My Old Star

My Old Star
#90 Pendonor untuk Zaki



Tomi mengantarkan istri dan anaknya ke rumah sakit, bagaimanapun juga Zaki adalah sahabatnya sejak dulu meskipun hubungannya dengan Zaki sempat merenggang karena permasalahan diantara mereka.


Tomi juga tidak lupa menghubungi Arfan saat di perjalanan untuk memberitahukan jika telah terjadi sesuatu pada Zaki dan benar saja Arfan memang tidak tahu apa-apa mengenai informasi itu.


"Mentari sayang sebelum kita ke kampus kita ke rumah sakit dulu ya?" Ucap Arfan ketika mereka sedang sarapan.


"Siapa yang sakit kak?"


"Zaki semalam tertusuk oleh gerombolan perampok ketika pulang dari dinas luar kota, kabarnya dia bermaksud menolong seseorang tapi malang justru Zaki yang tertusuk oleh perampok itu, tadi Tomi yang mengabari dan sedang menuju ke rumah sakit karena Zaki membutuhkan donor darah segera."


"Bagaimana kondisinya kak?"


"Tomi belum tahu karena belum sampai di rumah sakit. Dia akan segera memberikan kabar ketika sudah melihat kondisi Zaki secara langsung."


"Kalau begitu ayo kita bergegas kak!"


Arfan dan Mentari menyelesaikan sarapan dengan cepat, kemudian menuju rumah sakit untuk melihat sendiri kondisi Zaki.


Arfan dan Zaki memang baru saling berbicara lagi belum lama ini setelah sepuluh tahun mereka terlibat perang dingin, tetapi bukan berarti karena hal itu menjadikan Arfan tidak perduli kepada Zaki.


Tomi baru saja sampai di rumah sakit, seorang wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama Marryana menyambut kedatangan mereka.


"Maafkan saya tuan dan nyonya, saya menelfon kalian karena saya sendiri tidak tahu harus menghubungi siapa."


"Tidak apa-apa nona, kami teman Zaki. Kami yang seharusnya berterimakasih karena nona telah menolong teman kami dengan membawanya ke rumah sakit, bahkan nona menunggui Zaki sampai saat ini."


"Saya yang seharusnya berterimakasih karena teman tuan dan nyonya telah menolong saya sehingga nyawa saya dapat terselamatkan tapi malah dia yang harus terluka."


"Bagaimana kondisi om baik tante?"


"Ini pasti Steven ya?"


Steven mengangguk, "Om baik masih kritis, dia harus segera mendapatkan donor darah yang cocok."


"Dimana kita bisa mengecek golongan darah kita apakah cocok dengan Tomi atau tidak nona?" Tanya Tomi yang merasa jika Zaki memiliki sisi lain yang begitu baik dan itu patut untuk diapresiasi.


"Mari saya antarkan tuan!"


Tomi dan Sania sudah selesai diperiksa, namun tidak ada satupun yang cocok dengan golongan darah Zaki.


"Bagaimana ini, waktunya semakin sempit." Marryana semakin merasa cemas, dia berpikir harus menghubungi siapa lagi jika seperti ini. Dia tidak mau kehilangan seseorang yang telah menolongnya.


Tomi dan Sania ternyata berpikir hal yang sama, satu-satunya harapan mereka adalah Steven tetapi anak itu masih terlalu kecil menurut mereka.


"Sa bagaimana kalau kita coba mengecek kecocokan antara Zaki dan Stev?" Tomi sangat berhati-hati tatkala mengucapkan hal tersebut karena dia tahu jika Sania tidak akan membiarkan Steven begitu saja untuk menjadi pendonor jika keduanya benar-benar cocok sebab selama ini Sania sangat membatasi hubungan antara Zaki dan Steven.


"Aku juga memikirkan hal yang sama Tom, tapi aku takut kamu marah kepadaku dan menganggap aku masih berharap pada Zaki."


"Jangan pikirkan itu dulu Sa, yang terpenting Zaki bisa selamat."


