
Zaki dan Marryana pamit undur diri karena sudah larut, Marryana harus segera pulang ke apartemen. Sedangkan Zaki sudah harus kembali ke club, dia juga memiliki banyak tanggungjawab seperti Arfan.
Zaki mengantarkan Marryana terlebih dahulu untuk memastikan wanita itu aman sampai di tempatnya tinggal, apalagi Marryana adalah anak dari bosnya, jika terjadi sesuatu pada wanita itu bisa tamat riwayat Zaki di club dan sudah bisa dipastikan masa depannya akan suram.
Setibanya di apartemen, Marryana mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak di kenal, dia ingin mengabaikannya tapi khawatir jika pesan itu penting sebab nomor yang sama sudah menghubunginya berkali-kali.
Ternyata pesan yang dikirimkan kepadanya itu berasal dari Bram yang mengajaknya ke luar bersama besok, Marryana tidak menjawab pesan itu karena besok dia ada jadwal mengajar di kampus dan tidak mungkin dia akan mengiyakan permintaan Bram begitu saja.
"Marry kenapa kamu sangat susah untuk aku dapatkan, padahal Mona, Ratu dan Maya semuanya takluk kepadaku. Bukankah kalian itu sama saja, tapi kenapa kamu begitu sukar untuk aku ajak sekedar pergi bersama?" Bram kesal dan membanting ponselnya ke kasur.
"Ada apa ini, kenapa kamu sepertinya marah sekali?" Mona masuk ke dalam kamar tepat pada saat Bram sedang melempar ponselnya.
"Ah tidak sayang aku hanya sedang kesal saja dengan temanku," jawab Bram berbohong.
"Teman yang mana Bram sayang?"
"Awas ya kalau kamu berani macam-macam jangan harap kamu bisa menikmati uangku lagi!" ancam Mona kepada Bram, karena selama ini yang menghidupi Bram itu Mona dan juga kedua teman Mona itu, sebagai gantinya Bram harus mau mengikuti keinginan mereka, tapi Bram lebih sering bersama Mona karena Monalah yang paling banyak memberikan uang kepadanya.
Di club Arfan masih ramai dengan anak-anak dan juga Mentari yang sedang bermain bersama mereka. Kebiasaan Mentari jika sedang berada di club memang seperti itu, tapi semua itu membuat dia sangat bahagia.
Berbeda dengan Sania malam ini yang tiba-tiba uring-uringan setelah Zaki pulang bersama Marryana.
Tomi sendiri melihat gelagat aneh pada istrinya dan mengikuti ibu anak satu itu ke kamarnya.
"Sa kamu kenapa?" Tanya Tomi yang khawatir kepada istrinya yang tiba-tiba murung.
"A-aku baik-baik saja Tom, aku hanya lelah."
"Jangan bilang kamu masih menyimpan rasa kepada Zaki dan kamu tidak rela sekarang Zaki bersama wanita lain!" tuduh Tomi karena Sania tidak seperti biasanya bahkan tadi Sania mengabaikan dirinya.
"Jangan asal menuduh Tom, aku hanya lelah!"
"Sikapmu berbeda Sa, aku bisa melihatnya."
"Cukup Tom, jangan perpanjang lagi hal ini. Aku mau istirahat. Kita bicara besok pagi saja."
Sania memilih menghindar, saat ini dia hanya ingin sendiri. Dia tidak ingin menyakiti Tomi, dia ingin meredam semua yang bergejolak dalam hatinya. Dia harus bisa mengalahkan egonya sendiri sebab saat ini dia sudah bahagia dengan keluarga kecil yang dia bangun bersama Tomi.
Sania juga meyakinkan dirinya jika Tomi adalah laki-laki paling baik untuknya dan juga Ayah yang terbaik bagi Steven, sebab sejak masih bayi Tomi sudah menyayangi Steven seperti anak kandungnya sendiri.
Ketulusan Tomi membuat Sania merasa harus mempertahankan pria yang jarang sekali ditemui saat ini. Dia selalu berusaha meyakinkan keluarganya bahwa Sania pantas untuk mendampinginya, alasan Tomi siapapun berhak memiliki masa lalu dan bisa berubah menjadi lebih baik. Sania tidak mungkin menyia-nyiakan Tomi karena mereka sudah melangkah sejauh ini.
Tomi memilih ke luar dari kamar karena Sania bersikeras tidak mau berbicara dengannya malam ini, Sania ingin sendiri. Menimbang semua rasa yang pernah ada dan tiba-tiba muncul kembali, semua itu serasa menghilangkan kebencian yang selama bertahun-tahun telah tertanam di relung jiwanya.
Dia memang sudah memaafkan Zaki, mulai mencoba berbagi kasih sayang untuk Steven dengan mengungkap kebenaran akan jati diri anaknya. Namun, perasaan yang muncul dalam dirinya tidak boleh terus dia pelihara karena sama saja dia akan menghancurkan kehidupan keluarga kecilnya dan akan menyakiti satu sama lain. Steven prioritas dirinya saat ini ketimbang perasaanya kepada Zaki.
