My Old Star

My Old Star
#99 Pembelaan



Nenek Wijaya semakin tidak suka dengan Mona, kelakuannya benar-benar membuat siapapun jengah. Ibu Mentari sudah menangis karena hari yang seharusnya menjadi moment yang membahagiakan untuk Mentari harus hancur karena ulah wanita seperti Mona.


Kakek Mahmud berkali-kali menarik nafasnya geram dengan kelakuan Mona yang secara administrasi adalah putrinya namun secara biologis bukanlah darah dagingnya.


Arfan sudah tidak tahan dengan Mona yang terus mengoceh, dia berdiri dari kursi pelaminan namun dicegah oleh Mentari.


"Kak jangan!" Mentari menggeleng memohon kepada Arfan agar jangan membalas Mona.


"Dia sudah keterlaluan Mentari, jika tidak segera diluruskan maka selamanya kita akan menanggung malu karena ulahnya. Selama ini kita sudah diam, mungkin sudah saatnya kita memberikan dia peringatan!"


Arfan mendekati Mona dan berdiri di samping wanita itu, "Berikan microphonenya!" pintanya hendak melakukan pembelaan untuk nama baik diri dan keluarganya.


"Bapak dan ibu hadirin semua yang datang pada acara kami hari ini, mohon maaf atas peristiwa yang mungkin membuat hadirin semua tidak nyaman, tapi ini di luar kendali saya selaku pihak yang menyelenggarakan acara ini." Arfan menjeda ucapannya setelah menyampaikan permohonan maaf kepada semua tamu yang datang.


"Benar memang saat ini Mentari istri saya sedang mengandung buah cinta kami, namun apa yang disampaikan wanita di samping saya ini yang tidak lain adalah tante saya sendiri tidaklah benar adanya. Kami memang tinggal bersama sewaktu belum menikah, namun kami tinggal di club bersama anak-anak asuh saya, manager club beserta anak dan istrinya, dan kami juga tinggal bersama pelatih anak-anak asuh saya karena ada satu dan lain hal yang tidak bisa saya ceritakan disini. Jika hadirin tidak mempercayai ucapan saya, silakan bisa tanyakan langsung kepada mereka karena mereka semua juga ada disini. Apa saja yang kami lakukan mereka mengetahuinya." Arfan menjelaskan dengan sangat lugas.


Semua yang tinggal di club Arfan berkumpul kemudian bersama-sama naik ke atas panggung memberikan dukungan kepada Arfan dan Mentari, tidak ketinggalan Steven juga ada bersama mereka.


Arfan mengucapkan terimakasih kepada semuanya melalui senyumnya. Mona yang tidak mau kalah kemudian memberikan provokasi kembali kepada semua yang hadir.


"Jangan percaya pada mereka, tentu saja mereka mendukung Arfan karena memang Arfanlah bos mereka, jadi mana mungkin mereka tidak membela bosnya, coba kalian pikir kembali!"


Hadirin yang menyaksikan kejadian itu merasa bimbang, mana yang ada pada posisi benar. Sungguh sulit bagi mereka karena mereka mengenal Arfan hanya sekilas, tapi mereka tahu jika Arfan orang yang baik dan menghormati siapapun terlebih dia adalah seorang pendidik.


"Kami tidak percaya jika tidak ada buktinya!" seru salah seorang tamu undangan.


Ayesh dan Hyorin yang ada di tempat itu merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan muka Arfan dan keluarganya.


"Bund lakukan sesuatu!" Ayesh mengkode Hyorin untuk membantu mereka.


Hyorin berjalan ke atas panggung untuk ikut berbicara dengan Ayesh yang menggendong Yesherly di sampingnya.


"Pak Arfan saya mau bertanya," Hyorin memulai percakapan.


"Silakan nyonya, apa yang akan nyonya tanyakan."


"Bolehkah saya melihat buku nikah kalian?"


"Tentu saja, akan saya ambil dulu." Arfan memang mengantisipasi dengan membawa buku nikahnya karena khawatir hal yang tidak diinginkan terjadi, ternyata prediksinya benar.


Arfan memberikan buku itu kepada Hyorin, "Bapak dan ibu yang saya hormati, nama saya Hyorin. Saya seorang dokter dan suami saya Ayesh adalah seorang pengacara, dia akan mengecek apakah buku ini asli ataukah palsu. Perlu kami tekankan, kami memang sahabat dari kedua mempelai namun disini kami bersikap netral karena ini sifatnya membuktikan agar jangan ada fitnah yang menyebar di luaran sana setelah ini."


Hyorin memberikan buku nikah Arfan kepada Ayesh yang sudah meletakkan Yesherly dari gendongannya. Yesherly mendekati Steven yang pada akhirnya mereka memilih pergi bermain bersama. Yesherly tentu sangat senang karena sejak tadi dia sudah menyukai Steven yang cuek sekali kepadanya bahkan ketika dirinya tersenyum kepada Steven.


"Boleh saya tahu dimana kalian memeriksakan kehamilan ini untuk pertama kalinya?"


