
Mentari terdiam ketakutan karena pertanyaannya membuat Arfan marah besar, Arfan memandangnya dengan tajam membuat nyali Mentari menciut. Arfan kembali menyetater mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka sampai di rumah dengan tetap saling diam, Mentari juga tidak berani mamandang suaminya sama sekali.
"Mengerikan sekali!" pikirnya, Mentari bergidik ngeri dengan sikap Arfan kali ini. Mungkin saja Arfan sedang lelah dan membutuhkan waktu untuk memulihkan diri setelah mendonorkan darahnya kepada Zaki.
Mentari bergegas membersihkan diri dan pergi ke dapur untuk memasak, kata orang perut yang kenyang akan membawa kejernihan dalam berpikir.
Mentari menyelesaikan masakannya dengan cepat kemudian memanggil Arfan untuk makan malam.
"Kak saatnya kita makan malam." Mentari berkata dengan lembut dan sangat hati-hati.
"Iya nanti aku ke sana!" jawab Arfan dengan tetap menatap layar laptopnya, dia tampak masih saja cuek dengan Mentari.
Mentari sendiri menunggu Arfan di meja makan namun suaminya itu tidak kunjung datang. Mentari sampai tertidur dengan posisi duduk dan kepala bersandar di meja makan.
Arfan baru teringat jika Mentari memanggilnya untuk makan malam saat dia sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Pekerjaan kampus dan juga pekerjaan dari perusahaan nenek, Arfan memang rutin mengecek laporan yang dikirimkan oleh paman Faisal lewat email.
Arfan melihat istrinya tertidur di meja makan, dia berusaha membangunkan Mentari tapi gadis itu tidak merespon sama sekali. Setelah menutup semua makanan di meja makan, Arfan mengangkat tubuh Mentari untuk dibawa ke kamar.
"Maafkan aku sayang," ucap Arfan saat sudah membaringkan tubuh Mentari di atas ranjang.
Arfan sendiri ikut berbaring di samping Mentari dan tidur dengan memeluk istrinya. Arfan sangat menyesal telah membentak Mentari sedangkan Mentari tetap memperlakukannya dengan baik tanpa melawan.
Keesokan paginya Mentari terbangun karena kaget dari tidurnya, "Ah aku ketiduran, kak Arfan belum makan malam." Mentari bermaksud turun dari ranjang tapi Arfan yang masih memejamkan matanya menarik tubuh Mentari agar jangan bergerak.
"Jangan bergerak Mentari sayang, biarkan aku memelukmu sebentar lagi!"
"Kak aku belum membereskan meja makan semalam, kakak pasti belum makan bukan?"
"Aku tidak ingin makan yang lain selain kamu!"
"Jangan bercanda kak, ini sudah mau pagi. Kita harus bersiap untuk beraktivitas."
"Memangnya salah kalau sudah mau pagi?" Ucap Arfan dengan tetap memejamkan matanya. Dia senang bisa menggoda istrinya pagi-pagi seperti ini.
Mentari tidak bisa menolak keinginan Arfan kepadanya. Pagi buta mereka sudah banjir peluh dengan melakukan senam pagi penuh cinta.
"Maafkan atas sikapku semalam sayang." Arfan meminta maaf dengan memeluk istrinya dan mencium kening Mentari berkali-kali.
Mentari mengangguk pelan, "Aku tahu kakak sangat lelah kemarin, aku bisa memakluminya kak."
"Kamu memang sangat mengerti kondisiku sayang."
"Ingat ya jangan sekali-kali kamu mengusiku terkait Mona maupun Marryana di depanku karena tidak ada yang lebih aku sayangi di dunia ini selain kamu dan nenek setelah Allah dan Rasulku."
Mentari juga meminta maaf karena pertanyaanya telah membuat Arfan marah.
Sepulang dari kampus Arfan dan Mentari kembali menjenguk Zaki ke rumah sakit, ketika mereka datang Steven sudah berada di ruang rawat Zaki bersama Sania dan Tomi sehingga mereka harus menunggu dulu sampai mereka ke luar dari ruangan karena harus bergantian masuk ke dalam ruang rawat.
"Om baik maafkan Stev ya karena akhir-akhir ini menjauh dari om baik." Ucap Steven ketika dia melihat Zaki tergolek lemah di atas ranjang.
