
Tsuha mengatur pola napasnya. Ini karena Angel tidak sengaja terpeleset lantai yang licin karena bocor dan menimpa dirinya.
Angel mendengar jantung Tsuha yang berdebar.
Tsuha memalingkan wajahnya. "Kau bisa berdiri kak?" Tsuha menutup sebagian mukanya dengan tangannya.
Suara jantung Tsuha semakin berdebar. Angel melihat wajah Tsuha yang memerah karenanya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Tsuha. "Apa ada yang sakit Tsuha?"
"Tidak. Kau cepatlah menyingkir" Jawab Tsuha dengan spontan.
Angel meringis. "Yah... kenapa?" Angel semakin mendekatkan wajahnya ke arah Tsuha. Ia mengalungkan kedua lengannya pada tengkuk Tsuha.
Pikiran Tsuha langsung keliling.
"Apa kau malu Tsuha?"
"Tidak!"
"Lantas, kenapa jantungmu berdebar secepat ini? Aku bahkan bisa mendengarnya tanpa menempelkan telingaku di dadamu"
Tsuha tidak tau harus menjawab apa. Tangan Tsuha spontan memegang pinggang Angel yang ramping. "Hiikk!" Angel cukup terkejut karena telapak tangan Tsuha yang dingin dan berkeringat mengenai sobekan pakaiannya di bagian pinggangnya. Kemudian, Tsuha mengangkat Angel dan melepaskan kedua tangan Angel di tengkuknya.
"Kak, tolong jangan begini. Aku laki-laki dan berusia 18 tahun. Jangan bercanda berlebihan padaku" Tsuha berusaha menenangkan dirinya.
Tsuha kembali berdiri dan membaca dokumen yang lain. Angel membelalakan matanya karena melihat Tsuha sangat tenang seperti itu. Jantung Angel berdebar kencang.
Tangan Tsuha bergetar. Ia berkeringat dingin. "Siaaaaalll!! Kakiku rasanya mau mati rasa!!!"
...****************...
Pukul 18.30 mereka berdua (Tsuha dan Angel) kembali tiga puluh menit sebelum makan malam dimulai.
Angel merasa canggung dengan Tsuha. "Anu, um... maaf mengenai tadi" Angel membungkukkan tubuhnya pada Tsuha.
Tsuha masih berusaha tenang dihadapan Angel.
"Iya kak. Maaf juga karena tak bisa membantu banyak. Segeralah masuk dan jangan lupa pakai pakaian yang tebal. Malam ini, lebih dingin dari biasanya" Tsuha langsung meninggalkan Angel setelah membalas bungkukan Angel.
Angel berdiri tegak dan melihat Tsuha yang menjauh. "Pakaian tebal?"
"BRUK!" Tsuha langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur miliknya yang diduduki oleh Arthur.
Nao, Arthur, Luxe, dan Verza yang berbincang langsung melihat Tsuha yang menutup kepalanya dengan bantal.
"Kau kenapa dan darimana saja Tsuha?" Tanya Nao sambil menarik bantal yang digunakan Tsuha.
Nao membelalakan matanya melihat wajah Tsuha yang lebih merah dari warna tomat. "Anjir! Kau kenapa Tsuha?! Apa kau demam?!" Nao langsung memegang kening dan pipi Tsuha.
Kening dan pipi Tsuha terasa dingin dan berkeringat. "Habis ngapain kau anjir!?" Nao melempar bantal yang digunakan Tsuha tadi untuk menutup wajah Tsuha.
"Pfft! Puahahahaha!" Nao tiba-tiba tertawa setelah melihat Tsuha dari atas hingga ke bawah.
"Cih! Jangan menyebalkan menjadi orang! Bugh!" Tsuha melempar bantal itu ke arah wajah Nao. Nao menghindar dan mengosok rambut Tsuha.
Arthur baru ini melihat wajah Tsuha seperti itu. "Aku dengar tadi, kau keluar bersama kak Angel. Apa dia menjahilimu?" Arthur tidak terkejut bila Tsuha dengan kondisi kesal seperti itu.
Sayangnya, Arthur salah paham. Tsuha tidak dalam kondisi kesal.
"Lebih parah dari menjahili!" Tsuha langsung berdiri sambil menutup wajahnya yang memanas dan masuk ke kamar mandi.
Nao berlari ke arah Tsuha dan mengedor pintunya. "Tsuha! Mau ngapain kau di kamar mandi?!"
Tsuha langsung membuka pintu kamar mandi dan ia telanjang dada. "Mau mandi Sialan!!! Bruak!" Tsuha membanting pintu sangking kesalnya dengan Nao yang mengusilinya.
