
Arthur mendengar kabar bila Baal telah menganti dirinya dengan anggota kepercayaannya untuk pengantarannya menuju Aosora.
Arthur sedikit kecewa. Namun, ia sadar bila ia tidak boleh egois. Ia sudah bersykur karena telah mendapatkan tempat di Shinrin.
Arthur makan malam bersama anggota Markas Pemberantas Iblis. Makanan malam ini, lebih mewah dari biasanya. Makanan di depan Arthur ada sayur dan daging bakar dan ayam yang dibakar juga, serta
"Anu wakil, tumben manananny-"
"SSST! makan dan nikmati saja" Lina langsung menyuapkan sayuran pada mulut Arthur.
Arthur membelalakan matanya dan mengunyahnya kemudian menelannya dengan perlahan.
"Wakil, harusnya Anda jangan beg- HMP!"
Tsuha memasukkan serbet ke dalam mulut Arthur.
"Anggap saja ini perayaan ulang tahunmu dari kami yang tidak bisa datang ke Aosora" Ucap Razel sambil memberikan dada ayam untuk Arthur.
Mata Arthur langsung berkaca-kaca dalam keadaan mulut yang di sumpeli kain oleh Tsuha.
"Aail...." Arthur menangis dan melepas kain yang ada di mulutnya.
Ini pertama kali bagi Arthur merayakan ulang tahunnya seramai ini. Arthur menundukkan pandangannya. "Terimakasih..... Hiks skrooot" Arthur menyedot ingusnya yang hampir keluar.
"Uh,.... dah cup! Cup! Cup!" Val meringis sambil menepuk-nepuk punggung Arthur.
Val mencari kesempatan agar bisa memegang Lina di sebelahnya.
"PLAK!" Shera memukul punggung Val karena ia tau maksud terselubung dari tindakan Val. "Akh! Apaan sih Sher! Aku lagi ngehibur Arthur" Ucap Val sambil cengegesan.
"Pak!" Razel berdiri dan langsung mengetak kepala Val dengan tangan kanannya. "Hiburlah dengan benar" Razel menunjukkan senyumannya pada Val yang melihat ke arahnya.
"Uh, ahahahaha" Val tertawa melihat wajah Razel.
Issac melihat keharmonisan keluarga markas itu hatinya merasa teriris.
"Sebenarnya, perasaan apa ini? Apa aku berkata jujur saja kepada mereka bila ada malaikat yang berniat buruk untuk perjalanan Pangeran Arthur malam ini?" Issac meremas pakaiannya.
Zack yang duduk di sebelah Issac melihat gerak-gerik Issac yang gusar dari tadi.
"Ada apa?" Tanya Zack sambil memakan makanan dihadapannya.
"Apa aku cerita saja kepada Zack? Dia orang yang sangat mempercayaiku disinikan?" Batin Issac. Disisi lain, Zack membantin "Oh iya, Issac ini adalah siluman, apa dia tau tentang Alba?" .
Keduanya saling melihat "Iss/Zack Eh!" Keduanya berbicara bersamaan. Tsuha dan Liebe melihat mereka berdua dikala yang lain sibuk menghibur Arthur.
"Ah, ada apa Issac?" Zack langsung menyuruh Issac untuk berbicara terlebih dahulu.
Dari tempat lain, ada sosok yang menyeringai. Ia adalah sosok yang dimaksud oleh Issac.
"Itu, ad baiknya bila Arthur-"
"PATSH!!!!" Sosok itu, memutus kontrak yang dijalin antara Zack dengan Issac.
Zack merasakan kontraknya terputus.
Sosok itu langsung mengepalkan tangan kanannya dan "PREACHHHH!!!!! CRAT!!!!" Kepala Issac meledak di hadapan Zack, Liebe, dan Tsuha.
Darah dari leher Issac muncrat kemana-mana. Terutama, paling banyak di makanan Tsuha.
"BRUK!!!" Tubuh Issac langsung terjatuh di tempat makan.
"Humph..." Perut Tsuha langsung mendidih dan ia hampir muntah.
Ini tejadi begitu cepat. Semua orang yang ada di tempat itu, termasuk Arthur syok dengan kejadian yang terjadi dihadapan mereka.
"SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!!" Tidak ada satupun dari mereka yang merasakan hawa keberadaan musuh.
Zack melihat tangannya yang bergetar hebat. "Tidak mungkin. Siapa orang yang mampu memutus kontrak semudah ini? Issac, apa yang kau ketahui?" Razel berusaha menenangkan Zack.
Razel menutup matanya dan menepuk punggung Zack. "Zack tenangkan dirimu".
Zack membelalakan matanya dan menunjuk jasad Issac yang sudah tak berkepala. "Dia, dia ingin memberitahu kepadaku tentang Arthur. Wakil, sebenarnya siapa Arthur itu? Kenapa dia banyak sekali memiliki musuh?" Zack tau bila keluarga Arthur tidak pernah mengizinkan Arthur untuk keluar. Yang Zack ketahui, Arthur dilarang keluar karena kondisi Arthur yang lemah.