Steven memang tidak bernasab dengan Zaki karena dia lahir tanpa pernikahan yang sah, tapi Steven berhak tahu siapa Ayah kandungnya dan saat ini Steven sudah bisa menerima Zaki sebagai Ayahnya selain Tomi meskipun Sania tidak yakin jika Steven akan memaafkan Zaki jika tahu apa yang telah dilakukannya di masa lalu, saat ini yang terpenting adalah ketentraman jiwa Steven agar tidak mengganggu tahap pertumbuhan dan perkembangannya sebagai seorang anak yang tidak pantas menanggung akibat dari apa yang orangtuanya lakukan di masa lalu.
Sania terlelap dalam tangis yang tidak bisa dia keluarkan, hatinya remuk dan sakit jika mengingat masa lalunya, tapi kenapa rasa sakit itu tidak bisa mengalahkan rasa hatinya terhadap Zaki yang jelas-jelas sudah dia kubur dalam-dalam selama sepuluh tahun terakhir ini.
Arfan pamit kepada Tomi dan juga anak-anak karena harus pulang ke rumah, Mentari sudah terlelap di sofa karena terlalu lama menunggu Arfan yang mengawasi anak-anak berlatih menerapkan strategi yang telah mereka susun.
Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai sehingga Arfan harus ekstra dalam mengarahkan semua pemain, menutup celah pemain dengan kapasitas paling lemah diantara teman-temannya agar jangan menjadi incaran pemain lawan.
Arfan mengangkat tubuh istrinya ke dalam mobil dengan dibantu oleh Dio yang membukakan pintu mobilnya.
"Mungkin lain kali Tom, aku ada jam mengajar pagi jadi harus bergegas, waktunya tidak cukup jika besok harus pulang dulu karena kami tidak membawa perlengkapan apapun." Jawab Arfan ketika sudah meletakkan tubuh Mentari di kursi depan dan memasangkan sabuk pengaman untuknya.
"Kami pulang dulu ya Tom, besok bicaralah dengan Sania ketika dia sudah ceria!" Arfan masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan Tomi yang masih tidak percaya jika ternyata Arfan memperhatikan mereka begitu detail.
Pagi pun menjelang, Mentari kaget karena dia bangun dan sudah berada di kamarnya padahal semalam dia tidur di sofa dan masih di club. Mentari mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi, sepertinya Arfan sedang membersihkan diri sebelum menunaikan ibadah paginya. Mentari kembali menarik selimut, udara terasa sangat dingin pagi ini.
"Kamu sudah bangun sayang?" Sapa Arfan yang melihat Mentari terduduk di tepian ranjang seusai kembali dari Masjid di depan gang yang tidak jauh dari rumah mereka.
"Kakak yang mengangkatku hingga kemari?"
"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan aku." Jawabnya menyunggingkan seulas senyum sembari melipat kain sarung yang dia kenakan tadi saat ke Masjid.
"Apakah aku terlalu berat?"
"Itu tidak penting sayang karena tulang-tulangku masih kuat untuk mengangkat massa tubuh kamu."
"Bagaimana kalau nanti aku gendut?"
"Itu bukan masalah!"
"Apakah kakak akan mencari wanita lain yang---."
"Ucapan macam apa itu, apa kamu meragukanku sebagai seorang suami?" Arfan sedikit kesal dengan pertanyaan dari Mentari sehingga nada bicaranya sedikit meninggi yang membuat Mentari seketika terdiam karena merasa bersalah pagi-pagi dia sudah memancing perdebatan.
"Sayang maafkan aku, sekarang bersihkan diri kamu, sholat subuh dulu sana gih biar lebih segar. Aku akan buatkan sarapan." Arfan menurunkan nada bicaranya karena dia tahu jika istrinya merasa bersalah dan Arfan juga ingat pesan dokter Sandra jika ibu hamil biasanya memiliki mood yang sering berubah-ubah.
Mentari menuruti perkataan suaminya, bergegas membersihkan diri dan beribadah pagi.
Mentari turun menuju dapur, dia melihat jika kompor masih menyala dengan nasi goreng yang sudah hampir hangus di dalam wajan tetapi Arfan tidak ada di sana.
"Ya ampun ada apa ini, kenapa kak Arfan tidak ada, kemana dia?" Pikirnya.
Mentari mematikan kompor karena khawatir terjadi kebakaran, asap hitam mengepul di seluruh bagian dapur.
Terdengar suara Arfan sedang muntah-muntah di kamar mandi. Mentari bergegas ke sana melihat suaminya.
"Kak apakah mual sekali?" Tanya Mentari yang hanya dijawab dengan anggukkan oleh Arfan.
Mentari membantu Arfan membersihkan dirinya, mereka kembali ke dapur.
"Duduklah kak, biarkan aku saja yang membuat sarapan."
"Aku tidak kuat dengan bau bawang Mentari."
"Kalau begitu kakak istirahat saja di sofa, kalau sarapannya sudah siap aku panggil nanti kak."
Arfan tiba-tiba mendekap Mentari, mengendus-endus bau tubuh istrinya dan berangsur-angsur merasa jika mualnya mulai menghilang dan dia merasa sangat nyaman.
"Tetaplah bersamaku Mentari sayang, teruslah di sisiku setiap saat."
Deg
Mentari padahal baru saja akan menyampaikan jika dia mendapatkan pesan dari pak Reza untuk segera melakukan penelitian untuk tesisnya, kemungkinan Mentari harus ke luar kota dalam waktu dekat. Tetapi apa mungkin dia bisa melakukannya karena Arfan seperti ini? Sanggupkah dia berpisah sementara dengan Arfan yang sedang tidak bisa jauh-jauh darinya?