My Old Star

My Old Star
#111 Tanda Perpisahan



Zaki tiba di club kemudian menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian meskipun dia sudah mandi di club Arfan tadi pagi namun dari kemarin dia tidak mengganti pakaiannya sama sekali karena memang tidak berencana untuk menginap sehingga dia tidak membawa apa-apa saat pergi mengunjungi Steven yang ternyata sedang demo kepada semua orang yang ada di club.


Zaki semakin berpikir harus lebih memperhatikan Steven. Dia harus bisa membagi waktu antara bekerja dan juga mengurus anak yang dia rindukan bertahun-tahun lamanya.


Baik Sania, Tomi maupun Arfan kini sudah menerimanya menjadi bagian dari hidup mereka sehingga Zaki tidak boleh sampai menyianyiakan kesempatan yang sudah ditunggunya sejak lama, dimaafkan dan berdamai adalah keinginan Zaki setelah rasa penyesalannya yang tak berujung.


Tok... Tok... Tok....


Seseorang mengetuk pintu kamar Zaki dari luar, saat ini Zaki baru mengenakan celana panjangnya sehingga tubuh bagian atas Zaki masih polos. Zaki tanpa ragu menyuruh orang yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk.


"Masuk...!!!" perintah Zaki dengan tidak melihat siapa yang datang.


"Aaaaaaaaaaaa!!!!"


Teriak Marryana yang kemudian berbalik begitu melihat dada Zaki yang polos.


Zaki yang tidak menyangka Marryana akan menghampiri kamarnya kemudian bergegas menyambar kaos putih yang tergeletak di atas kasur dan memakainya untuk menutupi tubuh bagian atasnya.


"Berbaliklah aku sudah memakai kaosku!"


Marryana perlahan menurunkan tangannya sambil membalikkan badan dan benar saja Zaki sudah tidak polos seperti tadi.


"Maafkan aku Za, aku tidak tahu kalau kamu sedang berganti pakaian karena kamu menyuruhku untuk masuk."


"Aku yang minta maaf Marry, biasanya yang mengetuk kamarku itu seorang laki-laki karena tidak ada wanita di club ini kecuali tukang masak dan mereka tidak pernah berani masuk ke kamarku."


"Lain kali aku akan lebih berhati-hati Marry, tolong maafkan aku karena aku tidak bermaksud apa-apa terhadapmu, sungguh tadi aku tidak tahu jika itu kamu Marry."


"Sudahlah Za, kita lupakan saja kejadian barusan. Aku kesini mau memanggilmu karena Papi, Mami dan keluargaku yang lain sudah sampai. Mereka mau berpamitan kepadamu untuk pulang ke luar negeri."


"Baiklah ayo!" Zaki mengajak Marryana keluar dari kamar.


Jantung Marryana sebenarnya masih berdegup sangat kencang, baru kali ini dia melihat seorang laki-laki bertubuh atletis seperti Zaki dengan dada bidangnya yang membuat meleleh. Maklum karena mungkin Zaki seorang mantan atlet dan sampai sekarang dia masih menggeluti bidang itu.


Marryana sendiri memang sering bergonta-ganti kekasih saat dulu tinggal di luar negeri tetapi dia masih menjaga adat ketimurannya, jadi sebisa mungkin dia menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan meskipun tidak bisa dipungkiri dia pernah berciuman dengan beberapa orang pria yang menjadi kekasihnya, namun hatinya tetap milik Arfan hingga pada akhirnya dia harus mengikhlaskan Arfan yang telah menikah dengan Mentari.


Zaki dan Marryana berjalan beriringan, benar saja mereka sudah di tunggu di ruang tamu.


"Kalian ngapain saja sih kak, memanggil satu orang saja kok lama bener!" protes adik laki-laki Marryana yang memang sudah ingin pulang ke rumahnya di luar negeri, terbiasa sejak kecil disana membuat anak itu tidak betah lama-lama meninggalkan rumah.


"Sabar sebentar kenapa sih, emangnya kakak bisa teleportasi. Butuh jalan dulu kali, butuh naik tangga, butuh ngetok pintu dulu nggak asal masuk!" jawab Marryana tidak mau kalah, dalam pikiran Marryana kembali bersliweran dada bidang Zaki yang tadi dia lihat. Tanpa sadar Marryana tersenyum sendiri.