"Zack, dia adalah keturunan dari Aosora Alex. Musuh Aosora Alex tak hanya dari siluman ataupun Iblis. Hampir semua orang membenci keturunan Aosora Alex. Nama Aosora tidak hanya terkenal di negeri ini saja" Jawab Razel.
Zack menutup matanya dengan kedua tangannya. "Kenapa harus bocah itu yang mengalami hal ini? Padahal, hari ini aku baru melihat wajahnya yang senang dengan hidangan buatan wakil dan Shera. Bagaimana bila terjadi sesuatu dengannya di jalan?" Zack sudah menganggap Arthur seperti adiknya sendiri.
"Zack, disana tak hanya ada Tsuha. Tapi, ada Nao juga disana. Nao memiliki sihir yang bisa dikatakan lebih kuat dari kita. Jadi tenanglah" Ucap Razel
...****************...
Nao menyeringai sambil membersihkan apel merahnya yang terjatuh di tanah.
"Nao, jaga Pangeran Arthur dengan baik-baik. Aku sangat mempercayakan nama markas ini padamu" Ucap Marsyal sambil memberi Nao uang saku.
"Kapten. Setelah pulang nanti, kau harus menepati janjimu untuk menjadikanku wakilmu" Nao mengambil kantong uang saku dari Marsyal.
"Ya, asalkan aku tidak mendengar kabar buruk yang terjadi dengan Pangeran Aosora. Pukul 8 kalian akan berangkat. Keretamu dengan Kereta Pangeran Aosora akan dipisah" Ucap Marsyal sambil meletakkan sisir disaku dada Nao.
Nao langsung melihat ke arah Marsyal. "Hah? Kenapa Kapten!? Ugh.... Padahal perjanjiannya gak gini!" Tegas Nao sambil menarungkan kedua alisnya.
Marsyal membuang pandanganya untuk melihat Arthur dan Tsuha yang baru saja mengalami kejadian yang tidak akan bisa di lupakan dengan mudah.
"Aku baru mendapatkan kabar bila Markas Pemberantas Iblis telah diserang oleh seseorang dari jarak jauh. Nao, aku sangat percaya padamu. Jaga Pangeran Aosora dengan benar" Ucap Marsyal sambil menepuk kedua bahu Nao.
"Kalau begitu, biarkan aku se kereta dengan Arthur. Aku bisa menjamin keselamatanya" Ucap Nao dengan penuh percaya diri.
Marsyal langsung menghela napas. "Ya, akan ku bicarakan dengan orang yang se kereta dengan Arthur" Marsyal tidak bisa menawar lagi pada Nao.
"Yes! Ku tunggu di tempat Arthur dan Tsuha ya Kapten!" Nao berjalan dengan girang ke arah Arthur.
Marsyal menatap punggung Nao dan melihat apel yang hancur di tempat Nao berdiri tadi. "Tep!" Marsyal menginjak apel yang hancur itu kemudian ia pergi ke tempat lain untuk meminta agar Nao dimasukkan ke dalam kereta yang sama dengan Arthur.
"GREP! ARTHUR!" Nao memeluk Arthur dari belakang. "Hei, jangan dipikir dalam-dalam. Kau terlihat seperti remaja yang ubanan. Sekarang, pikirkan saja keadaanmu. Kita akan menuju ke Aosora kan?" Nao tersenyum dan mengacak-acak rambut Arthur yang memutih.
Tsuha memegang perutnya yang mual dari tadi.
Nao menyentuh pinggang Tsuha. "Ap kau hamil Tsuha?" Lirih Nao sambil menyeringai.
"Grep!" Tsuha mengalungkan lengannya pada leher Nao hingga Nao melepaskan pelukkannya pada Arthur.
"Dasar sialan. HUMMP!" Tsuha mual lagi dan langsung berlari karena dia akan muntah.
Nao duduk di sebelah Arthur dan mengambil gagak yang bertengger di sebelahnya.
"Arthur, jangan pikirkan apa yang telah terjadi. Serahkan semuanya kepada Shinrin. Mereka pasti akan cepat menemukan pelaku pembunuhan itu" Nao memberi Arthur apel hijau dari tasnya.
Wajah Arthur sangat pucat. Ia mengambil apel itu dan memberikannya kepada kucing hitam kecil yang ia pangku.
Kucing itu memakan apel itu.
"Hahaha, kucing jaman sekarang memang suka dengan makanan manusia ya? Siapa nama kucingmu?"
"Cimeng" Arthur mengusap kucingnya itu.
Nao bingung harus menghibur seperti apa. "Hei Arthur, jangan gini lah. Katanya kau mau ke Aosora! Kalau kau diam seperti ini, gimana nasib wargamu nanti?" Tanya Nao sambil menepuk keras punggung Arthur.
Arthur melihat ke langit yang cerah dan awannya yang berjalan dengan cepat ke utara.
"Nao, sepertinya pembunuh itu mengetahui sesuatu tentang diriku" Ucap Arthur sambil menghela napas