
Kedua sahabat yang tadi berseteru pada akhirnya tertawa bersama, merasa konyol dengan tingkah mereka masing-masing padahal usia mereka sudah tidaklah muda.
Mentari merasa bahagia melihat Arfan bisa tertawa seperti tadi, tanpa sadar gadis itu tertidur di kabin belakang mungkin karena terlalu lelah hari ini sehingga Mentari tidak bisa lagi menahan kantuknya.
Arfan sesekali melihat ke arah Mentari melalui rear vision mirror mobilnya kemudian tersenyum kecil melihat Mentari kecilnya terlelap.
"Kamu benar-benar serius dengan Mentari Fan?" Tanya Arman yang melihat sahabatnya memperlakukan Mentari begitu berbeda, Arman bisa melihat tatapan Arfan yang begitu lembut terhadap gadis kecil itu.
"Kamu meragukanku Man?"
"Tidak...aku hanya baru saja melihat sisi lain dari seorang Arfan!" Arman terbahak.
Arfan menaikkan satu alisnya, tidak paham dengan maksud Arman sebab dia merasa dari dulu tidak pernah ada yang berubah dari dirinya. Mentari menggeliat sedikit terganggu dengan suara tawa Arman barusan.
"Sstttttt... pelankan suaramu!" cegah Arfan.
Mereka kini sudah berada di depan asrama, namun Mentari belum bangun dari tidurnya. Mereka menunggu cukup lama tetapi Mentari belum juga bangun, Arfan merasa kasihan jika harus membangunkan Mentari karena nantinya pasti akan sangat sulit untuk bisa tidur kembali.
"Bagaimana ini Fan, apa kita harus bangunkan dia?"
Arfan menggeleng, "Lalu?" tanya Arman lagi.
"Kau tunggulah disini, jaga dia ya. Awas jangan macam-macam!" ancam Arfan yang kemudian turun dari mobil dan menemui penjaga asrama, Arfan menggunakan identitasnya sebagai dosen di kampus Z untuk dapat membawa Mentari masuk.
Tidak lama Arfan kembali ke mobil, dia menggendong Mentari dan membawa gadis itu masuk. Arman mengikuti dari belakang, namun petugas Asrama mencegahnya.
"Mohon maaf anda siapa, orang yang tidak dikenal dilarang masuk ke dalam!" penjaga asrama melaksanakan tugasnya sesuai aturan.
"Saya sahabat Pak Arfan," jawab Arman.
"Anda dilarang masuk jika bukan Pak Arfan sendiri yang memperbolehkan anda ikut ke dalam!"
Arfan menghentikan jalannya, "Dia sahabat saya, biarkan dia masuk!"
"Apa saya bilang kan Pak!" Arman melenggang masuk ke dalam asrama karena merasa menang dari penjaga asrama tersebut.
"Man tolong ketuk pintu kamar ini!" perintah Arfan begitu sampai di depan kamar Mentari, Arfan mundur untuk memberikan ruang kepada Arman.
Tok...tok...tok....
Siska yang sedang membaca buku kemudian turun dari ranjangnya karena mendengar ketukan pintu dari luar. Siska sedari tadi memang menunggu Mentari yang sudah mengabarinya jika sedang dalam perjalanan pulang ke asrama, tetapi dia merasa heran kenapa Mentari harus mengetuk pintu padahal biasanya teman sekamarnya itu akan langsung masuk ke dalam tanpa harus mengetuk pintu kecuali ketika dalam keadaan terkunci dari dalam.
Siska membuka pintu untuk mengecek siapa yang datang bertamu malam-malam begini.
Siska membulatkan kedua bola matanya ketika di depan pintu berdiri seorang Arman yang merupakan seorang legenda pada masanya selain Arfan.
Siska tentu sangat mengenal siapa Arman karena dia merupakan salah satu fans berat Arman, bahkan dia memiliki grup yang berisikan orang-orang pengagum Arman hingga sekarang dan sangat berharap jika Arman bisa kembali ke dunia futsal menjadi salah satu pemain profesional untuk meramaikan kembali lapangan.
Arman juga sama terkejutnya dengan Siska, "Bidadari...," celetuknya.
"Sedang apa kalian di depan pintu, bisa tolong minggir tidak!" Arfan menerabas masuk ke dalam kamar karena dia harus segera meletakkan Mentari di atas ranjangnya, meskipun Mentari bagi Arfan tidaklah berat namun jika lama-lama harus berdiri dengan membawa beban tentu saja Arfan akan merasa ada penumpukan asam laktat pada lengannya.
Selesai membaringkan Mentari di atas ranjang, Arfan menghampiri keduanya yang masih berdiri di depan pintu.
"Apa kalian mau berdiri saja?"
"Ah iya... silahkan duduk dulu!"
"Tidak usah Sis, sudah larut. Lain kali saja di tempat lain. Kami permisi dulu, titip Mentari ya Sis!" ucap Arfan sebelum meninggalkan kamar Mentari.
"Baik Pak!" jawab Siska kemudian menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia naik ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamar, pikirannya masih belum percaya jika orang yang tadi masuk ke kamarnya adalah Arman.
