My Old Star

My Old Star
#76 Pergerakan yang Mencurigakan



Arfan masih sibuk dengan pekerjaannya padahal hari sudah larut, dia membantu paman Faisal yang sudah bekerja sangat keras untuk menyelamatkan perusahaan nenek.


Arfan berjanji pada dirinya sendiri akan memecat siapa saja yang terbukti menghianati perusahaan neneknya.


Arman sendiri masih bersama tim Mona di perusahaan, mereka orang-orang yang berpura-pura bekerja keras untuk mengembalikan stabilitas perusahaan, namun nyatanya mereka malah sedang menghancurkannya.


Arman mengecek jam di tangannya, "Seharusnya Arfan sudah berhasil melumpuhkan para penyusup yang berusaha mencuri data-data penting perusahaan," batinnya.


Arman tahu jika orang-orang yang sedang bersamanya adalah penghianat sesungguhnya, mereka mengira jika Arman ada di pihak mereka atas instruksi dari Mona yang menjanjikan kepada mereka jabatan yang tinggi jika berhasil melumpuhkan perusahaan tempat mereka bekerja saat ini.


Salah satu dari mereka mengira mereka telah menang ketika terlihat pergerakan paman Faisal melemah.


"Kalian lihat ini, kita yang memenangkan permainan ini!"


Semua yang ada di tempat itu bersorak sorai karena ambisi mereka untuk memegang jabatan tinggi di perusahaan akan segera terwujud. Selama ini paman Faisal sangat disiplin sehingga hanya orang-orang yang memiliki prestasi kinerja yang bagus saja yang akan cepat naik jabatan sedangkan seorang pemalas akan tetap di tempatnya meskipun sudah bekerja bertahun-tahun.


Mentari menunggu kabar dari Arfan dengan cemas, seharian ini Arfan tidak memberikan kabar sama sekali kepadanya padahal besok mereka akan menikah. Mentari merasa khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan pada Arfan.


Mentari duduk di teras rumahnya karena ingin mencari angin segar, hari sudah malam suasana jalan di gang rumah Mentari juga sudah sangat sepi ditambah sedikit gerimis sehingga orang-orang mungkin malas untuk sekedar ke luar dari rumah mereka.


"Tari sudah larut sebaiknya kita masuk yuk, masa calon pengantin begadang sih besok bisa nggak segar loh mukanya!" ajak Siska agar Mentari masuk ke rumah, Siska merasa ada pergerakan yang mencurigakan sejak sore tadi di sekitar rumah Mentari tapi dia tidak bisa menceritakan apapun kepada Mentari khawatir jika perasaannya salah dan justru akan membuat khawatir seisi rumah Mentari yang masih terus bersiap untuk acara besok.


Arfan baru saja menyelesaikan pekerjaannya, untuk sementara perusahaan dapat dia stabilkan dengan baik. Arfan sangat lelah hari ini meskipun dia tidak pernah menyangka jika dia bisa belajar secepat itu untuk membantu paman Faisal.


Mona yang mendengar jika timnya tidak berhasil mengambil alih aset penting perusahaan nenek Wijaya menjadi murka, dia sangat marah kepada Arman dan juga tim yang telah dia siapkan.


Tentu hal ini salah satu kerjaan Arman yang sering kali mengacaukan pekerjaan mereka dengan berbagai cara yang bisa dia lakukan tanpa mereka sadari.


"Aku yakin di sini ada penghianat, aku tidak habis pikir kenapa kita yang sebanyak ini tidak bisa mengalahkan mereka yang hanya dua orang saja." Salah satu anggota tim Mona melakukan pembelaan diri di depan Mona.


Mona tampak berpikir, sepertinya memang benar ada yang sengaja membatu Arfan agar jangan sampai kecolongan oleh mereka.


"Masuk akal juga apa yang kamu katakan, tapi apakah kamu tahu siapa orangnya?" Tanya balik Mona kepada orang itu.


"Cepat tunjukkan siapa orangnya?"


Orang itu menunjuk Arman, "Apa aku? Jangan asal tuduh kamu ya!" Arman menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Apa kau yakin?"


Orang itu menyampaikan analisisnya kenapa dia bisa menuduh Arman sebagai penyusup di antara mereka.


Mona memandang Arman sesaat, dia kemudian menelfon seseorang di seberang sana untuk menjalankan rencana selanjutnya.


"Lakukan!" perintahnya.


"Arman kamu ikut aku!" Mona mengajak Arman ke luar dari ruangan itu.


Arman hanya bisa pasrah dengan pengaturan Mona, toh kalau dia akan tertangkap dia sudah pasrah asalkan perusahaan sudah bisa diamankan dan sudah stabil kembali.


Arfan baru saja meninggalkan perusahaan bersama paman Faisal, karena sudah larut dia akan mengantarkan paman Faisal terlebih dahulu ke rumahnya. Baru beberapa meter dia meninggalkan rumah paman Faisal, Arfan mendapatkan telfon dari Siska yang mengatakan jika Mentari menghilang dan semua orang yang ada di rumah sedang panik.