Hyorin juga meminta salah satu dari tamu undangan untuk mengecek ponselnya untuk membuktikan tidak ada persengkongkolan antara dirinya dan dokter Sandra yang akan dia hubungi.


Hyorin berkali-kali mencoba menelfon dokter Sandra tetapi tidak mendapatkan jawaban. Baru pada panggilan ke delapan, dokter Sandra mengangkat telfonnya. Hal ini semakin memperkuat jika tidak ada pembicaraan apapun terlebih dahulu di belakang sebab telfon saja tidak di respon apalagi hanya sekedar pesan yang dikirimkan tentu tidak akan segera dibaca dan memperoleh jawaban.


Hyorin meloudspeaker ponselnya dan mendekatkannya dengan microphone yang sedang dia pegang agar semua orang yang ada di sana bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Hallo dokter Orin, maafkan aku yang tidak mendengar telfon kamu. Tadi ada seorang ibu melahirkan caesar jadi aku baru ke luar dari ruang operasi. Ada perlu apa dok?"


"Begini dok tolong cekkan pemerikasaan kandungan atas nama Mentari dan Arfan dok."


Dokter Sandra yang tidak tahu untuk apa hal itu ditanyakan oleh dokter Hyorin merasa tidak etis memberitahukan hasil pemeriksaan seseorang kepada orang lain karena itu sama saja melanggar kode etiknya sebagai dokter.


"Maafkan aku dok, itu data rahasia yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang, kecuali atas permintaan yang bersangkutan sendiri."


Hyorin kemudian menyuruh Arfan dan Mentari untuk berbicara dengan dokter Sandra.


Dokter Sandra kemudian membacakan riwayat pemeriksaan Mentari tersebut yang dari data yang disampaikan menjelaskan bahwa usia kandungan Mentari pada saat melakukan pemeriksaan awal barulah berjalan dua minggu. Masih sangat muda sekali memang tetapi sudah bisa terdeteksi melalui tindakan USG.


Ayesh juga mengatakan jika buku nikah itu asli dan menyinkronkan antara tanggal pernikahan dengan usia kandungan Mentari berjarak tiga bulan. Itu artinya membuktikan bahwa Mentari tidak hamil di luar nikah seperti yang Mona katakan.


"Karena kalian sudah tinggal bersama sejak sebelum menikah apakah ada yang bisa menjamin jika kalian tidak melakukan apapun sebelumnya, sedangkan anak-anak zaman sekarang sangat pandai untuk mencegah terjadinya kehamilan!" salah seorang tamu undangan menyampaikan argumennya.


"Saya bisa membuktikannya sebab sampai saya menikah saya masih menjaga mahkota yang saya miliki hanya untuk suami sah saya." Mentari ikut angkat bicara karena sudah tidak tahan lagi dicap sebagai gadis tidak bermoral.


"Saya pernah mengikuti sebuah kompetisi yang mensyaratkan harus perawan dan perjaka bagi siapa saja yang mengikutinya jadi saya pernah melakukan tes ke dokter kandungan untuk mengetahui hal tersebut, kebetulan saya bersama Siska sahabat saya pada waktu itu dan semua itu dilaksanakan beberapa hari sebelum saya menikah. Jika kalian tidak percaya akan saya perlihatkan kepada kalian semua hasil tes tersebut, silakan cek sendiri tanggalnya!"


Kebetulan Mentari meletakkan kertas itu di dalam dompetnya yang selalu dia bawa kemana-mana.


"Silakan cek tanggalnya dan sinkronkan tanggal kapan saya menikah, karena seminggu sebelum menikah saya pindah ke rumah orangtua saya karena keadaan sudah aman dan penjahatnya sudah tertangkap oleh pihak berwajib."


Kini Mona tidak bisa berkutik lagi, dia ternyata masih memiliki rasa malu untuk sekedar memberikan sanggahan lagi karena apa yang diucapkannya tidak terbukti dan sudah dijelaskan melalui data yang tidak mungkin dipalsukan karena semua itu terjadi secara tiba-tiba tanpa persiapan sebelumnya dari pihak Arfan maupun Mentari hanya saja mereka telah melakukan antisipasi dengan membawa beberapa dokumen yang khawatirnya ditanyakan oleh orang yang tidak mempercayai mereka.


Mona turun dari atas panggung dengan rasa malu, banyak yang meneriakinya sebagai wanita yang tidak memiliki adab dan tidak bisa dipercaya.


Arfan sebenarnya ingin lebih mempermalukan Mona, hanya saja hal itu urung dia lakukan karena masih menjaga perasaan kakek Mahmud sebab rasa hormatnya terhadap orangtua sepuh itu.


Semua tamu undangan kembali menikmati hidangan yang telah disajikan setelah merasa puas karena mendapatkan penjelasan berdasarkan data yang akurat.


Mentari sendiri sudah menahan air matanya agar tidak terjatuh, dia harus terlihat bahagia hari ini meskipun tadi sempat tertekan karena ulah Mona.


"Maafkan aku yang selalu membawamu pada situasi sulit Mentari sayang."