My Old Star

My Old Star
#108 Kegetiran Kenyataan



Arfan dengan sigap menangkap tubuh Steven yang tergelincir dari atas pohon. Semua orang merasa tegang dengan kejadian tadi.


Arfan membawa Steven masuk ke dalam club dan menyuruh Sania untuk memandikannya dengan air hangat agar dia tidak masuk angin.


"Sekarang mandilah, pakai baju hangat!" perintah Arfan.


"Maafkan aku uncle...," Steven menyesal.


"Kita bicara nanti saja ya, sekarang mandilah dulu!"


Sania melangkah menghampiri Steven untuk membawanya mandi.


"Biar aku saja Sa, kamu urus dirimu sendiri dulu nanti kamu bisa sakit!"


Zaki mengambil alih tugas Sania memandikan Steven karena Sania juga basah kuyup. Sania merasa jika Zaki benar-benar sudah berubah, dia jauh lebih memiliki kepedulian dibandingkan dengan Zaki yang dulu.


"Ayo Sa kita mandi bersama!" Tomi sengaja berkata demikian di depan Zaki karena pandangan Sania tidak lepas dari Zaki padahal dirinya juga ada diantara mereka.


Hati Zaki tersentil dengan ucapan Tomi, hanya saja dia berusaha bersikap tenang dan fokus kepada Steven.


"Ayo Stev, Papa akan memandikanmu!"


Zaki berjalan beriringan dengan Steven masuk ke kamar bocah itu. Zaki membiarkan Steven berendam air hangat lebih lama agar tubuh anak itu lebih relax setelah semua ketegangan yang terjadi sedangkan Zaki sibuk memilihkan baju hangat untuk anaknya itu.


Arfan dan Mentari juga sedang mandi saat ini, mereka mandi bersama agar lebih cepat karena air hujan sudah berhasil membuat tubuh Mentari menggigil. Selesai berganti pakaian, Mentari masuk ke dalam selimut karena tidak tahan dengan dingin yang dia rasakan.


Beruntung Mentari menemukan baju hangat miliknya yang sengaja dia tinggal di lemari kamar lamanya yang ada di club, jika tidak mungkin saja dia harus meminjam baju kepada Sania.


"Kamu kenapa tadi nekat berdiri di bawah pohon sayang, padahal hujan sedang lebat dan petir terus menyambar?" Arfan berbaring di sisi Mentari dan memeluknya, dia merasa jika istrinya mengalami hipotermia.


"Apa kamu tidak memikirkan bagaimana kondisi anak kita, jika sampai terjadi apa-apa kepadamu sayang?"


Mentari tidak bisa menjawab pertanyaan Arfan karena membuka mulutnya saja terasa kaku.


"Kamu sakit sayang, apa tadi siang kamu belum makan di kampus?"


Mentari hanya mengangguk, "Pantas saja tubuh kamu menggigil seperti ini!" Arfan mencari minyak kayu putih dan membalurkannya di tubuh Mentari agar lebih hangat.


"Tunggu disini, aku akan membuatkan kamu bubur hangat!"


Arfan keluar dari kamar, bergegas menuju dapur untuk membuat bubur.


"Nak kamu sedang apa?" Ibu Ilyas bertanya kepada Arfan.


"Aku mau membuat bubur untuk Mentari Bu," jawab Arfan yang masih sibuk mencuci beras.


"Ibu sudah buatkan nak, lengkap dengan sayur dan lauknya. Ibu sudah taruh di atas meja makan, tinggal menunggu anak-anak keluar dari kamar untuk makan bersama."


"Benarkah Bu?" Ibu Ilyas mengangguk.


"Terimakasih Bu, aku akan mengambilnya untuk Mentari."


Arfan sangat bersyukur dengan adanya Ibu Ilyas di clubnya, dia banyak merasa terbantu oleh perempuan setengah sepuh itu.


Arfan membawa mangkuk dan mengisinya dengan bubur hangat buatan Ibu Ilyas.


"Sekali lagi terimakasih Bu, aku ke atas dulu. Ibu juga jangan lupa untuk makan bersama anak-anak ya!"


"Iya nak, jangan khawatirkan Ibu. Sekarang Ibu akan memanggil mereka untuk makan."


Mentari sudah terlelap saat Arfan masuk ke dalam kamar, suhu tubuhnya juga sudah mulai naik tidak seperti tadi saat baru selesai mandi.


"Mentari sayang, makan dulu." Arfan menepuk pipi kanan Mentari agar dia terbangun.


Mentari menggercap-gercapkan matanya karena merasa terusik, dia mengambil posisi duduk dan tersenyum kepada suaminya.


"Makan dulu, aku suapi ya?"


"Ayo buka mulutmu!" perintah Arfan.


Mentari makan dengan perlahan, "Kakak kenapa tidak makan?"


"Aku nanti saja, kamu duluan kasihan yang ada di perut." Arfan menunjuk perut Mentari yang masih terlihat rata.


"Besok jadi mengantarkanku memeriksakan kandungan kak?" Mentari bertanya karena dia sangat berharap bisa segera diizinkan untuk pergi ke luar kota menyelesaikan tugas penelitiannya.


"Aku akan mengantarkanmu sayang, dia anak kita mana mungkin aku tega membiarkanmu pergi sendiri."


"Jam berapa jadwal pemeriksaannya sayang?"


"Baiklah, ayo makan lagi!"


"Aku sudah kenyang Kak, sekarang giliran Kakak yang makan!"


"Baiklah, aku makan!" Arfan menyuapkan makanan dari mangkuk bekas Mentari ke dalam mulutnya dengan sendok yang sama dengan yang digunakan Mentari tadi.


"Kak itu bekasku, aku akan ambilkan yang baru." Mentari menyibak selimutnya.


