My Old Star

My Old Star
#65 Tidak Peka



"Hei kau... Bukankah aku belum mengatakan jika aku menyetujuinya?" Arman mengejar Arfan yang sudah masuk ke dalam gedung.


Arfan membawa Arman naik ke lantai paling atas gedung Wijaya Corporation melalui lift khusus, semua orang di perusahaan itu sudah tahu siapa Arfan sehingga siapa saja yang bertemu dengan mereka menyapa Arfan dengan ramah dan sopan bahkan karyawan perempuan yang sedang berada di kubikel mereka masing-masing menatap takjub ke arah Arfan tanpa berkedip.


"Wah serasa kedatangan pangeran berkuda putih kantor ini!" ucap seorang karyawan perempuan.


"Oh oppa benar-benar nyata."


"Andai saja aku bisa menjadi pendampingnya," ucap karyawan yang lain.


"Tidak usah ngarep deh kalian, pak Arfan itu sudah punya calon istri."


"Serius?"


"Seriuslah masa aku mau berbohong sih sama kalian, gadis itu masih muda bahkan muda banget kayaknya perbedaan usia mereka cukup jauh."


"Dari mana kamu tahu?"


"Apa kalian tidak menyimak berita yang belum lama ini viral, tapi sekarang sudah hilang sih berita itu."


"Eh... Eh... Kenapa sih pak Arfan tidak bekerja di kantor ini saja, bukankah dia satu-satunya cucu pemilik perusahaan ini?"


"Mana kita tahu, yang jelas pak Arfan memilih untuk menjadi dosen, dengar-dengar sih begitu."


Mereka semua tidak ada yang mengetahui alasan mengapa Arfan tidak mau memimpin perusahaan milik neneknya dan perusahaan itu justru dipercayakan kepada orang lain.


Arfan bahkan hampir tidak pernah mengunjungi perusahaan neneknya itu, sebagai pewaris tunggal Arfan sebenarnya digadang-gadang oleh sang nenek untuk meneruskan perusahaan, hanya saja dia lebih memilih jalannya sendiri, mengejar impiannya dalam bidang olahraga.


Arfan bertemu dengan sekretaris yang sudah diamanahi tugas oleh neneknya.


"Pak Arfan mari silakan masuk!" sekretaris itu mengantarkan Arfan dan Arman ke ruangan presiden direktur perusahaan.


"Arfan sudah lama sekali kamu tidak datang nak!" paman Faisal menyambut Arfan, mereka saling berpelukan.


"Maafkan aku paman, akhir-akhir ini begitu sibuk sampai akhirnya lupa untuk berkunjung. Paman apa kabar?"


"Paman alhamdulillah sehat nak," jawab paman Faisal.


"Pemuda memang harus berkarya, tak apa sibuk saat ini yang penting jangan lupa untuk segera berkeluarga jadi kau punya teman untuk melepas lelah," imbuh paman Faisal memberikan nasehat.


"Mohon do'anya saja paman, semoga bisa secepatnya."


"Iya paman akan do'akan yang terbaik buat kamu Fan. Ayo silakan duduk dulu Fan!"


Arfan yang diikuti Arman duduk di sofa yang paman Faisal maksudkan, "Nenekmu sudah menyampaikan semuanya kepada paman."


"Iya paman, aku juga sudah membawa temanku. Dia yang akan bekerja disini paman, perkenalkan namanya Arman, temanku ini belum memiliki pengalaman apapun jadi mohon bantuannya." Arman menjabat tangan paman Faisal dan memperkenalkan dirinya.


"Tentu saja Fan, kamu jangan khawatirkan hal itu."


"Oh ya Fan, paman sudah tua apa tidak sebaiknya kamu mulai belajar bisnis supaya pada saatnya nanti paman akan pensiun dengan tenang."


"Paman tidak boleh berbicara seperti itu, nenek sangat mengandalkan paman. Aku masih sibuk dengan duniaku sendiri dan paman tentu tahu kalau aku tidak tertarik dengan bisnis."


"Paman tahu nak, tapi demi nenekmu kamu juga harus memikirkan sisi nenekmu karena kamulah satu-satunya harapannya."


Paman Faisal merupakan adik kandung dari almarhum kakek Arfan, sejak nenek Arfan sudah tidak bisa menjalankan bisnis peninggalan suaminya yang mereka bangun bersama, nenek Wijaya mempercayakan perusahaannya kepada Faisal sebab saat itu Arfan masih kuliah dan belum bisa diandalkan dalam berbisnis bahkan hingga saat ini Arfan masih menolak jika disinggung soal perusahaan.


Paman Faisal terkenal jujur dan bijaksana, segala sesuatu yang menyangkut perusahaan apabila terjadi masalah ataupun saat perusahaan sedang berkembang pesat, paman Faisal selalu melibatkan nenek Wijaya sebagai penentu kebijakan utama dan paman Faisal sendiri sebagai pelaksana teknis dari kebijakan yang mereka ambil secara bersama.