Mereka membawa Steven untuk dilakukan pengecekan dan dugaan mereka benar jika Steven memiliki kecocokan dengan Zaki.


Namun karena Steven masih kecil, maka mereka tidak bisa hanya mengandalkan Steven sebagai pendonor karena khawatir akan terjadi sesuatu pada anak itu jika terlalu banyak mendonorkan darahnya sedangkan kebutuhan Zaki saat ini tidak hanya satu kantong darah, kata dokter pasien membutuhkan sekitar tiga kantong darah agar dia bisa melewati masa kritisnya.


Dengan kondisi seperti ini, mereka juga masih harus tetap berusaha untuk mendapatkan pendonor lain yang cocok.


Steven adalah anak yang kuat dan pemberani karena tidak takut pada jarum, dia bahkan masih bisa berceloteh dengan Sania ketika proses pendonoran sedang dilakukan.


Arfan dan Mentari tiba di rumah sakit kemudian langsung menuju ke ruangan tempat Zaki dirawat.


Arfan bertemu dengan Marryana, "Kamu sedang apa ada disini?" Tanya Arfan kepada Marryana yang menjaga Zaki dari luar.


"Jangan katakan jika Zaki terluka karena kamu An?" Sambung Arfan.


Marryana masih terdiam, dia tidak tahu jika Arfan juga mengenal Zaki. Dunia ini terasa sempit bagi Marryana saat ini.


"Fan ceritanya panjang dan aku minta maaf karena aku jadi membuat Zaki harus berjuang antara hidup dan mati di dalam sana."


"Apakah sudah menemukan donor untuk Zaki?"


"Saat ini anak bernama Steven sedang mendonorkan darahnya."


"Stev?"


"Dimana dia sekarang?" Arfan berlari ke tempat yang ditunjukkan oleh Marryana.


Mentari mengikuti langkah Arfan yang tampak sangat cemas, bagaimanapun juga Steven masih sangat kecil untuk menjadi pendonor meskipun dia anak kandung Zaki.


"Dia anak yang kuat tuan, saya permisi karena harus ke kamar pasien!" jawab perawat itu.


"Kakak yang tenang ya, kita masuk sekarang tapi tolong jangan tunjukkan kecemasan kakak pada mereka, kasihan kak Sania. Dia pasti sangat sulit untuk membuat pilihan saat ini." Mentari menasehati Arfan yang terlihat sangat tegang.


Arfan mengangguk paham kemudian mereka masuk seolah tidak terjadi apa-apa.


"Sania bagaimana dengan Stev?"


"Dia baru saja tidur Fan, sepertinya dia sangat lelah setelah mendonorkan darahnya."


Arfan mencium kening Steven dan mengusap lembut rambut anak itu.


Mentari memeluk Sania, "Kak Sania percayalah Stev anak yang kuat."


"Iya Mentari, tadi dia tersenyum bahagia karena bisa menolong om baiknya. Dia ingin meminta maaf pada Zaki karena akhir-akhir ini hubungan mereka tidak baik."


Arfan menghampiri Tomi yang berdiri di dekat jendela, "Fan pada akhirnya aku tahu sekeras apapun aku memisahkan mereka tetap saja takdir membawa keduanya untuk selalu bertemu, bahkan saat ini darah Steven mengalir di tubuh Zaki."


Tomi terlihat berkaca-kaca, dia yang selalu saja tidak terima pada perlakuan Zaki terhadap Sania di masa lalu kini merasa bahwa usahanya terasa sia-sia karena kekuatan takdir jauh lebih hebat dibandingkan dengan rencana demi rencana yang dia buat.


Arfan menepuk pundak Tomi, "Terkadang memaafkan akan jauh lebih membuat hati kita nyaman Tom."


"Kamu benar Fan, aku merasakannya saat ini."


Perawat yang tadi membawa darah Steven ke luar dari ruangan tiba-tiba masuk kembali ke dalam.