"Mau kemana?" Arfan mencegah Mentari agar tidak pergi kemanapun.


"Aku akan ambilkan bubur yang baru buat kamu Kak!"


"Ini lebih nikmat dari pada yang baru sayang!" Arfan terus menyuapkan bubur ke dalam mulutnya hingga tandas tak bersisa sedikitpun.


"Aku pasti akan merindukan kebersamaan kita yang seperti ini disaat kamu tidak ada di sisiku sayang." Celetuk Arfan yang membuat Mentari merasa bersalah karena dia akan meninggalkan Arfan untuk sementara waktu. Arfan sendiri melenggang ke arah pintu untuk mengembalikan mangkuk tempat bubur tadi ke dapur.


Mentari menghembuskan nafasnya kasar, "Aku pasti juga akan merindukanmu Kak!" ucapnya pelan menahan air mata yang terasa mengalir deras tanpa bisa dibendung.


Arfan bertemu dengan Ibu Ilyas lagi di dapur saat sedang mencuci mangkuk, "Bu istirahatlah, jangan manjakan anak-anak. Biarkan mereka melakukan pekerjaan mereka sendiri." Arfan melarang Ibu Ilyas mengerjakan hal yang seharusnya anak-anak sendiri yang melakukannya.


"Sesekali boleh Nak, Ibu tidak keberatan."


"Ibu tinggal disini bukan untuk menjadi pengasuh atau pembantu mereka Bu, tapi Ibu menjadi orangtua mereka untuk bisa memberikan nasehat kepada mereka agar menjadi pribadi yang kuat dan dewasa, karena di luar sana hidup jauh lebih berat."


"Iya Nak, Ibu sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian. Jadi, Ibu tidak merasa keberatan hanya sekedar mencuci mangkuk seperti ini Nak."


"Baiklah Bu, tapi tidak boleh sering-sering ya Bu!"


"Beres... tidak perlu khawatir Nak!" Ibu Ilyas mengacungkan jempolnya.


"Nak... bolehkah Ibu menjenguk anak Ibu?"


"Tentu saja boleh Bu, kapanpun Ibu mau silakan jenguk Ilyas. Kasihan dia pasti merindukan Ibu."


"Terimakasih Nak, besok Ibu akan minta tolong Sania untuk mengantarkan Ibu menjenguk anak Ibu yang bandel itu." Ibu Ilyas tersenyum kecil di balik kegetiran kenyataan yang dia harus hadapi karena kekecewaannya terhadap anaknya sendiri.


"Sama-sama Bu, salam untuk Ilyas ya Bu. Kapan-kapan kami juga pasti akan menjenguknya."


Arfan meninggalkan Ibu Ilyas yang masih sibuk dengan pekerjaannya, Ibu Ilyas memang sosok seorang Ibu yang bijaksana juga penyayang, dia juga tidak mau tinggal diam jika melihat orang-orang di club sedang repot, dia berusaha untuk membantu sebisa yang dia bisa lakukan.


Anak-anak sangat menghormati orang tua itu karena akhlaknya yang baik dan tutur katanya yang bijaksana. Meskipun Arfan yang telah membuat anaknya masuk ke dalam jeruji besi tapi tidak sedikitpun perempuan itu menyimpan dendam.


Zaki sedang bermain bersama Steven saat Arfan melintas di depan mereka. Sedangkan Sania dan Tomi tidak terlihat bersama mereka berdua, sepertinya baik Sania maupun Tomi ingin agar Zaki memiliki waktu lebih banyak bermain dan mengobrol berdua saja dengan Steven.


"Boleh uncle ikut bergabung Stev?"


"Boleh uncle, ini seru sekali. Stev sedang bermain bongkar pasang."


"Uncle mau berbicara sama Papa Zaki sebentar apakah boleh Stev?"


"Boleh uncle, aku akan selesaikan ini sendiri."


Arfan mengajak Zaki meninggalkan Steven sejenak untuk berbicara berdua.


"Za kenapa akhir-akhir ini kamu susah sekali dihubungi? Kamu hampir saja mencelakakan banyak orang karena Steven merindukanmu!"


"Maafkan aku Fan, aku benar-benar tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini. Sebenarnya aku pergi bersama Marryana dan keluarganya ke tempat yang cukup jauh Fan, aku kehabisan baterai hingga ponselku aku tinggal di hotel dan kami bermain di pantai."


"Marryana dan keluarganya?" Tanya Arfan.


"Kalian sudah sedekat itu?"


"Jangan salah sangka Fan, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Aku justru mendukungmu Za, tapi pastikan Marryana juga menyayangi Steven. Meskipun kalian secara nasab tidak saling mewarisi tetapi anak itu tetap membutuhkan kasih sayang orangtua kandungnya secara utuh."


"Aku mengerti Fan!" jawab Zaki mantap.


Sania mendengar semua pembicaraan Arfan dan Zaki karena tidak sengaja melintas setelah menghangatkan tubuhnya bersama Tomi.


"Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagianmu Za!"


Sania berlalu dengan hati ngilu, kebenciannya terhadap Zaki ternyata tanpa sadar tetap menyisakan ruang di hatinya untuk laki-laki yang membuatnya harus kehilangan masa depan, bahkan orang-orang di sekitar mereka pun harus menanggung akibat dari apa yang telah dilakukan mereka berdua hingga ikut hancur besama mereka.


Sania merasakan getaran hebat di dalam hatinya, sebab sejatinya antara benci dan cinta hanya memiliki perbedaan yang sangat tipis. Namun, kini Sania sadar dirinya milik Tomi dan selamanya hanya akan menjadi milik Tomi bukan Zaki ataupun yang lainnya, Zaki hanya menjadi bagian dari masa lalu dan sejarah kelam dalam kehidupannya.