"Baiklah paman, aku pamit dulu. Tolong bimbing sahabatku ini supaya bisa bekerja dengan baik. Jika dia tidak becus dalam bekerja jangan sungkan kabari aku segera!" pesan Arfan kepada paman Faisal sebelum pergi dari ruang kerja paman Faisal.


"Serahkan saja pada paman Fan!"


"Ingat bekerjalah dengan baik Man sebab kesempatan tidak datang dua kali!"


"Aku pasti akan mengingat semua kebaikanmu Fan, terimakasih untuk semuanya."


"Apa yang akan dia lakukan di perusahaan nenek kali ini?" Arfan bertanya pada dirinya sendiri.


Kini Mentari baru saja ke luar dari kelas, dia bersama Siska menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan sejak pagi minta diisi.


"Sis bagaimana perkembangan hubunganmu dan kak Arman?" Tanya Mentari sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Aku tidak tahu Tari, kak Arman tidak melakukan pergerakan apapun. Mungkin dia hanya menganggapku sebagai seorang teman." Siska berkata dengan sedih dan tidak bersemangat, dia sangat berharap bisa memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan Arman, meskipun usia mereka terpaut jauh seperti Mentari dan Arfan.


"Coba kamu hubungi dia Sis, siapa tahu akhir pekan ini kita bisa jalan-jalan bareng, double date mungkin," Mentari nyengir kuda.


"Aku tidak punya keberanian untuk itu Tari!" Siska tampak menyesal tidak bisa berbuat apa-apa sedangkan di perusahaan Arman sedang serius bekerja, mempelajari dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru yang jauh dari dunianya tapi saat ini dia tidak memiliki pilihan lain kecuali ikut dengan pengaturan Arfan demi bisa menyambung hidupnya di perantauan. Arman bertekad akan berusaha lebih keras dan tidak akan mengecewakan Arfan.


Arfan datang menjemput Mentari, "Bye Siska, sampai jumpa besok ya. Pikirkan baik-baik kata-kataku tadi ya, kalau butuh bantuan hubungi aku saja."


"Iya Mentari," Siska melambaikan tangannya sampai Mentari menghilang di kejauhan, dia pun kembali ke asrama.


Siska sangat berharap Mentari bisa kembali lagi ke asrama agar dirinya tidak kesepian, meskipun sudah memiliki teman sekamar yang baru tetap saja Siska tidak bisa seterbuka saat bercerita bersama Mentari.


"Kak boleh minta bantuan?" Mentari mencoba menjelaskan kepada Arfan tentang rencananya akhir pekan ini.


"Kamu ingin menjodohkan mereka?" Tebak Arfan.


Mentari tersenyum malu-malu, "Aku kasihan pada Siska kak, dia sudah menyukai kak Arman sejak lama tapi sepertinya--,"


"Arman tidak peka maksudmu?" Arfan memenggal ucapan Mentari.


"Iya kak, seorang gadis itu butuh kepastian. Jika tidak diucapkan mana mungkin dia bisa tahu laki-laki yang dia sukai juga memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak!" jawab Mentari dengan sangat lantang yang membuat Arfan menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Kenapa berhenti kak?"


"Apa kamu perlu ikut campur sejauh itu tentang masalah mereka?"


"Tentu saja karena Siska sahabatku, aku mau dia juga bahagia dengan pilihannya!"


"Itu kamu paham biarkan dia bahagia dengan pilihannnya, jadi tidak perlu ikut campur terlalu dalam. Arman juga berhak membuat pilihannya sendiri!"


"Jadi kamu tidak setuju kalau kak Arman dengan Siska?"


"Bukan tidak setuju hanya aku tidak mau mereka terlalu terburu-buru, biarlah mereka menemukan perasaan mereka satu sama lain tanpa ada campur tangan orang lain."


"Kakak bilang terburu-buru?"


"Perlu kakak tahu ya, Siska itu sudah menyukai kak Arman bahkan jauh sebelum mereka bisa saling bertemu."


"Iya itu Siska, tapi bagaimana dengan Arman?"


"Kamu juga harus memikirkan bagaimana perasaan Arman yang sebenarnya bukan?"


Mentari dibuat kesal oleh Arfan, padahal tujuannya hanya ingin meminta tolong agar mereka bisa pergi bersama akhir pekan ini.


Mereka tiba di club, Mentari langsung masuk ke kamarnya karena masih kesal dengan Arfan.


"Dia kenapa Fan? Ngambek?" Tanya Sania yang melihat Mentari tidak seceria biasanya.


"Tahu tuh, tiba-tiba marah."


"Seorang gadis itu maunya dimengerti Fan, dengarkan ucapannya, respon baik-baik dan jangan membantah apa yang diinginkannya."


"Kalian para perempuan membuat laki-laki selalu dalam posisi bersalah terus menerus!"


"Itu kodrat Fan!" Sania tertawa.


Wanita memang selalu ingin dimengerti oleh pasangannya, terlebih keinginannya harus terpenuhi meskipun itu hanya sebuah hal yang remeh temeh dan tidak penting menurut versi seorang laki-laki.


Perempuan akan terus mengingat kesalahan pasangannya tetapi akan mudah lupa dengan kesalahan yang pernah diperbuatnya.