.
"Archie ! Kita ini berada di badan yang sama. Jika Kau merasakan sesuatu, Aku juga akan merasakannya. Begitu pun sebaliknya!" Tegas Arthur.
Archie selama ini tak menyadarinya.
"Sialan! ini memalukan sekali"
Archie tersenyum melihat Mizel.
"Beri Aku waktu hingga besok. Besok malam Kita akan bertemu disini diwaktu yang sama" Ucap Archie.
Dari balik jendela pintu markas, Nel yang belum tidur melihat Archie mengobrol dengan Iblis itu.
Liebe meminum kopi sambil membaca majalah istana dan duduk didepan Nel yang mengintip dijendela.
Nel duduk kembali sambil meminum kopinya.
"Untuk apa ? Biarkan saja. Mereka tau, tapi mereka hanya diam saja. Apa untungnya untukku berada diantara mereka ? Bila memang ini alur cerita mereka akan ku ikuti saja"
Nel memejam matanya sambil meminum kopi nya yang hampir dingin itu.
Kopi yang Nel minum terasa asin.
"Siapa yang membuat ini ?"
"Emmmm ? Lina tadi yang buat. Memang kenapa Kapten ?"
"Kok asin ?"
"Punyaku juga" Liebe menunjukkan Kopinya yang hampir habis.
Nel menelan ludah melihat kopi Liebe yang hampir habis.
"Habisin, punyaku juga" Nel memberikan kopinya pada Liebe.
"Anda adalah Kapten Kami. Jadi, Anda harus menghargai kopi buatan anggota Anda"
Liebe mengatakannya sambil menutup kedua matanya dan mengangkat kopi asinnya.
"Ini sama seperti berniat membunuh Kaptennya sendiri"
"Ngomong-ngomong, Apa benar mengenai kutukan itu ?" Tanya Liebe.
"Kutukan apa ?"
"De luce pada Aosora"
Nel langsung melihat Ke Nel.
"Kutukan itu, harusnya hanya ucapan belaka. Lagi pula, Aku tak ada niatan untuk melakukannya. Aku tak sehebat guruku. Mengutuk seperti itu, butuh kejernian mana tingkat tinggi. Dan tak sembarangan orang bisa mengutuk orang lain"
Tsuha mendengar semua ucapan mereka dari tangga teratas lantai dua saat Ia hendak ke kamar mandi.
"Kapten bilang 'Aku' ? Siapa 'Aku' yang Dia maksud ?"
Tsuha bersembunyi untuk mendengarkan mereka berbicara.
"Lalu, menurutmu, apa hubungan Arthur dengan Ambareesh ?"
"Eh ? Kau mengenalnya ?"
Tsuha mendengar segalanya dan Ia menarungkan kedua alisnya.
"Ambareesh ? Siapa dia ? Dan Apa yang sebenarnya terjadi dengan Guild ini ?"
Tsuha menutup mulutnya.
"Dia adalah Guruku sejak Aku kecil. Sejak dulu, Dia memiliki karakter yang pendiam dan terkadang, Dia begitu menyeramkan. Kau sendiri, bagaimana bisa mengenal nama itu ?" Nel menanyakan balik pada Liebe.
"Entah lah, Itu sangat samar sekali. Tapi, setiap harinya saat Aku melihat Pangeran Arthur, mulutku hampir memanggilnya Ambareesh. Aku sering bermimpi melihat wajah Pangeran Arthur sebelum dia kemari. Oleh karena itu, Aku sangat terkejut melihat wajahnya dan tanduk itu. Di mimpiku, Ambareesh itu orangnya kejam sekali"
"Itu memang benar. Guruku bisa dikatakan kejam. Kakakku sendiri, dibunuh oleh Dia dalam keadaan tangan, kaki, dan kepalanya yang terpisah dari tubuhnya"
"Ah, apa mungkin Dia itu guru Kapten Nel sebelum bertemu Guru Nox ya ? Kapten Nel kan berasal dari Panti asuhan Kerajaan Aosora"
Tsuha baru mengingatnya dan pikirannya cukup tenang.
Ia lebih memilih untuk tetap mempercayai Nel karena, Nel adalah 'Penyelamatnya'
Dan Dia berhenti menguping perbincangan mereka karena itu tidak sopan.
Tsuha turun dari tempat persembunyiannya untuk kekamar mandi.
Nel langsung diam dan tak sengaja meminum kopi asin itu saat melihat Tsuha turun.
"Hmpf...." Ia hampir menyeprotkan kopi itu dan menurunkan gelas kopi ditangannya ke meja.
Ia terpaksa harus menelannya kemudian memanggil Tsuha dengan kode tangan yang dilambai-lambaikan.
Tsuha datang ke Nel.
"Tolong, buang kopi ini. Jangan sampai yang lain tau ya" Bisik pelan Nel.
Tsuha mengangguk kemudian berjalan ke dapur baru ke kamar mandi.
Liebe melihat Tsuha masuk ke kamar kecil kemudian, Ia bertanya pada Nel,
"Apa, Dia mendengar perbincangan Kita ?"
"Harusnya tidak. Sihir miliknya, disegel oleh sesuatukan ?" Bala Nel.
"Syukurlah" Liebe merasa tenang mendengarnya.
"Lalu, Apa Kau tidak kembali untuk Akaiakuma, Raja ?"
"Tidak akan"
Nel, adalah De luce Arnold yang jiwanya terjebak ditubuh Nel enam tahun yang lalu.
"BegituKah ? Raja ? Apa-apaan semua ini ? Dimana Kapten Nel dan Liebe ?"
Zack, mendengar semuanya karena Ia tak bisa tidur dan berada diruang sebelah ruang istirahat untuk membuang kopi asin itu sembunyi-sembunyi.
sejak malam itu, Zack menjauh pada Liebe dan Nel secara halus.
Ia sudah merasa ada yang aneh dengan Nel yang mulai berubah kebiasaannya dari bisa mabuk hanya dengan minum kopi, hingga Ia tak pernah membiarkan ada hawa iblis berada disekitarnya. Nel memiliki perasa yang sangat sensitif dan Nel selalu mengeluarkan pedang mananya disaat apapun.
Kini, Nel hampir, ah bukan hampir tapi, memang tak pernah mengeluarkan pedang mananya. Melainkan, Selalu membawa pedang besi dimana-mana.
...******** BAB 1 SELESAI ********...