"Tuh kan kakak senyum-senyum sendiri pasti terjadi sesuatu!" Adik Marryana menatap Zaki dan Marryana secara bergantian, dia menaruh curiga terhadap kakaknya itu.


"Brisik kamu ah anak kecil!" Marryana menjawab dengan sewot kemudian duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya, Marryana memang sudah menjadi wanita dewasa tetapi dia tidak pernah mau mengalah dengan adiknya.


"Sudah-sudah kalian ini kalau dekat seperti kucing dan tikus tapi kalau berjauhan kangen-kangenan, sehari tidak telfon saja pasti ada yang mewek katanya kangen." Mami Marryana melerai pertengkaran anaknya yang sebentar lagi akan berpisah karena jarak diantara mereka.


Zaki duduk setelah dipersilakan oleh Papi Marryana sekaligus Bos club yang dipimpinnya saat ini.


"Za saya titip club ini dan juga Marryana putriku, jaga dia baik-baik dan tempat ini sepenuhnya saya pasrahkan kepada kalian berdua untuk mengelolanya, saya sudah tua jika harus sering bolak-balik kesini rasanya tenaga ini sudah tidak mampu lagi. Saya ingin hidup tenang dengan mengurus perusahaan yang ada di luar negeri saja. Tetapi kalian tidak perlu khawatir jika butuh dana atau apapun ingat cepat hubungi Papi ya Marry."


"Baik Pi," jawab Marryana.


"Tapi Bos...," Zaki sepertinya merasa keberatan dengan tugas baru yang harus dipikulnya ke depan.


"Tidak ada kata tapi Za, saya mempercayai kamu. Saya juga sudah melihat kinerja kamu, saat ini Marryana yang akan menjadi partner kamu dalam mengelola club ini."


"Pi aku masih ingin mengajar di kampus!"


"Dua-duanya bisa berjalan bersamaan Marry jadi tidak perlu khawatir."


"Papi pamit ya, jaga diri kalian baik-baik."


Keluarga Marryana terbang ke luar negeri dengan jet pribadi mereka setelah perpisahan haru tadi di club dan juga di bandara. Zaki dan Marryana mengantarkan mereka ke bandara dan baru meninggalkan bandara setelah mereka benar-benar menghilang dari langit kota Z.


Zaki masih terngiang-ngiang ucapan Papi Marryana tadi saat memeluknya sebagai tanda perpisahan, "Jika kamu mencintai putri kami, menikahlah dengannya dan jangan pernah sia-siakan dia. Katakan pada kami kapan saja saat kamu sudah siap!"


Zaki terkejut karena dia tidak pernah menyangka jika bosnya merestui dirinya untuk menikah dengan putrinya padahal diantara mereka saja tidak ada hubungan yang lebih dari seorang teman.


"Za kenapa kamu bengong begitu sih. Aku perhatikan sejak keluar dari bandara tadi muka kamu jadi berubah." Marryana memperhatikan Zaki yang tampak berbeda seperti sedang memiliki banyak pikiran.


"A-aku tidak apa-apa Marry, aku hanya tidak tahu bagaimana caranya mengelola club tanpa Bos. Padahal selama ini aku selalu mengikuti instruksi dari Bos."


"Marry kita jemput Stev dulu ya sebelum aku mengantarkanmu pulang, aku sudah berjanji pada Stev akan menjemputnya saat pulang sekolah nanti, bagaimana kalau sambil menunggu Stev selesai sekolah kita mampir ke cafe dekat sekolah Stev." Zaki mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku ikut apa kata kamu saja Za, aku juga kangen sama Stev sudah lama tidak bertemu." Wajah Marryana berubah sumringah ketika membicarakan Steven, dia memang menyukai anak itu sejak pertama kali bertemu dengannya.


****


Ibu Ilyas dan Sania kini sudah berada di dalam taksi yang akan mengantarkan mereka kembali ke club. Tidak ada obrolan yang terjadi diantara mereka, masing-masing sibuk dengan pikiran mereka yang terus teringat dengan ucapan Ilyas.