"Nao, kalau pintu itu rusak, kau harus membetulkannya" Verza mengelengkan kepalanya.
Arthur mengangguk.
"Ck, gak seru ah!" Decih Nao.
Makan malam telah tiba. Arthur membelalakan matanya melihat Angel yang memakai pakaian agak tebal dan menutup hingga bagian lehernya. Arthur pertama kalinya melihat Angel mengenakan pakaian yang tidak terbuka di bagian dada dan Angel yang memakai stocking.
"Kak, apa kau sedang tak enak badan?"
"HAH?! Memangnya kenapa?!" Angel langsung bernada tinggi karena terkejut dan malu dengan pertanyaan Angel.
"Ugh, maaf kak!" Arthur langsung melihat makananya setelah Angel memelototinya.
Tsuha membuang mukanya dan fokus pada makanannya. Nao terkekeh ringan di sebelah Tsuha.
...****************...
H-1 Pengangkatan Arthur.
Cuaca di wilayah utara Aosora semakin memburuk. Suara angin cukup keras hingga terdengar ke dalam penginapan. Pelayan penginapan menyalakan semua penghangat ruangan dan diutamakan untuk tamu seperti Arthur.
Angel kembali membawa Tsuha menuju markasnya dengan sihir teleportnya untuk melanjutkan pencarian dokumen tentang Aosora Aiden yang tidak ada satupun disana. Seolah, kematian Aosora Aiden karena penyakitnya tidak pernah ada. Namun, ada rumor yang mengatakan bila kematian Aosora Aiden karena penyakitnya yang membuat Aosora Aiden mati diusia sekitar 26-28 tahun.
Tsuha mencari dokumen tentang itu. Sedangkan Angel, mencari dokumen lainnya tentang Aosora Alex.
"Ini aneh" Ucap Tsuha yang sudah memeriksa empat bilik dokumen yang menyimpan hasil penyelidikan sejak tahun 1029 hingga 1059. Tak ada satupun dokumen penyelidikan tentang Aosora Aiden.
Tsuha mengangguk. "Apa Aosora Aiden itu, memang ada?"
"Tentu saja. Rumornya mengatakan bila Raja Aosora kedua itu memiliki rupa yang persis dengan Raja Aosora pertama. Bedanya, hanya pada telinga Raja kedua yang tidak menurunkan gen elf-nya" Ucap Angel.
"Nyatanya, pada bingkai keluarga Aosora, hanya wajah Aosora Aiden yang tidak terlihat. Apa kau yakin dengan keberadaan Aosora Aiden di Aosora? Apakah dia memang keturunan dari Aosora Alex?" Tanya Tsuha pada Angel.
Angel meletakkan dokumen yang ia baca.
"Tentu saja Raja Aosora kedua itu ada. Ada kemungkinan bila dokumen tentang dia disimpan di suatu ruangan tersembunyi di sini ataupun di Istana Aosora. Kita lanjutkan saja mencari dokumen di tahun 1075. Tahun kelahiran Arthur" Ucap Angel.
Angel sendiri, tidak menemukan sedikitpun dokumen tentang Aosora Alex. Dokumen tentang Aosora Alex, telah di simpan oleh Shinrin sebagai dokumen kerajaan. Angel tidak bisa mengatakan itu karena dokumen tentang Aosora Alex dirumorkan berisi kasus dan tindakan yang telah dilakukan Alex. Baik itu di Shinrin maupun di Akaiakuma. Sebagian dokumen Alex yang berisi tentang Archie juga, disimpan oleh De luce Mizel. Atas permintaan Alex sendiri.
Angel mengajak Tsuha keluar dari ruangan tersebut setelah empat jam berada di sana. "Tsuha, apa kau tidak keberatan makan siang disini?" Angel bertanya pada Tsuha.
"Tidak masalah"
"Apa kau memiliki alergi makanan?"
"Aku hanya tidak menyukai wortel rebus. Selain itu, aku bisa memakan semuanya" Jawab Tsuha di sebelah Angel.
Angel melihat wajah Tsuha yang dipalingkan ke arah kiri. Angel tersenyum tipis. "Iya" Jawabnya.
Di belakang mereka berdua, ada dua orang lainnya yang tidak sengaja melihat Angel tersenyum. Keduanya saling melihat dan tersenyum bersamaan kemudian mereka berdua mengangguk.
Dua wanita itu, mendatangi Tsuha yang sedang menunggu Angel diluar karena Angel kedatangan tamu dari Guild Penelitian Aosora.
"Bolehkah kami duduk disini?" Tanya salah satu dari mereka. Tsuha melihat mereka berdua dan ia mengangguk.