Arfan melajukan mobilnya lebih cepat, jalanan malam sudah lengang sehigga dia bisa memacu kendaraannya lebih leluasa meskipun harus tetap berhati-hati.


"Maafkan saya pak, tadi Mentari ada di depan baru saya tinggal masuk sebentar untuk mengambil minum tapi saat saya kembali Mentari sudah tidak ada." Siska mencoba menjelaskan kronologi kejadiannya kepada Arfan saat dia tiba di rumah Mentari.


Bu Kartika sudah menangis sejadi-jadinya ketika tahu jika Mentari menghilang, "Fan tolong temukan Mentari, dia anak kami satu-satunya."


Arfan meminta bantuan orang-orang kepercayaan nenek untuk membantunya mencari keberadaan Mentari dengan melacak sinyal dari ponsel Mentari. Mereka berharap gadis itu tidak menjatuhkan ponselnya agar bisa diketahui keberadaannya saat ini.


Arfan sebenarnya sudah sangat lelah, setelah berhadapan dengan penyusup seharian kini giliran calon istrinya menghilang.


"Jika terjadi sesuatu pada Mentari, aku tidak akan segan untuk membuat perhitungan dengan kamu Mona!" Arfan mengepalkan tangannya mengingat Mona yang benar-benar melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan dirinya.


Mona tiba-tiba menelfon Arfan, "Bagaimana hadiah pernikahan dariku Fan, bukankah sangat menarik?"


"Lepaskan Mentari, kalau sampai dia terluka sedikit saja maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu Mona!"


"Upss... Tidak hanya Mentari yang bersamaku Fan, lihatlah Arman si setia kawan rela mengorbankan nyawanya demi kamu, tapi dia bodoh jadi gampang ketahuan!" Mona mengalihkan panggilannya menjadi video call sehingga Arfan bisa melihat dengan jelas Mentari dan Arman yang di ikat oleh anak buah Mona.


"Kurang ajar kamu Mona!"


"Apa kamu bilang? Aku kurang ajar, bukankah ini yang kamu mau dariku Fan?" Mona tertawa.


"Jika aku tidak bisa memiliki kamu maka tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa memiliki kamu juga Fan!"


"Lepaskan mereka Mona!"


"Baiklah aku akan melepaskan mereka asalkan kamu sendiri yang datang kemari tanpa membawa senjata apapun dan tanpa seorangpun bersama kamu!"


"Tunjukkan alamatnya!"


Mona mengirimkan alamat tempatnya berada saat ini kepada Arfan.


Arfan segera menuju ke alamat yang Mona berikan kepadanya, dia juga tidak akan sekonyol itu memenuhi permintaan Mona sehingga dia memerintahkan orang-orang kepercayaan nenek untuk berjaga-jaga siapa tahu terjadi keadaan darurat yang membuat mereka harus segera bertindak.


Siska mendengar pembicaraan Arfan dan Mona, bahkan dia sempat melihat Arman dan Mentari tengah diikat di sebuah tempat.


Tanpa sepengetahuan Arfan, Siska masuk ke dalam mobil Arfan secara diam-diam. Dia sangat mengkhawatirkan Mentari dan Arman, dia tidak mau terjadi sesuatu pada mereka.


Arfan berpamitan kepada orangtua Mentari, dia harus cepat menyelamatkan Mentari kerena besok mereka akan menikah.


Arfan sampai di sebuah rumah tua, anak buah Mona menyambutnya dan membawanya masuk ke dalam. Arfan melihat situasi tempat itu untuk tetap waspada dan memberikan gambaran situasi kepada orang-orang yang datang bersamanya melalui kamera kecil yang dia pasang di tubuhnya tanpa seorangpun di tempat itu yang tahu.


"Ternyata nyalimu besar juga Fan!" Mona bertepuk tangan menyambut kedatangan Arfan.


"Bukankah aku sudah datang, cepat lepaskan mereka!"


"Tidak semudah itu Fan, jika kamu mau memenuhi permintaanku maka aku tidak akan segan melepaskan mereka!"


"Cepat katakan, apa yang kamu inginkan!"


"Bukankah kamu sudah tahu Fan, aku menginginkan kamu malam ini!" jawabnya manja seperti ulat bulu.


Mentari yang disumpal mulutnya tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya memberikan isyarat agar Arfan jangan sampai melakukan hal itu.


"Tidak kak... Tidak... Jangan pernah lakukan hal itu, jangan penuhi keinginannya kak aku mohon!" teriaknya dalam hati sambil terus menangis.


Di sisi lain, Arman sedang berusaha melepaskan ikatan tangannya saat orang-orang Mona lengah, dia harus menolong Arfan apapun caranya.


Arfan memandang ke arah Mentari, "Baiklah ayo kita lakukan apa saja yang kamu mau Mona!"


Mona tersenyum puas, apa yang dia inginkan bisa dengan mudah dia dapatkan kali ini.