"Tuan dan nyonya maafkan saya karena harus mengatakan hal ini, kata dokter darah untuk pasien tidak cukup. Paling tidak membutuhkan sekitar dua kantong lagi agar pasien bisa bertahan."


Sania memandang ngilu ke arah Steven, tidak mungkin jika Steven harus mendonorkan darahnya lagi sedangkan kondisinya saat ini sudah seperti tidak bertenaga dan wajahnya terlihat sedikit pucat.


Arfan melihat kegelisahan Sania sebagai seorang ibu, "Suster bisakan periksa golongan darah saya, siapa tahu cocok dengan pasien." Arfan mengajukan dirinya sebagai pendonor.


"Saya juga sus, siapa tahu darah saya berguna bagi pasien." Mentari ikut mengajukan dirinya, Arfan pun menyetujuinya dengan mengangguk ke arah Mentari.


"Baik tuan dan nyonya, silahkan ikut saya untuk kami periksa darahnya!"


Tidak seberapa lama hasil pemeriksaan darah mereka berdua ke luar, ternyata Arfan memiliki kecocokan dengan Zaki. Dia siap untuk menjadi pendonor untuk Zaki.


Darah milik Arfan dibawa oleh perawat untuk ditranfusikan ke tubuh Zaki sesaat setelah proses pendonoran selesai.


Arfan sendiri masih berbaring di ranjang yang bersebelahan dengan Steven karena dia meminta untuk bisa melihat Steven di dekatnya.


Mentari menjaga Arfan yang tergolek lemas di atas ranjang, dia sedang memulihkan kondisinya terlebih dahulu.


"Mentari sayang maafkan aku hari ini kita tidak bisa ke kampus!"


"Kamu pasti akan ketinggalan materi karena tidak hadir di kelas."


"Jangan pikirkan itu kak, menolong orang lain jauh lebih penting. Aku bisa bertanya pada Siska nanti kak dan aku akan mempelajarinya sendiri." Mentari menggenggam tangan Arfan erat.


Di ruang perawatan, Zaki yang kondisinya dinyatakan stabil oleh dokter yang menanganinya ditemani oleh Marryana.


Wanita itu tidak mau pulang ke apartemennya karena merasa berhutang budi kepada Zaki. Dia harus melihat Zaki sembuh agar hatinya bisa tenang.


Marryana duduk di samping ranjang Zaki karena takut jika Zaki membutuhkan sesuatu dia tidak mengetahuinya.


Marryana tertidur dengan kepala yang dia sandarkan di ranjang rawat Zaki.


Zaki perlahan membuka matanya dan melihat ada seorang wanita yang menjaganya tapi sepertinya dia sangat asing bagi Zaki karena bukan Sania.


"Nona anda siapa?" Zaki mengguncang tubuh Marryana dengan sisa-sisa tenaganya yang membuat Marryana terbangun.


"Zaki kau sudah bangun, syukurlah!" Marryana refleks memeluk tubuh Zaki yang bersamaan dengan masuknya Sania dan Tomi ke ruang rawat Zaki.


Sania menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut dan agar jangan sampai menimbulkan suara berisik yang pada akhirnya akan mengganggu pasien, sedangkan Zaki tidak bisa apa-apa karena kondisinya masih lemah.


"Nona anda membuat lukaku terguncang!" Zaki memperingatkan Marryana yang sangat bahagia melihat Zaki bisa selamat dan bisa melewati masa kritisnya dengan baik tentunya karena mendapatkan donor tepat pada waktunya.


"Sa sebaiknya kita ke luar dulu, biarkan mereka berdua saja di dalam!"


Sania mengangguk setuju dengan usul Tomi, hanya saja hatinya sedikit merasakan sakit ketika melihat Zaki di peluk oleh wanita lain.


Sania memandang wajah Tomi, "Kamu tetap suami terbaik untukku dan ayah yang baik untuk Stev!" Sania membatin untuk menguatkan diri sekaligus menanamkan pada hatinya bahwa Zaki hanyalah masa lalu kelam baginya dan masa depanntya saat ini adalah Tomi.