"Om paham sayang, kamu memiliki alasan kenapa membenci om."
"Stev sayang, om berterimakasih karena kamu mau menolong om disaat om kritis kemarin.
"Stev senang bisa menolong om baik."
"Apakah Stev tahu kenapa kamu bisa menolong om baik?" Sania bertanya kepada anaknya.
Steven menggeleng, "Mama bukankah kita wajib menolong orang lain?"
"Kamu benar Stev," Zaki membenarkan ucapan Steven.
"Stev sayang jika kamu memang anak om apakah kamu akan menyesalinya?"
Steven memandang ke arah Tomi dan Sania secara bergantian, "Stev kamu harus tahu Zaki adalah papa kandung Stev, sedangkan papa adalah papa kamu karena menikah dengan mama." Tomi mencoba menjelaskan kepada Steven.
"Berarti Stev punya dua papa?"
"Iya sayang, kamu punya dua papa."
"Apakah selama ini papa Tomi yang merebut mama dari papa Zaki?" Steven bertanya dengan wajah polos.
"Kami susah menceritakannya kepada kamu sayang, suatu saat nanti kamu pasti akan memahaminya tapi yang perlu kamu tahu sekarang adalah baik papa Zaki maupun papa Tomi keduanya sama-sama menyayangimu sayang."
"Mama berpisah dari papa Zaki saat kamu masih ada di dalam kandungan mama dan setelah kamu lahir mama menikah dengan papa Tomi karena dia tulus menyayangi kamu dan mama sayang. Jadi jangan pernah membenci papa Zaki dan papa Tomi karena mereka memiliki tempat masing-masing di hati mama."
"Horeee... Aku punya dua papa!" teriak Steven kegirangan meskipun para orangtua tidak tahu apakah Steven benar-benar paham atau tidak dengan penjelasan mereka. Tapi paling tidak sekarang Steven tidak lagi membenci Zaki.
"Ma berarti Stev boleh menginap di rumah papa Zaki kan ma, Stev ingin menjaga papa sampai pulih kembali.
"Boleh Stev, kapanpun kamu mau papa dan mama pasti akan mengizinkannya." Tomi mendukung keingan Steven yang diangguki oleh Sania.
"Sania... Tomi... Apakah kalian mau memaafkanku?"
"Tentu saja kami memaafkanmu Za, kita tidak mungkin mewariskan permusuhan kita higga ke anak cucu bukan, tapi jangan pernah berpikir untuk meminta Sania kembali kepadamu karena sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Sania." Tomi mencoba memberikan pengertian kepada Zaki agar janhan melewati batas yang telah mereka sepakati bersama.
"Aku berjanji Tom, bisa menjadi ayah Stev saja aku sudah sangat bahagia."
Tomi dan keluarga kecilnya ke luar dari ruang rawat Zaki, mereka berjumpa dengan Arfan di depan ruangan sedang menunggu giliran untuk masuk.
"Fan kalian di sini?" Sania bertanya begitu melihat mereka berdua.
"Iya Sa, kami datang lagi."
"Masuklah... Marryana juga sedang tidak ada di dalam."
Arfan dan Mentari masuk ke dalam ruang perawatan, menyapa Zaki dan berdo'a untuk kesembuhan laki-laki itu yang sedang tidak berdaya.
"Za pertandingan final tim kita akan segera di gelar, aku berharap lusa kamu sudah sembuh dan kita bisa merumput bersama."
"Jadi karena itu kamu datang kemari hari ini?"
Arfan hanya nyengir kuda karena apa yang dikatakan Zaki salah satunya benar. Tapi bukan sepenuhnya karena hal itu sehinga dia datang hari ini.
"Fan... Jika aku tidak sembuh mungkin posisiku sekarang akan ada dalam bahaya."
Arfan tersentak kaget mendengar jawaban dari Zaki.
"Za pikirkan dan fokuslah pada dirimu dan pikirkan saja hal-hal yang jauh lebih penting." Arfan menasehati Zaki.
Mona dan Marryana yang baru saja berbelanja berdua langsung menuju ke rumah sakit dan masuk ke dalam ruang rawat Zaki tanpa permisi.