"Ilyas diancam?"


"Hemm... Siapa kira-kira yang mengancamnya?"


"Mo..., siapa sebenarnya dia itu?"


Sania bermonolog di dalam hatinya, sungguh sulit untuk memecahkan semua itu. Kasihan memang Ilyas karena menjadi korban akibat diancam oleh orang yang tidak bertanggungjawab.


"Ibu istirahat saja ya, aku yang akan menyiapkan makan siang untuk anak-anak!" ucap Sania ketika mereka sudah sampai di club.


"Ibu akan bantu kamu nak, bukankah kamu juga baru saja sampai tentu kamu juga lelah."


"Baiklah kalau begitu, kita istirahat dulu sebentar ya Bu, setelah itu kita siapkan semuanya, lagi pula tadi Tomi mengabari kemungkinan mereka akan pulang sedikit terlambat."


Ibu Ilyas kemudian masuk ke kamarnya untuk beristirahat sekaligus menunaikan sholat dzuhur karena sudah masuk waktunya.


Sedangkan Sania mencoba menghubungi Arfan, dia sangat gelisah karena semua itu menyangkut Arfan dan Mentari.


Dia ingin menceritakan apa yang di dengarnya tadi sewaktu bertemu dengan Ilyas, sayangnya Arfan tidak menjawab panggilan Sania.


Arfan baru saja keluar dari kelas dan bersiap untuk menuju ke masjid kampus sebelum menjemput Mentari. Dia memang mensilent ponselnya saat mengajar dan belum sempat untuk mengeceknya.


"Sayang apakah sudah menunggu lama?" Tanya Arfan ketika sudah di depan kampus Mentari yang disambut dengan senyum manis Mentari seperti biasanya.


"Tidak kak, aku baru saja selesai."


"Kita langsung pulang ya, tolong masak yang enak buat aku sayang!"


Mentari tersenyum setelah menarik nafasnya pelan, dia tahu Arfan seperti anak kecil yang sedang tantrum.


"Aku akan masak apapun yang kakak mau, kakak mau makan apa?"


"Nanti akan aku pikirkan sambil jalan sayang."


Mereka berdua sampai di rumah, setelah meletakkan tas di kamar dan mencuci tangannya Mentari pergi ke dapur untuk memasak. Dia mengecek stok bahan makanan kemudian mulai memasak.


Tidak seberapa lama masakannya pun siap, Mentari memanggil Arfan yang sedang bersantai di depan televisi.


"Wah kelihatannya enak sekali sayang," Arfan tampak tidak sabar ingin mencicipi masakan Mentari.


"Ayo makan yang banyak kak!" Mentari mengambilkan makanan untuk Arfan dan menaruhnya di piring untuk diberikan kepada suaminya sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.


Mereka mulai makan dan pada saat yang bersamaan bel pintu depan rumah mereka di pencet oleh seseorang.


"Biar aku lihat kak!" Mentari berdiri dari tempat duduknya.


"Aku saja sayang, kamu kan masih capek baru selesai memasak. Kamu makan saja ya yang banyak ya sayang, aku lihat dulu siapa yang datang." Arfan mencegah Mentari dan menyuruhnya duduk kembali untuk melanjutkan makan siangnya.


Arfan pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang bertamu ke rumah mereka. Arfan terkejut ketika melihat siapa yang datang.


"Mona?" Tanyanya kaget.


"Iya Fan, kenapa? Kamu pasti kaget ya


bagaimana bisa aku menemukan alamat rumah kalian?"


"Mau apa kamu datang kesini?"


"Bukankah Mentari akan pergi karena harus melakukan penelitian? Kamu pasti kesepian, aku bisa menemani kamu Fan." Ucap Mona genit ingin menyentuh wajah Arfan namun dengan sigap Arfan menghindar.


"Jaga ucapan kamu Mona, tidak sepantasnya wanita sepertimu mengucapkan hal yang tidak bermoral seperti itu!"


Mona tidak memperdulikan ucapan Arfan dan menerabas masuk ke dalam rumah tanpa dipersilakan untuk masuk oleh pemilik rumah.