My Old Star

My Old Star
#20 Sisi Jalan Lain



Mentari merebahkan dirinya di ranjang, menghadap langit-langit kamar. Dia menyadari bahwa semua yang terjadi pastilah ulah Ibunya.


"Bin apa yang harus aku lakukan?" Suara Mentari terdengar penuh nada keputusasaan.


"Apakah kau yakin dengan dia?" Bukannya menjawab pertanyaan Mentari, Bintang malah balik bertanya kepada Mentari.


"Ughh...," jawab Mentari penuh keyakinan dengan mengangukkan kepalanya.


"Apa dia baik kepadamu?"


"Tentu saja dia sangat baik," Mentari teringat banyak hal yang sudah Arfan lakukan untuknya.


"Kalau begitu kamu tidak boleh menyerah!"


"Lalu bagaimana dengan Ibu?"


"Aku rasa Ibumu hanya khawatir kau akan kecewa, Ibu melakukan itu untuk melindungimu!"


Di saat mereka masih berdiskusi Bu Rima memanggil Bintang untuk pulang karena hari sudah larut, "Kau paham maksudku bukan?" ucap Bintang dari ambang pintu kamar Mentari, Bintang berbalik meninggalkan Mentari yang masih terlihat berpikir.


Di Spanyol, Arfan masih sibuk mengurus semua hal agar clubnya yang ada disana bisa bangkit kembali. Arfan meminta bantuan Nenek Wijaya untuk membantu dirinya menemukan banyak sponsor untuk kepentingan club. Nenek Wijaya memang memiliki banyak kenalan dan kolega di Spanyol. Arfan sungguh beruntung memiliki Nenek seperti dirinya, sehingga dengan cepat Arfan dapat menyelesaikan masalah yang terjadi.


Hari ini Arfan bisa bernafas lega dan segera bersiap untuk kembali ke kota Z. Arfan teringat Neneknya dan menghubunginya sebelum pulang.


"Terimakasih Nek karena bantuan Nenek aku bisa pulang lebih cepat," ucap Arfan di sambungan telfonnya.


"Kau ini, aku ini Nenekmu tentu saja aku pasti akan membantumu."


"Aku tutup dulu ya Nek, aku harus segera ke bandara." Arfan berniat menutup sambungan telfonnya.


"Tunggu dulu...Nenek punya satu permintaan kepadamu!"


"Apa itu Nek, katakanlah aku pasti akan mengabulkannya!"


"Segera menikahlah dengan Mentari, Nenek sudah ingin menimang cicit sebelum tutup usia," suara Nenek Wijaya berubah parau.


"Nek jangan berkata begitu, Nenek pasti akan berumur panjang!"


"Menikahlah Nak, Nenek menunggumu mengabulkannya untuk Nenek!" tanpa menunggu jawaban dari Arfan, Nenek Wijaya menutup sambungan telfonnya.


Arfan merasa seluruh sendi-sendinya lemas, bagaimana mungkin dia bisa mengabulkan permintaan Neneknya sedangkan dirinya hanyalah seorang pria tua yang tidak pantas untuk Mentari yang masih belia seperti yang dikatakan oleh Bu Kartika Ibu dari Mentari pagi itu. Di sisi lain, Neneknya sangat menyayangi Mentari dan berharap Mentari bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Apa yang harus aku lakukan?" Hati dan pikiran Arfan saling bertarung, sepanjang penerbangan pulang ke kota Z, Arfan tidak bisa tenang.


Hari ini Mentari masih berada di kampus, selesai mengikuti mata kuliah dia mengajak Siska untuk menemaninya ke fakultas dimana Arfan mengajar sebagai dosen.


"Apa kau yakin akan mencarinya kesana?" Tanya Siska yang beberapa hari ini melihat Mentari tampak menyedihkan karena tidak bisa menghubungi orang yang dia sukai.


"Aku sudah mencarinya di club, tapi kata Dio bahkan sudah beberapa hari belakangan ini bos mereka tidak datang ke club."


Dio dan kawan-kawannya memang tidak mengetahui permasalahan yang terjadi, hanya Tomi dan Arfan saja yang tahu mengenai permasalahan tersebut dan berniat untuk merahasiakan semua itu agar mereka tidak cemas dan merasa terbebani sehingga mempengaruhi performa mereka di lapangan.


Mereka harus fokus, mengenai masalah yang terjadi biarlah tetap menjadi sebuah rahasia yang tidak perlu mereka ketahui.


"Kalau bukan di kampus, aku tidak tahu lagi harus mencarinya kemana!" Mentari memang tidak ingat jika Arfan juga tinggal dengan Neneknya, seharusnya dia bisa menemui Nenek Wijaya namun dia tidak terpikirkan sampai kesana, mungkin karena hatinya sedang tidak menentu sehingga tidak bisa membuatnya bisa berpikir lebih jernih.


"Baiklah ayo aku antarkan kau kesana!"


Saat ini Arfan sudah berada di kota Z, dia berniat ke kampus dulu sebelum pulang ke rumah, ada beberapa berkas yang akan dia ambil di ruang kerjanya.