Dua wanita itu duduk di kanan dan kiri Tsuha. Mereka berdua melihat lambang dan bet C di lengannya dan lambang Pemberantas Iblis Shinrin.
"Wah, apa kamu anak buah dari Nel?" Tanya wanita disisi kanan Tsuha.
"Iya" Jawab Tsuha.
Tsuha merasa risih saat dua wanita itu duduk di kanan dan kirinya.
"Apa kau pacar kapten kami?" Bisik wanita berambut bob disisi kiri Tsuha.
Tsuha langsung melihat wanita itu. "Kapten kami hampir tidak pernah tersenyum sejak hilangnya Putra Mahkota Aosora. Sejak kemarin, Kapten Angel kembali menunjukkan wajah cerianya. Kami pikir, dia seperti itu karena kehadiran Pangeran Aosora. Ternyata, kau yang membuatnya seperti itu"
"Wajahmu juga, lebih dari kata tampan. Kapten kami adalah orang yang paling cantik disini. Kalian, memang pasangan yang bagus"
Tsuha tidak berkomentar apapun tentang ucapan mereka. Ia hanya mendengarkan percakapan itu yang bagi mereka berdua sangat mengasyikan.
"Kalau begitu, kami tinggal dulu ya... Bila butuh sesuatu, kami ada di ruangan dua" Ucap wanita berambut bob.
"Jangan buat kapten kami menangis yak!" Ucap wanita lainnya sambil melambaikan tangannya pada Tsuha.
"Terserah" Lirihnya sambil mengangguk.
Angel keluar dari ruangannya setelah tamu Angel keluar. "Aku mendapatkan laporan lagi tentang Putra Mahkota Aosora. Dia masih memiliki peluang kecil untuk hidup" Angel duduk disisi kanan Tsuha.
"Apa akan kakak sampaikan langsung kepada Pangeran Aosora?"
"Tentu saja tidak. Ini masih perkiraan. Aku akan memberitahu Arthur setelah mendapatkan kepastian. Aku tak ingin membuat Arthur merasa berharap. Kau tau kan, berharap itu menyakitkan loh~ Jadi, kapan mau menjawabnya?" Sindir Angel sambil melirik Tsuha.
Tsuha mengerutkan keningnya dan melihat tajam Angel. Angel terkejut melihat wajah Tsuha seperti itu. Ia memalingkan wajahnya.
"Aku akan menjawabnya sekarang. Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu" Tsuha mendekatkan bibirnya di telinga Angel untuk berbisik.
"Apa Anda menjadikan saya sebagai pelampiasan Anda, Kapten Penyidik?" Tanya Tsuha lirih dengan nada yang serius.
DEGH!
Angel membelalakan matanya dan memegang telinganya yang dibisik oleh Tsuha. Ia melihat wajah Tsuha perlahan. Alis Tsuha turun ke bawah. Tsuha memang tidak bisa mengekspresikan wajahnya. Namun, kini raut Tsuha dapat dibaca dengan mudah oleh Angel.
"Itu... itu tidak benar" Jawab Angel.
"Tep!" Tsuha memegang ubun-ubun Angel. "Tenangkan diri Anda dulu sebelum Anda menembak saya untuk ketiga kalinya. Saya akan memberi Anda jawaban hari itu juga" Ucap Tsuha sambil mengusap pelan rambut biru Angel.
Mata Angel langsung berair. "Itu, tidak benar Tsuha. Aku memang menyukaimu sejak dulu" Lirih Angel pada Tsuha.
Tsuha berhenti mengusap rambut Angel. Ia memberi sapu tangan miliknya. "Anda taukan apa bedanya menyukai dan mencintai. Saya rasa, Anda sudah paham dengan perasaan saya tanpa saya katakan" Tsuha tersenyum tipis pada Angel yang menerima sapu tangannya.
"Kau masih sama tidak beres dengan dulu"
"Anda juga masih sama. Suka mempermainkan perasaan saya" Jawab Tsuha dan ia terkekeh ringan disana.
Angel membuang ingusnya kemudian ia mengambil napas. "Kalau ku tembak sekarang, apa kau akan menjawab tidak?"
"Kalau Anda bertanya sekarang, saya tidak akan menjawab pertanyaan Anda untuk keempat kalinya. Apa Anda yakin?" Tanya Tsuha.
Angel mengeleng.
"Lalu, kapan Anda akan memangkas rambut saya? Saya hampir berkarat menunggu Anda"
"Berhenti memanggilku Anda! Panggil aku kak Angel!" Tegas Angel yanh sesekali cegukan.
"Ya, kak Angel" Jawab Tsuha.