Berkali-kali Siska menutup wajahnya dengan bantal, tertawa-tawa sendiri. Siska mengambil ponselnya dan menuliskan sesuatu di grup fans Arman. Banyak yang tidak percaya kepada Siska, dia dianggap telah berbohong terhadap anggota grup, tidak sedikit pula yang mencibir Siska dengan ucapan pedas mereka.
[Iya kalau mau mengigau bukan disini tempatnya, malam-malam begini memberikan info tidak jelas menganggu saja]
[Tidak usah membohongi kami, jangan bikin hati kami terbang karena berharap begitu besar kepada sang legenda agar kembali bermain, tapi pada akhirnya dijatuhkan ke dasar yang paling dalam]
Siska membaca semua kata-kata yang teman-teman grupnya tuliskan, ada rasa kecewa terhadap mereka yang sama sekali tidak mempercayainya namun saat ini dia juga tidak bisa membuktikan apapun kepada mereka supaya mereka percaya terhadapnya.
Sementara itu, Arfan dan Arman sudah cukup jauh melaju di jalanan. Arman masih mengingat wajah Siska yang begitu sedap di pandang, Arman cukup tertarik dengan gadis itu.
"Tidak panas!" Arfan meraba kening Arman dengan tangan kirinya, yang kemudian ditepis oleh pemiliknya.
"Kamu pikir aku sakit Fan?"
Arfan mengedikkan bahu, "Aku pikir kamu kesambet Jin penghuni asrama!" Arfan tertawa.
"Bukan Jin tapi bidadari Fan!" Arman kembali mengingat wajah Siska.
Arfan menggeleng-gelangkan kepalanya, dia paham apa yang ada di dalam otak Arman saat ini. Tanpa terasa mereka telah sampai di depan club Zaky, disini Arfan akan memasang wajah dinginnya kembali.
Arman turun dari dalam mobil, "Berdamailah dengan keadaan sebab hanya begitu cara melupakan kepedihan di masa lalu!" pesan Arman sebelum melangkah masuk ke dalam club.
Arfan melajukan mobilnya meninggalkan Arman, perasaan hatinya akan cepat sekali berubah jika berada di dekat lingkungan Zaky.
****
Keesokan paginya di asrama, Mentari terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak. Dia meregangkan otot-ototnya yang terasa lelah, mengingat-ingat jika semalam dia tertidur di mobil Arfan dan kenapa pagi ini dia berada di kamar asramanya.
Mentari ingin bertanya kepada Siska tetapi sahabatnya itu belum bangun, sehingga Mentari memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu kemudian menjalankan ritual ibadah paginya.
Ketika Mentari ke luar dari kamar mandi, Siska ternyata sudah terduduk di atas ranjang dengan posisi masih memejamkan matanya dan rambut acak-acakan menutupi sebagian mukanya.
"Astaga... kau ini Sis, mengagetkan aku saja!"
Siska mencoba membuka matanya yang masih terasa mengantuk karena teriakan Mentari, semalam Siska baru bisa tidur sekitar pukul dua dini hari. Jika bukan karena harus beribadah pagi dan masuk kuliah mungkin dia tidak ingin bangun pagi ini.
"Kau kenapa Sis, sudah sana bersihkan dirimu dulu!" Mentari yang baru selesai dengan sholat subuhnya, memerintahkan Siska untuk bergegas agar jangan sampai ketinggalan sholat karena kesiangan.
Kini keduanya sudah siap untuk berangkat ke kampus, Mentari menyiapkan sarapan pagi untuk mereka ketika tadi Siska sedang mandi.
Roti tawar dengan selai strawberry di atasnya dan segelas susu hangat cukup untuk mengganjal perut mereka agar tidak merasa lapar ketika mengikuti mata kuliah pagi ini.
Roti tawar dengan olesan selai di atasnya merupakan makanan paling praktis bagi anak kost ataupun anak-anak yang tinggal di asrama dan sedang malas ke luar pagi-pagi mencari sarapan. Makanan ini cukup memberikan energi bagi mereka di pagi hari yang biasanya hectic dan harus serba cepat hingga mereka bisa menemukan makanan berat lainnya di kantin sekolah maupun kampus tempat mereka menuntut ilmu setelah waktu mereka sedikit senggang.
"Sis apakah Kak Arfan yang membawaku ke kamar ini semalam?" Tanya Mentari sembari memasukkan potongan roti tawar ke dalam mulutnya.
"Tentu saja Mentari, siapa lagi coba kalau bukan Pak Arfan!"
"Ternyata aku begitu merepotkan!"
"Pak Arfan tidak akan merasa direpotkan olehmu Tari, kau ini kaya baru mengenal Pak Arfan saja!"
"Eh ya Tari, apakah kau mengenal Kak Arman?"
"Kak Arman ya, aku baru mengenalnya semalam."
"Kenapa memangnya Sis, nanti aku mintakan nomornya untukmu!" janji Mentari kepada Siska yang seolah paham dengan arah pikiran sahabatnya itu.
Siska tersipu malu karena ketahuan menginginkan sesuatu, "Ayo kita berangkat!" ajak Mentari kepada Siska yang baru saja menyelesaikan gigitan terakhir untuk roti tawarnya.
Di tengah-tengah perjalanan Siska tiba-tiba berhenti, "Mentari tunggu, aku tidak sedang bermimpi ini kan?!"