Siska dan Mentari berjalan menuju fakultas olahraga, menyusuri koridor dan menaiki tangga untuk bisa sampai di ruang dosen karena berada di lantai tiga dan akses untuk bisa kesana hanya menggunakan tangga.


Mentari masuk ke dalam diikuti oleh Siska. Dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Arfan disana, hingga seseorang bertanya kepada mereka.


"Mohon maaf Nona, siapa yang kalian cari di ruangan ini?"


"Pak Arfan sedang cuti karena ada urusan ke luar negeri, saya yang menggantikan beliau mengajar sampai dia kembali," terang dosen itu.


"Kapan kira-kira Pak Arfan akan kembali?"


"Kami sendiri tidak mengetahuinya yang jelas setelah urusannya selesai dia akan kembali mengajar!"


"Baiklah Pak, kalau begitu terimakasih. Kami permisi dulu!"


Mentari dan Siska meninggalkan ruang Dosen, "Kenapa ke luar negeri tidak memberitahuku?" pandangan mata Mentari mulai samar, butiran bening siap lolos dari bola mata beningnya.


"Kau jangan bersedih Mentari, dia pasti akan kembali!" Siska berusaha menenangkan sahabatnya.


"Ayo kita pergi dari sini!" Siska mengajak Mentari untuk pulang ke asrama.


Mentari berjalan terhuyung, lemas dan tidak bersemangat yang dia rasakan saat ini. Siska terus berusaha menghibur sahabatnya itu. Mereka tidak tahu jika di sisi jalan lain yang mereka lewati, Arfan sedang berjalan menuju ke ruang kerjanya.


Arfan sampai di ruang dosen, "Panjang umur Pak Arfan, tadi ada dua orang gadis cantik mencarimu." Ucap Pak Rio yang tadi berbicara dengan Mentari dan Siska begitu Arfan memasuki ruangan Dosen.


"Siapa mereka?"


"Aku lupa menanyakan nama mereka, sepertinya bukan mahasiswa jurusan kita Pak!"


"Kelihatannya mereka masih sangat belia, apalagi yang sempat berbicara denganku. Dia cantik dan imut, sepertinya dia gadis yang sangat cerdas, aku bisa melihat dari binar matanya yang bening dan senyumnya yang menawan." Puji Pak Rio untuk Mentari yang memang sedap dipandang mata.


Arfan berpikir jika itu pasti Mentari, "Jangan pernah berpikir jika Bapak bisa menyukainya apalagi untuk mendapatkannya!"


"Selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan bagiku bukan Pak?" Pak Rio tidak menyadari jika Arfan sudah merubah mimik mukanya.


"Silahkan saja Bapak bermimpi!"


Arfan menuju ke meja kerjanya mengambil map yang dia taruh di laci meja dan bergegas keluar ruangan untuk mengejar Mentari.


"Aneh sekali Pak Arfan ini, kenapa tidak boleh?" Pak Rio berbicara dengan dirinya sendiri ketika melihat Arfan pergi.


Rangga menghampiri Rio, "Apa Bapak mau cari mati jika ingin berebut dengan Pak Arfan?"


"Maksud Pak Rangga?" tanya Pak Rio kepada rekannya yang malah tertawa melihat tingkah Pak Rio yang seperti tidak mengerti apa-apa.


"Oh ya Tuhan, aku sudah cari masalah kalau seperti itu!" Pak Rio baru menyadari jika gadis itu tentu memiliki hubungan dengan Pak Arfan. Pak Rio menggetok-getok kepalanya sendiri, Pak Rangga masih menertawakan tingkah Pak Rio yang seperti anak kecil dengan muka khawatirnya yang sangat lucu.


"Bapak ini tertawa di atas penderitaan saya!" ucap kesal Pak Rio karena Pak Rangga masih terus saja menertawakannya.


Arfan mengejar Mentari hingga ke asrama, dia berlari hingga terengah-engah. Rasa lelah setelah penerbangan berjam-jam sudah tidak dia rasakan lagi.


"Kalau Pak Rio saja bisa menyukai Mentari saat pertama kali bertemu dengannya, laki-laki lain tentu akan seperti itu juga!" Arfan membatin sambil terus berlari.


Mentari dan Siska sudah tiba di depan asrama, mereka berjalan masuk ke dalam. Ilyas menghampiri mereka dan membuat keduanya berbalik ke arah Ilyas yang sedang berdiri.


"Mentari...," panggil Ilyas.


"Ada apa Yas?" Jawab Siska.


"Ibu...Ibuku masuk ICU!" Ilyas berbicara dengan suara bergetar.


Mentari membulatakan bola matanya menghampiri Ilyas, "Kalau begitu ayo kita ke segera ke rumah sakit Yas!" Mentari menarik tangan Ilyas agar mengikutinya mencari taksi yang akan membawa mereka ke rumah sakit.


"Kalian ini...kenapa tidak bercerita apa-apa kepadaku?" Siska memandangi kepergian kedua sahabatnya itu hingga taksi yang membawa mereka pergi hilang dari pandangan matanya. Arfan melihat pemandangan itu di depan matanya langsung.


"Laki-laki itu lagi!" pikir Arfan.


Arfan menghampiri Siska yang hendak masuk ke dalam asrama, "Apa kau tahu mereka akan pergi kemana?"


"Pak Arfan?"